Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 85


__ADS_3

Seketika Fatan terkejut saat tembakan yang seharusnya dilayangkan Kemal padanya, justru salah seorang anggota polisi sudah lebih dulu menembak kedua kaki Kemal.


"Si*al!" umpat Kemal diiringi rasa sakit yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam hitungan detik pun pistol yang ada di tangan Kemal pun jatuh bersamaan dengan tubuhnya, tergeletak di lantai tanpa keramik itu. "Akan kubalas kau, Fatan!" ancam Kemal. Padahal tubuhnya sudah tidak mampu menahan rasa sakit akibat tembakan itu.


"Ayo kita tangkap dia!" ajak seorang polisi yang berhasil membekukan Kemal. Beberapa anggota polisi yang turut bersamanya pun mengangguk lalu bergegas menghampiri kedua orang lelaki itu.


Dua orang anggota polisi langsung memasang borgol pada kedua tangan Kemal. Sementara para agen yang ada di sana pun, membantu melindungi Fatan.


"Jadi dia kakak ipar Anda, Bos?" tanya Lian seraya tersenyum menyeringai ke arah Kemal yang terus menyoroti Fatan dengan tatapan penuh dendam serta emosi.


"Iya, dan dia harus dihukum seberat-beratnya!" tegas Fatan dengan kedua tangan mengepal kuat.


"Pasti! Bos tenang aja," jawab Lian terdengar sangat yakin.


Salah seorang anggota polisi menghampiri Fatan. "Saudara Fatan Adisuryo, kami membutuhkan Anda sebagai saksi. Jadi sekarang kami meminta Anda untuk ikut juga ke kantor polisi," katanya dengan raut wajah datar.


"Baik, Pak."


Mereka pun pergi menginggalkan rooftop rumah sakit itu menuju kantor polisi.


.


.


.


.


Di dalam kamar rawat inap Lalisa, tiba-tiba saja Nila seperti tersentak. Perasaannya pun mendadak tidak enak.


"Ada apa ini?" gumamnya sangat pelan bahkan hampit tidak terdengar oleh Lalisa yang sedang asik menonton siaran televisi.


"Kenapa Nila?" tanya Lalisa ketika menyadari kalau raut wajah menantunya itu seperti merasakan sesuatu.


"Gak apa-apa Bun ... Um, sebentar ya ... Aku mau coba hubungi mas Fatan dulu," jawab Nila lalu meraih tasnya guna mengambil ponsel yang memang sebelumnya ia letakkan di sana.


"Oh ya udah." Lalisa mengangguk dan memilih bersantai melanjutkan tontonannya lagi. Ia membiarkan Nila berbicara dengan Fatan dengan posisi cukup jauh darinya. Padahal tanpa Nila tahu, Lalisa pun merasakan hal yang sama.

__ADS_1


Sayangnya saat Nila berusaha menghubungi Fatan, ponsel lelaki itu sedang dalam diluar jangkauan. Bisa jadi ponsel itu mendadak mati ataupun tidak dapat jaringan. Akhirnya Nila kembali menghampiri Lalisa dengan raut wajah sedikit murung.


Lalisa yang menyadari hal itu merasa berempati. "Ada apa? Gak bisa ditelepon ya?"


Namun Nila hanya mengangguk seraya duduk di sofa.


"Ya udah jangan terlalu dipikirkan. Fatan itu udah gede. Nanti juga pulang kok. Dia tuh memang dari kecil agak misterius, seperti inilah contohnya. Tiba-tiba menghilang, eh pasti gak lama juga balik lagi," ujar Lalisa berusaha menenangkan Nila. Perempuan setengah abad itu paham, menjadi pasangan baru yang pada dasarnya masih saling menerka itu tidaklah mudah.


"Tapi Bun ... Kalau dipikir-pikir, kenapa mas Fatan waktu pertama kali kami ketemu itu serampangan banget ya? Terus agak berbanding terbalik juga dari apa yang Bunda ceritain tadi, misterius dan lebih condong menjadi pendiam. Apa mas Fatan punya trauma?" ucap Nila.


Lalisa tidak langsung menjawab, melainkan tersenyum melihat raut wajah Nila yang tampak bingung. "Itu karena dia, udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu."


Nila yang tadinya ingin menarik napas, seketika terhenti karena tercekat atas penuturan Lalisa barusan. Beberapa saat kemudian, Nila tersipu.


Andai waktu bisa terulang kembali, masa saat masih bekerja dalam perusahaan yang sama. Memiliki misi yang sama pula, ditambah perasaan kian berbunga selalu melihat sang pujaan hati. Tetapi sayangnya, masa itu perasaan Nila belum siap menerima orang baru masuk ke dalam kehidupannya. Ia masih terfokus pada 'bagaimana caranya supaya bisa cepat move on dari Bayu?' itu saja. Namun rupanya Tuhan memberikan jalan lain, tentu indah pada waktunya.


"Aduuuh, kok jadi merah gitu sih pipi kamu," ledek Lalisa sembari tertawa hingga terbahak, tampak lepas sekali.


"Bunda bisa aja deh!" tepis Nila melawan gengsinya. Karena kebetulan, saat ini sudah menjadi awal yang baru untuknya. Menjalin hubungan romantis bersama sang suami, sungguh indah bukan?


"Hehehe ...." Nila terkekeh geli. "Iya Bunda, aku rebahan dulu ya. Kalau nanti aku ketiduran, minta tolong mas Fatan ya Bun buat bangunin aku," balasnya lalu merebahkan tubuhnya ke atas sofa dan mencari posisi yang nyaman pula.


...****************...


Tak terasa sebentar lagi hari sudah beranjak sore. Tetapi Nila masih terpejam di atas sofa. Padahal sejak beberapa menit yang lalu, Fatan sudah ada di ruangan tempat Lalisa rawat inap. Hanya saja lelaki itu sengaja tidak membangunkan sang istri karena tampak kelelahan.


Namun Fatan tidak sabar melihat Nila terus memejamkan mata. Dia pun segera beranjak dari tempat duduknya untuk membangunkan Nila.


"Fatan, mau ngapain?" seru Lalisa dengan suara pelan seperti orang berbisik.


"Mau bangunin Nila, Bun," jawab Fatan dengan santainya.


"Eh, biarin aja istrimu tidur dulu. Kasihan lagi pules dia," cegah Lalisa merasa geram dengan tingkah anaknya. Jangankan Lalisa, Nila pun kadang sama. Tetapi ya begitulah Fatan. Hanya semenjak menikah, lelaki itu sedikit ada perubahan yaitu bisa diajak serius.


Fatan menghela napas. "Ya udah deh." Dia pun duduk kembali.


Beberapa jam berlalu, langit sudah gelap. Fatan sampai ikut tertidur.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu itu membangunkan Fatan maupun Nila, sedangkan Lalisa yang sejak tadi asik menonton televisi hanya menoleh tenang ke arah pintu.


"Iya, masuk," seru Lalisa. Suaranya menggema diseluruh ruangan bernuansa putih itu dan terdengar juga hingga ke luar ruangan.


Pintu pun terbuka, lalu muncul seorang perawat perempuan dengan memegang berkas pengecekan berkala ditangannya.


"Permisi, maaf mengganggu waktunya, Nyonya ... Kita cek dulu ya," ucap perawat itu dengan ramah dan sopan.


"Oh iya, silahkan," balas Lalisa.


Sementara, Nila dan Fatan pergi ke sebuah ruangan yang terhubung ke kamar rawat inap yang di tempati oleh Lalisa. Ruangan itu merupakan sebuah kamar lengkap dengan tempat tidur, lemari pakaian serta kamar mandi, dan di sana memang diperuntukkan untuk tamu yang menginap selama menunggu pasien.


Berhubung kesadaran keduanya belum benar-benar pulih. Mereka masuk ke dalam kamar mandi bersamaan lalu hendak ke sebuah kloset yang tanpa diduga sebagai tujuan yang sama.


"Ih kamu ngapain sih ngikutin aku!" protes Nila yang sudah memegang tutup kloset dan akan segera dibuka oleh ya. Namun tangan Fatan langsung menahan.


"Kamu yang ngapain disini? Aku mau buang air, udah kebelet!" Fatan tidak ingin kalah.


"Ih kamu tahan dulu. Ngalah sama aku kenapa sih!"


"Gak bisa! Ini udah di ujung!"


Karena tidak kunjung selesai, sontak mereka tersadar penuh.


"Ya udahlah sana kamu dulu." Nila akhirnya mengalah lalu keluar dari kamar mandi. Daripada suaminya mengompol, lebih baik dirinya lebih dulu pergi karena memang tidak terlalu ingin buang air.


"Makasih istriku!" seru Fatan merasa sangat bahagia.


"Iya, sama-sama."


Setelah beberapa menit berlalu. Mereka sudah sama-sama selesai menuntaskan urusan itu dan memilih duduk bersama di tepi tempat tidur dengan keadaan pintu ruangan sengaja ditutup rapat.


"Mas, tadi kamu kemana? Kok lama banget!" tanya Nila diiringi dengan sebuah protes serta wajah cemberut.


Fatan tiba-tiba menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oh itu, tadi aku ... "

__ADS_1


__ADS_2