Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 104


__ADS_3

Tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengan Lativa saat akan menaiki lift.


"Lativa!"


Lativa tersentak kaget, terlebih mendengar suara itu. Suara seorang laki-laki yang sangat dikenalinya.


"Antony .... " gumam Lativa membulatkan matanya.


"Ikut denganku sekarang!" Cekalan yang dilakukan lelaki itu semakin kuat, sampai mampu menarik tubuh ramping Lativa.


"Lepasin gak?" pinta Lativa dengan penuh penekanan. Ia masih berusaha menahan emosi karena masih dalam lingkungan perusahaan. Tentu ia juga tidak hanya diam dengan perlakuan lelaki itu. Lativa berusaha memberontak supaya lengannya bisa terlepas.


Melihat Lativa yang tampak tidak nyaman dengan kehadiran laki-laki itu, Lalisa langsung menekan tombol lift supaya pintunya terbuka kembali lalu keluar dari lift.


"Siapa kamu? Lepaskan tangannya, sekarang!" tegas Lalisa pada Antony.


"Saya yang harusnya bertanya sama Anda perempuan tua, Anda siapa? Jangan ikut campur urusan saya ya! Kalau gak, saya gak segan untuk membuat perhitungan dengan Anda," ancam Antony. Jari telunjuknya mengarah tegas ke depan wajah Lalisa. Namun tidak ada ketakutan sama sekali dari raut wajah Lalisa.


"Berani sekali kamu mengancamku seperti itu! Memangnya kamu siapa?" Lalisa malah menantang Antony. Merski jarak usia diantara mereka sangat jauh, tapi keberanian Lalisa patut diacungkan jempol.


"Antony! Lepaskan aku!" Sekuat tenaga Lativa mengempaskan lengannya dari tangan Antony yang semakin menjadi. Setelah beberapa kali hempasan, akhirnya Lativa mampu mengelepaskan lengannya dari cekalan Antony. "Sekarang lebih baik kamu pergi! Tunggu surat cerai dariku!" usir Lativa pada lelaki yang telah membuat masa depannya hancur.


"Aku gak akan pernah mau menandatangani surat cerai darimu, Lativa! Sekarang ikut aku pergi! Tempatmu bukan disini," ujar Antony dengan meninggikan suaranya. Dia menyentak serta sempat hampir mendorong Lativa. Beruntung, Lalisa dengan cepat menyingkirkannya dan menarik Lativa supaya menjauh darinya.


"Ada apa ini?" Rusli muncul di tengah mereka. Lalisa bernapas lega dengan kehadiran Rusli di sana. Raut wajah lelaki itu terlihat tegas dan tajam saat bertatapan dengan Antony. "Kamu siapa?" tanya Rusli pada Antony.


"Saya suaminya dia!" Kedua mata Antony menatap Rusli, sedangkan jarinya menunjuk ke arah Lativa. Rusli pun mengikuti arah pandang yang Antony maksud.


Seketika tatapan Rusli menjadi teduh saat melihat Lativa yang tersirat adanya ketakutan pada diri perempuan itu. Apalagi seperti yang Rusli tahu, kalau Lativa dibuang mentah-mentah oleh suami serta mertuanya tanpa status yang jelas sejak kejadian itu.


Ruslo mengalihkan pandangannya lagi ke arah Antony. "Lepaskan dia. Kalau nggak, kamu akan tahu akibatnya. Bukan hanya kamu yang akan hancur. Tapi kedua orang tuamu juga!" tegasnya dengan penuh penekanan.


Antony justru tertawa. Lelaki itu malah terlihat seperti orang yang telah kehilangan kewarasannya. Usai puas tertawa sampai berkacak pinggang, Antony menodongkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Rusli.


"Kamu harus ingat ... Aku sama sekali gak takut soal ancamanmu itu," balas Antony.

__ADS_1


Dengan santainya tangan Rusli menyibakkan jari telunjuk Antony dari depan wajahnya. "Nggak usah terlalu percaya diri. Kita lihat aja nanti."


Namun siapa sangka? saat Rusli hendak berbalik badan, ia mengeluarkan sebuah pisau dari dalam jaketnya. Sungguh hal itu membuat seseorang yang baru saja masuk ke dalam lobby sangat terkejut sambil reflek berlari untuk menghalangi niat jahat Antonya.


Bug! Brak! Bug! Prak!


Pisau itu berhasil dihempaskan dari tangan Antony. Seseorang itu adalah Fatan. Beruntung kedatangannya sangat tepat waktu.


"Bos!" pekik Rusli. Disisi lain, ia merasa sangat berterima kasih pada Fatan karena telah menyelamatkan nyawa seseorang. Sebab dari awal Antony datang ke perusahaan tersebut hanya ingin mengincar Lativa.


"Kalian gak apa-apa?" tanya Fatan saat Antony telah diamankan oleh kedua satpam.


"Nggak kok ... Tapi kayaknya Lativa yang masih syok." Lalisa mengelus lembut lengan Lativa. "Tiva, ikut Bunda yuk. Biar Bunda bantu menenangkan diri terlebih dahulu. Bunda tahu kamu masih ketakutan sekali," bujuknya. Sesaat kemudian, Lativa pun akhirnya mau. "Fatan kami izin pinjam ruanganmu ya?" tanya Lalisa pada anaknya.


"Iya Bun pakai aja." Setelah ibunya dan adik iparnya pergi, Fatan langsung menyuruh Rusli untuk menghubungi pihak kepolisian.


.


.


.


.


"Tiva, lebih baik sekarang kamu pulang cepat dulu ya. Istirahat, tenangin pikiran, gak usah berpikir berlebihan. Karena kamu udah aman, besok kalau udah siap masuk kerja, kamu bisa datang ke perusahaan," kata Lalisa memberi masukan pada adik menantunya itu.


Lativa menganggukkan kepala seraya tersenyum. "Terima kasih banyak, Bunda. Mungkin kalau tadi gak ada Bunda, aku pasti udah dibawa sama dia. Aku kira beberapa bulan terakhir semenjak kejadian itu, dia udah benar-benar melepas aku. Tapi nyatanya, dia masih berani muncul dengan ketempramentalannya."


"Sama-sama ... Bagaimanapun kamu adalah adiknya Nila, menantu kesayangan Bunda. Jadi sama aja seperti anak Bunda. Gimana kalau kita pulang bareng? Biar urusan suamimu, kakak iparmu aja yang urus ya," usul Lalisa.


"Iya, Bunda."


Keduanya pun beranjak dari kursi masing-masing lalu keluar dari ruang kerja Fatan.


----------------

__ADS_1


Usai mengantar Lativa, Lalisa pun akhirnya tiba di rumah. Perempuan itu disambut oleh seorang pelayan rumah yang kebetulan sedang berpapasan dengannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Lalisa pada pelayan itu.


"Mau ambil pesanan makanan punya Nyonya Nila, Nyonya," jawab pelayan itu.


"Loh? Memangnya masakan di rumah kenapa? Tumben Nila pesan makanan online? Kalau gak sehat gimana?" cecar Lalisa.


"Anu Nyonya, makanan itu dipesan sama Tuan Fatan. Soalnya tadi Tuan Fatan barusan telepon katanya makanan Nyonya Nila lagi di antar ke rumah," jawab pelayan itu sedikit takut, apalagi saat melihat raut wajah yang tampak kesal. Mungkin karena tadi Lalisa sangat terbawa emosi dengan kehadiran Antony.


"Oh ya udah." Lalisa langsung masuk ke dalam, sedangkan pelayan itu menunduk hormat lalu pergi ke pos satpam untuk menunggu makanan tiba.


Dalam hati, tidak tahu kenapa Lalisa ingin menghampiri Nila. Pasalnya ia baru tahu kalau Nila ternyata pulang ke rumah. Namun, ia memilih pergi ke kamarnya terlebih dahulu untuk berganti pakaian.


Beberapa menit berlalu, Lalisa keluar dari kamar yang sudah memakai setelan rumahan seperti biasanya. Ia berjalan menuju kamar Fatan yang sekarang ditempati berdua oleh Nila.


Tok, tok, tok.


Tak lama menunggu, Nila membukakan pintu.


"Bunda .... "


"Nila, kok kamu pucat sekali. Kamu sakit?" Lalisa mendadak khawatir saat melihat Nila yang tampak lemas dengan mata sayunya.


"Aku cuma lagi gak enak badan aja kok, Bun. Ayok masuk, Bun," ajak Nila. Lantas Lalisa pun masuk ke dalam, kemudian menutup pintunya kembali.


"Kok gak bilang sama Bunda kalau kamu pulang sih? Tahu gitu, tadi Bunda pulang sama kamu aja," celoteh Lalisa.


Sepertinya Nila tidak bisa menyembunyikannya dari perempuan satu itu. Sebab setiap kali berbicara tatap muka dengan Lalisa, pasti inginnya berkata jujur.


"Maaf, Bun ... Tadi mas Fatan ajak Nila ke rumah sakit buat periksa." Meski sedikit ragu untuk memberitahu, tapi hati Nila semakin meradang jika terus menahan untuk tidak memberitahu Lalisa.


"Terus kata dokter apa? Gak sakit aneh-aneh 'kan?" Lalisa semakin penasaran. Perempuan itu kalau sudah gemas terus saja mencecar.


"Gak kok, Bun. Amit-amit deh!" tukas Nila. "Tapi ..."

__ADS_1


...****************...



__ADS_2