Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 29


__ADS_3

Pertama kali yang Nila lihat setelah membuka pintu ruangan itu yaitu pemiliknya. Perubahan sikap yang terjadi pada Fatan, membuat sikap Nila juga berubah. Hal itu dilakukan guna menjaga lingkungan kerja yang masih nyaman.


Nila langsung menjelaskan jadwal pekerjaan Fatan hari ini. Tanpa basa-basi ataupun sebuah candaan yang biasa mereka lakukan sebelum mengawali kerja.


"Ada lagi?" tanya Fatan menatap Nila datar.


"Gak ada Pak."


"Ya udah kamu boleh keluar dan melanjutkan pekerjaanmu!" perintah laki-laki itu.


Sementara Nila tidak ingin bertanya apapun saat ini meskipun ia sangat ingin. Mungkin Nila harus bersabar, suatu saat pasti ada waktu yang tepat.


...----------------...


Perubahan sikap yang dialami Fatan, seketika memberi dampak nyata pada lingkungan kerja seratus delapan puluh derajat. Semula yang tadinya sangat dekat dengan pimpinan kerja, sekarang bagai langit dan bumi.


Beberapa ada yang mengeluh, namun sisanya masih sabar untuk tetap bertahan demi mendapatkan sebuah penghasilan. Sebab sejauh ini, hanya diperusahaan itu yang bisa mendapatkan pendapatan diatas rata-rata dari perusahaan lainnya yang ada di kota Palembang. Seolah kantor cabang pimpinan Fatan itu menjadi 'Raja' nya.


Lantas hari ini tepat satu minggu suasana lingkungan kerja seperti itu berlangsung. Semua pegawai disana tampak serius dan merasa tertekan setiap harinya. Sebab Fatan semakin berambisi untuk membuat kantor itu bisa segera terlepas dari kantor pusat dan mendirikan perusahaan baru serta produksi sendiri.


Akan tetapi semua pegawai tidak bisa memberi masukan secara langsung. Apalagi setelah melihat Fatan setiap harinya sangat emosional. Hal itu tentunya membuat Nila sangat yakin kalau ia perlu bicara empat mata dengan atasannya itu.


Pekerjaan seharian ini telah terselesaikan dengan baik. Ketika bel pulang sudah berbunyi. Nila lekas membereskan mejanya, tapi bukan untuk segera pulang. Melainkan ingin membicarakan hal yang menurutnya sangat beresiko besar kalau tidak segera dicari jalan keluarnya.


Melihat meja kerjanya sudah rapi, Nila mengetuk pintu ruang kerja atasannyaa itu. Beberapa kali ketukan, tidak ada perintah sama sekali dari dalam. Nila semakin penasaran, ada apa sebenarnya?


Perempuan itu memaksa masuk ke dalam dengan membuka pintunya sangat hati-hati. Namun ia hanya melihat sebuah kursi kebesaran yang berada satu garis lurus dengan pintu itu menghadap ke belakang.


Setelah menutup pintu, Nila menarik napas dalam lalu mengempaskan perlahan. Ia mulai melangkahkan kakinya mendekat ke meja kerja Fatan.


"Permisi Pak ... " sapa Nila, sambil menerka-nerka raut wajah seperti apa yang akan ditunjukkan oleh Fatan padanya.


"Kenapa kamu berani masuk ke ruangan saya tanpa izin?" Benar saja, sorot mata tajam mengarah langsung pada Nila. Sampai-sampai perempuan itu bersusah payah menelan ludahnya.


"Maaf Pak kalau saya lancang." Nila memperhatikan dengan teliti raut wajah Fatan saat ini. "Saya ke sini cuma pengen bicara sama Pak Fatan," sambungnya dengan napas yang masih sedikit tertahan.


"Soal apa?" Manik Fatan memicing curiga.

__ADS_1


"Begini Pak, seminggu terakhir ini kami mengalami krisis kenyamanan dalam bekerja. Entah Pak Fatan sadar atau nggak, yang jelas kami semua yang ada di kantor ini sangat merasakannya," jelas Nila cukup lancar seraya mengembuskan napas.


"Lantas?"


Mendengar pertanyaan itu, Nila masih optimis kalau Fatan mau mendengar apa yang akan dikatakan olehnya setelah ini.


"Mengingat awal kantor ini dibuka, kondisi lingkungan kita sangat kondusif. Oke kami paham kalau akhir-akhir ini kami semua sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Namun banyak sekali pertanyaan yang masuk kepada saya dan tidak berani ke Pak Fatan. Kenapa Anda berubah?"


"Memangnya salah?" Lagi-lagi sorot matanya menatap Nila tidak suka.


"Salah. Kenapa? Karena perubahan yang dialami oleh Anda ini membuat suasana dan kenyaman disini gak seperti diawal. Anda lebih emosional, terlalu menekan, bahkan waktu kerja pun diforsir seperti kerja rodi. Maaf bukannya kami mengeluh ... Kami manusia, dimana ada masanya kami akan mundur jika terus seperti ini. Semakin kesini, tujuan kita bukan untuk kesejahteraan bersama Pak. Melainkan untuk Anda sendiri!" tegas Nila. Perempuan itu menerka kembali respon apa yang akan didapatnya.


Fatan langsung tercekat. Apa yang dikatakan Nila barusan bagaikan tamparan bertubi-tubi untuknya. Ia hanya mampu diam tanpa menjawab sepatah katapun. Ia bahkan enggan menatap perempuan yang sedang berhadapan dengannya.


Dia mengusap kasar wajahnya kemudian menunduk dengan kedua tangan yang di taruh pada masing-masing ujung alis kanan dan kiri, serta kedua siku tangannya digunakan sebagai penyangga. Nila pun ikut diam.


"Nila ... " de*sah Fatan lalu mengangkat wajahnya menatap Nila kembali. "Maaf akhir-akhir ini saya terlalu ambisi demi keinginan saya sendiri ... saya sampai gak ingat kalau banyak pegawai disini yang mendukung supaya kantor cabang ini lebih maju ... Semua ini karena ... " Fatan menjeda kata-kataya.


"Karena permintaan ayah Anda?" tanya Nila langsung to the point.


Fatan tersentak mendengarnya. "Bagaimana kamu bisa tahu?" pekiknya merasa tidak percaya.


"Ya itu ... Saya gak mau kalau harus memimpin kantor pusat, saya masih ingin tetap disini. Denganmu ... " Nila terkejut. "Dan pegawai kompeten lainnya." Perempuan itu tidak jadi berbesar hati.


"Tunggu ... Apa sebenarnya Anda bagian dari keluarga Sucipto? Pemilik perusahaan ini?" tanya Nila penasaran.


Fatan mengusap kasar wajahnya lagi. "Iya."


Nila langsung berkacak pinggang lalu memijat keningnya. "Saya kira Anda bukan dari keluarga pemilik perusahaan ini. Karena saat bu Dian bilang kalau saya akan dipindah, mereka masih merekrut CEO baru," ucapnya tak habis pikir. "Lantas kenapa nama Anda gak ada kata 'Sucipto' nya?" tanya Nila kemudian.


"Itu karena permintaan bunda. Beliau yang mau kalau nama saya itu Fatan Adisuryo. Bukan Fatan Sucipto. Sebab Sucipto itu sebenarnya nama kakek saya. Apalagi saat bunda menikah sama ayah, banyak pro kontra yang terjadi. Makanya untuk menghindari kekacauan di masa depan, bunda minta nama belakang aku gak pakai embel-embel dari nama kakek," jelas Fatan dan akhirnya Nila pun paham. Itu artinya lelaki itu bukanlah orang yanh sembarangan.


"Tapi kenapa Anda menolak saat ayah Anda meminta untuk memimpin kantor pusat?" Emosi Nila maupun Fatan sudah mulai mereda.


"Karena saya nyaman dengan orang-orang disini. Gak seperti di kantor pusat. Disana banyak sekali ular. Kakak tiriku aja selalu hampir celaka karena ada yang berusaha menduduki jabatannya."


"Astaga ... Bertahun-tahun disana, saya jarang sekali bahkan gak pernah dengar kata-kata jelek tentang pemiliknya. Apa sekarang mereka udah berubah?"

__ADS_1


"Entah, saya rasa masih sama."


Nila menghela napas panjang. "Jadi Anda yakin mau buat kantor ini lebih maju?"


"Sangat yakin."


"Baiklah kalau begitu, bersikaplah seperti saat pertama kali kita bekerja sama. Saling ramah dan jangan terlalu menekan Pak. Bagaimana kalau hidup mereka aja udah berat? Setidaknya kita bisa meringankan beban orang lain, maka suatu saat Tuhan pasti meringankan segala urusan dan kepentingan kita," kata Nila lalu tersenyum.


Hati yang tadinya sempat mengeras, perlahan bisa cair kembali. Fatan pun ikut tersenyum lalu menganggukkan kepala.


"Terima kasih ya Nila. Adanya kamu saat ini membuat saya percaya ... Kalau ternyata sukses itu bukan hanya sekadar apa yang akan kita dapat. Tapi tentang bagaimana kita mampu menjalani prosesnya dengan sebaik mungkin," ucap Fatan merasa bangga.


"Sama-sama Pak. Saya begini karena satu suara dengan teman-teman semua. Kami tahu aslinya Pak Fatan yang kami kenal itu mudah berbaur dan ramah. Makanya dengan adanya perubahan sikap seperti itu, kami pun merasa janggal dan menyayangkan," tutur Nila. Perempuan itu pandai merangkul orang yang ada disekitarnya.


"Ya, memang ada salah saya juga. Selama ini saya gak pernah terjun langsung ke lapangan soal kepemimpinan itu seperti apa dan harus bersikap bagaimana. Tapi karena kamu, saya bisa cepat memahami ... Dari dulu, ayah selalu menyuruh saya untuk belajar dan belajar. Makanya teman baik saya di rumah, ya cuma bunda." Fatan beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri Nila.


Perempuan itu masih diam, menunggu Fatan bicara lagi. Matanya masih fokus menatap lelaki yang kini ada tepat beberapa langkah di depannya.


"Kalau boleh saya jujur ... Saya ingin memiliki partner hidup seperti kamu. Punya prinsip, mandiri, dan juga cerdas. Andai kalau Tuhan kasih saya kesempatan untuk lebih dekat denganmu bagaimana?"


Terkejut, itulah yang Nila rasakan saat ini. Tak disangka, bos serampangannya itu tiba-tiba berkata demikian. Bibir Nila pun seketika terkunci. Namun tidak lama, akhirnya ia angkat bicara.


"Apa yang terlihat baik di depan Anda, belum tentu akan baik juga saat nanti sudah menjadi milik Anda. Hal yang paling penting ... lebih baik Anda dekati Tuhan, minta sama Dia supaya diberi kesiapan dan kemapanan. Bukan hanya dari segi finansial, tapi juga mental. Saran saya sih begitu Pak. Lagi pula saya belum siap lahir batin Pak," jawab Nila apa adanya. Padahal tanpa ia sadari dalam hatinya merasa 'melting'. Bagaimana tidak? Memang kalau apa yang Nila kenal, Fatan termasuk calon suami idaman. Sayangnya Nila masih menata hati supaya tidak ceroboh menaruh hati pada orang yang salah.


"Tapi kalau dilihat dari dekat, kamu itu cantik loh Nila. Saya gak yakin kalau kamu ini jomblo." Fatan mengusap dagunya seraya menautkan kedua alis.


Seketika Nila mengerucutkan bibirnya sambil menarik napas dalam-dalam supaya tidak ada amarah yang keluar. "Pak Fatan gak lagi ngeledek saya kan?"


"Oh nggak kok nggak, saya cuma ngomong aja," jawab Fatan langsung keluar tingkah serampangannya.


"Baiklah, saya rasa udah cukup obrolan kita. Lagi pula udah lewat jauh juga dari jam pulang kantor. Kalau gitu saya pamit pulang duluan ya Pak," kata Nila lalu menunduk hormat.


Namun Fatan langsung menarik tangan sekertarisnya hingga tubuh dia terempas dan bertubrukan di dadanya. Sontak Nila pun menyatukan kedua tangannya lalu ditaruh di dada supaya ada jarak diantara mereka.


"Ada apa Pak?" tanya Nila gugup. Perasaannya mulai ketar ketir.


"Kita nonton yuk!" ajak Fatan. Memang dasar laki-laki satu itu, mode merayu perempuan bak pemain yang handal. Padahal kalau hanya mengajak nonton film bisa saja bicara seperti biasa tanpa harus ada adegan menarik tangan Nila dan bisa memeluknya.

__ADS_1


"Dasar Omtuna! Om-om tua nakal!" protes Nila seraya melepaskan tubuhnya dari rangkulam Fatan. Ia pun kemudian berdecak kesal.


Sementara itu, Fatan malah tertawa. "Maaf ya, maaf."


__ADS_2