Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 46


__ADS_3

Sementara itu Lativa terus menatap Antony sangat intens.


"Kenapa harus kamu yang menghamiliku, Antony? Kenapa haru sekarang? Apa kamu bisa jamin hidupku setelah menikah denganmu akan bahagia?" batin Lativa tanpa sadar air matanya menetes. Hal itu membuat Nata, Ali dan juga Nila tercengang. Terutama Nila, baru kali ini ia melihat adiknya bisa serapuh itu.


Selama ini Nila selalu melihat Lativa sebagai perempuan muda yang periang, cantik serta sesakit apapun ditubuhnya selalu tidak pernah dirasa. Sekarang kondisinya berbeda, bukan hanya tubuh yang sedang menyesuaikan karena ada janin, melainkan hati yang tergores luka yang amat dalam.


Nila menepuk pelan bahu Lativa. "Tiv ... " bisiknya.


Lativa menoleh dengan tatapan kosong. "Apa Kakak rela aku menikah dengan laki-laki itu?" Mendengar pertanyaannya, Antony yang sejak tadi menunduk seketika mengangkat wajahnya.


"Daddy, aku mau menikah dengannya!" ucap Antony terdengar sangat yakin. Lantas Lativa pun menatapnya lagi, tapi dari sorot matanya tampak tidak begitu yakin.


Ali pun langsung menoleh ke anaknya. "Kamu yakin?"


Antony mengangguk. "Aku yang salah. Waktu itu aku mabuk berat. Terus diwaktu yang sama pula, aku diselingkuhi oleh pacar baruku. Dan gak nyangka disaat aku terpuruk, aku lihat Tiva ditempat yang sama. Aku menjadi terobsesi lagi buat dapetin dia. Aku baru sadar, kalau Tiva itu perempuan yang sulit ditaklukan hatinya. Tapi sekarang ... Aku malah bikin dia terluka." Ia berhasil mengakuinya secara terang-terangan di depan kedua orang tua serta Nila selaku kakaknya Lativa.


Ali mende*sah kasar. Sebetulnya dia juga emosi setelah anaknya mengakui hal tersebut. Namun karena keberanian Antony, Ali berusaha bijak. Nata yanh duduk disampingnya pun langsung menggenggam tangannya supaya tidak tersulut emosi.


Terlebih Antony adalah anak semata wayangnya. Nantinya dia akan menjadi penerus perusahaan yang masih dipimpin Ali hingga saat ini.


"Baiklah, kamu sudah mengakui. Itu artinya kamu harus menerima konsekuensinya!" tegas Ali dengan rahang yang mengeras.


"Iya Dad. Aku tahu itu." Antony berusaha meyakinkan ayahnya. "Tapi, bolehkah sekarang aku bicara dengan Lativa terlebih dahulu?" tanyanya menatap ke arah perempuan yang masih berstatus mantan kekasihnya.


"Kalau itu, mending kamu tanya ke Lativa langsung! Jangan sama Daddy," sergah Ali.


Sedangkan Lativa tidak menoleh ke arahnya, melainkan kepada sang kakak. Beberapa saat kemudian Nila menganggukkan kepalanya, memperbolehkan.


"Tapi bicaranya di luar ya Antony, di taman depan atau belakang. Awas aja kalau sampai kamu bawa Lativa ke kamar!" tegas Ali. Seketika Antony menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, Dad," jawab Antony lalu menatap Lativa. "Ayok, Tiv!" ajaknya seraya berdiri.


"Tu--"

__ADS_1


"Panggil kami Mamih dan Daddy, sama seperti Antony," potong Nata dan disetujui oleh Ali yang menganggukkan kepala.


Lativa tersenyum canggung, ia berharap inilah awal kebahagiaannya serta semoga ibunya pun mau berlapang dada seperti kedua orang tua Antony.


"Baik, Mamih ... Daddy," ucap Lativa masih gugup dan belum terbiasa.


"Tiva, sementara kamu mengobrol. Bagaimana kalau Kakak ke rumah sakit? Kasihan ibu sendirian," kata Nila seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Nanti aku gimana Kak?" Lativa bertanya balik.


"Biar kamu nanti aku yang antar," sahut Antony.


Ali dan Nata saling bertukar pandang serta merasa salut pada anaknya.


"Gak apa-apa kan, Tiv?" tanya Nila lagi memastikan kalau adiknya tidak masalah.


"Iya ... Udah deh gak apa-apa Kak," jawab Lativa yang akhirnya menyetujui usul Nila.


Setelah itu kedua orang tua Antony kembali ke aktifitasnya, bersantai bersama di kamar sambil menonton film.


...----------------...


Di halaman belakang rumah mewah itu tidak jauh berbeda seperti taman yang ada di depan rumah. Hanya saja disana terdapat gazebo serta lapangan futsal serta kolam renang. Sangat luas sekali.


Satu sisi Lativa sendiri begitu terpana. Namun karena saat ini sedang bersama Antony, ia merasa canggung dan masih menyimpan sesal.


"Tiva, aku mau minta maaf ya ..." ucap lelaki itu berjalan dibelakang Lativa.


Akan tetapi perempuan itu masih saja diam dan tidak mengindahkan permintaan maaf dari Antony. Bibirnya tetap tertutup sangat rapat. Ditambah matanya begitu menikmati pemandangan yang ada di depannya.


"Aku nyesel banget. Maaf waktu itu aku langsung pergi. Jujur, aku bingung. Aku terlalu egois," akunya dan Lativa tetap diam.


"Kamu tahu? sebenarnya setelah kejadian itu, aku cuma bisa melihatmu dari jauh. Aku terlalu pengecut buat minta maaf ke kamu," ungkap Antony penuh sesal. Ia terus berjalan mengikuti kemanapun langkah Lativa pergi.

__ADS_1


"Lativa, kamu mau kan maafin aku?" Antony terus mengejar perempuan yang ada di depannya. "Lativa, jawab dong jangan diam aja!" Suaranya tiba-tiba meninggi.


Sontak Lativa yang sedang sensitif perasaannya pun seketika menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan.


Prattt!!!


Sebuah tamparan berhasil mendarat tepat di pipi kanan Antony. Laki-laki itu pun terkejut bukan main, matanya membulat sempurna dan sekilas tampak berkaca-kaca.


Sementara tangan yang tadi digunakan untuk menamparpun langsung mengepal. Dalam hati Lativa ingin sekali membekukan Antony saat ini dengan berbagai jurus karate yang pernah dipelajarinya. Namun ia masih tahan emosi, sebab Antony masih mau bertanggung jawab dengan kehamilannya.


"Kenapa aku ditampar, Tiv?" Laki-laki itu menatap tidak percaya.


Praattttt !!!!!!


Tamparan kedua kalinya mendarat di pipi sebelah kirinya. Antony masih saja kebingungan kenapa Lativa bisa memberinya tamparan yang sangat keras.


"Kamu masih belum ngerti juga kenapa bisa aku tampar sampai dua kali?" tanya Lativa meninggikan suaranya, lalu Antony menggeleng lemah.


"Tamparan pertama itu untuk lelaki pengecut seperti kamu ... Dan yang kedua itu karena kamu bre*ngsek!" ucap Lativa dengan penuh penekanan.


"Astaga ... Tapi aku belum siap, Tiva ... Baiklah aku siap-siap dulu." Antony berdiri tegak berhadapan dengan Lativa dengan kedua telapak tangannya yang melindungi miliknya. Bukan hanya itu saja, matanya pun sengaja dipejamkan. "Ayok silahkan, tampar aku sepuas hatimu," sambungnya.


Namun Lativa malah memberi pijatan pada keningnya. Beberapa saat kemudian semua kembali baik-baik saja.


"Jangan cuma bilang maaf. Tapi buktiin sama aku kalau kamu memang laki-laki yang bisa diandalkan! Laki-laki yang bisa membuat perempuannya bahagia, bukan hanya sekadar menanam janji. Kalau nantinya aku harus tahu di akhir!" teriak Lativa tepat di depan wajah Antony. Laki-laki itu hanya dia, sesekali ia memejamkan mata membiarkan perempuan yang ada di hadapannya itu bisa meluapkan emosinya yang selama ini terpendam.


"Sumpah! Setelah kita menikah nanti, aku akan terus belajar lebih menghargai kamu ..."


Sejujurnya Lativa merasa terlena. Namun gengsi yang masih bertahta dalaam hatinya. Sebab ia ingin tahu seberapa keras Antony akan memperjuangkannya.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2