Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 111


__ADS_3

Esoknya tepat pukul 9 pagi. Lativa ada meeting di salah satu tempat makan yang tidak jauh dari kediaman sang kakak yaitu, Nila. Di perusahaan tempatnya bernaung, Lativa ditempatkan sebagai staff marketing. Kepiawannya mempromosikan produk serta bernegosiasi, membuatnya berada pada posisi tersebut.


Sebenarnya bisa saja Fatan menempatkan adik iparnya itu pada jabatan yang lebih tinggi. Namun mengingat pendidikan yang dimiliki Lativa masih tahap akan meluluskan sekolah menengah atas, maka dari itu Fatan dan juga Nila sepakat untuk menaruh Lativa pada tim staff marketing. Hal itu tentu untuk melatih Lativa supata lebih terasah lagi kemampuannya.


Satu jam berlalu, meeting pun selesai. Lativa yang bersama rekannya telah mencapai sepakat untuk menjalin kerjasama dengan koleganya saat ini. Sebelum pergi dari tempat makan itu, Lativa berniat menyambangi sang kakak terlebih dahulu sambil membawakan makanan kesukaan Nila.


"Bet, kalau kamu mau duluan balik ke kantor gak apa-apa kok. Aku soalnya mau ke rumah kak Nila dulu sebentar," kata Lativa ketika hendak pergi ke kasir untuk memesan makanan.


"Beneran? Tapi nanti kalau bu Jenna nyariin kamu gimana?" tanya Betty, rekan kerjanya.


"Nanti biar aku yang telepon dia buat izin. Ya paling gak sampai setengah jam lagi juga, aku udah sampai di kantor," jawab Lativa santai.


"Ya udah deh kalau gitu. Tapi .... " Betty masih tampak ragu.


"Kenapa, Bet? Mau ikut pesan juga buat makan siang? Makanan disini kelihatannya enak-enak, sayang aku udah sarapan tadi di rumah," sanggah Lativa yang sebenarnya tergiur akan berbagai masakan pada menu tempat makan tersebut.


"Bukan itu, Tiva .... " Betty semakin tampak cemas.


"Terus apa?"


"Dompet aku ketinggalan di laci meja. Kalau sekarang pulang sendiri, aku gak ada ongkos buat naik taksi. Apalagi sebenarnya ...." Betty melirik ke arah menu yang terpajang di belakang kasir.


"Ah, lebih baik ikut denganku sekarang!" Lativa sepertinya paham apa yang diinginkan rekan kerjanya itu. "Kamu pesan aja, nanti aku yang bayar sekalian," sambungnya. Seketika Betty tampak berseri.


"Kamu seriusan Tiva? Aku pinjam boleh? Nanti kalau kamu udah di kantor lagi, aku ganti ya," ucap Betty merasa terharu. Lativa pun menganggukkan kepala seraya tersenyum. "Terima kasih, Tiva!" serunya yang tak disangka ternyata memiliki rekan kerja sebaik itu.


Beberapa menit berlalu, Betty sudah pergi menggunakan taksi untuk kembali ke kantor. Sementara Lativa mengendarai mobil menuju tempat tinggal sang kakak.


Tidak butuh waktu lama, Lativa pun sampai. Ia disambut ramah oleh satpam rumah.


"Selamat Pagi, ini teh bukannya adik Nyonya Nila ya?"


"Pagi, Pak. Iya benar. Masih hafal rupanya." Lativa terkekeh.


"Masih atuh. Kan wajahnya mirip sama Nyonya."


"Ya 'kan satu pabrik, Pak," timpal Lativa, dan satpam itu pun tertawa. "Omong-omong, kak Nilanya ada, Pak?"


"Oh, ada Non, ada. Silahkan masuk aja. Nanti minta tolong pelayan di dalam aja ya buat kasih tahu letak kamarnya," jawab satpam itu.


"Oke, Pak. Saya masuk dulu ya."

__ADS_1


Lativa bergegas masuk ke dalam rumah. Ketika sampai di ruang tamu, ia bertemu dengan istri pertama Wicak yaitu Wiwi.


"Selamat pagi, Bu ..." sapa Lativa ramah.


"Pagi, mau ketemu Nila ya?" tanya Wiwi. Sekilas kalau dilihat dari wajahnya tampak ketus dan datar. Tetapi aslinya baik kok.


"Iya, Bu."


"Kamu naik lift aja tuh yang ada di sana." Lativa mengikuti arah yang Wiwi maksud. "Ke lantai tiga, terus belok kanan dikit. Itu kamarnya."


Lativa langsung paham. "Oh iya, baik Bu. Terima kasih. Kalau begitu saya permisi ya. Mari."


"Iya."


.


.


.


.


Tiba di depan pintu dengan akses gagang menggunakan sistem kartu dan sidik jari, alhasil Lativa hanya bisa menyalakan bel supaya orang yang ada di dalam keluar dari kamar. Ternyata tidak butuh waktu lama, Nila pun membuka pintu.


"Hehe ... Kebetulan aku ada meeting di deket sini. Terus mau lihat Kakak," jawab Lativa sambil cengengesan.


"Lihat doang?" sahut Nila ketus. Namun sesaat kemudian ia tertawa. "Berchandyaa ... Ayok masuk!"


Lativa menggeleng-gelengkan kepala seraya ikut masuk ke dalam mengekor di belakang kakaknya. Entah kenapa semenjak Nila hamil, dimatanya sikap Nila menjadi random.


"Kamu meeting dimana emang Tiv?" tanya Nila sembari mempersilahkan Lativa duduk di sofa.


"Ituloh kak di kafe deket sini."


"Oh ya? Disana kan cinnamon roll cake nya enak banget!" seru Nila seketika merasa ingin kue tersebut.


"Tenang, tenang ...." Lativa menaruh bingkisa yang tadi ia bawa ke atas meja. "Cinnamon roll cake, milk tea boba, plus dessert tiramisu spesial buat kakak."


Hati Nila merasa tersentuh. "Adikku! Kenapa kamu baik dan tahu sekali apa yang Kakak mau? Terima kasih!" Nila memeluk Lativa sangat erat. Sampai-sampai orang yang dipeluknya hampir kehabisan napas.


"Iya sama-sama. Tapi mending langsung makan deh Kak. Aku susah napas," sahut Lativa bersusah payah.

__ADS_1


Nila merasa tidak tega dan langsung melepaskan pelukannya.


"Uhuk. Uhuk!" Lativa terbatuk-batuk, sementara Nila langsung mengambilkan air di mini pantry yang ada di kamarnya.


"Maaf, maaf. Ini minum dulu!" Nila menyodorkan minum lalu diterima oleh Lativa.


Setelah cukup lega, Nila dengan santai menikmati hidangan camilan yang dibawakan oleh Lativa tadi.


"Kak, sebenarnya aku kesini sekalian mau omongin sesuatu sama Kakak."


"Apa tuh?"


"Jadi, kemarin siang Antony sempat datang ke perusahaan terus maksa aku buat ikut sama dia. Tapi aku gak mau, dan untung ada bunda. Jadi Antony dibawa ke kantor polisi. Sampai sekarang aku gak tahu dia bebas atau nggak. Terus ..." Lativa menjeda ceritanya sejenak. Sementara Nila masih diam menunggu kelanjutannya.


"Semalam aku sempat ngobrol sama pak Rusli. Dia bilang mau bantu gugatan perceraian aku sama Antony lewat pengacaranya. Jadi pak Rusli ini katanya cuma perantaranya aja. Kalau menurut Kakak gimana?" sambung Lativa berujung meminta pendapat sang kakak.


Nila berhenti sejenak saat memakan cinnamon roll cake, lalu meminum milk tea boba. Setelah tenggorokannya cukup lega, ia pun mulai bicara.


"Sekarang Kakak tanya, kamu masih cinta gak sama Antony?"


"Nggak."


"Masih mau pertahanin rumah tangga kalian gak?"


"Nggak."


"Masih mau selesain baik-baik gak?"


"Nggak, Kak. Kemarin aja pergelangan tangan aku sampai merah karena dicengkram sama dia, dasar lelaki manipulatif!" umpat Lativa merasa kesal saat mengingat kejadian itu.


"Oke, kalau begitu terima aja tawaran Rusli. Kakak rasa itu ide yang bagus. Pertama, kamu bisa memperjelas status kamu sekarang. Kedua, kamu bisa leluasa nyembuhin luka. Ketiga, kalau kamu siap, kamu bisa buka hati untuk lelaki lain yang mungkin lebih tulus dan mau menerima kamu apa adanya."


Lativa menarik napas dalam-dalam. Ia sependapat dengan sang kakak. Bagaimanapun ia berhak bahagia dan menemukan kebahagiaannya sendiri.


"Kakak rasa kamu udah dewasa, Tiva. Udah saatnya kamu harus tegas. Sebentar lagi kamu juga akan memasuki babak baru, terus test kejar paket juga udah didepan mata. Semangat! Kakak yakin kamu pasti bisa!"


Kata-kata motivasi dari Nila, ternyata bisa membuat percaya diri serta tekadnya tumbuh. Lativa jadi tidak merasa sendiri.


"Terima kasih banyak, Kak!" Lativa memeluk Nila. Namun pelukan itu tidak lama. Sebab ia ingat kalau harus segera kembali ke kantor.


"Omong-omong, aku pamit ke kantor lagi ya Kak. Jangan lupa habiskan makanan sama minumannya. Bye Kakak!" pamit Lativa.

__ADS_1


"Terima kasih juga camilannya. Hati-hati di jalan ya. Minta tolong sekalian tutupin pintu kamar!"


"Iya!"


__ADS_2