
Brak!
Nila tercengang saat Fatan baru saja duduk di sebelahnya. Bukan masalah duduknya, tapi laki-laki itu menutup pintu mobil Nila sangat kencang.
"Astaga, benar-benar kerasukan ini orang! Awas aja kalau sampai pintu mobilku sampai rusak. Harus ganti rugi pokoknya!" omel Nila dalam hati. Namun berbeda dengan raut wajahnya yang masih tampak tenang seakan tidak masalah kalau Fatan melakukan hal itu.
"Gak ada yang ketinggalan kan Pak?" tanya Nila secara baik-baik dan bersikap sangat manis.
"Gak ada. Jalan sekarang!" Saat memberi perintah, pandangan laki-laki itu hanya menatap ke depan. Suasana hatinya saat ini benar-benar sangat buruk. Nila pun tidak membantah lagi dan memilib langsung menjalankan mobilnya.
Perjalanan dari butik tempat menjemput Fatan ke tempat acara selama kurang lebih setengah jam. Sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja jalan raya di pusat ibu kota ini tidak bisa ditebak.
Saat tiba di tempat acara, Nila menurunkan Fatan terlebih dahulu di depan lobby hotel.
"Kamu turun aja disini, nanti biar mobilmu dipindahkan oleh petugas hotel," perintah Fatan masih bersikap dingin dan hanya melirik sekilas ke arah Nila.
Perempuan itu melengkungkan kedua alisnya seraya menarik napas dalam lalu menganggukkan kepala. "Baik Pak."
Tanpa mematikan mesin mobil, Nila membuka sabuk pengaman lalu turun dari kursi kemudi. Ia memperbaiki penampilannya terlebih dahulu, sebelum akhirnya menyerahkan kunci mobil kepada petugas yang telah menghampirinya tanpa menutup pintu.
"Silahkan Nona, biar saya yang pindahkan mobil Anda," kata petugas itu seraya mengulurkan tangannya dan Nila pun memberikan kunci mobil padanya.
"Terima kasih," balas Nila sopan. Sementara itu petugas hotel yang hendak memindahkan mobilnya seketika tercekat akan penampilan Nila malam ini. Sungguh tidak ada celah sedikitpun untuk mencari kurangnya dimana. Petugas itu hanya tersenyum kagum padanya.
Ketika hendak masuk ke dalam ballroom, sebelah tangan Fatan sengaja ditekuk supaya Nila bisa melingkarkan tangannya disana. Benar saja, Nila yang paham dan menyadari akan hal itupun langsung melakukannya. Lantas pintu ballroom itu dibuka lebar.
Semua mata tertuju pada mereka. Banyak yang menatap keduanya penuh kekaguman, tapi tidak sedikit pula yang tampak biasa saja.
Tanpa sengaja, Fatan menangkap seseorang yang ia kenali disana.
__ADS_1
"Ayah ... " gumamnya sangat pelan, bahkan hampir tidak terdengar oleh Nila yang berdiri tepat di sampingnya.
Akan tetapi, Nila pun ternyata menyadari kehadiran orang tua Fatan di acara itu. Ia menoleh sejenak, "Apa mereka akan saling bertegur sapa?" tebaknya dalam hati kemudian menatap ke depan lagi.
Keduanya berjalan seirama. Tidak ada yang saling mendahului. Mungkin lebih tepatnya Fatan sedang membawa kekasihnya ke acara tersebut.
Satu persatu, Fatan menghampiri para koleganya ditemani oleh Nila. Sesekali perempuan itu ikut menjawab pertanyaan mereka dengan seizin Fatan.
Namun saat hendak pergi ke sebuah buffet yang berisi aneka camilan, tiba-tiba seseorang muncul di depan mereka. Nila terkejut, terlebih juga Fatan.
"Ternyata kamu datang juga, Fatan," kata ayahnya seraya tersenyum seringai.
"Iya." Fatan menjawab singkat. Sikapnya sangat dingin serta tanpa senyum dari kedua sudut bibir ya.
Tak lama kemudian Lalisa datang untuk menghampiri suaminya. "Maaf lama." Ia menoleh dan seketika wajahnya berseri. "Fatan ... Kenapa gak kabarin Bunda kalau kamu juga datang ke acara ini?" ucapnya dengan perasaan haru. Matanya pun mulai berkaca-kaca.
Fatan sebenarnya tidak tega, namun rasa kesalnya pada sang ayah masih mengedepankan ego yang terus mendorongnya.
"Setelah ini kamu pulang ke rumah kan?" tanya Lalisa. Tatapannya seolah sangat berharap Fatan bisa pulang ke rumah.
"Maaf Bunda, aku masih butuh waktu. Mungkin nanti kalau suasana hatiku sudah membaik, aku akan mengunjungi Bunda," jelas Fatan menolak secara halus. Ia masih enggan bertemu lebih lama dengan ayahnya apalagi kalau sampai berdebat.
"Ya udah, Bunda ngerti kok." Lalisa tersenyum pada anaknya, begitu juga pada Nila dan perempuan itupun membalas senyumannya. "Nanti kalau datang ke rumah jangan lupa ajak Nila juga ya!" sambungnya lalu mengusap lembut lengan sang anak.
"Iya Bunda, Yah ... Aku pergi dulu." Fatan kemudian menarik tangan Nila sambil berbalik badan. Sementara Lalisa hanya menatap nanar kepergian Fatan dari sana hingga laki-laki itu menghilang dari pandangannya.
"Yah, tolonglah ajak dia bicara baik-baik. Masa iya mau begini terus!" protes Lalisa. Suaranya sengaja dikecilkan, karena supaya tidak ada orang lain yang mendengarnya.
"Biarkan aja. Nanti kita bicarakan di rumah. Lebih baik sekarang kita pulang."
__ADS_1
...----------------...
Nila menghentikan mobilnya tepat di depan lobby hotel. Sepanjang perjalanan pulang tadi, ia dan juga Fatan sama-sama saling diam. Nila tidak menyangka akan melihat Fatan yang biasanya bertingkah serampangan, menjadi sosok pendiam dan tampak misterius. Sikap laki-laki itu sangat dingin.
Fatan mende*sah pelan. "Kamu bisa temani saya gak malam ini?" tanyanya menoleh dengan tatapan datar.
"Temani gimana Pak maksudnya?" Nila bertanya balik sambil menautkan kedua alisnya.
"Saya lagi butuh teman buat cerita ... Tenang aja, saya gak bakal apa-apain kamu. Saya cuma butuh pendengar yang baik, dan kamu gak harua kasih saya solusi," jawab Fatan. Namun kali ini kalah didengar dari suaranya, ia terdengar pasrah.
Nila kemudian melihat pertunjuk waktu yang melingkar dipergelangan tangannya, "Pak, maaf ini udah hampir jam sepuluh malam. Saya harua segera pulang ke rumah. Ibu saya nungguin di rumah," tolaknya secara halus.
"Sinikan ponselmu! Jangan lupa buka pengunci layarnya." Setelah memerintah, Fatan mengulurkan sebelah tangannya. Namun Nila tampak ragu-ragu.
"Mau ngapain Pak?"
"Saya mau minta izin sama ibumu. Biar gak usah nungguin kamu pulang!"
Nila lagi-lagi tercengang. "Maaf banget Pak. Bukan saya gak mau ... Tapi bukannya gak etis ya kalau misalkan perempuan sama laki-laki yang belum berstatus suami istri berada di dalam kamar yang sama?"
"Saya gak bakal ngapa-ngapain kamu Nila ... " Fatan langsung merebut ponsel Nila yang sedang dipegang oleh sang empunya.
"Aah!" Nila berteriak karena terkejut. "Ponselku!"
Tidak sengaja kunci layarnya sudah terbuka karena telah disentuh oleh Nila. Dalam beberapa detik, Fatan akhirmya menemukan kontak ibunya Nila dan kemudian melakukan panggilan. Akan tetapi setelah itu .
Saat melakukan panggilan, Fatan sedikit menjauh dari tempat Nila berada. Acap kali Nila berusaha mendekat, ternyata Fatan semakin menjauh seolah orang lain tidak mendengar percakapannya mereka.
Cukup lama Fatan menghubungi ibunya Nila, akhirnya setelah sepuluh menit kemudian ponsel Nila pun dikembalikan lagi.
__ADS_1
"Gimana?" tanya Nila penasaran.
"Ibumu memberi izin. Tapi ... "