Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 12


__ADS_3

Tanpa sengaja, mata Bayu melihat pintu kamar yang menuju balkon terbuka. Lelaki itu menghampiri, ternyata Winda ada di sana. Tengah duduk santai sambil memainkan ponsel.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Bayu lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Winda.


"Cari angin," jawab perempuan itu singkat dan acuh. Sebab matanya enggan melihat suaminya.


Bayu menghela napas panjang. "Aku minta maaf karena sejak kita nikah, aku belum bisa memperlakukanmu sebagaimana saat di depan mama-ku."


"Kenapa?" Winda bertanya cepat, ia melihat suaminya sekilas lalu beralih ke ponselnya lagi.


"Karena aku masih sangat mencintai Nila."


Jawaban Bayu membuat napas Winda seketika terasa sesak.


"Ternyata benar feeling-ku, semua karena Nila."


"Terserah kamu aja deh." Winda meletakkan ponselnya di atas pangkal paha kemudian menatap Bayu dengan penuh perasaan benci. "Asal kamu tahu, aku sebenarnya udah muak dengan sandiwara ini. Aku benci terus mengikuti apa yang kamu mau! dan aku salah ... " Tatapan tajam mengarah langsung pada Bayu. "Udah jatuh cinta sama lelaki yang sama sekali anggap akupun nggak!"


"Winda ... " Bayu tak mampu berpikir jernih, sebab rasa sesal karena telah menikahi perempuan yang ada di depannya itu masih melekat penuh dalam hatinya. "Oke fine! Kalau kamu ingin cerai. Silahkan!" pungkasnya dengan suara yang sedikit meninggi.


Namun Winda tidak langsung menjawab, perempuan itu semakin tersulut emosi sampai dadanya tampak kembang kempis. Tidak mudah baginya mengikis sebuah batu dalam waktu sekejap. Akan tetapi, rasa sabarnya hanya setipis lembaran tisu.


"Lihat aja nanti!" balas Winda lalu pergi dari hadapan Bayu, bahkan keluar dari kamar itu.


Bayu tidak mengejarnya. Dia tetap di balkon dengan kedua tangan yang berpegangan pada tralis pembatas. Wajahnya menunduk seraya membuang napas supaya bisa lebih lega.


Sementara tepat di bawah balkon tempat mereka bertengkar itu adalah kabar ibunya Bayu. Perempuan setengah abad itu terkejut mendengar pertengkaran anak dan juga menantunya.


Tangannya reflek megang dada, hatinya seolah teriris oleh sebuah pisau yang amat tajam. Sakit sekali.


"Ternyata pernikahan anak semata wayangku, gak seindah yang aku lihat. Padahal aku ingin yang terbaik untuk Bayu," ucapnya bermonolog. Air matanya pun ikut menetes.


.


.


.


.


Di waktu yang bersamaan, Nila terbangun dengan peluh yang bercucuran dikeningnya. Napasnya tersengal, mungkin karena mimpi buruk yang baru saja dialaminya sehingga membuatnya terbangun dengan keadaan seperti itu.


Beberapa kali Nila mencoba mengatur napasnya kembali supaya detak jantungnya pun bisa lebih tenang. Tak lama setelah itu, Nila tidak bisa tidur lagi. Akhirnya Ia berjalan ke arah sofa yang dekat dengan jendela kamar lalu membuka sedikit gordennya.


Nila duduk di sofa itu sambil memeluk kedua lututnya dan menatap langit malam yang tampak polos tanpa bintang. Berkali-kali ia usap wajahnya, berharap mimpi buruk itu tidak hadir lagi setiap kali ia memejamkan matanya.


"Gak lama lagi, aku akan ninggalin kota ini. Mungkin dalam jangka waktu yang lama ... " Nila tersenyum karena ia juga masih bisa melihat bulan di atas sana, dengan bentuk bulat sempurna nan cantik. "Yaahh ... Andai pun saat ini aku masih sama Bayu, kami akan menjalani hubungan jarak jauh lagi. Tapi entah kenapa sekarang rasanya sangat hampa ... Seperti ada yang hilang." Air matanya tanpa sadar menetes. "Bahkan aku belum pergi aja, rasa hampa itu udah bikin nyesek banget."


Nila terguguk lalu menundukkan wajahnya dan menempelkan keningnya ke lutut.


"Tuhan ... Bagaimana caranya aku bisa benar-benar bisa merelakan dia?"

__ADS_1


Setelah cukup puas menangis, meluapkan rasa yang begitu menyiksanya akhir-akhir ini. Nila pun akhirnya pergi ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana. Ia sadar kalau besok ia masih harus bangun untuk bisa pergi bekerja.


...----------------...


Keesokan harinya, Nila terbangun karena ponselnya mengeluarkan bunyi nada dering panggilan. Perempuan itu sampai terlonjak duduk di atas tempat tidur. Sebelah tangannya kemudian meraba ke atas meja nakas yang tak jauh dari tempatnya. Sedangkan sebelah tangannya lagi memijat kening berkali-kali untuk menghilangkan rasa pusing akibat terkejut.


"Halo? Ini siapa?" tanya Nila seraya menaruh sebelah tangan yang menopang kepalanya ke atas lutut sebagai tumpuan.


"Halo, selamat pagi. Kamu baru bangun ya?"


Nila menautkan kedua alisnya, mencoba mengenali suara lelaki itu.


"Kayaknya aku tahu deh ini siapa," ucap Nila dalam hati sambil menggelengkan kepala.


"Ada apa Kak Dany pagi-pagi udah telepon aja?"


"Aku mau ajak kamu berangkat bareng ke kantor, gimana?" tawar Dany.


"Emangnya kantor kita searah?" Nila bertanya balik.


"Ya aku juga belum tahu. Makanya mau ajak kamu berangkat bareng, tujuannya biar tahu."


Nila menarik napas dalam-dalam. Pandangannya kemudian terarah ke jam dinding yang terpasang di kamarnya. Di sana sudah menunjukkan pukul lima lewat lima belas. Itu artinya waktu Nila hanya tersisa setengah jam lagi untuk bersiap dan sarapan. Sebenarnya cukup sih, hanya saja kalau Dany masih terus memaksa dan enggan meakhiri panggilan itu, bisa-bisa Nila terlambat berangkat kerja.


"Maaf Kak, aku bisa berangkat sendiri kok. Udah dulu ya, aku mau mandi terus siap-siap. Bye!" Nila segera mengakhirinya.


Bertemu dengan Dany mengingatkan Nila pada pertemuannya dengan Bayu. Sebisa mungkin perempuan itu menghindari Dany. Akhirnya nomor kontak Dany pun diblokir olehnya, supaya lelaki itu tidak bisa menghubunginya lagi.


...----------------...


Dengan keterampilan mengemudinya, Nila berusaha mencari jalan supaya bisa keluar dari keramaian jalan dan segera sampai. Alhasil, ia pun berhasil tiba di kantor tepat sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi.


Seperti kemarin, pekerjaannya hari ini masih di-handle sendiri olehnya karena Alika izin tidak masuk kantor akibat diare.


Disaat Nila sedang sibuk dengan pekerjaannya, ponselnya terus berdering. Namun tidak dijawab olehnya. Feeling-nya mengatakan kalau nomor itu adalah nomor baru Dany.


Nomor itu sampai berkali-kali meneleponya. Sampai Nila kehilangan kesabaran dan akhirnya ia pun menjawab.


"Halo?" sapanya terdengar ketus.


"Dengan Nila, benar?"


Perempuan itu seketika tercekat lalu menjauhkan layar ponsel dari telinganya dan memastikan kembali nomor yang tertera pada panggilan yang sedang berlangsung.


"Benar, maaf ini dengan siapa?" tanya Nila dengan hati-hati. Perasaannya mendadak gelisah.


"Saya Nimas, ibu-nya Bayu. Kamu kenal dengan anak saya bukan?"


Detak jantung Nila seakan berhenti beberapa saat. Sungguh tak dapat ia sangka ibu-nya Bayu bisa menghubunginya.


"Maaf, Ibu ada perlu apa ya hubungin saya?" Nila ingin langsung to the point.

__ADS_1


"Bisa kita ketemu sore ini?"


Nila bersusah payah menelan ludahnya. Fokusnya pun seketika berantakan. Ia mencoba untuk tetap tenag kemudian menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bicara.


"Maaf, memangnya ada hal apa yang ingin Ibu Nimas bicarakan?"


"Ini tentang Bayu," jawab Nimas singkat.


"Bayu? Kenapa dia? Bukannya dia udah bahagia sama istrinya?" cecar Nila melawan hati untuk bertanya tentang bagaimana perasaan Bayu padanya saat ini. Kalaupun bertanya pada ibu-nya, sangat mustahil bila Nila akan mendapat jawaban yang menyenangkan.


"Kita bisa bicara saat bertemu nanti, bagaimana? Apa kamu bisa?"


Nila mende*sah pelan. "Baik, nanti share location aja ya Bu tempatnya dimana."


"Iya." Setelah itu telepon diakhiri oleh ibu-nya Bayu.


Nila mengempaskan napas kasar lalu menaruh ponselnya kembali ke atas meja. Ia pun segera menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa lebih santai di akhir jam kerja.


.


.


.


.


Di sebuah restauran yang cukup ternama di pusat kota, Nimas baru saja sampai diantar sopir pribadinya. Namun ia tidak sendiri, melainkan bersama Winda, menantunya. Mereka masuk ke dalam dan memesan meja untuk bertiga.


Lima belas menit ada di sana, mobil yang dikendarai oleh Nila sampai di restauran itu. Akan tetapi ketika Nila hendak turun dari mobil, Winda pamit pada mertuanya untuk ke toilet.


Nila segera masuk ke dalam lalu berdiri di depan kasir. Sedangkam Nimas yang melihat keberadaan Nila di sana langsung mengirimkan pesan pada dia.


Tidak lama berselang, notifikasi pesan pun masuk ke dalam ponsel Nila.


"Meja nomor 7."


Nila segera mencari dan tak lama menemukannya. Saat ini menjadi yang pertama bagi Nila melihat ibu-nya Bayu. Sebab selama berpacaran dengan laki-laki itu Nila tidak pernah diajak bertemu dengan Nimas. Hanya saja derajat keduanya berbeda. Ibu-nya Bayu sudah lebih dulu mencari tahu tentang Nila. Sedangkan Nila kesehariannya hanya sibuk bekerja dan berkumpul dengan orang tua serta adiknya saja.


"Dengan Ibu Nimas?" tanya Nila sopan sambil mengulurkan tangannya.


"Iya." Perempuan setengah abad itu hanya menunjukkan sikap dingin dan mengacuhkan uluran tangan Nila, memilih menyilangkan kedua tangannya di dada. Sungguh awalnya saja membuat Nila merasa keberadaannya di sana sangat tidak penting. "Duduk!" pintanya dengan wajah culas.


Nila mengangguk lalu matanya tidak sengaja melihat sebuah tas bertengger di atas meja. Setelah ia lihat ke arah Nimas, ada tas juga.


"Maaf Bu, itu tas siapa?" tanya Nila berusaha bersikap sewajarnya.


"Winda."


Deg.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2