
Saat makan siang, Rusli mengajak Lativa untuk makan di luar area kantor. Jika teringat akan 'alarm' yang diberikan Fatan tadi, lelaki itu sangat mengkhawatirkan istrinya.
"Beb, ada yang ingin aku beritahu sama kamu," ucap Rusli ketika keduanya baru saja selesai memesan makanan.
"Ada apa Beb?" Lativa tampak penasaran.
"Antony berulah lagi," jawab Rusli dengan wajah serius.
"Maksudnya berulah lagi bagaimana Beb?" Lativa berusaha memastikan kembali.
Rusli kemudian menceritakan semuanya terkait kejadian pagi ini. Sontak Lativa merasa terkejut hingga tercengang ketika mengetahuinya.
"Terus sekarang gimana Beb? Apa dia masih gak mau nyerah?" tanya Lativa ikut cemas.
"Iya bisa jadi begitu, Beb. Pasalnya kita udah tahu bukan sifat dia bagaimana? Aku dan bos Fatan udah mulai memantaunya. Karena jujur, aku khawatir sekali kalau dia akan menyelakaimu. Sebab ambisinya itu udah kelewat batas, Beb. Aku minta sama kamu tetap hati-hati ya. Kalau mau kemana-kemana harus sama aku, jangan sendirian!" tegas Rusli. Awalnya ia sudah santai setelah memiliki Lativa seutuhnya, berharap tidak ada kejadian di luar nalar. Tetapi gara-gara Antony, membuatnya menjadi over protectif lagi.
Lativa mengempaskan napas. "Aku merasa dia bukan ambisi, Beb. Tetapi sepertinya dia memiliki gangguan mental sejak lama tanpa kedua orang tuanya ketahui. Dari dulu, dia sama sekali gak berambisi untuk memiliki aku dengan cintanya. Melainkan lebih kepada emosinya yang terkadang diluar batas, sampai menjadi brutal. Kamu tenang aja, aku akan tetap berhati-hati."
Rusli meraih tangan Lativa lalu mengecupnya berkali-kali. "Aku sangat mencintaimu, Beb."
"Aku pun sama. Sangat-sangat mencintaimu," balas Lativa tersipu.
Usai makan siang, keduanya kembali ke kantor. Namun ketika dalam perjalanan, tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh Rusli dihadang oleh mobil lain. Otomatis, Rusli mendadak menginjak pedal rem supaya mobilnya tidak menabrak mobil itu.
"Sial! Siapa sih yang bawa mobil ugal-ugalan seperti itu? Hampir aja kita celaka," gerutu Rusli.
Akan tetapi mobil yang menghadang mereka ikut berhenti. Pemilik mobil pun kemudian turun. Seketika Lativa membulatkan matanya dengan sempurna tatkala melihat orang itu.
"Beb, itu bukannya Antony?" Lativa merasa deg deg kan sekali.
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Mau apa dia menghadang kita di jalanan yang lumayan sepi ini?" Rusli memperhatikan dengan lekat. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jas, lalu menghubungi beberapa anak buahnya melalui pesan, dengan mengirimkan peta online sesuai titik keberadaannya saat ini.
Dug, dug, dug. "Woi keluar lo!" teriak Antony dari luar mobil sambil memukul kaca jendela tepat di sebelah Lativa.
"Beb, astaga. Kamu bisa gak cepat pergi dari sini? Kayaknya jalan disebelah gak ada kendaraan lain dari arah berlawanan," ujar Lativa mulai panik.
"Oke, kamu pengangan ya. Paling efek sampingnya dia bisa terempas. Siap, ya," kata Rusli, ia mulai menginjak pedal kopling lalu memasukkan giginya dan melaju dengan kecepatan penuh. Benar saja Antony sampai kehilangan keseimbangan.
Lativa bernapas lega ketika bisa melarikan diri dari Antony berkat suaminya. "Beb, kamu keren!" pujinya terharu.
"Ini juga karena kamu yang memberi jalan buat aku, Beb. Sekarang kita udah bebas. Kita harus segera sampai ke kantor." Rusli menancapkan pedal gas mobilnya kembali.
Sesampainya di parkiran mobil kantor, Lativa dan Rusli sama-sama menyandarkan punggungnya di kursi.
"Beb, apa lain kali kita akan aman dari Antony?" tanya perempuan itu dengan tatapan kosong mengarah jauh kedepan.
"Baiklah, kalau begitu aku gak mau jauh-jauh dari kamu, Beb," sahut Lativa bersemangat.
"Yakin nih?" Rusli menaikkan sebelah alisnya, sedangkan Lativa menyunggingkan senyum paling manis. "Baiklah, jadi ... Jangan salahin aku ya, kalau nanti aku bakal makan kamu!" Lelaki itu menggelitik perut istrinya.
Lativa reflek tertawa sambil menggeliat hebat. "Ampun, Beb. Aku gak kuat! Geli banget."
Tawa itu tidak tahan lama, mengingat jam kerja kantor sudah mulai kembali. Keduanya turun dari mobil dan berjalan bersamaan sambil bergandengan tangan.
...----------------...
Di tempat lain, Antonya mengamuk sejadi-jadinya. Dia tidak tahu kalau orang-orang suruhan Rusli sudah ada bersamaanya. Mereka menghampiri Antony.
"Anda kenapa? Kelihatannya frustasi sekali," tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
Antony pun kemudian menatap mereka satu per satu. "Siapa lo semua? Pergi!" Dia malah berteriak mengusir mereka.
"Ditanya baik-baik malah ngegas! Udah yuk tinggalin aja!" ajak yang lainnya.
Mereka pergi meninggalkan Antony sendiri di sana. Akan tetapi, mereka tidak benar-benar pergi. Itu hanya sebuah alibi untuk mengelabui Antonya supaya tidak curiga kalau dirinya sedang diawasi.
Tidak lama berselang, Antony pergi dari sana. Tujuan selanjutnya yaitu menemui Liza yang masih berada di kantor. Dia lekas masuk ke dalam mobil lalu melajukannya.
Cukup lama berkendara karena memang jarak yang ditempuhnya cukup jauh, dia akhirnya tiba di perusahaan. Antony memarkirkan mobil di tempat yang telah disediakan khusus untuknya. Setelah itu turun dari sana kemudian masuk ke dalam.
Tidak disangka, ketika baru saja masuk ke dalam lobby, Antony berpapasan dengan Liza. Matanya memerah ditambah lagi dengan kedua tangannya yang mengepal.
"Bu Liza! Ikut denganku sekarang!" Tanpa menunggu persetujuan dari Liza, dia langsung menarik tangan perempuan itu.
"Antony! Dimana sopan santunmu? Lepasin gak?" Liza memberontak. Perempuan itu sekuat tenaga melepaskan cengkraman tangan Antony dari tangannya.
"Saya gak akan melepaskannya sebelum kamu jujur!" bentak Antony lagi.
"Apa? Jujur? Buat apa jujur dengan orang toxic seperti kamu!" Liza semakin tersulut emosi.
Antony mendadak menghentikan langkahnya lalu berbalik badan dan mendorong Liza hingga kepalanya membentur tembok.
"Akh! Si*al!" pekik Liza. Benturan itu cukup keras sehingga membuat kepalanya terasa sakit sekali. Beruntung tidak sampai menimbulkan luka.
Liza berdiri tegak kembali. "Asal kamu tahu, dikantor ini gak ada yang memihakmu sama sekali. Keangkuhan serta kesombonganmu itu, membuat semuanya muak. Selama kamu masih belum berubah, saya pastikan semua pegawai diperusahaan ini akan pergi satu per satu, temasuk saya sendiri. Jadi jangan harap sebuah kesuksesan ada di tanganmu, sebelum kamu menghargai orang lain!" tegas perempuan itu.
Namun watak Antony bak batu yang sangat keras. Bahkan air yang terus mengalir saja sulit membuatnya terkikis. Karena dia selalu beranggapan kalau hidupnya akan terjamin selama kekayaan orang tuanya masih ada.
"Terserah kamu mau ngomong apa, yang jelas saya gak bakal peduli!" balas Antony acuh lalu meninggalkan Liza disana sendirian.
__ADS_1