Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 26


__ADS_3

"Nila, tunggu ... " Bayu meraih tangan perempuan itu. Namun seketika Nila pun menepisnya.


"Tolong jangan berani menyentuhku!" tegas Nila sambil menyodorkan jari telunjuknya ke arah Bayu.


"Oke, aku minta maaf." Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya. "Aku hanya ingin bicara sama kamu, Nila," ucap Bayu.


Nila melirik sinis kepada Bayu. "Aku rasa gak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kita udah masing-masing. Lebih baik kamu selamatkan nasib istrimu yang ada dibalik jeruji besi itu," katanya terdengar ketus.


"Aku minta maaf Nila udah bikin kamu kayak gini ... Aku masih mencintaimu." Bayu berusaha meruntuhkan pertahanan Nila yang selama ini dibangunnya dengan susah payah.


"Cukup Bayu! Kisah kita udah selesai. Jangan karena kamu mengeluarkan kata cinta, terus bisa bikin kita balikan?" Nila berdecih lalu menggelengkan kepala. "Gak segampang itu ..." Ia memicingkan matanya.


"Tapi Nila--"


"Apa kamu gak inget sedalam apa luka batin yang beberapa bulan lalu kamu lakuin ke aku? Gak cukup udah bikin aku menderita dan kehilangan seorang ayah? Aku salah apa Bayu!" Nila berteriak sekerasnya di depan laki-laki itu. Seketika ia menjadi pusat perhatian disana.


"Oke, aku sadar. Aku salah karena mau mengikuti keinginan mama-ku. Tapi asal kamu tahu, aku juga tersiksa," ucap Bayu dengan mata yang berkaca-kaca. Tunggu, kata orang kalau seorang laki-laki bisa sampai menangis, berarti tangisan itu tulus. Apa itu berlaku juga pada Bayu?


"Seharusnya kamu gak pernah kasih harapan ke aku supaya aku gak ngerasa sakit-sakit amat. Sekarang aku udah kecewa sama kamu, sulit rasanya buat kembali. Karena aku yakin, kamu akan tetap berada di pihak mama-mu. Permisi!" Nila segera masuk ke dalam mobil. Sedangkan Bayu yang hendak menahan dalam sekejap diurungkan karena tidak sengaja bersitatap dengan ibu-nya Nila dengan raut wajah yang penuh kebencian.


Setelah mobil yang dikendarai Nila pergi, Bayu pergi ke mobilnya dan lekas menuju rumah sakit. Sebab sejak kemarin sore, Nimas dibawa ke rumah sakit untuk perawatan lebih intensif lagi.


...----------------...


Siang hari, Nila pamit kepada ibu-nya untuk kembali ke Palembang.


"Bu, Nila berangkat dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa, langsung telepon Nila. Sebisa mungkin Nila akan kesini buat ketemu Ibu sama Tiva ... Dan Ibu jangan sering menangis lagi ya, masih ada Nila sama Tiva yang butuh Ibu."


"Iya, Nak," desah sang ibu. "Rasanya air mata Ibu udah habis. Siang malam Ibu minta sama Tuhan supaya bisa kuat melewati setiap ujian yang datang silih berganti. Tapi Ibu bersyukur, Ibu masih punya dua anak perempuan yang sangat menyayangi Ibu," tutur perempuan paruh baya itu.


Nila memeluk ibu-nya penuh haru. "Nila sayang banget sama Ibu."


"Ibu jauh menyayangi kamu dan adikmu juga."

__ADS_1


Setelah cukup lama berpelukan, keduanya pun akhirnya saling melepaskan.


"Kalau gitu, Nila pamit ya Bu."


"Iya, Nak. Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kalau udah sampai apartemen kabari Ibu."


"Pasti! Daah Ibu ..." Nila melambaikan tangannya lalu berjalan ke arah mobil taksi yang sudah ada sejak tadi.


Satu jam lebih berada di dalam pesawat, dan hampir setengah jam perjalanan dari bandara menuju apartemen. Total kurang lebih dua jam Nila habiskan di perjalanan menuju kota Palembang.


Sesampainya di apartemen, Nila langsung mandi dan berganti pakaian. Setelah itu, barulah ia memesan makanan melalui aplikasi online.


Ketika makanan yang dipesan tiba, Nila membuka pintu. Tak disangka Lalisa baru saja keluar dari unit apartemen anak semata wayangnya.


"Nila? Astaga ... Kamu baru pulang?" sapa Lalisa sangat ramah.


Nila segera membayar kurir makanan itu lalu memberi respon atas sapaan ibu-nya Fatan.


"Oh ini, Bunda mau dijemput ayah-nya Fatan. Mau makan dulu diluar," jawab Lalisa seraya terkekeh pelan sambil menghampiri Nila. "Oh iya, Nila. Bunda turut berduka cita ya. Kamu yang sabar ya," katanya dengan raut wajah sedih.


"Terima kasih Bunda," balas Nila sopan sambil tersenyum simpul.


Lalisq kemudian melihat petunjuk waktu yang melingkar di tangannya. "Um, maaf ya kayaknya kita gak bisa ngobrol lama. Bunda gak mau bikin ayah-nya Fatan nunggu."


"Iya Bunda, gak apa-apa kok. Hati-hati di jalan ya!" ucap Nila.


"Oke, Bunda pergi dulu ya ... Kalau kamu butuh temen gedor aja pintunya Fatan. Gak apa-apa kok dia digangguin juga, Bunda rela!" seru Lalisa sambil berjalam semakin menjauhi Nila. Sementara itu Nila terkekeh geli melihat tingkah perempuan yang usianya sudah separuh abad itu.


"Sekarang aku paham kenapa tingkahnya Fatan sangat serampangan. Ternyata buah jatuh gak jauh dari pohonnya. Dia persis sekali dengan bunda-nya," gumam Nila bermonolog disela tawanya sambil menggelengkan kepala kemudian masuk ke dalam.


Tepat pukul 8 malam saat Nila baru saja menyelesaikan pekerjaannya, pintu apartemennya ada yang mengetuk.


"Siapa ya malam-malam gini ketuk pintu?" tanya perempuan itu bermonolog.

__ADS_1


Seperti biasa, ia melihat orang yang ada di luar melalui celah pintu. Seketika ia bernapas lega saat melihat orang itu ternyata Fatan. Nila pun segera membuka pintunya.


"Ternyata benar apa kata bunda kalau kamu udah pulang. Boleh saya masuk ke dalam?" tanya Fatan.


"Bunda belum pulang ya?" Fatan seketika kesal karena Nila malah bertanya balik.


"Belum. Bunda kalau lagi jalan sama ayah itu lama pulangnya. Jadi gimana saya boleh masuk gak?" tanya Fatan sedikit emosi.


"Ya ... Udah deh silahkan masuk Pak," jawab Nila akhirnya menyetujui.


Fatan masuk ke dalam dan melihat ke sekeliling unit apartemen yang ditempati oleh sekertarisnya. "Tempatmu nyaman juga ya, wangi terus bersih," puji laki-laki itu jujur.


Nila menahan senyum karena tidak ingin dianggap terlena dengan pujian itu. "Terima kasih, Pak. Silahkan duduk dulu, biar saya ambikkan minum."


"Nggak usah, ngerepotin. Saya cuma mau ngobrol aja sama kamu,' jawab Fatan seraya duduk di sofa.


"Oh gitu, baiklah." Nila pun ikut duduk bersebelahan, namun masih ada jarak diantara mereka. Sebab sofa yang mereka duduki itu bisa digunakan untuk 3 orang. "Mau ngobrolin soal apa Pak?" tanyanya kemudian.


"Soal mendiang ayahmu, gimana kelanjutannya? Apa udah dapet keadilan?" Fatan langsung inti permasalahan.


"Pelakunya udah ditahan, tapi katanya sih ada pelaku lain yang masih dalam pencarian. Ya semoga aja mereka segera dijatuhi hukuman seberat-beratnya," jawab Nila seraya menarik napas dalam-dalam. "Oh iya gimana kerjaan di kantor Pak? Aman?" Ia kemudian bertanya.


"Ya begitu ya ... Ternyata kerjaan saya agak sulit ya kalau gak ada kamu," jawab Fatan lalu tertawa.


"Oh ya?" tukas Nila ikut tertawa.


Fatan mengangguk. "Sebenarnya ada satu hal yang ingin saya tanyakan sama kamu," ucap laki-laki itu setelah menghentikan tawanya.


"Apa?"


...****************...


__ADS_1


__ADS_2