Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 166


__ADS_3

Fatan memeriksa dengan teliti satu per satu. Kebetulan ada barang yang baru saja sampai ke perusahaan itu. Beruntung barang yang ada hanya satu box dengan isi berjumlah 10 pices.


"Setelah saya periksa, semua barang ini sudah sesuai dengan standar perusahaan kami dan masih tetap sama. Tidak ada yang berubah." Fatan mendelik tajam. "Kalau niat Anda ingin menjatuhkan perusahaan saya. Jangan harap itu bisa terjadi dan bisa saya pastikan nantinya akan berbalik ke perusahaan Anda sendiri yang akan jatuh bahkan tersungkur sekalipun!"


"Ah, Anda pandai juga berbicara. Bilang saja Anda takut kalau saya menempuh jalur hukum bukan?" Antony malah menantangnya dengan tatapan remeh.


"Cih!" Fatan berdecih. "Untuk apa pakai jalur hukum? Bu Liza saksinya. Saya sudah memeriksa semua dan barangnya tidak ada yang cacat sama sekali ..." Ia mulai tersulut emosi. "Atau jangan-jangan Anda sendiri yang menaikkan standar perusahaan sesuka hati 'kan?"


"Maaf Pak Fatan, atas kesalah pahaman ini." Liza memotong, karena sejak tadi perempuan itu sebenarnya sudah merasa tidak enak hati pada Fatan. Semua ini memang ulah Antony, menekan seluruh para pegawai supaya mengikuti apa yang dia perintahkan. "Mengenai masalah ini, kami mohon maaf atas kekeliruan yang terjadi. Kami janji akan memperbaikinya. Sekali lagi saya minta maaf ya."


"Bu Liza!" bentak Antony. Lelaki baru kemarin mengenal bisnis saja sombongnya bukan main. Bahkan sama orang yang usianya lebih tua darinya pun sangat berani membentak.


"Jelas bukan? Sekertarismu saja minta maaf. Itu artinya yang salah bukan saya, tapi Anda!" Fatan meninggikan suaranya, hampir saja ia kelepasan mengeluarkan amarahnya. "Sudah sejauh mana Anda belajar tentang bisnis?" tanyanya kemudian.


Namun dalam sekejap, Fatan mampu membungkam Antony. "Cih! Kalau begini aturan main Anda. Saya jadi paham, mungkin ini alasan orang tua Anda yang tidak bisa memberikan perusahaan mereka pada orang yang hanya besar mulut seperti Anda ini," cibir Fatan lalu tersenyum seringai. Lantas pandangannya beralih kepada perempuan disamping Antony.


"Bu Liza, kalau memang perusahaan Anda ingin membatalkan kontrak. Saya tidak merasa keberatan sama sekali, saya malah bersyukut. Tapi saya minta satu hal, biaya pembatalan kerjasama tolong segera dikirimkan kepada saya. Setelah itu, kerjasama kita selesai," tegas Fatan.


"Baik, Pak. Kami akan segera proses," jawab perempuan itu dengan wajah menunduk. Mungkin dia merasa malu dengan kelakuan Antony yang diluar batas.


"Dan Anda!" Jari telunjuk Fatan mengarah pada Antony. Sorot mata yang diberikannya pun sangat tajam. "Kalau sampai setelah ini Anda menyentuh bagian dari keluarga saya, sedikitpun! Jangan harap hidup Anda akan tenang."


"Hei! Anda mengancam saya? Anda bisa kena pasal loh! Jangan kira saya takut pada Anda ya!" Antony semakin bringas, kian menantang.


Namun Fatan tidak mempedulikan itu. Ia justru pamit pada Liza saja, kemudian segera pergi dari sana dan kembali ke perusahaannya.

__ADS_1


Usai kepergian Fatan, Antony sangat marah besar pada Liza.


"Kamu ini bodoh atau gak punya otak sih? Mau-maunya minta maaf dan ganti rugi ke dia? Payah! Kamu sudah menghancurkan saya!" bentak Antony tepat di depan wajah Liza.


Sayangnya, Antony berhadapan dengan orang yang salah. Selama Liza bekerja dengan ayahnya, tidak pernah ada kejadian seperti ini. Lelaki itu telah memfitnah kolega ayahnya sendiri. Dia tidak tahu niat awal ayahnya bekerjasama dengan perusahaan milik Fatan itu untuk permintaan maafnya atas trauma yang mendalam pada Lativa.


"Maaf, Pak. Anda tidak selayaknya berperilaku seperti itu. Saya tekankan disini. Serapi apapun Anda menyimpan rahasia besar terhadap saya, saya akan segera mengetahuinya. Terutama tentang kedua orang tua Anda. Apa kamu kira saya akan terkejut ketika Anda bilang kalau orang tua Anda telah meninggal dunia? Tentu tidak. Karena saya tahu keberadaan mereka sekarang dimana. Satu hal yang perlu Anda ingat, apa yang sedang Anda rencanakan saat ini, nantinya akan berbalik kepada Anda sendiri. Permisi!" ucap Liza panjang lebar.


"Apa?" Mata serta mulut Antony terbuka lebar. Lelaki itu tampak tidak percaya. "Kamu jangan asal bicara! Ayah dan ibu saya sudah mati!" teriaknya pada Liza. Sebab perempuan yang dia marahi tadi sudah berjalan sangat jauh dari tempatnya berdiri.


Bertahun-tahun Liza bekerja di perusahaan itu, tidak akan kalah ilmunya dengan seorang Antony yang merupakan anak baru kemarin. Tanpa ada orang yang tahu selain Ali dan Nata, kalau dia merupakan tangan kanan mereka di perusahaan. Semua permasalahan yang terjadi, Liza pasti sudah lebih tahu.


Tanpa Antony tahu, sebenarnya semua ini adalah rencana Ali. Sebab lelaki paruh baya itu ingin tahu, anak semata wayangnya dalam hal bisnis memiliki kemampuan atau tidak. Namun rupanya Antony bertingkah curang. Diam-diam dia menaruh racun sianida di kopi dan teh kedua orang tuanya.


Tak disangka, pelayan rumah yang melihat kelakuannya langsung menukar kedua minuman itu tanpa sepengetahuan Antony sebelum Ali dan Nata minum. Lantas Ali pun memanipulasi kepergiannya ke sebuah negara dan menyuruh orang untuk memberi kabar ada Antony kalau ia dan istrinya sudah meninggal dunia.


...----------------...


Sementara Fatan, sudah tiba di kantornya lagi. Lelaki itu turun sambil membawa tas kerjanya. Langkah kakinya begitu tegas tanpa ada keragu-raguan. Dia tampak percaya diri dan perasaannya jauh lebih lega.


Tiba di lantai tempat ruangannya berada, Rusli langsung berdiri menyambutnya.


"Siang, Bos. Bagaimana tanggapan mereka tadi?" Rusli terlihat penasaran.


"Siang. Ikut ke ruangan saya sekarang!" Fatan masuk lebih dulu ke dalam ruangan, kemudian disusul oleh Rusli.

__ADS_1


"Saya sebenarnya sangat kecewa dengan sikap pemiliknya sekarang. Yang lebih bikin saya kaget, dia bilang kalau orang tuanya udah meninggal dunia. Gila banget gak tuh?" Fatan mengempaskan tubuhnya ke atas kursi kebesaran.


"Meninggal? Siapa Bos? Maksudnya gimana sih?" Rusli masih belum paham.


"Kamu bisa nebak gak siapa pimpinan perusahaan itu?" Fatan bertanya balik, memberi teka teki pada sekertarisnya.


"Pak Ali, Bos?"


Fatan menggelengkan kepala. "An-to-ny," ejanya terdengat lebih jelas.


"Hah? Bagaimana bisa? Terus yang dimaksud Bos, orang yang meninggal tadi? Pak Ali?" Rusli tercengang, tidak percaya.


"Ya, kata Antony sih begitu. Tapi saya masih gak percaya sepenuhnya. Lagipula bukan ranah saya buat tanya-tanya lebih detail terkait perihal itu. Ya kalaupun benar, kita doakan aja semoga pak Ali dan istrinya bisa tenang. Yang saya gak habis pikir, bocah macam Antony bisa-bisanya suruh memimpin perusahaan sebesar itu. Pakai segala menuduh perusahaan kita yang ngadi-ngadi." Fatan mengesah penuh sesal. "Mereka tetap mau memutuskan kerjasama, dan saya udah menegaskan terkait peraturan yang terlampir di dalam surat kontrak. Itu artinya mereka harus membayar dendanya."


"Apa Antony akan menyetujui hal itu, Bos?" Rusli ragu.


Fatan mengangkat kedua bahunya. "Mungkin iya, mungkin nggak. Yang jelas mereka harus mengganti rugi. Kalau nggak, kita harus menempuh jalur hukum buat menuntut hak kita. Di surat kontrak kan udah tertulis jelas peraturan main bisnis ini bagaimana. Kecuali kalau kita yang membatalkan, ya kita yang harus membayar."


Rusli mengangguk setuju. "Kalau begitu, nanti akan saya bantu follow up kepada mereka terkait hal ini. Bos."


"Oh iya, sekalian saya minta kamu pantau dia. Saya khawatir, dia punya maksud terselubung dibalik ini. Pasalnya jiwa labil seperti dia, mana mungkin bergerak kalau bukan karena ambisi," tekan Fatan menegaskan.


Rusli mengangguk paham. Lantas kemudian berpikir. "Bos, apa perlu kita juga mencari tahu tentang pak Ali dan istrinya?"


"Ya silahkan, untuk berjaga-jaga aja. Supaya gak ngaruh sama kemajuan perusahaan ini," jawab Fatan lalu mengangkat kedua tangannya ke atas seraya menarik napas dalam setelah itu mengempaskannya. "Oh iya, coba kamu sambil beritahu Lativa terkait hal ini. Khawatirnya tingkah Antony akan semakin menjadi," tambahnya.

__ADS_1


"Baik, Bos. Terima kasih banyak atas informasinya." Rusli menunduk hormat. "Kalau gitu saya izin kembali ke meja kerja, Bos."


Fatan menganggukkan kepala. "Iya silahkan."


__ADS_2