Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 98


__ADS_3

..."Kita gak pernah tahu. Sebesar apa perasaan orang yang paling kita cintai. Pembuktiannya hanya satu. Dia pasti gak akan pergi saat kita dalam keadaan terburuk sekalipun."...


...****************...


Tiga bulan kemudian.


Fatan sudah benar-benar dinyatakan sembuh atas luka tusuk yang dialaminya. Saat dalam perjalanan dari rumah sakit setelah pengecekan terakhir, tiba-tiba ia kepikiran untuk berlibur ke sebuah tempat yang bernuansa alam.


"Sayang, kita liburan yuk!" ajak Fatan sangat bersemangat. Padahal saat ini Nila sedang menyetir mobil dan dia duduk di sebelahnya.


"Hah? Liburan? Kemana, Sayang?" tukas Nila. Jujur, perempuan itu terkejut. Pasalnya beberapa hari lagi, segudang aktifitas kantor sudah menunggu mereka.


Fatan mengangguk cepat. "Tadi aku sempat 'scroll' tempat yang gak jauh dari Jakarta. Adanya di daerah pegunungan di Bogor. Sini biar gantian aku yang nyetir, coba minggir dulu, Sayang!"


"Kamu serius, Mas? Kan kamu baru aja sembuh. Bukannya kalau pegunungan di Bogor itu jalannya curam ya?" tanya Nila memperlambat laju mobil dan mengambil ke kiri jalan.


"Serius, Sayang. Lagi pula tiga bulan terakhir ini kita jarang ada waktu berdua. Kita sama-sama sibuk urusin perusahaan ayahku. Makanya sebelum hari pertama aktifitas kantor di mulai, aku mau menyegarkan tubuh dan otak terlebih dahulu," jawab Fatan sambil menatap Nila sangat lekat.


...----------------...


Dua bulan setelah kejadian itu, Wicak sadar dari koma yang bisa dibilang cukup panjang. Lalisa sempat putus asa dan hanya bisa berdoa yang terbaik saat dokter bilang 'tinggal menunggu waktu'. Dengan kekuatan doa, akhirnya Tuhan memberi keajaiban. Meskipun pulihnya Wicak tidak seperti sebelum musibah itu terjadi.


Mengingat perusahaan yang sudah diambang kebangkrutan. Lalisa pun meminta Fatan untuk memegang kendali perusahaan kembali. Butuh waktu yang cukup lama untuk Fatan berpikir, dan tiba di satu waktu ... Fatan pun menerima dengan syarat Nila yang akan menjadi sekertarisnya. Tentu, Lalisa maupun menyetujui.


Bukan hanya Fatan yang terjun ke perusahaan, tapi juga kakak-kakaknya termasuk suaminya Elea. Namun teruntuk Charma, dia ditemukan tidak bernyawa oleh pihak kepolisian sehari setelah sidang putusan selesai. Berdasarkan hasil visum, Charma diduga telah diperkosa serta mendapatkan kekerasan verbal pada tubuhnya terutama bagian kepala dan alat vital. Sungguh mengenaskan sekali nasib perempuan itu. Tidak lama setelah Charma ditemukan lalu di kebumikan, sang ibu pun ikut berpulang ke pangkuan Tuhan Yang Maha Esa. Keluarga Wicak berduka atas kehilangan empat anggota keluarga dalam waktu berdekatan.


Maka dari itu, sekarang waktunya anak-anak Wicak untuk mengurus perusahaan.


...----------------...


"Mas ... " Nila menghentikan mobil yang dikendarainya lalu merubah posisi duduk menjadi berhadapan dengan sang suami. "Kamu yakin mau pergi sekarang? Kita belum nyiapin apa-apa loh," sambung perempuan itu merasa cemas.


"Gak usah khawatir, aku dapat rekomendasi villa yang cocok buat kita bepergian dadakan. Di sana itu udah lengkap, ada cafe dan resto, pusat perbelanjaan, wahana bermain dan tiga macam tempat menginap, kita tinggal pilih aja," jelas Fatan semakin antusias. Sementara Nila memutar malas bola matanya, sebab perempuan itu paling malas kalau berlibur tanpa persiapan. "Mau ya, Sayang?" bujuk lelaki itu dengan wajah memelas.

__ADS_1


Nila masih terdiam dan berpikir keras. Ia menatap Fatan benar-benar sangat lekat. Beberapa saat kemudian hembusan napas panjang pun dilakukan oleh Nila guna melepas emosi yang tadi hampir saja meledak. "Ya udah, oke." Ia akhirnya setuju.


"Yes! Thank you, Sayang!" seru Fatan lalu menghujani kecupan di seluruh area wajah Nila bertubi-tubi.


"Maaaaaaaas, udaaaaaaaah!" pekik Nila merasa tidak nyaman karena Fatan melakukannya terus menerus. Saat mendapati Nila yang kian memberontak, Fatan pun menyudahinya.


Akhirnya Nila dan Fatan bertukar posisi. Kini giliran Fatan mengambil alih kemudi. Setelah keduanya memasang sabuk pengaman, Fatan mulai melajukan mobil ke tempat yang dimaksud olehnya.


.


.


.


.


Tiga jam perjalanan dari Jakarta ke Bogor, telah berhasil dilalui mereka. Fatan bernapas lega saat sudah memarkirkan mobil di tempat yang sudah disediakan untuk tamu yang menginap.


Sementara Nila masih terdiam dengan wajah tegang. Perempuan itu tidak percaya akan kegilaan Fatan dalam menaklukan tanjakkan serta turunan yang menukik tajam.


Nila seketika menoleh. "Mas, kamu keren banget!" pujinya tiba-tiba. Fatan yang mendengarnya langsung bersikap ala serampangannya.


"Iya dong, siapa dulu ... Fatan!" ucap lelaki itu menyombongkan diri kemudian memainkan kedua alis sambil membuka pintu.


Nila menghela napas lalu menggelengkan kepala seraya membuka sabuk pengamannya. "Salah aku puji dia, mulai kan sombongnya!" gerutunya dalam hati dengan tatapan sinis mengarah langsung pada Fatan yang baru saja turun dari kursi kemudi.


"Ayok, Sayang! Udaranya sejuk banget ini," ajak Fatan dan Nila pun segera turun lalu menghampiri dirinya.


"Pintu masuknya buat reservasi lewat mana ya, Mas?" tanya Nila mencari keberadaan tempat reservasi untuk memesan tempat penginapan, begitupun dengan Fatan. Liburan kali ini benar-benar hanya membawa tas kecil dan pakaian yang dipakai saja.


"Oh di sana Sayang!" seru Fatan sambil menunjuk ke arah tempat yang bertuliskan 'reservasi penginapan'. Nila segera melihat ke arah yang dimaksud oleh Fatan.


"Ya udah kalau gitu, ayok kita ke sana!" Nila melingkarkan tangannya pada lengan sang suami. Keduanya pun pergi ke tempat itu.

__ADS_1


.


.


.


.


Langit sudah gelap, Nila dan Fatan pun memutuskan untuk mengambil tema camping pada liburan kali ini. Jelas, hal itu menjadi pengalaman pertama mereka. Selain harganya terjangkau, fasilitas yang disediakan pun begitu lengkap.


Niatnya malam ini mereka akan masak sendiri dengan menggunakan alat bakaran yang telah disediakan oleh pihak pengelola. Bahan-bahan makanan yang akan mereka bakar pun telah dipesan dari resto. Tidak banyak, hanya ada nasi, beberapa tusuk bakso, otak-otak ikan, sosis, serta satu ekor ayam bekakak yang telah dibumbui. Jadi mereka hanya tinggal memasak saja.


"Sayang, kamu bisa buat arangnya?" tanya Nila saat melihat hanya ada batok kelapa yang ada di dalam karung. Sedangkan Fatan sedang berganti pakaian di dalam tenda.


"Arang? Bukannya udah ada, Sayang?" Fatan malah bertanya balik. Sepertinya Fatan belum melihat isi di dalam karung itu.


"Gak ada, Sayang. Disini adanya cuma batok kelapa bukan arang yang udah jadi." Mendengar jawaban dari Nila, Fatan segera keluar dari tenda untuk memastikan.


"Ah iya benar," ucap Fatan setelah tahu. Ia pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu bisa dijadiin batok kelapa ini supaya jadi arang?" tanya Nila lagi dengan tatapan penuh harap. Karena hanya itu yang bisa mereka jadikan sebagai alat bakaran.


Namun Fatan tersenyum lebar hingga menunjukkan barisan giginya yang putih dan rapih. "Gak bisa," jawabnya membuat Nila menepuk kening.


"Terus gimana? Coba cari tutorial di internet," usul Nila dan segera Fatan lakukan.


Keduanya pun mempelajari terlebih dahulu sambil duduk di pinggir tenda yang dibuka. Mereka memutarnya berulang-ulang, sampai entah sudah berapa kali diputar ulang niatnya supaya paham. Nyatanya saat sudah praktek tetap saja tidak berhasil.


"Udahlah kita suruh makanan ini di masak aja di resto dan kita tinggal makan, ribet juga ya kalau jadi anak gunung!" keluh Fatan merasa kesal sendiri. Secara Fatan memang tidak pernah menjadi 'anak nakal' yang senang menjelajah. Meski begitu, marahnya pun tidak tahan lama karena Nila segera memanggil pelayan di penginapan untuk membawa alat bakaran serta makanan itu lagi dan meminta membawanya kembali dalam keadaan matang.


Ya begitulah kekonyolan Fatan, berharap Nila tetap kuat menemaninya disaat apapun. Begitupula dengan Fatan sendiri terhadap Nila.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2