
"Lativa, tunggu!"
Suara teriakan Rusli mampu menghentikan langkah sang pemilik nama. Keduanya telah sampai di rooftop disaat yang bersamaan.
Sementara Lativa masih terdiam. Ia tidak langsung berbalik badan. Sebab entah kenapa rasanya sangat berat sekali melakukannya. Tetapi semua itu hanya perasaannya saja.
"Kenapa kamu kemari?" tanya Rusli. Lelaki itu berdiri tepat satu garis lurus di belakang Lativa. Jarak keduanya pun sekitar 2 meter.
Sementara Lativa tersenyum tipis meski Rusli tak melihatnya. Sesaat kemudian, perempuan itu berbalik badan dengan perasaan sedih yang tertutupi oleh raut wajah ceria serta senyum sumringah yang ditunjukkannya.
"Saya mau cari angin aja kok. Kalau Pak Rusli ngapain ke sini?"
"Saya ...." Rusli kembali terdiam, sebab mendadak gugup sekali. Dia tidak tahu harus bicara apa. Tetapi satu hal yang pasti kalau dia ke tempat itu karena mengikuti perempuan yang kini ada dihadapannya.
Lativa menautkan kedua alisnya sampai sedikit memiringkan kepala. Ia menunggu apa yang akan diucapkan Rusli.
Dikarenakan semakin gugup, Rusli akhirnya mengempaskan napas kasar guna menghilangkan perasaan gugupnya. Dia kemudian berjalan hingga jarak diantara dirinya dan juga Lativa hanya sekitar 30 centimeter. Kedua matanya menatap lekat mata Lativa, setelah itu tak disangka langsung bertekuk lutut di depan perempuan itu.
Rusli mengeluarkan sebuah kotak cincin yang tadi sempat ditanyakan oleh Lativa. Kotak itu dibuka olehnya lalu di sodorkan pada Lativa. Tampak sebuah cincin berlapis berlian dengan permata kecil ditengahnya.
Perempuan itu terkejut, tak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Rusli saat ini. Baginya terasa seperti mimpi dan berhasil membuatnya diam tercekat.
"Lativa Anindita ... terus terang, sejak pertama bertemu denganmu, aku merasa kamu itu berbeda. Dari tatapanmu, aku bisa melihat sebuah ketulusan. Awalnya aku sempat mengira kalau pertemuan kita cuma sementara. Tapi rupanya Tuhan malah memberi kesempatan untuk kita dalam pekerjaan ini. Seiring berjalannya waktu, aku pun menyadari adanya perasaan yang terus mengusikku akhir-akhir ini."
__ADS_1
Rusli menghentikan ucapannya. Lelaki itu menarik napas sangat dalam. Gugup yang dirasakannya saat ini membuat sekujur tubuhnya merasakan panas dingin.
"Aku mencintaimu, Lativa ... Mau kah kamu menikah denganku dan menjadi istri serta kelak ibu dari anak-anakku ?"
Lativa yang sejak tadi menahan air matanya supaya tidak terjatuh, pun akhirnya menetes tanpa permisi. Ia sangat terharu saat Rusli mengutarakan niat baiknya.
"Pak Rusli yakin mau menikah sama saya?" tanya Lativa memastikan kembali, bahwasanya apa yang sedang dialaminya saat ini bukan mimpi ataupun khayalan.
"Ya, saya yakin. Salahkah jika aku menikahimu? Aku hanya ingin memiliki hubungan yang jelas statusnya. Apalagi usiaku saat ini udah gak muda lagi. Bagiku untuk berpacaran aja saat ini hanya membuang-buang waktu," jelas Rusli dengan posisi yang masih sama, ditambah berada di bawah terik matahari.
Lativa terdiam karena sedang berpikir keras. "Terima gak ya? Pak Rusli memang baik banget. Kalau ditolak aku takut nanti susah dapat jodoh lagi. Tapi aku masih pengen nikmatin masa muda. Kalau nanti tahu-tahu punya anak? ... Ah rumit sekali rasanya," ucapnya dalam hati. Batinnya terus bergejolak.
"Saya tahu niat Pak Rusli itu sangat baik sekali. Tapi jujur, banyak hal yang masih saya pertimbangkan tentang pernikahan. Bukan hanya sekadar trauma saya aja, tapi tentang mental saya sendiri yang belum sepenuhnya siap. Jujur, kalau menurut Pak Rusli usia menjadi patokan untuk menikah ... Saran saya mending mencari perempuan yang memang sudah siap segalanya. Saya masih ingin menikmati masa muda, Pak. Banyak impian yang selama ini sempat tenggelam, ingin saya wujudkan diwaktu sekarang ini," tutur Lativa. Bukan maksudnya untuk menolak, hanya saja jika sudah menikah harus siap dengan segala konsekuensi yang ada.
Sementara, masih di tempat yang sama. Seorang lelaki yang sejak tadi memperhatikan mereka pun berjalan menghampiri keduanya.
"Kalau memang gak ada rasa sama dia, jangan pernah bilang takut terhadap niat baik yang udah dia utarakan. Tapi bagaimanapun keputusan tetap ada di tangan kamu, Lativa. Saya dan Nila, tetap akan mendukung apapun yang akan menjadi keputusanmu."
Orang itu adalah Fatan. Entah sejak kapan lelaki itu ada di sana, yang jelas dia telah mendengar banyak sejak Rusli dan Lativa datang.
Sontak Rusli dan Lativa menoleh ke arahnya bersamaan.
"Bos ... Sejak kapan Bos disini?" tanya Rusli menatap heran. Lelaki itu terkejut bukan main, serta merasa malu.
__ADS_1
"Kamu gak perlu tahu soal itu," jawab Fatan sembari memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
Lantas Lativa kembali menatap Rusli. "Pak Rusli ... Saya minta maaf ya .... " Perempuan itu menunduk hormat kemudian pergi dari hadapan Rusli dan juga Fatan.
Entah akan bagaimana sikap Lativa pada Rusli setelah ini, pun sebaliknya. Mau bagaimanapun yang namanya perasaan memang sulit untuk dipaksa. Meskipun dalam hati kecil Lativa menyadari ada setitik rasa untuk Rusli, tapi nyatanya hal itu bukan menjadi tolak ukur baginya.
"Aku masih ingin berjalan sendiri. Menapaki setiap harapan yang pernah menjadi mimpi terbesarku. Mengikuti arah angin di tengah kering air kehidupan yang kini kujalani. Maaf, aku belum siap untuk menjadi pendamping hidupmu. Sebab aku merasa ... Masih banyak yang harus aku benahi dalam diri ini. Kita baru saja mengenal lebih dekat, dan bagiku hanya baru awal. Sedangkan menikah, mengikat janji bukan hanya untuk hitungan bulan. Melainkan seumur hidup," ujar Lativa dalam hatinya seriring melangkahkan kaki masuk ke dalam lift.
Usai Lativa pergi, kini hanya tinggal Rusli dan Fatan.
"Apa yang kamu rasakan saat ini, Rus? Kecewa gak?" tanya Fatan dengan raut wajah datar dan dingin.
"Iya, pasti kecewa. Tapi ... Saya gak mau nyerah gitu aja," jawab Rusli sembari menatap Fatan dengan yakin.
"Bagus kalau kamu memang yakin, buktikan. Tapi ingat, kalau Tuhan mudahkan jalannya, kamu harus bisa mempertahankan dia setelah berhasil kamu dapati hatinya," tegas Fatan lalu menepuk kedua bahu Rusli.
"Terima kasih banyak, Bos. Udah sering ingatin saya."
"Sama-sama ... Oh iya jadwal meeting sore ini, diganti besok aja ya sebelum makan siang. Soalnya saya mau periksa kandungan Nila," kata Fatan diiringi dengan perintahnya.
"Baik, Bos. Jadwal untuk besok akan saya kirim paling lambat nanti malam ya," sahut Rusli.
"Ya, gak usah terburu-buru. Kamu pun bisa menenangkan pikiran dulu setelah pulang kantor. Saya paham apa yang kamu rasakan saat ini," timpal Fatan memberi pengertian.
__ADS_1
"Baik, Bos. Terima kasih banyak."