Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 22


__ADS_3

Laki-laki itu berjalan santai masuk ke dalam kantor polisi. Dia hanya datang sendiri. Namun karena mendapat panggilan mengatas namakan dirinya, tentu saja sekertarisnya disuruh menghubungi pengacara untuk bersiap jika proses setelah ini berlangsung lama.


Laki-laki itu membuka pintu ruangan dimana ada tiga orang perempuan yang telah menunggu kedatangannya sejak tadi pagi. Saat wajahnya terangkat, tatapan laki-laki itu langsung mengarah ke seorang perempuan yang sejak lama tidak dilihatnya ataupun tahu kabar dia.


Ya, laki-laki itu adalah Bayu Guntara. Sudah pasti ketiga perempuan itu memang mengenalinya. Sorot penuh kebencian pun tampak jelas dimata mereka.


"Silahkan duduk Pak Bayu," kata salah seorang anggota kepolisian yang bersama mereka di ruangan itu. Tetapi disana juga ada beberapa anggota lain yang berjaga.


Bayu menundukkan wajahnya lalu berjalan ke arah kursi yang telah disediakan. Tak banyak basa-basi, polisi itu mulai mengintrogasinya.


"Saudara Bayu Guntara, benar?"


"Benar."


"Saudara tahu mobil ini?" Polisi itu menunjukkan foto yang sempat ditunjukkan juga pada Nila dan ibu-nya.


"Tahu."


"Ini mobil Anda?"


"Iya. Sekarang saya pakai. Tuh di depan kantor."


Emosi Nila seketika terpancing. "Sial! Awas ya kalau memang pelakunya itu kamu. Aku akan buat perhitungan sama kamu!" batinnya mengumpat seraya memberi tatapan sinis pada Bayu.


"Kemarin pagi, siapa yang membawa mobil Anda ini?"


Bayu terdiam sejenak. Tiba-tiba ia ingat akan pertengkarannya dengan Winda pukul 5 pagi kemarin.


"Apa mungkin Winda yang menabrak ayah-nya Nila? Dia kan kemarin pagi yang nyetir mobil itu," gumam Bayu dalam hatinya.


"Maaf Pak, kemarin saya gak bawa mobil itu ... Um, boleh saya minta waktunya sebentar untuk menghubungi istri saya?" kata Bayu meminta izin.


"Iya silahkan."


Bayu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, lalu mulai menghubungi istrinya.


Sementara Nila melipat kedua tangannya di dada. Suasana hatinya semakin buruk. Apalagi kalau ia harus bertemu dengan perempuan yang paling dihindarinya selama ini.


Berkali-kali Bayu mencoba menghubungi istrinya, tidak ada jawaban sama sekali. Lelaki itu sangat geram karena ulah Winda. Namun di sisi lain, dia ingin menghubungi Nimas. Akan tetapi mengingat kondisi kesehatannya sedang menurun, dia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Maaf Pak, istri saya gak bisa dihubungi," kata Bayu. Sontak Nila pun berdecak kesal.


"Makanya kalau masalah rumah tangga itu selesaikan di rumah, jangan malah ngilangin nyawa orang!" sahut Nila memberi sindiran keras.


Seketika Bayu menoleh dan mulai tersulut emosi. "Kamu lihat aja nanti. Siapa pelaku yang sebenarnya!" ucapnya dengan penuh penekanan.


"Iya, aku lihatin kok!" Nila memicingkan mata lalu menoleh ke arah pak polisi. "Pak saya minta, segera proses lebih lanjut tentang kasus tabrak lari ayah saya." Nila kemudian berdiri, diikuti ibu dan juga adiknya. "Saya tunggu progres dari kasus ini. Semoga pelakunya cepat mengakui! Permisi," ujarnya sambil melirik sinis ke arah Bayu. Entah kenapa perasaan Nila yang dulu sangat mencintai lelaki itu, bisa pudar dan perlahan jadi benci.


Mendapat sebuah 'tamparan' dari Nila, Bayu semakin bersemangat untuk mendongkrak orang yang telah menghilangkan nyawa ayah dari mantan kekasihnya itu.


Sesaat setelah Nila keluar dari ruangan itu, Bayu bernegosiasi kepada pak polisi yang ada disana.


"Pak, tolong beri saya waktu. Sebab saya rasa ... ini ada kaitannya dengan masalah pribadi yang sudah lama ada," kata Bayu.


Pak polisi itu tidak langsung menjawabnya. Dia berpikir sejenak.


"Apa Anda tahu siapa yang kemarin pagi mengendarai mobil itu?" tanya polisi itu lagi masih penasaran.


"Tahu, Pak. Tapi saya belum yakin kalau pelakunya itu dia."


"Dia siapa? Istri kamu?" cecar polisi itu.


"I-iya Pak," jawab Bayu gugup.


"Paham, Bapak tenang aja ... " Bayu berdiri sambil membenarkan kancing jasnya. "Saya bukan orang seperti itu. Permisi," pungkasnya lalu pamit untuk pergi dari sana.


"Tunggu Pak!" cegah polisi itu saat Bayu hendak melangkahkan laki ya.


"Ada apa?"


"Mobil Anda akan kami sita sebagai barang bukti!"


Bayu memijat keningnya.


"Berikan kunci mobilnya pada kami!" perintah polisi itu.


Bayu mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku yang ada di jasnya. "Ini Pak." Ia menyerahkan kuncinya. "Kalau gitu saya permisi dulu."


Lelaki itu keluar dari kantor polisi. Ia pun langsung memesan taksi online melalui aplikasi. Tujuan utamanya setelah ini yaitu menuju rumahnya.

__ADS_1


...----------------...


Setibanya di rumah, Bayu langsung mencari keberadaan Winda. Tak di sangka perempuan itu masih terlelap sangat nyenyak di atas tempat tidur sambil bergulung selimut.


Bayu naik pitam melihat Winda saat ini. Rasa bencinya semakin membuncah. Enam bulan terakhir, pernikahan mereka tidak ada baiknya sama sekali. Keduanya saling menyibukkan diri, untuk sebisa mungkin meminimalisir pertemuan diantara mereka. Tak heran kalau Nimas sampai sering jatuh sakit karena memikirkan nasib pernikahan mereka ke depannya serta menyalahkan dirinya sendri.


Lelaki itu bergegas masuk dan mengunci pintu kamar, lalu menghampiri Winda. Ia mengempaskan selimut yang dipakai oleh perempuan itu hingga terserak ke lantai.


"Winda bangun!" Suara bentakan yang dilontarkan oleh Bayu membuat istrinya terkejut bukan kepalang.


Seluruh kesadarannya seketika terasa melayang seolah terlepas dari ubun-ubun.


"Ada apa sih Mas?" protes Winda terpancing amarah.


"Jangan sok gak tau apa-apa ya! Sekarang jujur sama ku, kemarin pagi apa yang telah kamu lakuin saat mengendarai mobil ku?" tegas Bayu dengan mata yang membulat seakan ingin keluar dari tempatnya. Lelaki itu sangat marah.


"Kemarin pagi?" Winda mengulang pertanyaan suaminya seraya berpikir dan ... BOM! kesadarannya seketika pulih dalam hitungan detik. Ia mengingat kejadian itu namun tidak langsung menjawab, ia hanya terdiam. Merasa malu dan bersalah. Pikirnya, apa ini akhirnya?


"Jawab Winda! Cepat katakan!" Bentakan Bayu semakin keras. Laki-laki itu sudah tidak tahu bagaimana cara bersikap lembut pada perempuan yang ada di depannya.


Tanpa mereka sadari, pintu yang mengarah ke balkon itu sedikit terbuka. Sehingga suara yang dihasilkan oleh mereka, terutama Bayu bisa terdengar hingga ke kamar Nimas yang ada tepat di bawah. Perempuan setengah abad itu, langsung merasa sesak hingga tak tertahankan. Nimas berjuang sekuat tenaga.


Sedangkan di kamar Bayu, pertengkaran masih terjadi. Lelaki itu semakin geram karena Winda terus diam.


Perempuan yang sedari tadi menundukkan wajahnya, tiba-tiba terangkat lalu menatap suaminya dengan berani. "Maaf Mas ... bukan aku yang melakukan itu."


"Lantas siapa?" Suara Bayu masih meninggi.


"Kemarin saat aku keluar dari rumah, aku menjemput seorang te-teman." Bayu memicingkan matanya dan Winda menjadi gugup.


"Teman siapa? Manager mu?"


"Bu-bukan. Dia ... Yunadi dan kami tukar posisi. Dia yang menyetir dan aku yang ada di sampingnya." Winda memejamkan matanya. Disaat yang bersamaan ponsel perempuan itu berdering. Ketika Winda hendak meraihnya, ternyata gerakan Bayu jauh lebih cepat darinya.


Entah sebuah kebetulan, nama yang tertera pada panggilan itu adalah nama yang baru saja disebutkan oleh Winda. Kini Bayu yang menjawabnya.


"Halo, kamu siapanya Winda?" Bayu langsung to the point.


"Kamu pasti suaminya kan?" tanya laki-laki yang ada di seberang telepon itu sambil terkekeh. Bayu semakin naik pitam. "Kenalan dong, saya ..."

__ADS_1


...****************...



__ADS_2