Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 63


__ADS_3

"Ha-halo, Pak Fatan."


Nila meneguk ludahnya dengan paksa. Rasanya sangat gugup sekali setelah mendengar suara Fatan. Apa jangan-jangan Nila sudah kelewat rindu pada lelaki yang satu itu?


"Gimana kabarmu?"


"Baik, Pak. Anda sendiri bagaimana? Apa pengobatannya lancar di Tiongkok?" Entah kenapa Nila sangat merindukan masa-masa dimana belum ada perasaan diantara mereka.


"Ya begitulah. Oh iya gimana pekerjaan kamu sekarang? Apa udah bisa terbiasa dengan cara pimpinan Edward?"


Pada kenyataannya Fatan sudah mengetahui hal itu. Tetapi di depan Nila, dia pura-pura tidak tahu. Apa mungkin Fatan sengaja memancing Nila supaya mau mengadu padanya?


Aduh, kalau memang begitu niatnya. Tentu Nila bukan tipikal perempuan yang seperti itu. Terlebih Fatan hanya sekadar mantan atasannya saja.


"Maaf Pak, saya udah resign," jawab Nila singkat dan tidak ingin mengingat tentang hal itu.


"Apa? Resign? Bagaimana bisa? Apa yang telah terjadi sebenarnya?"


Astaga, Fatan! Kenapa dia jadi pura-pura terkejut seperti itu?


"Panjang Pak ceritanya. Mungkin Anda bisa tanyakan sendiri pada Pak Edward tentang apa yang sudah terjadi. Sekarang saya udah gak ada urusan apapun lagi tentang perusahaan. Semua data pun sudah saya kirimkan semuanya ke kantor pusat."


Benar bukan? Nila tidak mungkin menjelaskan dengan detail.


"Astaga ... Terus kenapa kamu langsung resign gitu aja? Kenapa gak tanya terlebih dahulu ke saya ?"


"Helow! Anda memangnya siapa saya? Boro-boro nanya Anda. Buat nanya ibu saya sendiri aja gak sempat," omel Nila dalam hati. Kalau secara langsung mana berani, terlebih ia sedang merasa gugup sekali.


"Maaf Pak, saya rasa ... Kalau saya udah yakin untuk resign. Ya, hitung-hitung mau menenangkan diri. Siapa tahu setelah ini keberuntungan akan berpihak pada saya," balas Nila dengan santai. Sebab kalau emosinya terus dituruti, pasti tidak ada ujungnya. Bisa-bisa Nila sulit meredamnya.


"Oh begitu rupanya." Tanpa Nila tahu, kedua mata Fatan sudah memerah. Begitupun dengan wajahnya, serta sebelah tangannnya yang tidak sedang memegang ponsel mengepal sangat kuat. Setelah apa yang dipastikannya saat ini memang benar, Fatan sangat marah. l

__ADS_1


"Um, Pak sebelumnya saya minta maaf ya, kalau selama kerja sama saya waktu itu mungkin ada salah kata ataupun perbuatan," ujar Nila seraya tersenyum getir, walau Fatan tidak melihatnya. "Soal apa yang saya ungkapkan saat itu ... Saya harap Anda gak mengganggapnya serius," sambungnya lalu kedua matanya berkaca-kaca.


"Nila ... " ucap Fatan berhenti sejenak. Laki-laki itu sedang berpikir keras supaya apa yang akan diucapkan selanjutnya tidak akan menimbulkan salah paham.


"Iya?" Nila menunggu dengan degub jantungnya yang semakin tidak keruan.


"Kalau besok ketemuan sama saya di kedai yang biasa kita datangi bagaimana? Kamu mau?"


Seketika Nila menarik napas lalu mengerutkan keningnya. "Tapi bukannya Anda sekarang sedang pengobatan di Tiongkok?"


"Nggak, saya lagi di Jakarta," jawab Fatan terdengar santai.


"D-Di Jakarta? Sejak kapan?" Reflek Nila bertanya demikian walau sedikit terbata karena terkejut.


"Nanti akan saya jelaskan kalau kita udah ketemu, bagaimana?"


"Gak bisakah lewat telepon aja?"


"Nggak," jawab Fatan cepat. Laki-laki itu kelepasan menjawab 'tidak', sementara Nila hanya terdiam seraya berpikir.


Nila yang masih tercekat sampai tidak mampu berkata apapun dalam beberapa saat. Ia menarik napas panjang lalu berkata, "Baik, Pak."


"Ya udah mungkin sampai disini dulu obrolan kita. Sampai ketemu besok, kalau kamu berkenan."


"Iya, Pak ... Fatan. Bye."


Sambungan telepon itu terputus.


Nila merebahkan tubuhnya lagi di tempat tidurnya. Rasa lelahnya tiba-tiba hilang setelah mendapat telepon dari Fatan tadi. Sekarang justru berganti otaknya yang bekerja keras untuuk menentukan pilihan apakah besok mau datang atau tidak.


Tidak lama berselang, muncul notifikasi pada ponselnya. Nila pun membuka layarnya itu lalu beralih ke aplikasi hijau. Ternyata memang Fatan yang mengirim pesan berupa sebuah lokasi. Tentunya Nila membuka peta online itu terlebih dahulu dan memastikan kalau lokasi pertemuan yang dimaksud oleh Fatan memang benar adanya.

__ADS_1


"Oh ... Ini sih dekat sama rumahnya dia." Nila pun teringat saat pergi ke rumah itu. Mungkin kalau jarak dari rumahnya ke sana bisa memakan waktu hampir 2 jam lamanya.


Namun belum sempat dapat keputusan, rasa kantuk mulai menguasainya. Nila pun akhirnya memilih tidur. Baru kali ini ia merasa sangat bebas sekali, yang biasanya di jam segini masih berkutat di depan laptop, sekarang malah asik tidur sesuka hati. Mungkin ini salah satu alasan Nila harus bersyukur karena keputusannya untuk resign, sudah tepat.


...----------------...


Sore hari Nila sudah mandi dan berganti pakaian, ia baru keluar dari kamar. Wangi harum khas bunga mawar karena sabun mandinya itu, membuat orang lain yang menghirupnya ikut terasa segar.


"Enak ya Kak seharian habis tidur. Duh ... pas keluar kamar wanginya bikin aduhai," ledek Jarfin saat Nila tanpa sadar melewatinya yang sedang merebahkan tubuh di sofa ruang keluarga.


Nila pun seketika menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Jarfin.


"Eh ada orang rupanya. Kirain gak ada siapa-siapa," balas Nila kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Jarfin.


"Kak, mau kemana?" Laki-laki itu terperanjat duduk ketika melihat Nila pergi.


"Ke depan!" seru Nila sambil terus berjalan dan menghilang dari pandangan Jarfin.


"Tunggu! Aku ikut!" Jarfin langsung menyusul Nila dengan cepat.


Ternyata Nila mengeluarkan motor yang biasa dipakai oleh Lativa dari dalam garasi.


"Loh Kak mau kemana? Kok naik motor?" tanya Jarfin yang berhasil menyusul Nila.


"Mau ke minimarket depan komplek. Kenapa? Mau ikut?" jawab Nila tanpa menoleh ke arah laki-laki itu. Sebab sedang berusaha menyalakan mesin motor tersebut.


"Gimana? Bisa gak Kak? Sini sama aku aja!" kata Jarfin menawarkan diri. Dari tadi lelaki itu begitu gemas melihat Nila menyalakan mesin motor. Tanpa menunggu persetujuan Nila, Jarfin langsung mengambil alih dan berdiri menyerobot perempuan itu. Dengan keterampilan serta kesabaran Jarfin, motor itu pun menyala.


"Ayok Kak naik! biar aku yang bonceng Kakak," ajak Jarfin sudah lebih dulu menjadi pengemudi. Kalau sudah begini Nila hanya menghela napas panjang dan tidak ingin ribut dengan adik sepupunya itu.


Nila menganggukkan kepala lalu naik ke atas motor, di belakang Jarfin. Mereka pun akhirnya pergi ke minimarket bersama.

__ADS_1


Sepanjang jalan pergi, Jarfin terua berusaha mengajak bicara Nila. Semakin lama obrolan keduanya pun semakin seru. Hingga saat perjalanan pulang ke rumah pun begitu.


Mereka yang tadinya seperti kucing dan tikus, karena kedewasaan masing-masing bisa berubah layaknya menjadi seorang sahabat.


__ADS_2