Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 103


__ADS_3

Detak jantung Fatan sampai terdengar di telinga Nila, karena posisinya tepat berada di samping dan sedikit condong ke depan sambil terus mengelus kepala sang istri.


"Wah, selamat Nyonya dan Tuan ... Janinnya normal, lihat! Ini kantungnya tepat ada di rahim ... Dan ini janinnya. Sebentar ya kita ukur dulu." Dokter mulai mengoperasikan keyboard supaya dapat mengukur, baik ukuran janin maupun usia kandungan saat ini.


"Kecil sekali ya, Dok," tukas Fatan.


"Iya memang masih kecil, Tuan. Nah ... Kalau dilihat dari ukuran janin tersebut, dia berusia dua belas minggu. Dan ingat ya, mengukur usia janin harus pakai minggu. Jangan pakai bulan!" tegas dokter itu.


"Loh kenapa memangnya, Dok?" tanya Nila heran.


"Sebab, kalau dalam hitungan bulan itu jumlah minggunya tidak menentu, kadang empat atau lima. Sedangkan kalau per minggu, maksimal kehamilan normalnya itu adalah empat puluh dua minggu. Jadi, nanti ada jarak nih dari hari perkiraan lahir kalau belum lahir juga, dapat tenggang waktu selama dua minggu. Kalau belum lahir juga? Ya mau gak mau harus operasi bedah sesar," jelas dokter itu.


"Bahayanya apa Dok kalau udah sampai empat puluh dua minggu belum lahir juga?" tanya Nila lagi.


"Banyak. Salah satunya, ketuban bisa keruh, oksigen yang disalurkan dari ibu ke bayi bisa berkurang. Dan yang paling fatal itu bisa menyebabkan gagal janin atau meninggal di dalam kandungan."


Fatan dan juga Nila terkejut akan perjelasan dokter itu.


"Tapi Nyonya gak usah khawatir. Selama asupan selama hamil cukup, rajin minum vitamin, ikut senam hamil, serta sering memeriksakan kandungan. Segala resiko apapun bisa diketahui sejak dini. Yang jelas setiap orang tua ataupun calon orang tua pasti ingin yang terbaik, bukan?"


Nila menganggukkan kepala begitupun dengan Fatan.


"Maka dari itu, selama proses kehamilan harus terus 'happy'. Jangan stress, perbanyak istirahat, dapat support penuh dari keluarga terutama suami. Ya, selama ibu bahagia, calon bayi yang ada di kandungan pun akan ikut bahagia, kok."


"Oh begitu ya, Dok. Tapi kalau yang sedang saya rasain saat ini, apa termasuk wajar, Dok?" tanya Nila yang mulai tertarik ingin bertanya apapun pada dokter itu. Ia pun mulai nyaman berbicara padanya.


"Masih wajar kok, Nyonya. Selama masih bisa beraktivitas, gak keluar flek dari jalan lahir, masih masuk makanan dan minum walau sedikit dan sering. Gak apa-apa, itu namanya proses penyesuaian tubuh terhadap janin yang sedang berkembang di tubuh kita ini."


"Ada pantangan gak Dok selama hamil?"


Selama perbincangan itu, Fatan juga turut serius mendengarkan.


"Yang paling gak boleh itu, makan makanan mentah entah sayur atau daging maupun ikan harus dipastikan dimasak benar-benar matang, terus dengan cara masak dibakar juga jangan. Buah nanas atau makanan asam lainnya selama masih mual muntah lebih baik dikurangi dulu ya."

__ADS_1


Dokter itu pun menjelaskan panjang lebar lagi pada Nila dan juga Fatan.


.


.


.


.


Tanpa terasa satu jam sudah mereka berkonsultasi dengan dokter kandungan. Kini akhirnya mereka keluar dari sana untuk membayar lalu menebus vitamin yang telah diresepkan oleh dokter. Setelah semuanya selesai, Nila dan Fatan pergi ke tempat dimana mobilnya berada.


"Sayang ..." panggil Fatan saat keduanya baru saja masuk ke dalam mobil.


"Iya, kenapa Mas?" Nila menoleh sambil memasang sabuk pengamannya. Tak lupa juga ia mengatur sandaran kursi supaya lebih nyaman selama perjalanan nanti.


"Kamu mau .... " Tiba-tiba saja ponsel Fatan berdering. "Sebentar ya aku jawab telepon dulu." Nila mengangguk, sedangkan Fatan menjawab telepon seraya menyalakan mesin mobil.


Nila menarik napas lalu mengempaskan, ia melakukannya berulang-ulang hingga rasa yang teramat tidak nyaman itu bisa hilang dengan sendirinya. Akan tetapi, Nila tetap menikmati awal-awal kehamilan ini. Setelah apa yang dibacanya melalui buku kehamilan dan parenting, kini secara bertahap ia rasakan sendiri.


Fatan melihat ke arah Nila dengan wajah yang tampak pucat. "Sayang, kita pulang aja ya ke rumah. Biar kamu istirahat. Kamu gak usah pikirin perusahaan, ada aku yang bisa mengurusnya," bujuknya karena tidak tega melihat Nila yang terus merasakan mabuk kendaraan.


"Tapi nanti yang urus semua jadwalmu siapa?" tanya Nila yang sebenarnya sudah sulit sekali berpikir jernih.


"Paling, nanti aku akan tarik Rusli untuk menjadi sekertarisku selama kamu hamil sampai melahirkan serta siap bergabung kembali ke perusahaan. Bagaimana menurutmu?" usul Fatan berharap dapat diterima oleh istrinya.


Sementara, Nila mengusap wajahnya. Terdiam sejenak untuk berpikir. Tidak lama kemudian, ia menoleh ke arah sang suami. "Iya Mas. Aku setuju."


"Ya udah, sekarang aku hubungi bunda sama ibu ya," kata Fatan sambil menyalakan layar ponselnya, hendak mencari kontak ibu dan juga mertuanya.


"Buat apa Mas?" tanya Nila dengan polosnya.


Fatan pun langsung menoleh. "Buat kasih tahu mereka kalau kamu hamil dong, Sayang."

__ADS_1


"Nanti aja Mas. Sekarang aku benar-benar mau istirahat dulu. Lagian bunda sama ibu pasti masih di perusahaan, nanti kalau aku merasa lebih nyaman, mending kita buat acara spesial aja," usul Nila ditengah kepala yang masih terasa pusing berdenyut.


"Ah! Iya benar juga. Aku setuju!" seru Fatan lalu memberi kecupan pada kening sang istri. "Oke. Kalau gitu sekarang aku antar kamu ke rumah, habis itu aku balik lagi ke perusahaan ya?"


"Iya, Mas."


Fatan pun akhirnya melajukan mobil, keluar dari parkiran rumah sakit menuju kediamannya.


...----------------...


Di perusahaan, Mirna diantarkan oleh Lativa ke sebuah mobil yang akan mengantarkannya pulang. Namun saat di depan Lobby Mirna bertemu dengan Lalisa.


"Loh, Jeng! Mau kemana?" tanya Lalisa seraya menghampiri Mirna.


"Mau pulang, Jeng. Lagi pula acaranya 'kan udah selesai, rasanya aku ingin istirahat. Terus siang juga adik sepupuku katanya mau datang ke rumah," jawab Mirna, lalu Lalisa pun mengangguk paham. "Oh iya Jeng sendiri juga mau pulang?" Mirna bertanya balik.


"Belum, aku lagi cari Nila sama Fatan kok gak kelihatan ya? Jeng Mirna lihat gak?"


"Nah itu dia, Jeng. Aku juga gak lihat. Daritadi di teleponin juga gak di jawab. Tapi aku udah kirim pesan sih ke Nila kalau aku mau pulang," tutur Mirna lalu menghela napas.


"Iya, sama aku juga. Nila sama Fatan mendadak susah di hubungi. Tadi juga sempat ke ruangan mereka tapi gak ada. Kemana ya itu anak?" timpal Lalisa kebingungan.


"Bunda, Ibu ... nanti kalau kak Nila atau kak Fatan udah ada di kantor, aku kasih tahu mereka ya kalau dicariin sama Bunda dan juga Ibu," sanggah Lativa.


"Nah iya, oke deh. Jeng Lalisa ... Aku pamit pulang duluan ya. Sampai ketemu lain waktu," kata Mirna lalu keduanya saling berjabat tangan dan tempel pipi kanan serta kiri.


"Iya Jeng, silahkan. Hati-hati di jalan ya."


Mirna masuk ke dalam mobil. Setelah mobil yang ditumpangi Mirna pergi, Lalisa bersama Lativa masuk ke dalam lagi.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2