
"Mas, menurut kamu ... Apa ada perubahan dari sikap ibu Wiwi?" tanya Nila.
"Perubahan sikap?" Fatan berpikir sejenak. "Sepertinya gak ada, tadi sewaktu aku makan, dia hanya diam. Ya seperti biasanya, kalau ada aku 'kan dia memang seperti itu," jawabnya, lalu dia berpikir lagi. "Memangnya kalau sehari-hari sama kamu gimana?" tanyanya kemudian.
Nila mengangkat kedua bahunya seraya mengesah. "Nggak tahu kenapa, hari ini ibu kalau lihat aku sinis banget, Mas. Tadi sewaktu makan siang aja, dia seperti gak suka gitu. Aku sampai mikir, apa karena aku makannya lama? Itukan aku berusaha buat nahan mual dan bisa masuk semua makanan yang ada di atas piring."
"Iya terus, gimana lagi dia sama kamu?" Fatan semakin penasaran. Terlebih memang dia dan ibu tirinya itu tidak begitu dekat. Saling acuh, bahkan Wiwi kalau bicara padanya lebih banyak menggurui ketimbang memberi arahan.
"Biasanya sih sikapnya gak pernah seperti itu, Mas. Ya, makanya aku ngerasa aneh aja. Selama ini kan, kami masih saling senyum dan menyapa kalau berpapasan. Ya memang hanya sebatas itu, gendong Ara aja bisa dihitung pakai jari," terang Nila. Ia memang jarang bercerita soal hal ini pada Fatan. Awalnya bagi Nila, sikap Wiwi selama ini memang seperti ada batasan. aya memang layaknya menantu dan mertua. Lain halnya dengan Lalisa yang menganggap Nila seperti anaknya sendiri. Mungkin itulah yang membedakan.
"Saran aku sih, ibu itu gak usah ditanggapi. Toh selama dia gak berperilaku jahat sama kamu dan Ara selama aku kerja, cuekin aja. Ingat Sayang, kamu sekarang lagi hamil calon anak kedua kita. Aku gak mau kamu sampai stres seperti waktu hamil Ara dulu ... Aku yakin kita sama-sama bisa belajar dari hal itu," tutur Fatan berusaha membuat pola pikir Nila jauh lebih tenang.
Nila mengempaskan napas panjang, lalu berkata, "Iya juga sih ada benarnya juga apa kata kamu, Mas."
"Ya udah mending kita istirahat yuk, mumpung Ara juga tidur. Atau ... Kamu ingin makan sesuatu terlebih dahulu?" Fatan memeluk istrinya lalu menggenggam tangannya.
"Oh iya aku baru ingat, Mas." Nila seketika menjauhkan tubuhnya dari sang suami. "Tadi Tiva sempat mampir ke sini terus bawain aku camilan. Tadi sih aku minta tolong bibi buat masukin ke kulkas yang ada di dapur bersih. Mas ... Minta tolong ya ambilin," pinta Nila sambil memelas.
Lantas Fatan menarik sebelah sudut bibirnya. "Kamu ini ada-ada aja. Ya udah, aku ambilkan dulu. Kamu jangan tidur loh," katanya yang langsung membuat hati Nila gembira.
"Iya, Mas. Aku gak tidur kok."
Fatam turun dari tempat tidur lalu berjalan keluar dari kamar. Sesaat ketika dia baru saja menutup pintu, ponselnya berdering.
Nila menoleh lalu menghampiri ponsel milik suaminya itu. "Nomor siapa ini?" gumamnya, karena tidak terdapat nama dalam panggilan itu. Ia agak ragu untuk menjawabnya. Hingga deringan terakhir, Nila pun memberanikan diri untuk menjawab panggilan telepon itu.
"Halo?"
"Selamat malam, dengan Saudara Fatan?"
"Malam, iya. Ini siapa ya?"
__ADS_1
"Kami dari pihak kepolisian ingin memberitahukan, baru saja telah terjadi kecelakaan beruntun di ruas tol Cipali."
Nila mempertajam pendengarannya.
"Cukup banyak pengendara yang merengang nyawa ditempat. Salah satunya adalah pemilik nomor ini yang diperkirakan seorang sopir dengan membawa dua orang penumpang, bernama Wicak Sasono dan Lalisa Adisuryo."
"A-apa? Terus keadaan Pak Wicak dan Ibu Lalisa bagaimana Pak?" Tangan Nila seketika bergetar. Saat itu juga Fatan kembali ke kamar sambil membawa nampan yang berisi kue di atasnya.
"Sayang siapa yang telepon?" tanya Fatan. Namun Nila memberi isyarat padanya untuk diam sebentar.
"Kedua korban itu mengalami luka serius di bagian kepala dan kaki. Sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat."
Melihat mata Nila memerah dan tangannya masih bergetar, membuat jiwa keingin tahuan Fatan meronta. Lelaki itu langsung mengambil alih telepon lalu berbicara menjauh dari Nila.
"Halo?"
Rasa syok yang dialami Nila begitu membuat batinnya terpukul. Bahkan ia tidak kepikiran untuk memastikan terlebih dahulu tenyang kejadia yang dibertahukan padanya itu.
"Mas, kabar itu apa benar?" tanya Nila, menatap kosong ke arah suaminya.
"Aku juga belum tahu pasti, Sayang. Aku akan menghubungi Rusli untuk mastikan apakah kejadian itu benar adanya atau salah." Usai mengatakan itu, Fatan ke ruang ganti untuk mengambil jaket dan memakai celana panjang. Lantas kemudian keluar dari sana dan menghampiri istrinya lagi.
"Sayang, aku pergi dulu. Kamu baik-baik di rumah ya," kata Fatan mengecup kening istrinya cukup lama. "Aku sangat mencintaimu," lanjutnya seraya melepaskan kecupannya itu.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya. Aku juga sangat mencintaimu." Perasaan Nila mendadak tak keruan. Hatinya terasa hampa. "Ya Tuhan tolong selamatkan bunda dan ayah, dan lindungi suamiku," batinnya meminta kepada Sang Maha Kuasa selepas Fatan keluar dari kamar.
Fatan bergegas berangkat ke rumah Rusli dengan mengendarai mobilnya sendiri.
...----------------...
Saat di telepon tadi, Fatan memang sempat menanyakan lokasi kejadian yang dimaksud si penelepon. Sementara itu, Rusli juga sudah menghubungi para anak buahnya yang terdekat dari lokasi kejadian guna memantau kepastian adanya kecelakaan beruntun tersebut.
__ADS_1
Setelah Rusli masuk ke dalam mobil, Fatan segera melajukan mobilnya.
"Bos, barusan saya dapat informasi dari salah satu agen yang memang saya tugasin di sana. Katanya kalau ternyata kecelakaan itu benar adanya. Menurut kronologis kepolisian dan para saksi yang melihat, termasuk korban yang masih selamat, kejadian itu diakibatkan oleh sebuah mobil truk pengangkut bekas oli mesin. Jadi salah satu tanki yang ada di dalam bak truk mengalami kebocoran. Awalnya ada mobil mininus tepat dibelakang truk itu tergelincir, lalu gak disangka ... mobil lain setelah minibus tadi ikut. Kebetulan mobil yang ditumpangi kedua orang tua Anda berada di urutan kedua dari belakang. Total mobil yang terdampak sampai mengakibatkan kecelakaan beruntun itu ada tujuh mobil." Rusli menjelaskan panjang lebar, berdasarkan informasi yang di dapat dari anak buahnya di lokasi kejadian.
"Baik kalau gitu, kita harus pastikan ke rumah sakit terlebih dahulu." Fatan menancapkan pedal gas mobilnya dengan kecepatan yang cukup kencang.
Tiba di ruas jalan tol Cipali, kondisi di sana sedang padat merayap. Mungkin karena imbas dari kejadian itu. Namun sayangnya Fatan tidak bisa menepikan mobil di tempat kejadian. Hal itu karena dia mendapat himbauan dari petugas kepolisian dan disuruh untuk tetap melajukan mobilnya.
Selain itu, jika banyak yang ingin melihat, makan akan memperlambat proses evakuasi. Fatan dan Rusli akhirnya segera pergi ke rumah sakit terdekat dari sana. Untuk info lebih lanjut, mungkin nanti dia akan pergi ke kantor polisi untuk menemukan informasi lainnya.
Satu jam berlalu dan malam mulai larut. Fatan dan Rusli akhirnya sampai di rumah sakit. Memang di depan ruang instalasi gawat darurat itu sedang penuh, mungkin banyak korban yang dilarikan ke sana.
Fatan lekas turun setelah memarkirkan mobilnya. Pun sama halnya dengan Rusli. Mereka ke konter perawat untuk memastikan nama Wicak dan Lalisa ada di sana.
"Sus, pasien atas nama Wicak Sasono dan Lalisa Adisuryo. Ada disebelah mana ya?" tanya Fatan dengan kedua telapak tangannya yang mulai panas dingin.
"Baik, mohon menunggu. Biar saya cek dulu ya Pak datanya." Fatan mengangguk setuju setelah perawat itu berkata demikian lalu duduk di kursinya. Tidak lama berselang, perawat itu berdiri kembali. "Maaf Pak, pasien yang Anda maksud sudah berada di kamar jenazah. Karena saat baru sampai tadi keduanya telah tutup usia."
Fatan syok bukan main. Pun dengan Rusli. Mereka sama-sama tercekat.
"J-jadi, mereka meninggal dunia, Sus?" tanya Fatan menatap perawat itu seakan tidak percaya.
"Iya, Pak. Maaf, apa Anda keluarganya?"
"Benar, Sus."
"Silahkan mengisi form ini, supaya jenazah korban bisa segera di urus," kata perawat itu sambil memberikan 2 lembar kertas pada Fatan.
"Baik, Sus." Fatan meraih bolpoin yang ada di atas meja, kemudian mengisi kedua form itu dengan hati yang bagai tersayat sembilu. Dia benar-benar belum siap kehilangan kedua orang tuanya, terutama sang bunda.
Kedua matanya memerah beriringan dengan air mata yang mulai menggenang dan sebentar lagi akan jatuh. Namun sebisa mungkin ditahan, sebab tangannya masih mengoreskan nama di atas kertas. Kedua kakinya yang tengah berdiri pun kian terasa lemas. Fatan tidak menyangka kepergian kedua orang tuanya tadi pagi adalah bagian dari perpisahannya.
__ADS_1
Setelah mengisi form Fatan dipersilahkan oleh perawat itu ke ruangan khusus ditempatkannya para jenazah.