
Nila menoleh ke arah Fatan, keduanya saling bertukar pandang.
"Mas, kok mereka tahu? Apa jangan-jangan .... " Nila langsung menoleh ke arah ibu mertuanya. Sedangkan Lalisa tetap tersenyum sumringah saat mendapat tatapan dari Nila.
"Bunda?" gumam Fatan mengikuti arah pandang sang istri.
"Tadi aku memang kasih tahu Bunda," cicit Nila pelan. Lantas pengakuannya itu membuat Fatan menghela napas.
"Pantas aja mereka tahu, bunda pasti udah sebarin ke grup rahasia yang anggotanya hanya mereka aja," timpal Fatan merasa tidak heran. Sementara Nila hanya tersenyum.
Keduanya pun menghampiri mereka. Ternyata Mirna dan Lativa juga turut hadir.
"Ibu .... " Nila memeluk Mirna dengan penuh kasih sayang dan haru.
"Selamat ya anak Ibu. Semoga kamu dan kandunganmu sehat selalu. Ibu yakin, kamu dan Fatan udah siap. Makanya Tuhan kasih amanah pada kalian," tutur Mirna, keduanya saling melepaskan pelukan.
"Terima kasih Ibu ... Tapi omong-omong ibu tahu darimana? Perasaan aku belum bilang sama Ibu," tanya Nila mulai penasaran.
"Tadi Ibu sempat telepon kamu terus yang jawab nak Fatan, ternyata kamu lagi mandi. Dan dia yang bilang sama Ibu kalau malam ini mau ajak makan malam, tapi pas Ibu tanya ada acara apa? gak tahunya acara syukuran kehamilan kamu," jelas Mirna.
"Oh begitu rupanya." Nila tersenyum, kemudian semuanya pun memberi ucapan selamat pada Nila dan juga Fatan. Setelah itu mereka menikmati makan malam bersama.
.
__ADS_1
.
.
.
Di teras pintu masuk resto, Lativa baru saja selesai menjawab panggilan telepon. Raut wajahnya tampak kesal sekali, pasalnya nomor yang sejak tadi memanggilnya itu tidak henti-hentinya. Namun saat dijawab, malah tidak ada suara apapun.
Lativa berdecak, "Rese banget sih ini orang! Blokir ajalah."
"Siapa sih yang diblokir?"
Seketika Lativa mengangkat wajah yang sejak tadi menunduk melihat ke layar ponsel, kemudian menoleh.
Oh, ternyata Rusli yang bertanya tadi. Kira-kira kenapa ya Rusli bisa ikut keluar dari dalam resto?
"Ada apa? Kok saya perhatikan dari dalam, kamu kayak kesal gitu?"
Tunggu! Perhatikan? Wah, wah. Apa Rusli ada sesuatu pada Lativa?
"Oh, bukan apa-apa kok Pak."
Sesaat kemudian, ponsel Lativa berdering lagi. Namun saat ia melihat ke layar ponselnya, kali ini dengan nomor yang berbeda.
__ADS_1
"Hah? Siapa lagi ini?" gumam Lativa. Suaranya masih bisa terdengar oleh Rusli yang memang sedang berdiri tepat di sebelahnya.
"Coba sini aku cek nomornya," pinta Rusli. Hal itu membuat Lativa menoleh dengan tatapan heran.
"Memangnya Pak Rusli bisa?" tanya Lativa seakan tidak percaya.
"Bisa. Serahin aja sama saya," jawab Rusli dengan percaya dirinya.
Lativa masih berpikir, tapi nomor itu terus memanggilnya lagi setelah beberapa detik berakhir. Akhirnya ia menyerahkan ponselnya.
"Ini Pak, saya minta tolong ya. Soalnya ganggu banget dari tadi siang."
Dengan senang hati Rusli meraih ponsel Lativa, lalu mengeluarkan ponselnya sendiri dari dalam saku celana. Lelaki itu mulai melacak nomor yang tertera pada panggilan masuk pada ponsel Lativa.
"Nomor ini ... Antony?" ucap Rusli dalam hati. Sebab nomor-nomor itu ternyata pernah ia hubungi saat pencarian Lativa di kepulauan seribu. Rusli paham kalau Antony adalah orang yang licik. "Sebelumnya, boleh saya bertanya sesuatu sama kamu?" tanyanya kemudian.
Lativa menautkan kedua alisnya, "Boleh, mau tanya apa Pak?"
"Apa Antony pernah ketemu kamu setelah kejadian itu?" tanya Rusli lagi. Kali ini tatapannya sangat serius.
Lativa merasa tersentak. "Bagaimana dia bisa bertanya seperti itu?" Ia bertanya-tanya dalam hati. Entah kenapa bibirnya sulit sekali mengatakan iya.
"Lativa, bisa jujur sama saya?"
__ADS_1