Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 95


__ADS_3

"Aku gak tahu, Kak. Setelah bidan berhasil mengeluarkan anakku, aku gak pernah keluar dari rumah. Dan baru tadi aku keluar karena ingin melihat pantai, tapi rupanya Tuhan sayang sama aku ... Kakak akhirnya datang juga," jawab Lativa atas pertanyaan Nila itu. "Tapi aku takut, kalau nanti pulang ke rumah ibu, Antony tahu keberadaanku. Apalagi statusku masih istrinya," sambungnya merasa cemas.


"Tiva ... " Nila menghela napas. "Kamu gak usah takut. Kamu berhak bebas dan bahagia. Ikut Kakak pulang ya, kasihan ibu di rumah kepikiran kamu terus," bujuknya.


"Benar apa yang dikatakan kakak mu, Lativa ... apalagi tempat pengobatan disini sangat terbatas. Mengingat kamu masih harus butuh perawatan lebih lanjut ke rumah sakit. Biarkan makam anakmu disini, dan ... Sering-seringlah menengoknya," ujar Mawar yang datang dari arah dapur seraya membawa nampan berisi minuman serta kudapan untuk Nila.


"Mawar, bisa ceritakan padaku bagaimana kamu menemukan adikku ini?" tanya Nila. Perempuan itu ingin mendengar langsung dari Mawar.


Mawar mengangguk lalu ikut duduk bersama mereka dan mulai bercerita. "Malam itu, sekitar dua hari yang lalu ... Aku lagi jalan-jalan di tepi pantai karena anginnya sedang sejuk dan bisa membuat pikiran lebih tenang. Terus dari jauh, pandanganku samar-samar menangkap sebuah perahu kayu terombang-ambing di tengah laut. Semakin lama perahu itu mendekat terbawa ombak, ke tepi. Aku kira perahu itu kosong. Tapi ternyata saat perahu itu terbaik dan tersapu ombak, ada Lativa yang muncul dari sapuan ombak itu. Aku segera menghampiri dan melihat," papar Mawar lalu menatap Lativa yang masih tampak lemah, kemudian menoleh ke arah Nila kembali.


"Aku terkejut saat melihat ada darah di area pangkal paha sampai kaki, dan saat aku periksa ternyata dia sedang hamil. Aku langsung pergi ke klinik dekat sini, memanggil seorang bidan untuk menanganinya. Karena kebetulan tidak ada tandu, aku dan bidan itu membantunya merangkul supaya cepat sampai klinik. Namun nahas, ketika setelah diperiksa oleh bidan, detak jantung anak yang dikandungnya udah gak ada. Gak lama, dia sadar. Langsunglah bidan mengambil tindakan dengan cara induksi supaya anaknya bisa segera dikeluarkan," ungkap Mawar.


Lativa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Sedangkan Nila masih serius mendengarkan Mawar menceritakan semuanya.


"Setelah bayi itu keluar, Lativa sempat mengalami pendarahan. Gak disangka sih bisa terjadi seperti itu. Makanya sekarang wajahnya pucat dan tubuhnya pun lemas, karena dia udah kehilangan banyak darah ... " Mawar menoleh ke arah Lativa dengan tatapan penuh iba. Walaupun perempuan itu tulus menolong Lativa, tapi tetap saja ketika dia tahu kalau ada keluarga Lativa yang datang, dia harus mengembalikannya.


"Lativa, pulanglah bersama kakakmu. Bukannya aku mengusirmu, tapi kamu beruntung masih memiliki ibu yang sampai saat ini mengharapkan kedatanganmu. Kalau nanti udah gak ada, apa yang kamu lihat saat pulang ke rumah, kalau bukan ibumu?" ujar Mawar mencoba ikut membujuk Lativa, sama seperti Nila.


"Iya, Mawar benar. Kasihan Ibu, mungkin beliau udah lama memiliki firasat tentangmu. Makanya Ibu sangat khawatir," timpal Nila sambil memohon.


Lativa masih terdiam. Perempuan yang masih berusia belasan tahun itu sedang berpikir keras. Manik matanya sesekali melihat ke arah Nila dan Mawar saling bergantian.


Sementara itu, di luar rumah. Rusli sedang berkoordinasi dengan para agennya melalui sambungan telepon untuk mempersiapkan perahu cepat yang akan ia gunakan bersama Nila dan juga Lativa. Namun sampai saat ini, Fatan belum juga menghubunginya.


.


.


.


.

__ADS_1


Hampir satu jam Lativa diberi waktu untuk berpikir. Akhirnya sebuah jawaban menyegarkan mampu membuat Nila maupun Mawar mengembangkan senyum. Lativa akhirnya mau pulang ke rumah dan meninggalkan pulau yang sangat indah itu.


"Mawar, terima kasih banyak udah mau merawat adikku pada saat masa tersulitnya. Sebagai tanda terima kasih, datanglah ke kediaman kami akhir pekan ini," kata Nila saat akan berpamitan dengan Mawar.


"Sama-sama ... Gak perlu repot-repot, Nila. Aku senang bisa menolong Lativa. Walaupun anaknya gak bisa tertolong, aku pun ikut merasakan sedih," balas Mawar sambil mengusap lengan Lativa lalu memeluknya. "Lekas sehat kembali ya Lativa, kalau ada waktu mainlah ke sini. Aku udah menganggapmu saudaraku sendiri, karena memang semua keluargaku tinggal berjauhan."


"Iya, terima kasih Mawar atas semuanya." Lativa sampai tergugu saat dipeluk oleh Mawar. Ia pun tidak mampu berkata-kata banyak selain bilang seperti itu.


"Sama-sama ... Udah jangan nangis terus. Kamu harus semangat, hidup akan terus berjalan. Biar dirasa sulit, percayalah justru Tuhan sayang sama kamu. Karena Dia yakin kalau kamu pasti mampu melewatinya," timpal Mawar lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Lativa.


"Aku gak tahu hidupku akan seperti apa kalau gak ada kamu waktu itu. Sekali lagi terima kasih banyak ya Mawar, semoga Tuhan selalu membalas segala kebaikanmu," ucap Lativa.


Mawar tersenyum. "Aamiin ... Satu hal yang harus kamu ingat Lativa! Setelah ini kamu harus minta kejelasan status pada suamimu, karena seorang lelaki yang sekalipun selingkuh pasti gak ada bekasnya. Tapi berbeda dengan perempuan, apalagi kalau kamu udah pernah 'turun mesin' alias melahirkan."


Lativa langsung tersenyum datar. "Iya kamu tenang aja. Aku masih belum bisa mengenal cinta lagi. Terlebih atas pengalaman percintaanku yang membuat rusak semuanya."


"Aku doakan yang terbaik untuk hidupmu kedepannya, Lativa dan juga ... Kamu, Nila," ucap Mawar.


"Aamiin."


Rusli pun datang menghampiri mereka. Lelaki itu memang niatnya ingin memberi laporan pada Nila.


"Nyonya, perahunya udah siap."


"Oh iya, oke!" Nila beranjak dari tempat duduknya. "Mawar, sepertinya kami udah harus pulang," sambungnya berpamitan pada tuan rumah.


"Oke, silahkan ... Biar aku antar ke dermaga!" seru Mawar .


.


.

__ADS_1


.


Dua jam perjalanan menggunakan perahu cepat, ketiga orang itu akhirnya tiba di pelabuhan Kali Adem. Dari kejauhan sebuah mobil pun telah menunggu. Rusli mempersilahkan Nila san Lativa berjalan lebih dulu.


Nila duduk di kursi penumpang belakang bersama Lativa. Sepanjang perjalanan pulang, keduanya hanya terdiam.


Tidak butuh waktu lama, mereka pun tiba di kediaman Nila. Mirna dan juga Lalisa menyambut kedatangan mereka di teras rumah.


Saat Lativa turun dari mobil, kedua mata Mirna langsung berkaca-kaca.


"Lativa!" seru Mirna lalu berlari sampai tergopoh-gopoh menghampiri anak bungsunya itu, serta memberi pelukan hangat pada Lativa.


"Ibu ... Maafin Tiva ya, Bu." Hanya kata itu yang terucap dari mulutnya. Lativa kembali menangis dipelukan sang ibu.


Sedangkan Nila mendekat kepada Lalisa lalu memperhatikan adik dan ibunya sedang melepas rasa rindu yang sudah lama tak tersampaikan.


"Nila, bagaimana keadaan Fatan? Apa dia tampak udah baik- baik aja?" cecar Lalisa yang teringat akan Fatan.


"Baik Bu, operasinya berjalan dengan lancar kemarin dan selesai saat telah operasi pun, makannya lahap banget," jawab Nila. Namun tiba-tiba saja, ingatan soal sidang lanjutan Fatan dengan Edward dan kemal itu terlintas di dalam pikirannya.


"Oh iya Bun, sidang lanjutan bukannya hari ini digelar ya?" tanya Nila saat teringat kalau hari ini tepat dua hari setelah sidang pertama yang sempat kacau kemarin.


"Iya benar. Dua jam lagi Bunda dan ibu mu akan berangkat. Tapi sebelum itu, sebaiknya kita bawa Lativa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut," usul Lalisa. Terlebih saat melihat kondisi Lativa yang sudah tidak memungkinkan jika di rawat jalan.


"Benar juga. Tadinya aku mau langsung bawa dia ke rumah sakit. Tapi Lativa bersikukuh untuk bertemu ibu terlebih dahulu," timpal Nila.


Lantas mereka pun masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sejenak.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2