Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 47


__ADS_3

Dibawah teriknya sinar matahari, Lativa masih kuat berdiri sambil berhadapan dengan Antony. Ayah biologis dari anak yang dikandungnya itu, terus berusaha meyakinkannya dan berkali-kali minta maaf.


Cukup lama mereka berdebat, pada akhirnya Antony pun mengalah. Lativa tidak semestinya dipaksa, sebab dia memiliki cara tersendiri untuk menyembuhkan luka hati.


Setiap orang pasti pernah berbuat salah dan meminta maaf. Namun jika sudah memberikan apa-apa yang menurut kita terbaik, tidak usah berkecil hati. Sebab perasaan itu tidak bisa dirubah sesuka hati karena tidak memiliki tombol pengatur. Berikan dia waktu supaya perbuatan baik itu sampai dicerna dan bisa menjadi penawar luka.


Lativa bergegas pergi dari hadapan Antony. Perempuan itu melewatinya begitu saja dengan raut wajah yang sudah sangat tidak bersahabat. Antony mengusap kasar wajahnya.


"Tiv, aku akan mengantarmu pulang!" serunya saat melihat Lativa semakin menjauh, bahkan sambil berlari kecil. Antony menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hati-hati berjalannya jangan terburu-buru. Itu bisa melukai anak kita!" sambungnya khawatir takut Lativa jatuh.


Namun Lativa menghiraukan ucapan Antony. Ia tetap berjalan menuju ke pintu yang tadi dilewatinya. Antony tentu tidak membiarkan, dia berlari menyusul Lativa.


Saat tiba di ruang tamu, Antony berusaha meraih tangan Lativa lalu menggenggamnya sangat erat.


"Kamu boleh gak yakin sama aku. Tapi ingat ada anak kita di dalam perut kamu. Demi anak kita, Tiva ... " kata Antony dengan sorot mata teduhnya.


Sedangkan Lativa menatap Antony cukup lekat. Ia menelusuri manik mata laki-laki itu guna mencari sebuah kejujuran serta ketulusan disana, yang ternyata memang benar adanya. Ia sampai sulit berkata-kata, bibirnya seolah terkunci.


"Aku udah berkali-kali minta maaf sama kamu, Tiv. Gak masalah kalau kamu belum bisa maafin aku sekarang. Aku cuma minta satu hal sama kamu, tolong jaga anak yang ada dirahim kamu baik-baik," pinta Antony lalu mende*sah pelan.


"Asal kamu tahu, sampai sekarang aku belum menemukan perempuan seperti kamu .... " Laki-laki itu semakin menggenggam erat kedua tangan Lativa.


"Apa adanya dirimu, sifatmu saat didepanku membuatku paham kalau kamu sangat bernilai dimataku," pungkas Antony. Lantas Lativa pun menundukkan kepalanya dan tiba-tiba terisak. Perempuan itu semakin tidak kuasa menahan rasa haru terhadap apa yang barusan Antony katakan padanya.


Tidak berkata apa-apa lagi. Antony membawa Lativa ke dalam pelukannya. Sungguh tak disangka oleh lelaki itu, ternyata pelukannya terbalaskan. Antony menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman bahagia.


Setelah beberapa saat, Lativa sudah mulai membaik dan tangisannya pun sudah reda. Mereka pun saling melepaskan pelukannya.


"Mau aku antar pulang sekarang atau bagaimana?" tanya Antony sambil mengusap air mata yang masih tersisa disekitar mata Lativa.


"Aku lapar ... " gumam perempuan itu sambil merumat kedua tangannya. Sementara Antony mengulum bibirnya karena menahan tawa.


"Oke deh, kamu mau makan apa? Biar aku yang antar," tanya Antony. Lelaki itu mulai menunjukkan sikap seperti awal-awal saat mereka pacaran dulu.

__ADS_1


"Kalau makan di kedai tempat kita ketemu gimana?" tawar Lativa menatap Antony sedikit malu-malu.


Tangan Antony menyentuh dagu Lativa lalu diangkat, seolah memaksa perempuan itu untuk menatapnya. Padahal apa yang dilakukan Antony sangat lembut. "Anything for you."


Lativa seketika tesenyum walau masih malu-malu. Apa ini awal untuk menghilangkan rasa bencinya selama ini pada Antony? Apapun itu selama tidak membuat Lativa stres, semuanya akan baik-baik saja.


.


.


.


.


.


Ketika baru saja sampai di rumah sakit, Nila bergegas menuju ruangan rawat inap ibunya. Akan tetapi saat hampir mendekati persimpangan jalan, Nila tidak sengaja melihat Bayu bersama ibunya keluar dari sebuah ruangan. Beruntung keberadaan Nila saat ini cukup jauh dari mereka, sehingga ia rasa mereka pun tidak menyadarinya.


"Kelihatannya ibunya Bayu lagi rawat jalan. Aku kok tiba-tiba jadi penasaran ya?" batin Nila bermonolog. Rasa penasarannya itu semakin mendorong kuat untuk mengetahui pengobatan apa yang sedang mereka, ibunya atau Bayu sendiri jalani.


Beberapa menit kemudian, Nila mengintai dari balik dinding. Ternyata di depan ruangan tempat Bayu dan ibunya keluar sudah sepi dan tidak ada siapapun. Nila pun keluar dari persembunyiannya bersikap anggun dan biasa saja.


Nila berjalan santai menuju ruangan itu. Ketika menghentikan langkah, ia melihat ke sebuah papan kecil yang menggantung di dekat pintu. Disana bertuliskan poli kejiwaan. Nila langsung menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena terkejut dengan sebelah tangannya.


"Siapa yang terkena gangguan jiwa? Bayu atau ibunya?" batinnya menerka. "Gak mungkin kan kalau Bayu? Kalau ibunya mungkin iya. Secara julid banget jadi perempuan!" sambungnya dengan suara yang sangat pelan.


Akhirnya Nila tidak jadi menghentikan langkah di depan ruangan itu. Ia meneruskan langkahnya, memutar jalan menuju bagian adminiatrasi untuk mengambil kartu akses lift.


Usai menerima kartu akses itu, Nila masih bertanya-tanya dalam hati seraya berpikir keras. Hingga tepat di depan ruang inap ibunya. Nila menghentikan langkah sejenak.


"Apa aku tanya ke dokter di poli kejiwaan itu?" Nila berpikir lagi. "Ah! tapi ngapain juga sih aku sepusing ini mikirin itu. Biarin aja deh! Mau Bayu yang sakit jiwa atau ibunya. Bodo amatlah!" gerutunya.


Ketika Nila hendak membuka pintu, seorang dokter berparas tampan pun keluar.

__ADS_1


"Eh Dokter ... Habis periksa ibu saya ya?" tanyanya sedikit canggung.


"Dia cantik sekali, oh jadi yang tadi aku periksa itu ibunya ... " puji dokter itu dalam hati seraya menatap Nila sampai matanya berbinar.


"Iya, tapi sudah selesai kok," jawab dokter itu.


"Oh seperti itu, terima kasih Dok," ucap Nila bersikap ramah.


"Sama-sama. Kalau gitu saya permisi ya." Dokter itu menunduk hormat lalu pergi dari hadapan Nila.


Perempuan itu masuk ke dalam. Ternyata ibunya sedang tertidur. Ia pun duduk di kursi yang ada disebelah tempat tidur sang ibu. Namun sesaat setelah duduk, perutnya berbunyi keroncongan.


"Makan, Nila ... " ucap Mirna dengan suara yang masih terdengar lemah. Nila pun mendekat sambil memegang tangan sang ibu yang terpasang infus.


"Iya, Bu. Nanti Nila makan kok. Tapi sekarang gimana kondisi Ibu?" tanya Nila tersenyum simpul.


"Ya, Ibu ngerasa udah lebih baik kok. Kamu kapan datang?"


Nila merasa kasihan karena wajah Mirna tampak pucat sekali.


"Beberapa jam yang lalu Bu. Tadi Nila sempat urus Tiva dulu."


"Dia cerita sama kamu?" Tiba-tiba nada bicara Mirna terdengar ketus. Seolah kebencian pada Lativa sudah mendarah daging.


"Iya, Bu. Tadi Nila juga udah cek kondisinya ke dokter kandungan di rumah sakit ini. Ternyata hasil semuanya baik dan sehat. Ibu gak usah khawatir ya," ucap Nila berusaha mengikis rasa kesal pada hati ibunya supaya hubungan ibunya dan Lativa pun kembali seperti sedia kala.


"Ibu tuh kecewa banget sama dia. Waktu dia bilang mau datang ke acara ulang tahun temannya yang lumayan jauh dari rumah, malam-malam pula. Perasaan Ibu gak tahu kenapa, rasanya gak enak banget. Ibu udah coba larang dia, tapi dia kukuh dan datang ke acara itu. Sekarang, sekolah pun mengeluarkannya secara gak terhormat. Kamu bayangin rasanya jadi ibu gimana Nila!" seru Mirna dengan suara yang cukup keras. Beruntung dalam satu kamar itu, pasiennya hanya dia sendiri.


Napas Mirna pun menjadi tersengal-sengal karena terlalu kesal dan memendam amarah. Sebab dulu ketika masih ada suaminya, ia selalu mengeluarkan keluh kesah pada teman hidupnya itu. Sekarang semuanya sendiri, karena Nila pun jauh jadi tidak ada tempat walau hanya sekadar bercerita.


"Nila paham apa yang Ibu rasakan itu bagian dari naluri seorang Ibu. Nila pun belum tentu bisa setegar Ibu. Tapi Ibu gak sendiri, ada Nila juga disini, dan Tiva juga sebenarnya sangat sayang sama Ibu ... " Nila menghentikan ucapannya sejenak. Ia sedang berpikir untuk merangkai kata supaya tidak sampai menyakiti atau bahkan memojokkan ibunya.


"Nila rasa ... Tiva pun gak sepenuhnya salah. Disini dia juga korban, Bu. Nila juga kecewa sama keadaannya saat ini. Tapi mau marah pun percuma, nanti yang ada dia jadi stres dan malah melakukan hal berbahaya," sambung Nila yang mencoba jadi penengah.

__ADS_1


"Sekarang dimana dia? Kenapa gak ada disini?" tanya Mirna yang masih terdengar ketus.


"Dia di ... "


__ADS_2