
Nila menatap laki-laki itu sambil menautkan kedua alisnya. Ia berharap bisa bertemu dengan pemilik rumah ini.
"Bisa ... " Seketika Nila bernapas lega. "Kebetulan majikan saya sedang ada di rumah," jawab laki-laki itu. "Mana temanmu?" sambungnya.
"Dia adik saya," jawab Nila.
"Oh ya sudah, cepat panggilkan!" pinta laki-laki itu.
"Tapi Pak, mobil saya ditaruh disini aja?" Nila bertanya lagi.
"Bawa masuk saja sekalian ke dalam. Nanti ada tempat parkir khusus untuk tamu," jawab laki-laki itu.
"Baik kalau gitu, terima kasih." Nila menunduk hormat lalu pergi menuju mobilnya.
Sementara Lativa yang melihat Nila berjalan ke arahnya langsung membuka kaca mobil. Sorot matanya tampak cemas. Ia pun sampai merumat kedua tangannya sendiri.
"Gimana Kak?" tanya Lativa. Namun Nila tidak langsung menjawab, melainkan memilih masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. "Kita masuk dulu ke dalam," jawabnya. Sesaat kemudian gerbang rumah itu terbuka dan Nila segera menginjakkan pedal gas mobilnya untuk masuk ke dalam.
Tampak sebuah rumah bergaya klasik nan mewah terpampang nyata di depan mereka. Sungguh keduanya takjub, terlebih saat melihat banyak sekali tanaman hias yang tertata rapi di tempatnya. Suasana rumah pun terasa asri dan nyaman.
"Rumah calon mertuamu bagus loh, Tiv," celetuk Nila niat hati ingin meledek Lativa.
"Iya kalau mereka menerima. Kalau nggak? Aku hanya sendiri membesarkan anak ini," sahut Lativa pesimis.
"Hei, Kakak bilang apa? Kamu itu gak sendiri, ada Kakak dan juga ibu. Ya kalau mereka gak mau nerima ya udah. Ingat Tiv, meskipun harga diri kamu dijatuhkan karena perilaku Antony, tapi kamu harus kuat. Kamu harus lawan si Antony itu kalau perlu sikat aja! Keluarin jurusmu seperti lomba karate dulu!" sembur Nila yang merasa geram. Sedangkan Lativa langsung mengangkat sebelah alisnya. "Eh tapi jangan deh, itu cuma bercanda. Kalau beneran nanti kamu malah dituntut," lanjutnya sambil menghentikan mobil ya di tempat yang laki-laki maksud tadi.
"Aku deg deg kan sumpah, Kak," keluh Lativa.
"Ya kalau gak deg deg kan, kamu gak hidup dong. Ayok turun!" ajak Nila seraya membuka pintu lalu turun dari kursi kemudi. Sementara Lativa terdiam beberapa saat untuk mengumpulkan keberanian. Setelah dirasa cukup, dia pun ikut turun seperti kakaknya.
"Selamat siang, apa ini tamunya Tuan dan Nyonya?" tanya seorang pelayan karena mengenakan pakaian khusus pelayan rumahan.
"Siang ... Dimana kami bisa menemui mereka?" tanya Nila.
"Di ruang tamu, mari saya antar!" ajak pelayan itu sambil mempersilahkan Nila dan juga Lativa.
"Terima kasih," balas Nila dengan sopan.
__ADS_1
"Sama-sama," sahut pelayan itu.
Setelah 5 menit berjalan, keduanya berhenti di depan sebuah pintu berukuran besar terbuat dari kayu jati premium. Pelayan itu kemudian membukakan pintu.
"Silahkan masuk, nanti akan saya panggilkan Tuan dan juga Nyonya."
"Terima kasih." Nila menunduk hormat lalu masuk ke dalam ruang tamu.
Lagi-lagi keduanya pun terpana. Konsep design interior yang ada di dalam ruang tamu itu sangat memanjakan mata. Mereka pun duduk disebuah sofa berbentuk huruf U yang mungkin bisa muat sekitar tiga puluh orang.
Tidak lama berselang, muncul sepasang suami istri dari dalam.
"Selamat siang, ini Nila dan Lativa?" tanya seorang perempuan paruh baya yang masih terlihat seperti usia dua puluh tahun, sangat cantik.
"Siang ... Dengan Tuan dan Nyonya Baskoro?" Nila bertanya balik guna memastikan.
"Iya benar. Saya Nata Wiranda dan ini suami saya ... Ali Baskoro. Omong-omong ada perlu apa ya menemui kami?" jawab perempuan bernama Nata itu.
"Begini Nyonya, Tuan ... Mungkin langsung saja ya?" tawar Nila seraya melonggarkan tenggorokannya. "Jadi, adik saya mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan kurang lebih hampir empat bulan yang lalu. Dan itu diakibatkan oleh anak Anda yang bernama Antony. Dari peristiwa itu, mengakibatkan adik saya ini hamil dan sudah dikeluarkan dari sekolah," jelasnya terdengar lugas saat menyampaikan hal tersebut.
"Apa kami gak salah dengar Nila?" tanya Ali sangat tidak percaya.
"Ya, memang begitu kenyataannya Tuan, Nyonya. Untuk tahu rumah Antony aja, kami mendapat informasi dari wali kelas Lativa. Saya juga awalnya gak nyangka, karena yang saya tahu Lativa bukan perempuan begajulan. Sayangnya kejadian itu Lativa sendiri gak tahu ada rekaman CCTV-nya atau nggak. Mungkin dengan kejujuran dari Antony sendiri yang kami harapkan untuk masa depan adik saya serta bayinya," papar Nila. Namun dari raut wajah Nata dan Ali masih sama. Mereka masih ragu untuk mempercayai perihal yang dikatakan oleh Nila barusan.
"Mih, coba kamu panggilkan Antony sekarang!" bisik Ali dengan kedua tangan mengepal kuat. Emosinya mulai mendidih. Nata pun segera beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam lagi.
Setelah Nata pergi, Ali pun menatap Lativa lalu bertanya padanya. "Kejadiannya dimana? Dan kamu sendiri kapan dikeluarkan dari sekolah?"
"Waktu itu di klub malam, nama tempatnya itu kalau gak salah ... Seratus delapan The New Atmosphere, daerah Taman Sari. Saya dikeluarkan dari sekolah itu kemarin pagi, usai upacara," jelas Lativa. Sejujurnya ia malu, tapi demi anak yang sedang dikandungnya. Ia harus berjuang supaya Antony mau bertanggung jawab padanya.
Ali mengempaskan napas kasar lalu mengusap wajahnya. Tak lama Nata muncul dan diikuti oleh seorang laki-laki.
Manik mata Lativa langsung menyorot tajam pada lelaki yang bersamai Nata. Hatinya terusik kembali dengan rasa benci yang selama ini bertahta.
Namun berbeda dengan lelaki itu. Dia bahkan enggan untuk menatap Lativa barang sekilas pun dan terkesan menghindar.
"Antony, duduk!" tegas sang ayah memaksa lelaki itu duduk saling bersebelahan. "Kamu tahu kenapa mereka datang ke rumah kita?"
__ADS_1
Laki-laki bernama Antony itu memejamkan kedua matanya. "Tahu Dad."
"Kenapa kamu bisa-bisanya melakukan itu? Apa kamu gak mikir resikonya apa?" cecar Ali semakin naik pitam.
Lantas Nata menyodorkan sebuah amplop yang tadi sempat diberikan oleh Antony. "Dad, nih baca dulu," pintanya.
"Apa ini?" tukas Ali dengan nada tinggi.
"Baca aja dulu," jawab Nata masih tampak tenang.
Ali pun membuka amplop itu lalu membacanya. Semakin lama raut wajahnya semakin tak keruan. Antaara marah, sedih dan kecewa melebur menjadi satu. Beberapa saat kemudian, Ali menoleh ke arah Antony.
"Kamu juga dikeluarkan dari sekolah?" sembur Ali dengan mata memerah.
"Iya Dad."
Nila dan Lativa yang mengetahui pun ikut tercengang.
"Itu baru adil!" ucap Lativa dalam hatinya sambil tersenyum menyeringai pada Antony.
"Astaga! Sekarang Daddy mau dengar dari kamu dan Lativa kejadian awalnya seperti apa!" tegas Ali lalu melempar amplop itu ke atas meja.
Ali dan Lativa pun menceritakan semuanya. Disisi lain Nila merasa lega karena cerita versi keduanya itu hampir mirip walau pada intinya sama.
"Lativa, apa kamu masih punya orang tua?" tanya Nata. Perempuan itu selain wajahnya cantik, tapi sikap dan tutur katanya tampak seperti perempuan berkelas. Ia mampu mengontrol emosinya dengan baik disaat sang suami tengah naik pitam karena kelakuan anaknya.
"Punya Nyonya ... Tapi hanya ada ibu, soalnya ayah saya sudah meninggal dunia," jawab Lativa.
"Besok, ajak ibumu kesini! Kamu dan Antony harus segera menikah!" tegas Ali yang memikirkan nasib anak yang ada di dalam kandungan Lativa. Mengingat dulu saat perjuangan memiliki Antony itu sangatlah luar biasa.
"Maaf ... Tapi ibu kami masih di rawat di rumah sakit akibat asam lambungnya naik lalu pingsan," sanggah Nila. Ia sedikit merasa lega karena mau memberikan keluputusan terbaik untuk adiknya.
"Ya udah, bagaimana kalau menunggu ibu kalian sembuh?" usul Nata.
"Baik Nyonya akan kami bicarakan terlebih dahulu sama ibu," jawab Nila.
Sementara itu ...
__ADS_1