Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 59


__ADS_3

Tiba di apartemen. Nila menutup pintu lalu menguncinya, beriringan dengan hembusan napas yang terasa berat. Tidak disangka, karirnya di perusahaan yang sudah bertahun-tahun menjadi ladang mencari rezeki, harus berakhir bukan karena masa pensiun. Padahal sejak lama ia sudah bertekad untuk bekerja disana sampai masa pensiunnya tiba.


"Lagi, lagi ... Jodoh dan rezeki itu ibarat sepasang sepatu. Lagi, lagi ... Aku harus merelakan dua hal itu, mungkin Tuhan menginginkan jalan lain supaya aku bisa kuat. Aku juga yakin, kalau Tuhan pasti udah mempersiapkan segala rencana versi terbaik-Nya," celoteh Nila, menjinjing tasnya dengan langkah gontai seraya masuk ke dalam kamar. Pikiran, emosi dan perasaannya sedang 'dihajar' habis-habisan. Rasanya sangat lelah, mungkin memang sudah saatnya untuk Nila beristirahat sejanak dari kepenatannya selama ini.


Perempuan itu membuka lemari pakaian seraya mengempaskan napas pelan, kemudian mengeluarkan koper lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Semua pakaiannya yang ada di dalam lemari itu, dikeluarkan. Namun dia tidak serta merta langsung menaruhnya ke dalam koper begitu saja, melainkan menatanya sedemikian rapi.


Usai berkemas, Nila memesan tiket pesawat yang waktunya tidak terlalu jauh dari perkiraan selesai penyerahan kunci apartemen. Setelah urusan tiket sudah oke, Nila segera keluar dari unit sambil menarik koper dan mengaitkan tasnya di bahu.


Tanpa diduga ketika Nila baru saja keluar dari lobby apartemen untuk menunggu taksi, langit tiba-tiba mendung. Nila mendongakkan kepalanya, dalam sekejap butiran air jatuh ke atas pipinya.


"Hujan," gumam perempuan itu seraya mengulurkan telapak tangannya guna memastikan kalau apa yang dirasakannya tadi benar-benar air hujan.


Ternyata benar! Yang awalnya hanya butiran kecil, semakin lama seperti menusuk di atas kepalanya. Beruntung, taksi pun datang dan sopirnya membantu Nila memasukkan barang ke bagasi. Bertepatan saat Nila dan sopir taksi itu sudah berada di dalam, hujan pun turun dengan derasnya.


"Kita langsung ke bandara ya, Nona?" tanya sopir taksi, memastikan. Sebab siapa tahu Nila akan pergi ke suatu tempat terlebih dahulu sebelum ke bandara.


"Iya Pak. Langsung aja," jawab Nila dari kursi penumpang belakang.


Mobil pun melaju di tengah hujan deras. Sepanjang jalan, Nila hanya diam sambil menatap keluar jendela. Perasaannya perlahan terasa damai, bebas dan lepas. Nila tahu ini sudah menjadi bagian dari gadis takdir dihidupnya. Ia sangat menikmati, melawan rasa perih karena cintanya yang dia tahu, tidak terbalaskan oleh Fatan.


......................


Tiba di bandara Soekarno-Hatta. Nila mengantre untuk mengambil koper di bagian pengambilan barang. Usai dari sana, ia pun segera pulang menuju rumah.


Di dalam perjalanan, Nila sempat menghubungi ibunya. Namun nomor ponsel Mirna tidak aktif, perasaan Nila mendadak cemas.

__ADS_1


"Ibu kemana ya? Kok nomornya tumben gak aktif?" batinnya seraya melihat ke layar ponsel yang masih menyala.


Nila mencoba menghubungi lagi, tapi rupanya sama. Tidak aktif dan berada di luar jangkauan. Alhasil ponsel pun dimasukkan kembali ke dalam tas.


Mobil taksi yang ditumpangi oleh Nila pun telah sampai di depan halaman rumah. Saat baru saja membuka pintu, ternyata ibunya juga keluar dari dalam rumah sambil menjinjing plastik sampah.


"Ibu." panggil Nila lalu segera turun dan menutup pintu mobil itu kembali.


Sementara Mirna justru malah terkejut dengan kedatangan Nila disana.


"Nila? Kamu pulang?" tanya Mirna menatap anak sulungnya itu seakan tidak percaya.


Lantas Nila pun mengangguk cepat kemudian memeluk ibunya beberapa saat. "Nanti Nila jelasin ya, Bu," ucap perempuan itu seraya melepaskan pelukannya.


Mirna mengangguk ragu dan membiarkan Nila kembali ke mobil taksi itu untuk membayar serta mengambil kopernya. Sambil menunggu Nila, Mirna membuang sampah yang dibawanya dari dalam itu ke sebuah tong sampah yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Ibu sehat, Nila. Ya ... Seperti apa yang kamu lihat sekarang. Sehat bukan?" Mirna tersenyum merekah hingga tampak guratan dari kedua ekor matanya. Posisi keduanya saling berhadapan.


Nila terkekeh pelan lalu mengangguk. "Iya, Ibu benar." Perempuan itu memegang kedua tangan ibunya. "Bu, boleh Nila tidur dipangkuan Ibu?" tanyanya kemudian.


Mirna pun sedikit memiringkan kepalanya. "Boleh, sini." Ia memposisikan tubuhnya menghadap ke depan lalu merapatkan kedua pahanya. Setelah itu Nila tersenyum dan merebahkan tubuh di atas sofa dengan kedua paha Mirna dijadikan sebagai bantalan untuk kepala. Begini saja, entah kenapa Nila rasanya bahagia sekali.


"Jadi, sebenarnya ada apa? Ibu sampai kaget loh siang-siang gini lihat kamu pulang ke rumah dan nggak kasih kabar ke Ibu dulu lagi!" tanya Mirna mulai penasaran. Perempuan paruh baya itu seketika memiliki firasat tidak enak pada anak sulungnya.


"Nila ... Mengundurkan diri dari perusahaan, Bu," jawab perempuan itu seraya mengempaskan napas berat.

__ADS_1


Mirna seketika tercengang lalu menautkan kedua alisnya. "Kenapa? Apa ada masalah?" tanyanya dengan suara rendah dan lembut didengarnya.


Nila pun kemudian menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya tadi. Sontak Mirna juga ikut emosi setelah mendengar cerita anak sulungnya itu.


"Ya, begitulah, Bu ceritanya. Nila juga gak habis pikir. Tapi disisi lain Nila juga bersyukur sih. Dengan adanya kejadian itu, tabiat asli pak Edward pun akhirnya bisa ketebak," pungkas Nila setelah mengakhiri ceritanya.


Mirna menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan dan emosinya perlahan reda kembali.


"Ibu rasa, keputusanmu itu udah benar Nila. Ibu pun gak akan rela kamu tetap bekerja disana kalau pimpinannya aja seperti itu, mau apapun alasan dia ... Tetap aja dia salah. Memang kita butuh uang supaya bisa menyambung hidup. Tapi jangan sampai kita menjadi budak tidak terhormat karena uang itu sendiri."


Nila hanya terdiam. Sejujurnya ia bukan berat menjadi seorang pengangguran, bahkan uang tabungan yang dimilikinya pun sudah lebih dari cukup. Akan tetapi, perasaannya yang berat karena tidak bisa melihat Fatan lagi.


"Nila ... " panggil Mirna sangat lembut. Sontak Nila pun terkesiap lalu menengadah menatap ibunya kembali. "Kenapa melamun? Ada yang lagi kamu pikirin?" tanya perempuan paruh baya itu.


"Gak kok, Bu. Tapi tadi sempat terlintas dipikiran Nila tentang omongan Ibu waktu itu ... Um, apa Nila buka usaha rumahan aja ya, Bu?" tanya Nila. Sangat tidak mungkin kalau dirinya harus bercerita tentang perasaannya pada Fatan saat ini. Mengingat hatinya pun masih rapuh.


"Memangnya kamu yakin? Buka usaha itu gak semudah bikin produk langsung jual. Banyak aspek yang perlu kita uji coba." Mirna bertanya balik mencoba memastikan kesungguhan Nila.


Perempuan itu bangun lalu duduk sambil melipat kedua kakinya di atas sofa. "Ya, Nila tahu, Bu. Tapi Ibu mau kan jadi partner Nila?"


Pertanyaan itu membuat senyum Mirna seketika terbit. "Pasti dong, apapun yang bernilai baik. Ibu akan senantiasa ada dan mendukung kamu," tutur Mirna dengan hati yang tulus.


Nila tidak mampu berkata-kata, ia langsung memeluk ibunya sambil berucap, "Terima kasih, Bu ... Untuk segalan hal yang udah Ibu korbankan dan tunjukkan sama Nila dari Nila lahir sampai sekarang udah sebesar ini ... Maaf kalau sekarang, Nila belum bisa menemukan lelaki yang tepat untuk menjadi suami Nila."


Mirna mengusap punggung anak sulungnya. Hatinya terasa bergetar saat Nila berkata demikian. "Gak apa-apa Nila ... Biar Tuhan yang menunjukkan jalan untuk menemukan jodohmh kelak. Manusia hanya bisa pasrah, kalau Tuhan-lah yang lebih ahli dengan segala apapun yang terjadi dalam setiap langkah kita."

__ADS_1


Nila semakin mengeratkan pelukannya. Dalam hatinya bangga diberikan seorang ibu yang luar biasa, baginya.


__ADS_2