
Lativa tiba di kantor lagi pukul setengah sebelas siang. Sedangkan makan siang masih ada waktu hingga pukul dua belas. Lativa pun akhirnya melanjutkan kembali pekerjaan yang sudah menunggunya di atas meja.
"Tiva, darimana kamu?"
Orang yang ditanya pun menoleh. "Eh, Bu Jenna." Lativa sampai tidak ingat untuk memberitahu atasannya itu.
"Tadi ada urusan sebentar, Bu ... Maaf." Matanya melihat ke arah meja kerja Betty, tapi pemiliknya tidak ada di tempat. Lativa mengerutkan kening dan bertanya-tanya keberadaan Betty dalam hati.
"Betty kemana? Bukannya tadi dia ikut meeting sama kamu?" tanya Jenna semakin ketus.
"I-iya Bu. Tapi tadi dia bilang mau ke kantor duluan naik taksi. Memangnya Betty belum sampai juga, Bu?" jelas Lativa apa adanya.
"Belum. Coba kamu hubungi dia ya. Laporan hasil meeting tadi jangan lupa di rekap terus kirim ke email saya." Setelah memerintah, Jenna pun pergi dari hadapan Lativa.
"Baik, Bu," jawab Lativa pelan seraya menundukkan wajahnya. Saat dirasa Jenna telah benar-benar pergi, Lativa melihat ke arah meja kerja Betty. Reflek iapun berdecak. "Betty kemana lagi?" gumamnya lalu mengambil ponselnya dari dalam tas untuk menghubungi rekan kerjanya.
"Halo? Bet dimana?" tanya Lativa saat panggilan yang dilakukannya sudah terhubung oleh orang yang dituju.
"A-duuuuhhh, a-kuh la-gih bu-ang a-ir. Mu-les, Tiv." Tidak lama kemudian terdengar suara dentuman alam yang behasil dikeluarkan oleh tubuh Betty. Dia bernapas lega, sedangkan Lativa yang mendengarnya merasa jijik.
"Ih kirain kemana. Udah lanjutin dulu sana! Tadi kamu tuh dicariin sama bu Jenna."
"Oh iyaaaah. Heuummmmmh."
Lativa tidak berkata apa-apa lagi, iapun langsung memutuskan sambungan telepon itu. Sembari menunggu Betty kembali, ia segera membuat laporan hasil meeting tadi.
.
.
.
.
Usai makan siang, Rusli kedatangan tamu yang tidak lain adalah seorang pengacara. Tamunya tersebut langsung diminta Rusli di antar ke sebuah ruang meeting yang sedang tidak dipakai.
Sebelum pergi menemui tamunya, Rusli pun izin terlebih dahulu pada Fatan yang sedang berada di ruangannya.
"Permisi, Bos," ucapnya setelah mengetuk pintu.
"Iya, masuk!"
__ADS_1
Pintu dibuka lalu ditutup kembali.
"Ada apa, Rus?" tanya Fatan yang baru saja duduk di kursi kebesarannya.
"Jadwal dinas luar setelah ini udah gak ada Bos. Jadi sekarang saya minta izin mau meeting sama pengacara dan Lativa terkait penggugatan perceraiannya dengan lelaki bernama Antony, seperti yang tadi pagi saya beritahukan," jawab Rusli. Fatan terdiam sejenak seraya berpikir, sesaat kemudian dia pun teringat.
"Oh iya, silahkan. Untuk berkas yang harus ditanda tangani segini aja? Gak ada lagi?"
"Iya, Bos. Gak ada lagi."
"Oke kalau begitu."
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi," kata Rusli menundukkan hormat, setelah iti barulah pergi dari ruang kerja Fatan.
Lelaki itu pergi ke salah satu ruang meeting yang telah diberitahukan oleh resepsionis tadi. Sedangkan Lativa masih membereskan berkas yang ada di atas mejanya, karena dia juga akan ikut meeting bersama Rusli. Lebih tepatnya meeting pribadi, karena diluar dari urusan perusahan.
.
.
.
.
"Permisi, Pak ... Maaf saya telat," sapa Lativa merasa sungkan.
"Gak masalah kok, benar 'kan Bu?" sahut Rusli menoleh ke arah perempuan yang duduk di sebelahnya.
"Iya benar, saya juga belum lama sampai," timpal perempuan cantik itu.
Lativa pun ikut duduk bersama mereka.
"Baik kalau begitu kita langsung mulai aja ya ... Lativa kenalkan ini adalah pengacara kamu namanya, Bu Puji."
Lativa mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan. "Salam kenal Bu Puji, saya Lativa Anindita."
"Senang berkenalan dengan Anda. Nama saya Pujiningdyah. Panggil aja Puji."
"Baik, Bu Puji."
"Oke, sekarang untuk mempersingkat waktu ... Kamu bisa ceritakan ke saya perihal kasus yang akan dinaikkan ke pengadilan," kata Puji langsung ke inti pembahasan.
__ADS_1
Pengacara satu itu memang terkenal bijak dan tidak suka bertele-tele. Selain itu juga, meskipun seorang pengacara, Puji tidak pandang bulu. Tetapi lebih ke pandang wajah, apalagi kalau lihat lelaki tampan dan atletis, bubar semua konsentrasinya. Ets! Itu hanya selingan, sejatinya Puji tidak takut mengatakan client-nya salah apabila memang bersalah, hanya saja mungkin bisa menawar kepasa hakim untuk memperingan hukumannya saja.
Lativa menjelaskan apapun yang telah dialaminya dari kejadian di malam itu, hingga dia hamil sampai terjadinya tragedi pada malam saat liburannya bersama Antony. Dia benar-benar menjelaskan secara gamblang, supaya proses hukumnya pun bisa dipercepat.
Bukan hanya itu, Lativa juga menyampaikan keinginannya agar hakim memberikan hukuman kepada Antony untuk memberi efek jera. Walaupun dia tahu, kedua orang tua Antony pasti akan mengusahakan lelaki itu tidak sampai masuk penjara, tapi hukum harus ditegakkan kepada orang yang bersalah.
Setelah lama berbincang, saling berbagi pendapat. Entah kenapa beban yang ada di pundak Lativa langsung hilang seketika. Rasa berat yang selama ini dipikulnya pun terasa enteng.
"Saya rasa, kasus ini memang harus serius. Sebab banyak orang yang memiliki kekayaan selalu mencoba menggunakan kekayaannya itu untuk membela orang yang salah. Terkadang pula, banyak yang gak peduli mau ada efek apa nanti kedepannya kalau orang yang bersalah itu tidak jera. Kalau soal membela hak perempuan, saya maju paling depan." Puji menoleh ke arah Rusli, tapi orang yang dilihatnya masih tampak serius memperhatikan Lativa sampai tidak berkedip.
"Pak Rusli?" tegas Puji membuat Rusli langsung terkesiap.
"Iya bagaimana Tiva?" Seketika wajah Rusli berubah menjadi merah padam karena malu.
"Ehem ... Saya yang panggil Pak, bukan Lativa," sahut Puji sangat geram.
"Oh, Bu Puji. Bagaimana, Bu?" tanya Rusli sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lelaki itu terlihat salah tingkah. Sementara Lativa hanya melihat lucu ke arahnya.
"Saya akan segera proses kasus Lativa ini. Sebab kejadian itu berlangsung saat Lativa masih berada di bawah tujuh belas tahun, jadi masih terkait dengan lembaga perlindungan anak. Jadi saya rasa, gak akan sulit untuk segera tembus ke pengadilan," timpal Puji.
"Ya, gak masalah. Saya hanya minta satu hal, temani Lativa dan menangkan kasus ini. Buat lelaki yang bernama Antony itu mendapatkan hukuman setimpal, terus buat dia bahagia karena terbebas dari lelaki durjana macam si Antony itu," pinta Rusli serius.
"Tapi .... " Puji melirik ke arah Lativa dan Rusli saling bergantian. "Sepertinya untuk membahagiakan Lativa bukan tugas saya, Pak." Puji sengaja menghentikan ucapannya untuk melihat respon dari Rusli.
"Loh kenapa begitu?" tanya Rusli masih tidak sadar. Memang terkadang orang yang sedang jatuh cinta itu tidak sadar apa yang barusan dilakukannya.
"Karena sebenarnya itu adalah tugas Anda," pungkas Puji.
Kedua mata Rusli langsung membulat sempurna, sedangkan Lativa merasa tercekat. Keduanya pun saling bertukar pandang.
Melihat hal itu, tawa Puji langsung pecah. "Baiklah, sepertinya saya harus bergerak cepat untuk segera menyelesaikan tugas ini dan membebaskan status Lativa menjadi single."
Lativa sampai bersusah payah menelan ludahnya sendiri, begitupula dengan Rusli.
"Lativa, besok datang ke kantor saya ya. Bawa dokumen pribadi asli dan fotokopi. Kalau gak ada surat nikah, nanti akan saya bantu," sambung Puji sembari memberikan selembar kertas berisi tulisan persyaratan dokumen serta sebuah kartu nama miliknya.
"Baik, Bu Puji," kata Lativa setelah menerima pemberian Puji.
"Kalau begitu saya pamit undur diri, Pak Rusli dan Lativa ... Sampai bertemu besok, selamat siang," kata Puji berpamitan dengan mereka. Ia pun beranjak dari tempat duduknya, Rusli dan Lativa mengikuti. Mereka keluar dari ruang meeting itu bersama lalu mengantar Puji sampai ke lobby.
Setelah Puji pergi. Lativa pamit pada Rusli untuk kembali ke meja kerjanya.
__ADS_1
"Lativa, tunggu!"