
Keesokan harinya, Fatan pergi ke Palembang untuk menemui Edward. Apa yang dibilang oleh polisi kemarin sesuai keterangan yang diungkap oleh Jarfin, kalau lelaki yang bernama Edward ikut terlibat di dalamnya.
Tentu, Fatan tidak sendiri pergi ke sana. Ia bersama Rusli serta beberapa agen mereka juga ikut untuk penyergapan Edward di kantor cabang.
Ketika tiba di sana, waktu telah menunjukkan pukul 9 pagi. Biasanya di jam-jam tersebut, sedang berlangsung aktifitas kantor yang padat. Namun alangkah terkejutnya Fatan saat melihat kantor yang pernah di pimpinnya itu.
"Ada apa ini? Kenapa di halaman kantor gak ada satu pun mobil yang parkir?" Fatan tak percaya apa yang ada di depannya saat ini begitu jauh dari perkiraannya. Banyak daun kering berserakan, lantai lobby berdebu, serta pintu masuk pun dalam keadaan terkunci.
"Rusli, coba kamu cek ke sekeliling kantor ini. Mungkin aja ada orang yang atau bukti yang bisa kita bawa ke pengadilan nanti," titah Fatan dan Rusli pun mengangguk lalu menunduk hormat.
"Baik, Bos. Kami akan segera laksanakan!" jawab Rusli kemudian pergi dari hadapan Fatan.
Ketika Rusli telah pergi, tujuan utama Fatan yaitu pergi ke pos satpam yang ada di dekat gerbang. Derap langkah kakinya tampak sangat hati-hati, sebab difirasatnya bilang kalau akan ada sesuatu di sana.
Ternyata benar saja! Ketika Fatan menggeledah dalam pos satpam itu, ia menemukan sepasang pakaian satpam yang tergeletak di lantai serta memiliki bercak darah. Fatan segera mengeluarkan sarung tangan steril lalu memegang pakaian itu. Tak lupa juga ia memotret serta membawanya sebagai dijadikan bukti.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, tak sengaja Fatan menemukan kunci yang menggantung pada hanger.
"Kunci apa ini ya?" gumam Fatan sembari meraih kunci itu dan membawanya keluar.
Ketika baru saja satu langkah keluar dari pintu, Fatan mencium bau anyir seperti bangkai. Ia memberanikan diri mencari asal dari bau itu. Dengan langkah hati-hati, ia semakin mendekat hingga bau itu semakin menyengat saaf Fatan berada tepat di depan pintu toilet yang berdampingan dengan pos satpam tersebut.
"Hemh! Baunya amis sekali!" gerutu Fatan yang sebenarnya sudah merasa pusing karena mencium bau itu. Bahkan raaanya kesadarannya pun hampir saja hilang. Namun sebisa mungkin Fatan tahan guna mendapatkan hasil dari penggrebekannya.
Brak!!
Fatan berhasil mendobrak pintu toilet dengan cara ditendang oleh sebelah kakinya. Mata serta mulutnya seketika membulat bersamaan.
"Astaga! Siapa yang membunuhnya?" pekik Fatan saat melihat seorang satpam yang biasa menjaga kantor itu dari masa kepemimpinannya.
Fatan segera menelepon ambulance untuk segera membawa jenazah ke rumah sakit dan dilakukan otopsi. Tak lama, mobil ambulance serta beberapa anggota kepolisian pun datang ke tempat kejadian perkara.
"Apa yang terjadi Tuan?" tanya salah seorang anggota polisi.
__ADS_1
Fatan pun menjelaskan kejadiannya. "Saya rasa, kita perlu memeriksa ke dalam gedung kantor guna memastikan gak ada lagi korban selain satpam itu, Pak," usulnya.
"Baik kalau begitu, saya bersama tim akan ikut usul Anda. Mari ikut saya untuk berdiskusi bersama," ajak polisi itu dan Fatan pun mengangguk.
Beberapa menit berlalu, dari banyaknya anggota di tempat kejadian itu baik dari kepolisian maupun para agen dibagi lagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok akan ditempatkan pada masing-masing lantai yang ada di gedung perkantoran itu.
Mereka semua akhirnya berpencar. Jalan masuk menuju gedung itu tidak sama. Ada yang lewat lobby, pintu samping ataupun pintu belakang yang mengarah langsung pada ruangan yang biasa digunakan para pegawai untuk sarapan dan makan siang.
Fatan yang bergabung pada kelompok petinggi polisi satuan dan juga Rusli bertugas keliling gedung serta halaman. Akan tetapi, ketika Fatan sedang memencarkan diri dari mereka, tidak sengaja menangkap sesosok lelaki yang berjalan memunggunginya ke arah sebuah gudang penyimpanan.
Dengan sangat hati-hati, Fatan mengikuti orang itu dan sebisa mungkin tidak disadari olehnya. Hingga tepat berada di dalam gudang, Fatan kehilangan orang itu.
"Kemana perginya dia?" gumamnya seraya menatap ke sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh tumpukkan kardus berselimut debu.
Indera pendengarannya tiba-tiba menjadi tajam. Fatan bisa mendeteksi ada orang yang mendekati dirinya dari belakang.
Benar saja, orang yang sempat diikuti oleh Fatan tadi memang tengah berada tidak jauh darinya sambil memegang sebatang kayu dengan panjang satu meter dan tebal berkisar sepuluh centi meter.
Fatan segera berbalik badan. Dengan cepat tangannya menghadang kayu yang akan dihantamkan padanya.
"Siapa kamu?" tegas Fatan sebisa mungkin menyingkirkan kayu itu dari tangan lelaki yang ada di depannya.
Namun lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Fatan. Justru dia semakin memberontak dan berusaha menghantam Fatan. Sayangnya, kekuatan Fatan masih lebih besar darinya.
"Jawab! Kamu siapa?" Kali ini Fatan menyentaknya.
Lagi-lagi lelaki itu hanya diam dan terus mengeluarkan seluruh tenaga untuk memberi perlawanan.
Bug!!
Bug!!!
Bug!!!!
__ADS_1
Bug!!!!!
Keduanya saling baku hantam. Fatan mendapat satu pukulan pada ujung bibir kanannya, sedangkan lelaki itu sudah babak belur dengan luka lebam di area wajah serta perut.
Fatan semakin gemas. Saat melihat pintu gudang masih terbuka, ia berusaha menyeret lelaki itu supaya keluar dari sana dan dapat melihat wajahnya. Akan tetapi sepertinya lelaki itu tahu apa yang diinginkan oleh Fatan. Makanya dia terus berusaha menahan Fatan supaya tidak keluar dari ruangan itu.
Sementara di luar, Rusli mendengar suara orang yang berkelahi. Ia mendekat sambil berlari. Tak lupa juga alat komunikasi HT yang ada di tangannya itu, ia gunakan untuk memberitahu pada semuanya yang juga memegang alat tersebut.
"Astaga!" pekik Rusli ketika sudah berada di depan pintu.
Fatan yang melihat kedatangan Rusli langsung berteriak. "Cepat bantu saya menyeret orang ini!"
Rusli segera menghampiri, namun tiba-tiba ...
Jleb !!!
Sebuah pisau dengan ujung runcing di keluarkan oleh lelaki itu dari dalam jaketnya lalu menusuk bagian pinggang Fatan.
"Akh!!" teriak Fatan menahan rasa sakit beriringan dengan darah segar yang keluar akibat luka tusukan itu.
"Harusnya kau udah mati dari dulu!" ucap lelaki itu tepat di telinga Fatan.
Ditengah kesadaran yang semakin melemah, Fatan pun akhirnya mengetahui kalau lelaki itu adalah ....
"Edward!" ucap Fatan sebelum akhirnya terjatuh ke lantai.
Dorrr !! Dorr !!!
Beruntung polisi yang bersama satu kelompok dengannya segera datang dan melakukan tembakan ke arah lelaki itu. Alhasil, dia tidak berkutik karena dua kali tembakan tepat mengenai kedua kakinya.
Rusli langsung membawa Fatan keluar dan menuju rumah sakit untuk diberi perawatan lebih lanjut. Sedangkan polisi tadi membawa tersangka ke kantor untuk dimintai keterangan.
Di dalam mobil ambulance, Fatan sudah tidak sadarkan diri. Hingga tiba di rumah sakit, Fatan pun langsung diberi tindakan pada luka tusukannya itu.
__ADS_1
Sementara menunggu Fatan selesai dioperasi, Rusli pun menghubungi Nila guna memberitahukan apa yang telah terjadi pada Bos nya.