Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 30


__ADS_3

"Kayaknya saya mau pulang aja deh Pak. Beberapa hari lagi kita akan menghadiri acara besar dan itu cuma setahun sekali. Jadi, harus benar-benar jaga kesehatan," kata Nila menolak ajakan Fatan.


"Yah!" de*sah Fatan lalu mencebik. "Baiklah, kamu duluan aja. Saya masih ada kerjaan. Atau kamu mau nemenin saya lembur?" Laki-laki itu mengerlingkan matanya. Sontak Nila pun jadi bergidig ngeri.


"Gak deh, makasih. Permisi!" Nila berbalik badan lalu segera pergi dari ruangan itu. Ia merasa kesal karena semakin kesini, sikap Fatan padanya semakin menjadi. Membayangkan satu ruangan bersama dia dan hanya berdua, bisa-bisa pikiran Nila semakin kemana-mana karena terlalu takut.


...----------------...


Beberapa hari berlalu terasa sangat singkat. Nila dan Fatan tengah meeting bersama para ketua divisi membahas laporan bulanan seperti biasanya. Meeting itu sudah berlangsung selama satu jam dan seharusnya beberapa menit lagi harus sudah selesai karena Nila dan Fatan harus terbang ke Jakarta untuk datang memenuhi undangan acara yang sangat besar itu.


"Baiklah laporan semua sudah clear, saya tutup meeting ini. Selamat siang!" kata Fatan mengakhiri meeting tersebut. Ia mempersilahkan semuanya pergi dari ruangan itu melalui gesture tubuhnya.


Setelah semuanya sudah keluar, tinggal lah Nila dan Fatan di dalam.


"Nila, tolong pesankan kamar hotel bintang lima yang dekat dengan tempat acara ya!"


Lantas Nila menautkan kedua alisnya. "Loh memangnya Anda gak pulang ke rumah?" tanyanya.


"Gak, di hotel jauh lebih baik," jawab Fatan lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu dan keluar dari ruangan itu.


Nila menghela napas panjang lalu menyusul Fatan yang sudah tidak ada lagi dihadapannya.


Beberapa menit kemudian, keduanya sedang dalam perjalanan menuju bandara. Diantara mereka, hanya Fatan yang membawa koper. Sedangkan Nila tidak karena berniat untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Sepanjang perjalan itu pula yang Nila lakuin hanya diam dan menikmati. Apalagi ketika melihat hamparan awan yang sangat indah ketika sedang berada di dalam pesawat. Nila jadi membayangkan, bagaimana jika ia merebahkan tubuhnya di atas sana? Pasti nyaman, pikirnya.


Namun rasanya tidak mungkin karena awan hanya terbuat dari kumpulan titik air atau kristal es hasil dari proses kondensasi. Yaitu, dimana ada uap gas yang berubah jadi air atau kristal es tersebut. Maka dari itulah bisa melayang di atmosfer bumi. Demikian hal kecil yang memang Nila sudah tahu jawabannya.


Oh iya, kepulangan Nila kali ini sengaja tidak memberitahukan ibu dan juga adiknya. Niatnya Nila ingin memberi kejutan kepada mereka.


Saat tiba di bandara Soekarno-Hatta, Nila dan Fatan akan berpisah.


"Kamu beneran gak apa-apa pulang ke rumah sendirian?" tanya Fatan memastikan. Sejujurnya laki-laki itu khawatir.


"Gak Pak, tenang aja saya kan udah besar," jawab Nila sangat yakin.


Lantas mobil yang akan mengantar Fatan ke hotel tempat dia akan menginap pun sampai.


"Pak mobilnya udah datang. Silahkan Anda duluan aja," sambung Nila mempersilahkan Fatan untuk masuk ke dalam mobil. Sebab sopir yang mengendarai mobil itupun sudah membukakan pintu untuknya.


"Ya udah, saya duluan ya. Kabari saya kalau udah sampai rumah. Jangan lupa tetap hati-hati di jalan ya!" seru Fatan dan Nila hanya menganggukkan kepala seraya tersenyum. Laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil.


Setelah Fatan pergi dari sana, Nila langsung menghampiri taksi yang sebelumnya sudah dipesan melalui online.


"Selamat sore, dengan Ibu Nila, benar?" sapa sopir taksi itu saat Nila baru saja membuka pintu.

__ADS_1


"Iya Pak."


"Silahkan masuk Bu."


"Terima kasih."


Nila masuk ke dalam lalu sopir pun melajukan mobilnya setelah perempuan itu menutup rapat pintunya.


"Pak sebelum langsung ke tujuan, saya minta tolong diantar ke butik Sandewa yang ada di jalan Fatmawati ya," kata Nila pada sopir itu.


"Oh iya, baik Bu."


Tidak butuh waktu lama Nila sampai di depan butik tersebut karena memang jalan raya di daerah itu sedang senggang dan belum waktunya jam pulang kantor tiba.


"Tunggu sebentar ya Pak, saya mau ambil pesanan terlebih dahulu." Sopir mengangguk dan Nila pun turun dari mobil.


Nila memesan sebuah gaun di butik itu untuk acara nanti malam. Sebab banyak yang memberi ulasan produk dari butik tersebut tidak ada yang mengecewakan. Walaupun Nila tidak akrab dengan pemiliknya, dan apa salahnya mencoba? Siapa tahu setelah ini menjadi akrab bukan?


Nila membuka pintu dan langsung disambut oleh salah satu pegawai butik di sana.


"Selamat sore Kak, ada yang bisa kami bantu?"


"Sore, saya kesini mau ambil pesanan," jawab Nila juga bersikap ramah.


"Oh iya, mari silahkan ... " Pegawai itu membawa Nila menuju ke sebuah pintu. Ia mengetuk lalu membukanya. "Permisi Bu, ada yang mau ambil pesanan," kata pegawai itu yang Nila yakin pasti bicara dengan pemilik butiknya.


Pegawai itu menoleh dan Nila pun tersenyum. "Kak silahkan masuk aja, nanti ketemu sama Bu Dahlia ya."


"Oke!"


Pegawai itu pergi dan Nila masuk ke dalam ruangan itu.


"Permisi ... " ucap Nila. Matanya langsung melihat ke arah perempuan yang sedang berdiri di samping meja dan menatapnya sambil tersenyum.


"Ini Nila Anastasya bukan?" ucap perempuan itu.


"Iya benar. Kamu Dahlia yang waktu itu kita sama-sama gak sengaja saling tabrakan di depan perpus, masih ingat gak? Yang air minunku sampai kena tas kamu," sahut Nila. Ingatan perempuan itu memang sangat tajam, pantas saja Dian merujuknya menjadi seorang sekertaris.


"Ah iya, benar. Untung tas aku waterprof ya. But, its ok." Dahlia terkekeh geli mengingat hal yang pernah terjadi diantara mereka.


"Gimana kabarnya Dahlia?" Nila mengulurkan tangannya.


"Baik, kamu sendiri?" Dahlia pun menyambut uluran tangan Nila dengan senang hati. "Silahkan duduk," sambungnya lalu menuntun Nila ke sebuah sofa berbentuk seperti huruf 'L'.


"Baik juga ... Um, jadi butik ini punyamu ya?" tanya Nila seraya duduk.

__ADS_1


"Bukan, ini punya ibu mertuaku. Kebetulan kami sama-sama suka fashion dan sebelumnya beliau yang mengelola. Ya ... Karena sekarang udah gak bisa capek, jadi aku deh, gantian," jawab Dahlia sedikit bercerita.


"Wah enak ya punya mertua yang satu frekuensi." Nila tersenyum ikut bahagia.


"Oh iya pesananmu ya?" Nila mengangguk. "Tunggu sebentar, biar aku ambilkan dulu." Dahlia beranjak dari duduknya.


Beberapa saat kemudian Dahlia membawa sebuah gaun berwarna maroon yang terbungkus oleh plastik serta dikaitkan pada sebuah hanger. Nila pun langsung berdiri.


"Coba Nila dicoba dulu, sesuai yang kamu minta atau nggak," kata Dahlia seraya memberikan gaun itu pada Nila.


"Kamar gantinya dimana ya?"


"Oh di sudut ruangan sana." Dahlia menunjuk ke sebuah ruangan kecil yang terdapat pintu kaca. Nila pun mengikuti arah pandangnya lalu mengangguk.


Tak disangka meskipun pemesanan dilakukan melalui online, ternyata setelah dipakai sangat pas ditubuh Nila. Model gaun secara keseluruhan sangat membuatnya sangat cantik walaupun masih tanpa make up.


"Dahlia, gimana menurutmu cocok gak?" tanya Nila saat keluar dari ruang ganti.


Dahlia terkejut. "So beautiful! Pas banget Nila, cantik banget."


"Oh ya? Kamu juga hebat loh, bisa buat gaun secantik ini!" ujar Nila lalu memutarkan tubuhnya seraya berdiri di depan cermin yang ada disana.


"Karena kamu pun cantik dan punya tubuh yang proporsional, jadi sebenarnya pakai gaun model bagaimana pun tetap aja kelihatan cantik!" seru Dahlia.


Nila pun tiba-tiba ingat kalau taksi yang ditumpanginya tadi masih menunggu di depan butik. Ia segera masuk lagi ke dalam ruang ganti.


"Dahlia, kayaknya langsung bungkus aja ya. Aku sampai gak inget kalau masih sewa taksi di depan," ucapnya lalu terkekeh. Setelah selesai mengganti pakaiannya kembali.


"Oh iya sini biar aku kemas dulu. Kamu bisa langsung ke kasir aja ya di depan," kata Dahlia dan Nila pun mengangguk paham.


Setelah membayar dan mendapatkan gaun yang sudah dikemas oleh Dahlia, Nila kemudian pamit.


"Next time pesan disini lagi ya Nila!" seru Dahlia saat mengantarkan Nila sampai ke depan pintu mobil.


"Siap, suatu hari ya kalau waktunya aku nikah," sahut Nila sambil tertawa.


"Loh kamu belum nikah ya? Aku kira udah."


"Belum, doain aja."


Nila masuk ke dalam mobil lalu membuka kaca jendelanya.


"Semoga cepat ketemu jodohmu, hati-hati dijalan. Makasih ya udah kesini!" seru Dahlia lagi lalu melambaikan tangan.


"Aamiin, sama-sama Dahlia. Bye!" Nila pun melakukan hal yang sama, saat sudah melaju pergi dari butik itu kacanya pun ditutup kembali.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2