Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 58


__ADS_3

Seminggu sudah Nila bekerja dibawah pimpinan Edward. Rasanya perempuan itu hampir gila karena perintah dari Edward yang sering menyusahkannya. Ditambah lagi setiap hari Nila harus lembur dan selalu sampai apartemen sampai pukul 10 malam.


Pagi ini seperti biasa sebelum memberikan agenda harian pada Edward, Nila mengecek email terlebih dahulu. Diantara banyaknya email yang masuk, ada satu email yang tiba-tiba saja membuat Nila menautkan kedua alisnya dan membaca isi pesan itu hingga dua kali.


"Pengembalian produk karena barang tidak sesuai pesanan," ucapnya dengan suara pelan, menyimpulkan isi pesan yang dikirim dari bagian warehouse.


"Astaga, kok bisa sih? Apa mereka gak cek dulu sebelum kirim? Kalau begini kan masalahnya double! Udah malu sama customer, rugi pula," gerutu Nila lalu mencetak bukti terlampir yang ada pada email tersebut.


Setelah itu, Nila melihat agenda atasannya hari ini dan segera masuk ke dalam ruangan Edward. Dengan rasa gelisah, Nila memberanikan diri supaya mentalnya tidak sampai down jikalau Edward marah besar padanya.


Sesaat setelah menutup pintu, Nila melihat Edward yang masih fokus memeriksa berkas di atas meja. Nila menarik napas dalam lalu mengembuskannya perlahan sebelum akhirnya melangkahkan kaki untuk menghampiri Edward.


"Selamat pagi, Pak," sapa Nila, ia mulai gugup.


"Pagi. Apa agenda saya hari ini?" Seperti biasa Edward bersikap dingin tanpa mendongakkan wajahnya untuk menatap Nila.


Nila membacakan agendanya terlebih dahulu, kemudian menaruh sebuah map berwarna merah ke atas meja kerja Edward.


"Sekalian Pak, saya mau kasih informasi kalau--"


"Saya udah tahu," tukas Edward tiba-tiba saja memotong ucapan Nila. Sontak Nila pun tercengang saat mendengarnya.


"Pak Lucas kirim email kepada Anda juga ya?" tanya Nila, raut wajahnya masih tampak biasa saja. Memang Nila sedang berusaha setenang mungkin.

__ADS_1


"Iya. Sekarang kamu ke bagian warehouse terus bawa atasan mereka kesini untuk menghadap saya." Suara Edward terdengar biasa saja, tapi sangat penuh penekanan. Selain itu, tatapan Edward sangat tajam dan seolah mematikan.


Nila pun sampai bersusah payah menelan ludahnya. "Baik, Pak."


......................


Beberapa menit berlalu, Nila kembali ke ruangan Edward dengan membawa dua orang lelaki yang bisa dimintai pertanggung jawaban. Namun setelah dua lelaki itu masuk, Nila pun di suruh keluar. Wajah kedua lelaki itu sangat merah, tampak sekali kalau mereka sedang ketakutan.


Nila kembali duduk di meja kerjanya dan memilih melanjutkan pekerjaannya lagi. Sebab masih ada pekerjaan yang kemarin belum sempat terselesaikan dan harus segera selesai hari ini.


Hingga tanpa terasa sebentar lagi memasuki waktu istirahat makan siang. Satu per satu, Nila telah menyelesaikannya dengan baik. Namun ia baru tersadar kalau kedua lelaki tadi yang masuk ke dalam belum kunjung keluar dari ruangan. Nila mendadak gelisah, takut kedua lelaki itu habis di tangan Edward.


Karena terlalu penasaran, Nila memastikan melalui celah kecil yang ada pada gorden untuk mengintip. Seketika Nila membulatkan matanya.


Nila segera beranjak dari tempat duduknya lalu membuka paksa pintu ruangan atasannya itu.


"Stop, Pak!" teriak Nila dari ambang pintu. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah, serta kedua tangannya mengepal kencang. Ia melangkah dengan pasti menghampiri ketiga orang itu.


"Ini udah termasuk tindak pidana Pak! Bukannya Anda harusnya bisa memberikan sanksi yang sesuai dengan kode etik pekerja? Gak kayak gini Pak caranya!" Nila sangat geram. Terlebih melihat kondisi kedua lelaki itu tampak mengenaskan. Wajah mereka sudah penuh lebam dan terlihat lemah.


"Apa Anda gak berpikir nasib keluarga mereka bagaimana melihat orang yang setiap hari diharapkan bisa pulang ke rumah dengan kondisi seperti ini?" ujar Nila sambil mengarahkan jari telunjukkan ke depan wajah Edward.


Namun sayang lelaki yang sedang dimakinya itu hanya tersenyum sinis melihat sikap Nila yang dianggapnya seperti seorang pahlawan.

__ADS_1


"Kamu masih mau bekerja disini atau nggak?" tanya Edward dengan suara pelan sambil mendelik tajam ke arah perempuan itu. Ia bahkan menghiraukan apa yang dikatakan oleh Nila tadi.


"Pegawai disini memang berhak dihukum dengan sanksi yang ada. Tapi nggak boleh sekalipun main kekerasan. Negara kita ini negara hukum, Pak!" tegas Nila. Matanya dibuka lebar-lebar, sampai urat nadi yang ada dilehernya pun dapat terlihat oleh kasat mata.


"Cukup Nila!" bentak Edward lalu mengalihkan pandangannya kepada kedua lelaki yang sudah babak belur itu. "Kalian berdua keluar dari perusahaan ini!" bentaknya lagi.


"Ba-baik Pak. Terima kasih atas hukuman Anda. Kami minta maaf, karena ada kesalahan prosedur membuat perusahaan merasa dirugikan. Dan kami mengundurkan diri," ucap kepala bagaian warehouse seraya memicingkan matanya dan tersenyum sinis. Sedangkan yang satunya hanya menunduk dengan raut wajah sedih.


"Bagus! Silahkan pergi!" balas Edward dengan sikap angkuhnya.


Setelah mereka keluar, hanya tinggal Nila yang masih berada di dalam bersama Edward. Rasa takut yang sempat dirasakannya tadi seketika hilang bersama dengan amarah yang meletup-letup karena ulah lelaki itu.


"Kalau Anda masih tetap berlaku seperti itu terhadap pegawai, saya yakin ... Setelah ini akan banyak pegawai yang mengundurkan diri. Begitupula dengan saya," ancam Nila dengan berani menyoroti mata Edward dengan tatapan tajam.


"Silahkan, saya gak ngerlarang kok kalau kamu gak betah, keluar aja dari kantor ini. Gampang kan? Masih banyak yang mau bekerja di perusahaan ini. Jadi, jangan terlalu percaya diri, saya gak akan menahanmu untuk tetap bekerja disini." Komentar Edward semakin membuat Nila merasa sangat muak.


"Baik, saya akan segera membuat surat pengunduran diri. Permisi!" Nila berbalik badan lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Ia membuka lalu menutup pintunya sengaja sedikit kencang.


Nila duduk di kursinya, lalu membuka lembar aplikasi berbasis kata dan mulai membuat surat pengunduran diri. Emosinya sudah benar-benar tidak tertahankan lagi. Meski awalnya ia berusaha sabar menekuni atasan yang sangat butuk baginya, dan dikiranya Edward akan mudah diajak kerja sama tapi ternyata selama satu minggu ini benar-benar membuat Nila semakin tidak tahan dan sudah tidak ada alasan lagi untuk tetap bertahan disini.


Tidak sampai sepuluh menit, surat pengunduran diri itu telah selesai Nila buat serta dicetak dan dimasukkan ke dalam sebuah amplop berwarna coklat. Perempuan itu lekas membereskan meja kerjanya, meraih tas lalu masuk ke ruangan Edward tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.


"Permisi, ini surat pengunduran diri saya, Pak." Nila menaruh amplop itu ke atas meja kemudian sebelah tangannya merogoh ke dalam tas. Ia mengeluarkan kunci mobil. "Dan ini mobil yang telah difasilitasi oleh perusahaan. Untuk apartemennya, akan saya serahkan langsung ke bagian front office apartemen itu. Saya rasa mulai detik ini, saya mengundurkan diri dan bukan lagi pegawai di perusahaan ini." Perempuan itu menunduk hormat, sedangkan Edward hanya menatap Nila tanpa respon apapun.

__ADS_1


__ADS_2