
Nila berdiri di depan pintu, napasnya ditarik sangat dalam. Setelah itu ... mengembuskan perlahan seraya meraih gagang pintu lalu membukanya. Ia tersenyum simpul ketika melihat Edward yang sedang berdiri memunggunginya.
"Ada apa ya Pak, panggil saya?"
Edward berbalik badan sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap Nila sangat serius. Sementara Nila tetap memasang raut wajah tenang seolah tanpa beban.
"Saya ingin kamu carikan data perkembangan kantor ini dari awal memulai hingga sekarang," ucap Edward biasa saja, tapi tidak terlepas dari aura ketegasannya.
Nila tampak berpikir, lima menit lagi waktu pulang kantor akan tiba. "Cari sekarang Pak?" tanya memastikan. Dalam hati ia sudah berfirasat kalau akan berlembur sore ini.
"Iya sekarang!" perintah Edward dengan tegas.
"T-tapi Pak .... " Nila menjeda ucapannya karena baru saja bel pulang berbunyi.
"Kamu lembur malam ini sampai semuanya selesai!" tegas Edward lagi. Sedangkan Nila hanya tercengang. "Saya gak mau tahu, besok pagi semua berkas yang saya minta harus udah ada di atas meja. Dan besok kamu juga harus datang lebih awal daripada saya, paham?" sambung laki-laki itu.
"Gila, bener-bener gila! Belum juga ada sehari udah digembleng begini," batin Nila yang belum sepenuhnya terima.
"Paham gak?" bentak Edward, terlebih saat melihat Nila hanya terdiam dan tertegun.
"I-iya Pak, paham ... Tapi biasanya data itu ada dilaptop, Pak. Kalau saya kirim lewat email aja gimana? Selama ini belum ada yang lembur sore disini," tawar Nila sembari dalam hati berharap Edward bisa mengabulkan penawarannya itu.
"Peraturan dulu sama sekarang itu beda! Jangan pernah sekali-kali disamakan! Saya minta berkas itu di print. Lagi pula email saya dari pusat belum jadi, karena masih dalam proses konfirmasi," tandas Edward dengan nada suara semakin meninggi. Lantas Nila pun mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Perempuan itu mende*sah pelan. "Ya Tuhan, semoga aku tetap betah bekerja disini untuk kedepannya. Apalagi sekarang menghadapi lelaki macam si Edward yang super menyebalkan ini!" Nila menggerutu dalam hatinya, lalu mendelik tajam ke arah Edward.
"Baik Pak." Nila segera berbalik badan dan melangkahkan kaki menuju meja kerjanya.
Perempuan itu sangat fokus mengerjakan tugas dari Edward. Sementara lelaki itu hanya duduk bersantai di kursi kebesarannya seraya menatap ke layar laptop yang sedang terhubung dalam panggilan video.
"Gimana kerjanya? Apa udah sesuai dengan sekertaris kriteriamu?" tanya lelaki yang terpampang di layar itu dengan menggunakan topi, kaos polos berwarna putih, tapi wajahnya tampak pucat.
__ADS_1
Edward hanya berdecih. "Nggak sama sekali. Dia sangat jauh berbeda dengan Vanka. Dia tuh pandai sekali membantah setiap apa yang aku perintahkan. Ya ... Karena dia udah berani, maka jangan salahkan aku kalau setiap hari pekerjaan dia akan sangat banyak," ucapnya sangat santai sekali.
Lelaki yg ada di layar itu tampak tertawa tapi tidak sampai mengeluarkan suara yang keras, kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Jangan terlalu keraslah dengannya ... dari awal memang aku nyiptain suasana kerja yang santai. Ya pantas dia membantah, selama ini gak pernah sama sekali aku kerasin bahka membuatnya bekerja dibawah tekanan pun nggak sama sekali."
"Tapi kok dia sama sekali gak kenal sama aku ya? Apa jangan-jangan dia gak sadar kalau aku pimpinan utamanya di kantor pusat waktu itu?" Edward bertanya-tanya.
"Apa kaku sendiri juga gak sadar? Kalau banyak bawahanmu itu yang bermain dengan otak liciknya? Makanya kalau jadi pemimpin itu jangan cuma keras dan tegas, tapi juga harus bisa menciptakan ruang lingkup kerja itu senyaman mungkin!" Lelaki itu mengomel pada Edward.
Selama ini memang segala urusan apapun di kantor pusat selalu dilimpahkan pada Vanka, sekertarisnya. Maka dari itu pemilik utama perusahaan pun mengambil tindakan. Namun sayangnya pemimpin selanjutnya masih belum pasti. Karena sementara ini masih dipegang oleh pemilik utama.
"Ya, kalau itu sih tergantung orangnya masing-masing. Kalau orang itu curang, itu artinya dia juga harus terima segala konsekuensi yang ada di depannya," dalih Edward tidak ingin terus disalahkan.
"Maka dari itu, please ... Jangan hanya bisa mempersulit orang lain. Kamu ini kakak ku juga. Sekarang posisimu telah dipindahkan, otomatis kamu pun bisa serumah lagi dengan istri serta anakmu. Kalau sampai Nila resign gara-gara kamu ... aku akan bikin perhitungan sama kamu!" tegas lelaki itu. Sementara Edward tertawa sampai terbahak.
"Dasar adik manis ini. Mainnya ancaman. Kalau Charma sampai tahu kalau kamu sebucin ini sama sekertarismu itu, bisa habis kamu dibully sama dia!" ledek Edward disela tawanya.
"Udah ah, aku mau istirahat! Inget loh ancamanku tadi!" Lelaki itu memperingatkan Edward kembali. Sedangkan Edward sendiri hanya tertawa sambil menganggukkan kepalanya. Tidak lama panggilan video itu akhirnya berakhir.
"Masuk!" perintahnya lalu pintu pun terbuka.
Nila pun muncul dari balik pintu itu kemudian masuk ke dalam menghampiri Edward.
"Ada apa Nila?" tanya lelaki itu seperti biasa memasang wajah dingin dan angkuh.
"Saya hanya mau memberikan ini ...." Nila menyerahkan tumpukan berkas. "Tugas yang Anda minta telah selesai saya cetak semua. Saya rasa gak ada yang tertinggal, sebab tadi udah sempat dicek dua kali."
"Okey ... sekarang kamu boleh pulang," ucap Edward seraya menerima berkas itu dan menarunya ke atas meja.
"Baik Pak, terima kasih." Nila menunduk hormat lalu keluar dari ruangan itu.
Setelah menutup pintu, Nila bernapas lega. Akhirnya ia bisa terbebas dari atasannya dan ingin segera pulang ke apartemen untuk merebahkan tubuh.
__ADS_1
.
.
.
.
Sepanjang jalan menuju apartemen, tidak sengaja pandangannya berhenti pada sebuah kedai yang pernah didatangi olehnya bersama Fatan. Nila menepikan mobilnya ke kedai itu lalu tertegun sejenak, sepintas ada sebuah rasa rindu saat melihat kedai itu.
"Andai dia masih asyik seperti dulu, pasti akan banyak cerita diantara kita berdua. Meskipun tanpa ada ikatan ... Setidaknya aku merasa bahagia karena punya teman seperti dia ...." Nila mende*sah merasa ada sesal dalam hatinya. "Kadang aku merasa, ucapanku waktu itu ... seperti keluar dari zona nyaman. Ada perbedaan yang aku alami. Tapi .... "
Ditengah asyiknya tertegun, ponsel Nila berdering. Ia menarik napasnya dalam-dalam sebelum akhirnya melihat ke layar ponsel yang sedang menyala itu.
"Ibu?" gumamnya lalu menekan ikon berwarna hijau dan mendekatkan layarnya ke daun telinga.
"Halo Bu, ada apa?" tanya Nila seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Nila, tadi adikmu ke rumah sama suaminya ... Dia mau ambil pakaiannya, terus pas mau pergi lagi bilang sama Ibu kalau dia akan pindah ke Amerika. Dia juga pamit, dan ibu bilang jangan lupa hubungi kamu, tapi katanya udah. Benar?"
"Hah? ke Amerika? Dia belum bilang sama Nila, Bu. Kok mendadak ya? Padahal sebelum hari H dia itu gak bilang apa-apa." Nila mendadak curiga.
"Oh ya? Ibu kira apa yang dia bilang itu benar. Ibu jadi khawatir."
Nila memijat keningnya, kepalanya tiba-tiba merasa pening. "Ibu gak usah khawatir ya. Nanti biar Nila yang coba hubungi Tiva."
Lantas setelah itu sang ibu pun merasa sedikit lega. Meskipun dalam hatinya masih marah terhadap Lativa, tapi perubahan sikap sewaktu ke rumahnya tadi membuat naluri seorang ibu seketika khawatir. Mirna pun juga menceritakan apa yang dilihat serta didengarnya saat Lativa dan Antony pulang ke rumah tadi.
Nila pun mencoba menenangkan dan bicara kalau dirinya belum bisa mengajukan perpindahan ke kantor pusat karena atasan baru. Percakapan mereka cukup panjang hingga hampir satu jam, akhirnya terputus.
Nila segera masuk ke dalam kedai itu untuk menikmati makan malamnya, sendirian.
__ADS_1