
"Pak Fatan, tunggu!" seru Nila yang masih berdiri di depan pintu.
Lantas laki-laki itu menghentikan langkah lalu berbalik badan.
"Ada apa?"
Nila berjalan mendekati Fatan hingga jarak diantara mereka hanya beberapa langkah saja. Dilihatnya lelaki itu baik-baik, teliti dari ujung kening hingga dagu. Dia begitu sempurna kini di matanya. "Ternyata aku mencintainya," ucap Nila spontan dalam hatinya.
"Nila ... " panggil Fatan saat melihat sekertarisnya itu tertegun sampai tak berkedip.
Beberapa saat kemudian, Nila terkesiap. "Ehem." Ia melonggarkan tenggorokan supaya tidak keluar nada falset saat berbicara setelah ini. "Maaf Pak sebelumnya saya mau minta izin untuk bicara secara pribadi dengan Anda, bolehkah?" tanyanya menatap lekat pada sepasang mata di depannya.
"Boleh dong, gak ada yang ngelarang kok," jawab Fatan. Lelaki itu mendadak salah tingkah saat mendapati tatapan sebegitu lekatnya yang diberikan oleh Nila.
"Terima kasih ... " Nila menunduk sesaat lalu mengangkat wajahnya lagi sambil menarik napas. "Sebenarnya Charma itu siapa, Pak?"
Fatan seketika menautkan kedua alisnya. Menatap heran, karena tidak menyangka kalau Nila akan bertanya seperti itu. "Dia ... calon istri saya," jawabnya sambil mengembuskan napas.
Sementara Nila, napasnya seolah tertahan. Terasa sangat sesak di dada. Namun ia berusaha untuk tersenyum. "Oh, jadi begitu rupanya."
Dalam hitungan detik, hatinya dipatahkan lagi. Padahal baru saja ia akan memulai merangkai cerita indah bersama lelaki yang dicintainya itu.
"Terus pernikahannya kapan Pak?" tanya Nila lagi sembari memberi sugesti dalam hati kalau ia harus merelakan Fatan untuk orang lain.
"Masih saya rencanakan ... " jawab Fatan masih bersikap santai.
"Oh saya kira dalam waktu dekat ini ... " sahut Nila. Rasanya semakin lama melihat Fatan, semakin sakit pula hatinya.
"Kenapa kamu begitu penasaran tentang dia?" tanya Fatan curiga.
"Saya hanya memastikan kalau perempuan yang bersama Anda nantinya benar-benar bisa mendukung karir Anda ke depannya. Soalnya saya tiba-tiba ingat akan visi misi Anda untuk memajukan perusahaan di kota ini, bahkan sampai memisahkan diri dari kantor pusat. Meski begitu, Anda pun pasti sudah lebih tahu dia bukan?" Nila terkekeh geli. Tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.
Fatan menyadari hal itu. "Apa kamu menangis Nila?" Ia tidak ikut tertawa karena sejak tadi memperhatikan Nila dengan sangat lekat juga.
Sontak Nila pun menghentikan tawanya. "Hah? Menangis?" Ia meraba kedua matanya dan ternyata benar saja. Ada cairan bening di ujung ekor matanya. "Ah nggak kok pak. Saya hanya ikut terharu, akhirnya Pak Fatan bisa menemukan perempuan yang selama ini Anda cari," sambungnya berbohong. Raut wajahnya pun sengaja dibuat bahagia sebagai bentuk menghargai atasannya itu.
Sayangnya Fatan tidak percaya begitu saja. Kakinya melangkah ke depan sampai jarak diantara keduanya hanya tersisa satu langkah saja.
Sebelah tangannya pun terangkat lalu mendarat dengan lembut di salah satu pipi Nila. Pandangan mereka pun saling terkunci, tanpa disadari degub jantung mereka seirama. Menggebu tak menentu.
__ADS_1
Terlebih Nila, ia begitu merasakan desiran darah mengalir sangat deras di setiap nadinya. Seketika ia memejamkan mata, merasakan lembutnya sentuhan Fatan yang terus mengusap pipi mulusnya itu. Sangat terasa sekali ada kasih sayang disana.
Lantas Nila membuka kedua matanya karena terdasar akan pernyataan yang barusan diutarakan oleh Fatan. Sebelah tangannya pun ikut terangkat lalu memegang tangan Fatan yang masih menempel di pipinya.
"Jangan buat saya semakin salah paham dengan perlakuan Anda. Pak." Tangannya menurunkan tangan Fatan supaya menjauh dan tidak menyentuh pipinya lagi.
Namun tangan yang tadinya akan dilepas oleh Nila, seketika digenggam oleh Fatan.
"Salah paham bagaimana maksud kamu?" tanya laki-laki itu masih belum mengerti arah pembicaraan Nila.
"Saya salah Pak. Karena selama ini ... Saya kira Anda juga memiliki perasaan yang sama dengan saya, ya ... Saya salah udah mengartikan lain atas segala perhatian Anda selama ini," balas Nila berani mengakui.
"Perasaan yang sama?" Fatan menepuk kening, lalu mengusap kasar wajahnya.
Nila hanya mengangguk sebagai jawaban. Tatapannya masih sama, tetap serius.
Entah Fatan mendadak diam membisu. Seolah kehabisan kata. Genggaman tangannya pun dilepaskan olehnya dan ia tampak frustasi.
"Pak Fatan tenang aja ... Saya udah bisa belajar dari pengalaman. Sejatinya mencintai seseorang gak harus memiliki orang tersebut. Saya hanya bisa mendoakan, apapun yang udah jadi keputusan Anda, semoga bisa mengantarkan Anda pada kebahagiaan untuk kedepannya," ucap Nila sangat bijak. Karena baginya patah hati terhebat itu ya harus merelakan.
"Terima kasih banyak Nila ... Selama ini saya hanya menganggapmu sebagai sahabat. Saya harus akui, kalau saya memang sangat menyayangimu sebagai sahabat dan saya gak mau persahabatan kita bisa hancur karena salah satu dari kita ada yang mencintai," jelas Fatan lalu menarik napas dalam-dalam dan menghentikan perlahan.
"Iya silahkan ... " Sebelum Nila berbalik badan, Fatan langsung membawanya ke dalam pelukan.
Nila semakin tak kuasa untuk menolak ataupun memberontak. Ia hanya diam saja.
"Saya minta maaf Nila ...." Hanya itu yang mampu Fatan ucapkan. Lelaki itupun tidak bisa untuk tidak bersedih.
"Gak ada yang salah kok Pak ... " timpal Nila lalu berusaha melepaskan Fatan yang sejak tadi mendekapnya. "Siapa sih yang mau nyalahin cinta? Bahkan yang kita rasain aja kadang gak sadar. Bagaimana bisa menyalahkan perasaan yang sulit ditebak?" sambungnya lalu terkekeh pelan.
"Benar juga apa kata kamu ... Semoga kamu dan aku bisa bahagia selalu. Kita ... Sahabat!" Fatan menepuk kedua bahu Nila dan keduanya pun saling melempar senyum.
...----------------...
Sepulang dari rumah Fatan, Nila memilih untuk pulang ke apartemen. Selain ingin mengistirahatkan tubuhnya, ia juga ingin menenangkan pikirannya.
Dengan langkah gontai, Nila masuk ke dalam unit apartennya. Ia kemudian melepaskan heels lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dengan posisi terlentang, Nila menatap langit-langit kamarnya.
"Semuanya udah jelas Nila ... Pak Fatan sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Itu artinya kamu harus merelakannya. Ya ... Merelakan orang yang kamu cintai, untuk bahagia bersama pilihan hatinya. Dan itu bukan kamu." Perempuan itu bermonolog dalam hatinya.
__ADS_1
Tak butuh waktu yang lama, Nila pun akhirnya tertidur.
.
.
.
.
Dalam mimpinya, Nila tengah berada di sebuah gedung yang telah dihias dengan berbagai maca bunga, persis seperti pesta pernikahan.
"Ini pernikahan siapa?" tanyanya bermonolog.
Lantas salah satu pintu masuk gedung itu terbuka lebar. Kedua mata Nila seketika membulat dengan sempurna.
"Mereka tampak serasi."
Ditengah mimpi yang baginya buruk itu, suara deringan telelpon membuatnya terbangun. Nila terperanjat duduk di atas tempat tidur.
"Astaga, mimpi apa barusan?" Ia berdecak. "Pikiranku benar-benar berlebihan!" gumamnya sambil mengusap kasar wajahnya.
Nila langsung mencari keberadaan ponselnya karena masih terus berdering. Ia mencari-cari sumber suara itu dan ternyata ada di dalam tas yang tergeletak di bawah tempat tidur.
Lantas ia melihat nama yang tertera di layarnya itu.
Ibu is calling ....
"Halo Ibu?"
"Kak, ini aku ... Lativa!"
Nila langsung diam sambil menautkan kedua alis matanya. Ia pun sampai memastikan kembali kalau nama yang ada dalam panggilan tersebut adalah kontak ibunya.
"Lativa ... Ada apa?" tanya Nila mulai khawatir. Pasalnya nada bicara Lativa pun terdengar panik.
"Ibu Kak .... " Lativa tiba-tiba menangis. Nila pun semakin khawatir.
"Iya ibu kenapa, Tiva? Bicara yang benar!" Nada bicara Nila naik satu oktaf. Lativa membuatnya tidak sabar untuk segera tahu keadaan sang ibu yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ibu ... "