Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 27


__ADS_3

Raut wajah Fatan tampak serius sekali. Nila pun sampai memiringkan kepala seraya menautkan kedua alisnya.


"Apa?"


"Kamu masih ingat gak soal mobil yang difasilitasi sama kantor?"


Nila tertegun beberapa saat lalu tersadar. "Oh iya ingat! Gimana Pak? Apa kantor pusat udah kirim mobilnya?" tanya perempuan itu.


"Santai ... " Fatan terkekeh ketika melihat Nila begitu sangat antusias. Lelaki itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. "Taraaaaa ..."


Fatan menunjukkan sebuah kunci mobil kepada Nila. Seketika senyum pun terbit dari kedua sudut perempuan yang duduk bersamanya itu.


"Waaah ... Audy ?" tukas Nila merasa tidak percaya. Merk mobil keluaran Eropa itu memang sudah diimpikannya sejak lama. Nila bahagia bukan main.


Fatan mengangguk santai. "Nih ambil. Pakai mobil itu sebaik mungkin," katanya seraya memberikan kunci mobil itu kepada Nila.


"Pak, boleh saya lihat mobilnya dimana?" tanya Nila lagi yang sudah tidak sabar.


"Ada di basemen. Yuk kalau gitu ikut saya!" ajak Fatan lalu beranjak dari duduknya. Kedua tangan lelaki itu pun dimasukkan ke dalam saku celana, berdiri dengan posisi 'stay cool' di hadapan Nila. Tampan sih. Tetapi kalau gaya serampangannya sudah keluar, Nila bahkan agak risih.


"Oke!" Nila ikut beranjak dan mereka pun keluar dari sana lalu berjalan bersamaan menuju basemen apartemen.


"Nila, kamu tahu gak?" tanya Fatan yang niatnya ingin langsung melanjutkan ucapannya. Namun dengan cepat Nila jawab.


"Nggak, kenapa tuh?"


Fatan hanya mengempaskan napas sambil memutar malas bola matanya. "Saya mau lanjutin. Jangan dipotong dulu!" protesnya lalu mencebik.


"Eh maaf Pak, saya kira mau dijeda dulu," jawab Nila merasa tidak enak.


Fatan pun menghiraukan. "Kemarin saya sempat meeting sama klien baru. Saya udah datang duluan kan, duduk terus nunggu. Lama banget, ada mungkin lima belas menitan saya nunggu. Terus habis itu mereka dateng, say hallo duduk barengan."


"Maaf Pak, itu yang dari perusahaan Mekar Sentosa bukan?" tanya Nila memotong sejenak.

__ADS_1


"Nah iya! Pintar sekali," puji Fatan dan Nila hanya tersenyum. "Awalnya saya gak curiga dan mereka agak gugup kan tuh. Oke saya maklumin, mungkin mereka perusahaan baru atau karena mereka berdua sama-sama perempuan dan saya lelaki sendiri. Ngobrol, ngobrol ... dalam hati saya nanya 'kok mereka kayaknya risih gitu'. Duh perasaan saya gak enak, jangan-jangan mereka gak mau kerjasama lagi sama perusahaan kita kan. Eh salah satu dari mereka tanya. Terus kamu tahu apa yang mereka tanyain ke saya?"


Nila menautkan kedua alisnya menoleh ke arah Fatan lalu menggeleng karena memang tidak tahu. "Tanya apa emang Pak?"


"Begini. 'Pak maaf, Bapak habis jual soda ya?'. Terus saya langsung 'Hah? Soda? Perusahaan kami gak jual soda, Bu.' Eh terus dia bilang gini lagi. 'Itu Pak, soda maksudnya resleting celana Bapak belum ketutup. Aduh, saya malu banget Nila. Rasanya kepengen balik badan terus pulang deh."


Dalam sekejap tawa Nila pecah sampai menggema di dalam lift. "Pak kalau posisi saya lagi ikut Pak Fatan kemarin. Mereka semakin salah paham pasti. Astaga, ada-ada aja sih Pak. Dimana wibawa seorang CEO perusahaan yang sangat benefit ini?" ucap Nila disela tawanya.


Sementara Fatan langsung melirik sinis ke arah Nila. "Puas kamu ya? Ketawain saya!" katanya merasa kesal.


"Maaf Pak, maaf." Nila mengatur napasnya lagi. Menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan, dan itu terus dilakukan berulang-ulang sampai rasa ingin tertawanya pun menghilang. "Terus mereka mau kerjasama sama perusahaan kita?" tanyanya kemudian.


"Belum, karena memang kan awalnya mereka yang kirim penawaran. Terus kemarin mereka beri proposal buat kita cross check lagi. Kan gak sembarangan juga kita main kerjasama gitu aja apalagi klien baru," jelas Fatan. Sebelah tangannya mengusap tengkuk leher dan sebelahnya lagi tetap berada di dalam saku celana.


"Iya juga sih. Oh iya, kemarin sore juga saya dapat email juga dari perusahaan ... " Nila memetik-metikkan jemarinya, mencoba mengingat nama perusahaan itu. "Decca Sejahtera! Ya itu namanya. Dia langsung kirim proposal dan minta kerjasama via online aja. Saya belum jawab sama sekali. Karena memang setelah saya telusuri terkait perusahaan itu, tempatnya ada di Melbourne dan perusahaan mereka pun gak cukup terkenal disana."


"Menurut saya lebih baik di skip aja deh, Nila. Selain jauh, kita antisipasi aja takut ada kerjasama bodong. Ngakunya punya perusahaan, tapi nyatanya sertifikat pun palsu. Ya kalaupun ada klien baru yang mau kerja sama, lebih baik minta datang aja ke kantor yang di kota ini," usul Fatan.


"Coba kamu nyalakan buka kuncinya, Nila!" perintah Fatan dan Nila pun melakukannya.


Sepasang mata perempuan itu langsung berbinar saat langsung mengetahui mobil yang akan dipakainya itu. Nila mempercepat langkahnya supaya bisa segera sampai.


"Pak serius ini mobilnya?" tanya Nila menatap kagum ke mobil yang ada di depannya dan Fatan pun mengangguk. Namun seketika ia terkejut dengan mobil yang ada di sampingnya, sama persis! Dari warna, tipe dan sedikit berbeda pada bagian plat nomor. "Ini yang disamping mobil siapa?" tanyanya lagi.


Fatan langsung mengangkat jari telunjuknya ke atas.


"Wow! Kita samaan. This is real couple cars!" seru Nila lalu terkekeh geli.


"Tentu," jawan Fatan santai.


Perbincangan mereka sejak keluar dari unit apartemen yang ditempati oleh Nila, menjadi sebuah dorongan serta semangat tersendiri bagi perempuan berambut panjang itu. Ia mampu melupaka sejenak rasa sedih, kecewa dan hancurnya selama berada di Jakarta kemarin.


Tawa lepas pun tak terelakkan. Mungkin bagi Fatan juga. Selama tidak ada Nila kemarin, rasanya begitu stres sampai makan pun tidak berselera.

__ADS_1


"Kamu mau coba mobil ini?" tawar Fatan sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Boleh?" Nila malah bertanya balik.


"Ya boleh dong! Kan mobil kamu," jawab Fatan.


"Asik!" Nila sangat bahagia. Ia pun segera masuk ke dalam mobil dan menghiraukan Fatan yang masih berdiri di depan mobil itu.


"Nila!" panggil Fatan merasa kesal.


Nila yang hendak menutup pintu pun terkejut dam refleks melihat ke arah atasannya itu. "Ada apa Pak?"


"Kamu yakin sendirian aja naik mobil itu tanpa ajak saya dan biarin saya sendirian disini?" celoteh Fatan lalu bedecak.


Nila langsung menarik napasnya. "Astaga punya bos kalau lagi ngambek melebihi perempuan yang lagi datang bulan!" gerutunya dalam hati.


"Ya udah deh, sini Pak mau ikutan gak JJM?" ajak Nila sambil menyalakan mesin mobilnya. Ia sampai memejamkan matanya beberapa saat untuk mendengarkan suara mesin mobilnya yang sangat halus.


Fatan langsung masuk ke kursi yang bersebelahan dengan kursi kemudi. "Jalan-jalan malam maksud kamu?" tanyanya memastikan.


Nila bergumam sambil mengangguk.


"Asik, ngedate dong kita!" seru Fatan. "Kita nongkrong di food court yuk!" ajak lelaki itu membuat Nila melirik sinis seraya menutup pintu.


"Pak, food court itu di samping apartemen. Kedekatan kalau ke sana. Yang jauh dikit kek!" protes Nila. Memang benar sih kalau dari awal ingin ke tempat itu, jalan kaki juga bisa.


"Ya udah deh, terserah kamu aja. Saya duduk manis, pengen ngerasain disetirin sama kamu," ujar Fatan lalu menyandarkan punggungnya di kursi.


Keduanya pun menikmati malam ini berkeliling disekitar pusat kota. Pembicaraan mereka pun sepanjang perjalanan hanya bertopik tentang kantor, tidak ada yang lain. Namun sejauh itu ada keseruan tersendiri untuk mereka karena bisa saling berbagi pengalaman.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2