Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 84


__ADS_3

Ternyata Liam membawa lelaki itu ke sebuah ruangan yang baru saja selesai dilakukan renovasi. Di sana masih tercium bau cat tembok yang belum sepenuhnya kering.


Beberapa menit yang lalu, Lian telah menjelaskan tata tertib selama bergabung dalam kelompok mereka. Namun ironisnya, lelaki itu hanya terus menatap remeh. Terlebih ketika Lian tidak memberitahukan sama sekali berapa kisaran gaji yang akan diterima olehnya, sebab yang ada diotak lelaki itu saat ini hanya uang, uang dan uang.


Tiba-tiba pintu ruangan pun terbuka lebar. Fatan muncul dari balik pintu tersebut.


"Gimana Lian? Apa dia udah paham cara main kita?" tanya Fatan yang seketika raut wajahnya berubah menjadi sangar, bahkan Nila sendiripun belum pernah melihatnya sama sekali.


"Entah Bos. Dia sama sekali nggak bertanya ataupun menjawab udah paham atau belum," jawab Lian jujur.


"Begitu rupanya." Tatapan Fatan langsung menjurus ke arah perawat lelaki itu. "Siapa nama kamu?" tanya Fatan tegas.


"Juna," jawab dia singkat.


"Oke Juna ... Apa kamu udah yakin untuk membantu saya?" tanya Fatan lagi.


"Sebenarnya kalian itu kelompok apa? Kenapa melibatkan ketua bagian perawat?" Alih-alih menjawab pertanyaan Fatan, Juna justru bertanya balik.


Hal itu membuat Fatan sampai menarik napas terlebih dahulu sebelum akhirnya mrnjawab. "Asal kamu tahu ... Kami sebenarnya bukan sebuah kelompok, organisasi atau semacamnya. Tapi ini hanyalah bisnis. Sekarang kamu tinggal pilih aja. Mau tetap mihak dia atau beralih kepada saya?" Fatan melekatkan pandangannya pada Juna, sorot matanya itu bagaikan belati yang siap memanahnya tanpa ampun. "Kalau kamu tetap memihaknya atau pura-pura memihak saya, maka gak akan ada ampun untukmu!" ancam Fatan dengan penuh penekanan.


Mendengar perkataan Fatan, membuat Juna bergidig ngeri. "Ya saya mau. Lantas apa yang harus saya lakukan?" tutur Juna terdengar sangat yakin.


Sementara itu, Fatan tersenyum tipis lalu merubah tatapannya tidak setajam tadi. Dia pun akhitnya menjelaskan pada Juna poin-poin penting dalam aturan permainannya saat ini sedetail mungkin.


Beberapa menit berlalu, Juna pun paham. Namun tidak hanya itu, Juna bersedia mengeksekusi orang yang sebelumnya menjadi bosnya itu karena merasa sangat dendam akibat pukulan yang diterimanya.

__ADS_1


Usai itu, Fatan keluar lebih dulu lalu diikuti oleh Lian dan juga Juna. Ketika sampai di persimpangan lorong rumah sakit mereka terpencar. Akan tetapi saat Fatan sedang berjalan menuju tempat rawat inap Lalisa, dia melihat punggung orang yang sama seperti lelaki mantan bosnya Juna itu.


Fatan berjalan dengan hati-hati, memantau dari jauh dan tak lupa mengirim pesan pada Lian untuk segera memanggil para agen lain karena Fatan yakin kalau dia itu adalah targetnya.


Namun orang itu seakan tahu kalau dirinya merasa ada yang mengikuti, langsung mengambil langkah cepat begitupun dengan Fatan.


"Aku gak boleh kehilangan dia!" tekad Fatan mencoba menyamai langkah orang itu. Semakin cepat dan akhirnya mereka saling mengejar. Fatan berlari sambil mengeluarkan ponselnya dan mengirim voice note kepada Lian.


"Rooftop rumah sakit."


Mereka melewati tangga darurat. Hingga tak terasa keduanya sampai di rooftop rumah sakit yang begitu luas.


"Berhenti!" teriak Fatan dan orang itu pun seketika menghentikan langkahnya lalu berkacak pinggang tanpa berbalik badan.


"Siapa kamu?" tanya Fatan mengeraskan suaranya di tengah hembusan angin malam yang cukup kencang. Terlebih berada di atas ketinggian seperti itu. Namun orang itu hanya terdiam dan belum ada niat untuk berbalik badan.


"Diam disitu! Sekali lagi kau melangkah, aku gak akan segan membunuhmu!"


Deg.


"Suara itu ..." ucap Fatan dalam hatinya. Dia merasa kenal dengan suara yang dikeluarkan oleh orang itu.


"Disini hanya ada kita berdua. Satu lawan satu. Jadi, tunjukkan siapa kamu sebenarnya!" ucap Fatan penuh penekanan dengan pandangan sangat fokus serta lurus ke depan.


"Kenapa kau begitu penasaran sekali? Seberapa kuat dirimu .... " Orang itu mulai berbalik badan. Fatan kian tercekat. "Setelah ku jadikan alat untuk menghancurkan harta kekayaan si Wicak," sambung orang itu dengan raut kelicikan yang gampak pada wajahnya, tak lupa juga dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


"Kemal Prayoga ... Harusnya aku udah lama mencurigai kamu," ucap Fatan sambil mengeraskan rahangnya dengan penuh penekanan, tentu masih dapat di dengar oleh orang yang berdiri tegak dihadapannya. Ia benar-benar sangat geram sekali. Tak disangka musuh dalam selimutnya itu adalah orang terdekatnya.


"Kenapa? Kaget ya?" Orang itu secara tidak langsung mengakui nama yang telah disebutkan oleh Fatan.


Kedua tangan Fatan mengepal kuat. Ingin rasanya ia meninju wajah Kemal hingga babak belur dan mungkin tak benyawa. Dari semua rasa yang berkecambuk di dalam relung hati serta pikiran Fatan, pertama kali yang muncul adalah perasaan marah dan sangat ingin membalaskan dendam.


"Sebenarnya aku gak kaget. Tapi aku hanya menyesal karena sering menghiraukan apa yang terbesit di dalam pikiranku." Fatan mendelik tajam seraya tersenyum menyeringi. "Apa maumu sekarang?" tanyanya kemudian. Pandangannya tidak lepas dari lelaki yang bernama Kemal itu.


"Gak usah sok polos bertanya mauku apa." Kemal perlahan melangkahkan kakinya, berjalan mendekati Fatan hingga jarak keduanya hanya tersisa dua langkah saja.


"Oh, aku tahu ... Kau pasti ingin harta ayahku bukan?" tebak Fatan seraya terkekeh serta menggelengkan kepalanya.


"Salah! Kau salah besar!" tepis Kemal dengan suara lantang dan tegas. Seketika Fatan langsung menaikkan salah satu alisnya.


"Lantas apa?" tanya Fatan memicingkan mata, penasaran.


"Aku ingin hidup Wicak dan keluarganya hancur!" sentak Kemal dengan kedua mata yang dibuka lebar serta memerah. Di sana tersirat sebuah dendam dari sorot matanya.


"Hei ! Kau ini suaminya kak Elisa. Kau bahkan udah lama menikah dengannya dan perekonomian keluarga kalian pun bisa maju berkat bantuan ayahku!" Kali ini Fatan segera menepis aura dendam yang Kemal lontarkan padanya.


"Hahahaha .... " Kemal justru malah tertawa sampai terbahak. "Kau kira, aku dan kakakmu yang manja itu saling cinta? Cuiiih!!!" Kemal membuang sebercak air liur dari mulutnya. "Mana sudi aku menikah dengan Elisa kalau bukan sesuatu yang aku targetkan! Terlebih si pak tua itu, malah memberikanmu saham perusahaan yang sangat besar sekali nilainya," ucapnya sangat angkuh.


Tanpa Kemal sadari, para agen yang diberitahukan oleh Lian itu sudah berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Bahkan ada beberapa anggota kepolisian pun turut hadir di sana.


Prok! Prok! Prok! Fatan tiba-tiba bertepuk tangan. "Hebat sekali kau ini. Udah berusaha membunuh, sekarang mau ikut merampas harta kekayaan ayahku ... Kalau begitu sih aku gak heran saat ayah melengserkanmu dari jabatan yang sangat diidamkan banyak orang. Kalau begini sih, kau lebih baik dihukum sangat berat aja," jawabnya sangat enteng sekali. Namun perkataan Fatan barusan membuat Kemal semakin geram.

__ADS_1


"Dasar bocah ingusan! Rasakan ini !" geram Kemal lalu tiba-tiba melangkahkan kaki dan mengeluarkan sebuah senjata dari dalam saku celananya.


Doorrrrr Doooorrr!


__ADS_2