
Sepulang dari rumah sakit, Mirna memilih langsung istirahat di kamarnya, begitupun dengan Lativa. Sementara Nila pergi ke dapur untuk membuat makanan untuk makan siang nanti.
Dalam waktu setengah jam, Nila telah selesai membuat hidangan dengan kreasinya sendiri. Selama ini sebenarnya Mirna tidak pernah mengizinkan Nila memasak. Sebab cara Nila memasak itu sangat berbeda dengan dirinya. Meskipun hasil akhirnya sedikit menyerupai, tapi tetap saja Mirna lebih memilih masak sendiri.
Namun rupanya, disaat kesehatan Mirna masih belum pulih. Mau tidak mau ia merelakan Nila 'mengobrak-abrik' dapurnya. Ya, hitung-hitung membiarkan Nila belajar memasak. Sebab suatu hari nanti, anak sulungnya itu juga akan menjadi seorang istri dan ibu. Hanya saja yang belum pasti saat ini, calonnya saja.
Setelah selesai memasak, Nila pergi ke kamar. Menyalakan pendingin ruangan lalu merebahkan tubuhnya kembali. Pandangannya menatap langit-langit kamar, tapi pikirannya tiba-tiba teringat akan pertemuannya tadi dengan Bayu.
"Apa tadi Bayu lagi pamer sama aku kalau sekarang dia duda? Terus dia kira aku bakal mau balikan sama dia? Aduh rasanya gak mungkin banget kalau sampai terjadi cinta lama belum kelar ... " ucap Nila bermonolog lalu berbalik badan dan kini posisinya menjadi tengkurap.
"Tapi kalau dipikir-pikir, cinta itu aneh ya? Dulu waktu pertama kali kenal Bayu, dia pandai sekali mengutarakan kata indah, lewat lagu pula. Duh, kalau ingat itu rasanya kok aku gampang banget jatuh cinta. Terus pas putus, kayak ada rasa belum puas. Tapi aku sendiri gak tau apa ... " Nila bertopang dagu. "Apa karena aku terlalu lama mendalami rasa selama delapan tahun ya sama dia?" Perempuan itu berpikir.
"Lebih anehnya lagi, setahun kenal sama Pak Fatan dan sampai-sampai aku salah menanggapi setiap perhatian dia, aku gak inget lagi semua tentang Bayu. Terus kenapa sekarang aku ketemu lagi sama Bayu? Ya Tuhan ... Dia jadi duda lagi sekarang. Cobaan apalagi ini?" Nila frustasi dan jadi bingung sendiri. Ia mengacak rambutnya, merasa pening. Lantas ia pun mende*sah kasar.
Tiba-tiba Nila mendengar suara getaran serta sayup-sayup nada dering ponselnya. Ia berdecak lalu beranjak dari tempat tidur untuk menghampiri tasnya.
Setelah ponselnya di dapat, Nila melihat ke layar itu. Tertera nomor tanpa nama di sana. Ia menautkan kedua alisnya.
"Nomor siapa ini? Jangan-jangan nomor Bayu!" gumamnya seketika menarik napas cepat. "Jawab gak ya? Duh kalau dia beneran ngajak ketemuan gimana?" lanjutnya lalu menggigit salah satu kuku jari tangannya. Perasaannya mendadak gelisah.
Hingga saat deringan terakhir, Nila melonggarkan tenggorokannya terlebih dahulu, menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Barulah ia menjawab panggilan dari nomor tersebut.
"Halo?" sapanya ragu-ragu.
"Hai Nila, gimana jadi ketemu di luar?"
Nila menepuk keningnya lalu menjauhkan layar ponselnya itu dari daun telinga. "Tuh kan dia nagih! Gimana ini?" gumamnya dengan suara pelan bahkan hampir tak terdengar.
"Halo ... Nila?" Dia adalah Bayu. Laki-laki itu berkata lagi karena Nila sempat diam beberapa saat.
"Oh iya Bayu ... Nanti sore aja gimana? Aku masih capek banget kalau sekarang," keluh Nila dengan suara yang dibuat selemah mungkin supaya Bayu percaya. Tetapi memang tubuhnya sedang butuh istirahat sekali. Terlebih Fatan sudah berteriak ingin Nila segera kembali ke Palembang karena pekerjaannya sudah menumpuk.
"Oh begitu rupanya. Oke deh, sampai nanti sore, Nila."
__ADS_1
"Iya Bayu, Bye." Nila mengakhiri panggilan itu. Ia menghela napas panjang lalu merebahkan tubuhnya lagi. Hingga tanpa terasa matanya terpejam dan ia pun tertidur pulas.
.
.
.
Tepat pukul 4 sore, Nila kebangun karena deringan ponsel yang tepat berada di telinganya. Kepalanya terasa pusing bukan main.
"Siapa sih yang telepon?" racaunya lalu becak. Dalam keadaan masih setengah sadar, Nila menjawab panggilan itu.
"Halo ... Nila. Kamu sedang apa?"
"Tidur," jawab perempuan itu dengan suara yang memang khas seperti orang baru bangun tidur.
"Astaga. Ini udah sore Nila!" ucap laki-laki di seberang telepon itu.
Sontak Nila pun terkejut dan langsung terperanjat duduk di atas tempat tidur. Lantas ia menjauhkan layar ponselnya dari daun telinga dan melihat siapa sebenarnya yang ada dalam panggilan tersebut.
"Barusan saya kirim email ke kamu. Tolong segera cek ya!"
"Oh iya Pak, nanti akan saya cek. Tapi buru-buru gak?"
"Saya tunggu email balasan kamu lima belas menit lagi. Oke?"
Nila menarik napas dalam-dalam. Cutinya kali ini membuat tidak tenang. "Baik, Pak."
"Ya udah, saya tunggu." Fatan pun memutuskan sambungan telepon.
Nila berdecak lalu melempar ponselnya ke atas selimut. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh serta mengganti pakaiannya. Setelah semua itu dilakukan, Nila segera membuka laptop supaya bisa lebih mudah mengecek email yang masuk.
Ditengah seriusnya meneliti ulang data yang diberikan oleh Fatan, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Nila menghentikan aktifitasnya sejenak, lalu membuka pintu.
__ADS_1
"Ada apa Tiv?" tanya Nila saat melihat Lativa berdiri di depannya.
"Itu di depan ada tamu, nyariin Kakak. Katanya Kakak udah janji sama orang. Jadi dia disuruh jemput Kakak di rumah," jawab Lativa.
Nila mengerutkan keningnya, berusaha mengingat kembali janji kepada siapa yang telah dibuat. Lantas beberapa saat kemudian Nila pun teringat.
"Bayu!" gumamnya dalam hati.
"Tiv, minta tolong sama orang itu suruh tunggu lima belas menit lagi ya. Um, omong-omong ibu dimana?" Nila pun panik, terlebih pekerjaan yang disuruh oleh Fatan belum selesai ia cek ulang.
"Ibu lagi nonton TV di kamarnya Kak. Ya udah aku bilang dulu ya ke orang itu."
Nila mengangguk cepat. "Makasih Tiva!" ujarnya lalu Lativa pun bergegas pergi ke depan rumah. Sedangkan Nila kembali masuk ke kamar kemudian duduk di depan laptop.
Dalam waktu lima menit, data berhasil dikirim kembali kepasa Fatan. Setelah itu ia mematikan laptopnya dan segera berganti pakaian.
Sebelum berangkat, Nila berpamitan terlebih dahulu pada ibunya dan juga Lativa. Akhirnya setelah mendapat izin dari sang ibu, Nila berangkat bersama orang yang sejak tadi menunggunya.
Mobil yang ditumpanginya itu sampai di depan sebuah restoran bintang lima di daerah Sudirman.
"Kita sudah sampai Nona, Tuan Bayu sudah menunggu di dalam," ucap sopir itu memberitahukan kepada Nila.
"Iya Pak. Terima kasih ya," kata Nila lalu turun dari mobil dan lekas masuk ke dalam.
Bayu yang melihat Nila turun dari mobil langsung beranjak dan menghampirinya.
"Hai!" sapa laki-laki itu sambil tersenyum.
"Hai, maaf ya lama tadi ada kerjaan dulu," kata Nila merasa tidak enak hati.
"Oh, gak masalah. Ayok masuk!" ajak Bayu seraya mempersilahkan Nila. Perempuan itu mengangguk dan keduanya pun berjalan bersamaan ke salah satu meja yang telah dipesan oleh Bayu.
Sesampainya di meja yang dimaksud, Bayu menarikkan kursi untuk Nila duduki.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Nila merasa tersentuh.
"Sama-sama." Bayu pun kemudian duduk di kursi yang posisinya berhadapan dengan Nila. Setelah itu seorang pelayan datang dan mereka pun memesan makanan.