Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 121


__ADS_3

Sebelum Fatan berangkat kerja, Nila terus membuntuti suaminya. Dari mulai keluar dari kamar mandi, ke ruang ganti pakaian, serta sampai saat Fatan merapihkan tampilannya di depan cermin. Usai rapih, Fatan berbalik badan.


"Ada apa, Sayang? Apa semalam masih kurang?" tanya lelaki itu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nila lalu menaikkan sebelah alis matanya.


Nila tiba-tiba cengengesan. "Bukan itu ...."


"Lalu apa?" Salah satu tangan Fatan memegang dagu sang istri sambil mencubit manja.


"Aku mau ikut kamu ke kantor seharian. Selama trismester pertama kemarin kan kamu gak bolehin lama-lama, kalau sekarang udah masuk trismester kedua. Jadi ... Boleh ya?" rayu Nila ditambah raut wajah memelas.


Fatan memicingkan mata sambil berpikir keras. "Kalau gak boleh gimana?" balasnya kemudian.


Nila langsung berdecak lau menjauhkan tubuhnya dari sang suami. "Ya udah kalau gitu!" Nada ketusnya itu membuat Fatan mengulum bibir karena menahan tawa.


"Kamu lucu deh kalau lagi ngambek," goda Fatan yang kemudian melingkarkan kedua tangannya kepada Nila. Namun perempuan satu itu langsung berbalik badan karena enggan menatap suaminya. Dia hanya diam seribu bahasa dengan wajah cemberut. "Iya, kamu boleh ikut. Tapi kalau aku meeting di luar kantor, kamu jangan ikut ya? Aku takut kamu kecapekan, Sayang ... Inget loh ada anak kita di sini," bujuk Fatan sambil mengelus perut Nila yang membuncit.


"Aku mau ikut kemanapun kamu pergi, justru ini kemauan anak kita, Mas ...." Nila mengeluarkan senjatanya.


Fatan hanya bisa menarik napas dalam-dalam kalau Nila sudah begini. "Oke, Sayang!" ucapnya kemudian.


Senyum Nila langsung sumringah. "Asik!" Bahkan ia sampai bertepuk tangan.


Fatan hanya terkekeh melihat tingkah istrinya. "Gemesin banget sih kamu tuh!" Dengan cepat lelaki itu mengigit bibir sang istri, membuat sang empunya langsung terdiam beberapa saat karena terkejut sekaligus terasa sakit.


"Mas, ih!" rengek Nila, tapi Fatan malah tertawa. Lantas sang suami mengulanginya lagi tapi kali ini cukup lembut.


"Siap-siap sana. Aku tunggu di sini," pinta Fatan lalu Nila pun menganggukkan kepala.


.


.


.

__ADS_1


.


Mobil keluaran negeri sakura itu berhenti tepat di depan teras lobby perusahaan. Tak berapa lama kemudian, pemilik mobil itupun turun. Dia adalah Fatan dan juga Nila. Para staf yang bertugas di area lobby langsung menyambut kedatangan mereka.


"Selamat pagi Pak Fatan dan Bu Nila."


"Pagi."


Keduanya berjalan bersamaan masuk ke dalam lobby lalu menuju lift. Namun sebelum keduanya masuk ke dalam lift, Rusli menyambut mereka.


Melihat Fatan datang bersama Nila, membuat sebuah ide muncul di benak kepala Rusli. Lelaki itu langsung ikut bersama kedua bos nya masuk ke dalam lift.


"Rus, apa jadwal saya hari ini?" tanya Fatan dengan sikap dingin dan serius. Meski begitu di lengannya terdapat tangan Nila yang melingkar erat seakan memakai lem.


Rusli pun menyalakan layar tab di tangannya, lalu menjelaskan apa-apa saja yang akan di kerjakan bos nya tersebut. Disisi lain, mendengar tidak ada meeting di lurar kantor, Fatan pun merasa lega karena dirinya bisa bersantai di ruang kerjanya bersama sang istri.


Tiba di lantai tempat ruangan Fatan berada, mereka keluar dari lift bersamaan. Namun ketika Fatan dan Nila hendak masuk ke ruang kerja, Rusli memanggil keduanya.


"Ada apa, Rus?" tanya Fatan mengerutkan keningnya.


"Ada yang ingin saya bicarakan, penting," jawab Rusli sedikit gugup.


"Tentang apa?" Kali ini Nila yang bertanya.


"Antara saya dan ... Lativa." Menjawab seperti itu saja Rusli sudah mulai keringat dingin. Namun melihat raut wajah Fatan dan Nila penasaran, ia berharap bisa diberi kesempatan untuk bicara.


"Ya udah mari masuk!" ajak Fatan, membuat Rusli bernapas lega.


Kini ketiganya duduk di sofa yang terdapat di dapam ruang kerja itu.


"Silahkan," kata Nila sambil memasang wajah serius. Terlebih Rusli bilang ada kaitannya dengan sang adik.


"Selama beberapa bulan terakhir ini, saya dan Lativa bisa dibilang semakin dekat. Kami udah saling mengenal masing-masing. Berhubung status Lativa saat ini udah jelas, maka saya pribadi mau minta izin kepada Bos Fatan dan Bu Nila untuk menikahi Lativa," tutur Rusli mengutarakan niatnya.

__ADS_1


Nila menghela napas, tapi berbeda dengan Fatan yang tampak santai menanggapi ucapan Rusli.


"Apa kamu gak keberatan dengan status Lativaa sekarang? Bagaimana dengan pihak keluarga kamu sendiri, apa mau menerima Lativa?" cecar Nila. Perempuan itu tidak ingin adiknya jatuh kepada orang yang salah lagi.


"Saya gak masalah sama sekali. Dan saya juga tahu, keluarga saya pun sama. Sebab mereka hanya ingin melihat saya bahagia, dan bahagia saya bersama Lativa," jawab Rusli sangat yakin.


"Jujur, kalau saya pribadi ... Semua balik lagi dengan pendapat Lativa, kalau memang dia cocok sama kamu. Saya akan terus dukung. Tapi seperti yang kamu tahu masa lalu Lativa, dan gak mudah buat dia untuk bisa bangkit. Dan saya juga yakin, dibalik ketulusan kamu sama dia pasti gak mudah bersabar untuk orang yang masih terbayang-bayang luka lamanya. Walaupun saya gak tahu banyak tentang kamu lebih dari yang suami saya tahu ... Saya berharap kesetiaan dan kasih sayangmu usai menikah dengan Lativa, gak berubah," jelas Nila yang memposisikan dirinya sebagai seorang kakak yang akan terus mendukung apapun demi kebahagiaan sang adik.


"Benar apa yang dikatakan oleh istri saya. Semua juga balik ke Lativa. Saran saya sih, kalau kamu udah yakin banget buat menikah, segerakan. Jangan menunda apalagi membuatnya menunggu tanpa ketidakpastian," ujar Fatan.


Manik mata Rusli pun berbinar. Lelaki itu tampak begitu bahagia. Restu dari Nila dan Fatan sudah didapat. Hanya tinggal ibunya, Mirna.


"Terima kasih Bu, Bos. Saya akan segera menikahi Lativa. Mungkin besok saat Lativa udah masuk kantor, saya akan melamarnya," timpal Rusli dengan perasaan bahagia yang begitu membuncah.


"Lamarannya di kantor?" tukas Nila seraya menautkan kedua alisnya.


Rusli tersenyum lalu menganggukkan kepala. "Hanya simbolis, Bu ... Tetap aja acaranya kalau gak ada halangan di sebuah tempat yang lagi saya siapkan," jawabnya terdengar menyakinkan.


"Oh begitu, ya udah. Good luck! Semoga kamu bisa menaklukan hati Lativa yang terkadang keras sekali," kata Nila lalu bersandar lagi kepada sang suami. Baru saja Fatan bersantai, eh sudah ditempelin lagi sama Nila.


"Sekali lagi terima kasih banyak ya, doakan saya!" Rusli kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Kalau gitu saya izin keluar dari ruangan ini ya Bu, Bos. Permisi." Ia menunduk hormat kemudian pergi dari ruang kerja Fatan itu.


Setelah Rusli keluar, Fatan menatap Nila. "Aku bangga deh sama kamu," ucapnya tiba-tiba.


"Aku? Kenapa?" Dalam hati Nila sudah kesenangan sekali dibilang seperti itu, rasanya langsung meleleh.


"Karena kamu bisa menempatkan posisi sesuai tempatnya. Apalagi kamu seorang kakak perempuan, perasaan cemas akan adikmu itu aku yakin pasti cukup besar. Tapi, dengan bicaramu seperti itu ... Pasti gak mudah bukan untuk kamu utarakan?"


"Ya, bagaimanapun porsinya seorang kakak bisa menjaga dan memberi contoh untuk adiknya. Tanpa membatasi ataupun mengatur. Apalagi aku yakin Lativa udah cukup dewasa soal itu," balas Nila.


Fatan sampai tidak mampu berkata-kata. Akan tetapi ia malah terbawa nalurinya dan akan segera menyerang Nila. Beruntung Nila sadar dimana keberadaan mereka sekarang.


"Mas, ini di kantor loh!"

__ADS_1


__ADS_2