Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 66


__ADS_3

Hari ini sepertinya akan menjadi penentuan untuk kelangsungan hidup Fatan serta kebahagiaan masa depan Nila. Keduanya masih duduk diruangan yang sama. Saling menatap dan melontarkan rindu pada sorot mata masing-masing.


"Sebenarmya selama aku udah lama jatuh cinta sama kamu. Lebih tepatnya saat pertama kali kita ketemu. Bekerjasama denganmu adalah hari terindahku saat itu," ungkap Fatan lalu menjeda ucapannya sejenak.


Nila mengerutkan keningnya. "Ternyata kita sama-sama merasakan hal yang sama," batin perempuan itu.


"Sewaktu aku menyuruhmu ke butik, sebenarnya aku sakit. Tapi saat keluar lobby masih melihat mobilmu diparkiran, aku mengurungkan niatku untuk pergi ke rumah sakit. Malam harinya tubuhku masih belum merasa sehat. Akhirnya aku putuskan untuk ke rumah sakit sendiri."


"Kenapa kamu gak minta tolong sama aku?" tukas Nila reflek bertanya seperti itu.


"Aku gak mau ganggu istirahat kamu Nila," jawab Fatan selembut mungkin. Nila mengempaskan napas lalu diam kembali.


"Satu minggu setelah diperiksa oleh dokter keluarga yang juga praktek di rumah sakit itu. Tubuhku semakin gak ada perubahan. Aku berusaha kuat untuk tetap masuk ke kantor. Terus bunda mengusulkan untuk cek ke bagian laboratorium. Hasilnya ternyata ...." Fatan meraih salah satu amplop di atas meja kecil yang ada di sudut sofa. Lelaki itu kemudian menyodorkannya pada Nila.


"Apa?" tanya perempuan itu dengan raut bingung. Namun Fatan menyuruhnya membuka melalui gerakan alisnya, dan Nila pun membukanya.


"Aku didiagnosa mengidap penyakit kanker otak stadium tiga."


Mulut Nila terbuka lebar bersamaan dengan kedua matanya. Perasaan seketika kacau, tak lama wajahnya terangkat menatap Fatan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kanker? Kenapa selama ini kamu gak bilang?" tanya Nila dengan suara bergetar.


"Aku gak mau buat kamu susah, Nila."


"Terus hubungannya dengan menikahi Charma, apa itu hanya alasan kamu?" Nila menatap Fatan sangat dalam. Manik matanya mencari sebuah kebenaran di sana. Berharap kejujuran itu bisa terpancar dari sorot mata lelaki itu.


"Iya .... " jawab Fatan seraya mengembuskan napas.


Nila menaruh kertas itu lalu mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


"Charma adalah adikku. Kami satu ayah, tapi lain ibu. Dia anak istri kedua ayahku yang sekarang ibunya sedang koma di rumah sakit ... Nila, percayalah aku menyembunyikan itu karena biar bisa terus sama kamu," jelas Fatan.


Nila hanya mampu terdiam, bahkan sampai tertegun. Fatan yang melihat respon Nila hanya bisa pasrah.


"Fatan ... Selain itu, apa ada hal lain yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Nila yang akhirnya bicara. Sejujurnya, Nila semakin takut kehilangan Fatan lagi.


"Soal Edward ... Dia adalah kakaknya Charma. Menurut kesimpulan atas teka-teki yang selama ini membuntutiku, dia sepertinya sengaja membiarkan Charma supaya lebih dekat denganku. Kamu masih ingat saat aku memintamu menjemput di bandara tapi gak jadi?"


Nila menganggukkan kepalanya.


"Sebab Charma ternyata udah ada di sana untuk menjemputku lebih dulu. Lalu kami pergi ke rumah sakit karena kebetulan jadwal check up ku ketemu dengan dokter yang pernah kamu temui juga waktu aku pingsan di kantor. Sehabis kejadian itu, penyakitku semakin parah. Akhirnya bunda menyuruhku diam-diam pergi ke Tiongkok untuk mengetahui penyebab sakitku ini. Saat udah diterima hasilnya .... " Fatan mengambil satu amplop lagi di atas meja yang sama dengan amplop sebelumnya, lalu memberikannya pada Nila.


Di dalam selembar surat itu, keterangannya sangat mendetail sekali. Nila sampai tercengang saat selesai membaca semuanya.


"Kalau memang seperti yang disebutkan dalam surat ini, apa ada orang yang sengaja melakukannya?" tanya Nila ikut berpikir keras.


"Maka dari itu, kata bunda hari ini ayahku akan pulang dari luar negeri. Momen seperti ini yang aku rencanakan dari semalam. Aku ingin melamarmu, menikahimu ...."


"Untuk membalas perbuatan si pelaku maksud kamu?" Perempuan itu berdecih dan mendadak sangat kesal. Dikiranya Fatan memang tulus mencintainya.


"Bukan Nila, jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dulu," timpal Fatan yang tidak ingin Nila salah paham. Bisa-bisa semuanya malah menjadi kacau.


"Lalu apa?" tanya perempuan itu ketus dan memicingkan matanya kepada Fatan.


"Aku membutuhkanmu, dengan kamu ada di dekatku, bersamaku ... Aku bisa lebih semangat buat sembuh," jawab Fatan dengan sabar dan lemah lembut.


"Apa kamu yakin kalau keluargamu akan merestui kita? Apalagi aku bukan dari keluarga yang sama dengan kalian," ujar Nila.


"Aku gak peduli. Kenapa aku berani seperti ini? Karena aku udah mengantongi restu dari bunda. Aku yakin restu bunda itu bisa mengantarkan kita pada kebahagiaan pernikahan kita, walaupun nanti akan banyak sekali rintangan yang kita hadapi.

__ADS_1


"Tapi kamu masih punya ayah. Bagaimana kalau kamu dicoret dari daftar warisan keluarga? Apa kamu bisa?" sanggah Nila. Sebab menurut kacamata Nila selama ini, Fatan buka tipikal lelaki yang terobsesi dengan pekerjaan. Namun bukan Nila ragu kalau Fatan akan jatuh miskin, tapi hanya memastikan kalau Fatan juga siap akan kondisi itu, bukan hanya Nila saja.


"Aku gak peduli, Nila. Aku cuma mau kamu dan sama kamu disisa umurku. Mau ya nikah sama aku?" Kali ini Fatan malah terlihat seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan balon. Suaranya sangat manja. Padahal dari segi usia, lelaki itu ada hampir 4 tahun di atas Nila.


"Kalau aku gak mau gimana?" balas Nila melirikkan mata seolah ia memang tidak mau. Padahal dalam hatinya, sangat senang sekali.


"Kamu kok gitu sih. Aku kan cinta sama kamu," ucap Fatan seperti orang yang sudah putus asa sekali.


"Ya 'kan kalau menikah bukan hanya sekadar aku cinta kamu. Banyak hal yang akan kita jalani dan hadapi bersama. Tetapi yang paling utama, kita harus sama-sama dewasa baik dari cara perpikir ataupun bertindak," papar Nila lalu tersenyum datar.


"Iya aku tahu ... Aku udah pikirkan itu. Intinya bagaimana? Mau ya nikah sama aku ..." pinta Fatan lalu meraih kedua tangan Nila dan menggenggamnya sangat erat.


Keduanya saling bertatapan. Sangat dalam.


"Aku gak bisa janji akan terus bahagiain kamu. Tapi aku janji, aku akan tetap bersamamu. Apapun ujian yang kita hadapi dalam rumah tangga kita nanti," ucap Fatan.


Bak tersihir dengan pesona Fatan serta tutur kata yang sangat manis oleh lelaki itu, Nila mengembangkan senyumnya. Hati perempuan itu kian berbunga-bunga.


"Iya, aku mau menikah sama kamu." Kata-kata itu lolos dari mulut Nila dan keduanya saling melempar senyum.


"Baiklah kalau begitu, tetap disini sampai ayahku pulang ya. Kita akan menghadapnya ditemani bunda juga," ujar Fatan. Namun Nila malah mengerutkan keningnya. "Kenapa?" tanya Fatan saat melihat raut wajah Nila seperti itu.


"Ada satu pertanyaan lagi yang ingin aku tanyakan sama kamu," jawab Nila seraya melepaskan tangannya dari genggaman Fatan.


"Tanyakan aja."


"Kalau memang apa yang terjadi sama kamu saat ini adalah unsur kesengajaan, apa kamu tahu dalangnya siapa?"


"Ada satu orang yang udah menjadi targetku. Dan aku rasa dia bukan orang sembarangan. Aku yakin dia punya orang lain yang mendukung. Aku masih terus berpikir supaya bisa segera mendapatkan buktinya."

__ADS_1


Nila terdiam seraya berpikir keras. "Aku udah terlanjur masuk ke dalam hidupnya Fatan. Dengan keadaan dia sekarang, permasalahannya, tentunya jika memang dia jodohku, aku pun akan masuk juga ke dalamnya. Semoga kami mampu melewatinya," batinnya bermonolong.


__ADS_2