
Enam bulan kemudian.
Kantor baru dibawah pimpinan Fatan, sudah menunjukkan perkembangan yang bagus. Management tim pun telah terbentuk sangat solid. Fatan yakin sebentar lagi, ia akan sukses bersama teman-teman satu timnya. Lelaki itu selalu menyetarakan para pegawainya. Baginya semua yang bekerja dikantor itu memiliki tujuan yang sama, yaitu mendapat uang. Maka dari itu, sebisa mungkin ia merangkul supaya semuanya bisa bekerja tanpa tekanan. Baik perasaan maupun mental.
Disamping itu, Nila pun sudah terbiasa dengan pekerjaannya sebagai seorang sekertaris. Meskipun sibuknya bukan main, namun jika semakin lama dibawa santai. Semuanya akan tertata rapi dengan sendirinya.
Seperti halnya saat ini. Segala jadwal telah ia susun serapi mungkin. Akan tetapi, tiba-tiba klien barusan saja memberikan informasi kalau ternyata jadwal meeting mereka tidak dapat diadakan hari ini. Automatis, Nila pun merubah ulang jadwalnya dengan segera.
Hingga menjelang makan siang, ponsel Nila berdering. Ia melirik lalu menautkan kedua alisnya. Di layarnya itu tertera nama sang ibu yang memanggil. Nila pun menghentikan pekerjaannya sebentar untuk menjawab telepon.
"Halo Bu?"
"Nila ... hiks hiks hiks ... Ayah Nil ... Huuu uuuhu."
Nila terkejut bukan kepalang. Detak jantungnya bahkan seakan berhenti saat mendengar ibu-nya menangis.
"Ada apa Bu? Kok Ibu nangis?" Hatinya merasa cemas seketika. Konsentrasinya pun dalam sekejap bubar.
"Ayah udah gak ada ... " Sang ibu kembali menangis sampai terguguk.
Bak mimpi di siang bolong. Nila tercengang. Alam bawah sadarnya pun menolak kabar burukn itu. Padahal kemarin pagi, ia baru saja melakukan video call.
"Ibu pasti bohong 'kan? Ibu jangan bercanda sama Nila. Ini gak lucu, Bu." Nila hanya menatap kosong ke depan.
"Kapan Ibu bohong sama kamu Nila? Ayah mengalami kecelakaan dan polisi masih mencari tahu kejadiannya seperti apa," jelas sang ibu.
Tetap saja Nila masih belum percaya. Sebab ia tidak bisa langsung menerima begitu saja tentang kabar yang diberitahukan ibunya. Ia masih diam, seketika wajahnya menunduk karena tidak bisa menahan perasaan sedih. Sebab kabar itu ternyata lebih menyakitkan ketimbang diputusin Bayu beberapa bulan yang lalu.
"Nila, bisa gak kamu pulang sekarang? Ayah-mu akan segera di kebumikan. Supaya gak ada rasa menyesal, tolong lihat ayah-mu untuk yang terakhir kalinya."
Perempuan itu semakin merasa sesak pada dadanya. Ia bahkan tidak menyadari kalau Fatan sudah berdiri di depan meja kerjanya.
"Nila ... " Suara baritone yang khas dimiliki oleh Fatan membuat Nila langsung mendongakkan wajahnya.
Fatan menautkan kedua alisnya saat melihat wajah Nila terutama bagian pipi hingga dagu yang penuh cucuran air mata. Sementara panggilan telepon yang masih terhubung pada ibu-nya, ia tahan sebentar.
__ADS_1
"Bu, sebentar ya. Jangan diakhiri dulu teleponnya."
"Iya ... "
Nila menaruh ponselnya ke atas meja lalu meraih selembar tisu yang tersedia di sana. Ia menghapus air mata itu dengan hati-hati.
"Kenapa kamu nangis? Ada apa?" tanya Fatan merasa penasaran.
Nila yang masih terisak pun, lalu menarik napas dalam. "Pak, Ayah saya meninggal. Boleh gak kalau saya izin pulang ke Jakarta sekarang?"
Fatan pun kaget dan ikut sedih. "Ya udah kalau kamu mau pulang, gak apa-apa. Biar kerjaan kamu saya yang pegang."
"Terima kasih banyak, Pak!" Nila bersyukur. "Saya akan siap-siap sekarang." Perempuan itu menyunggingkan senyum simpul.
"Iya silahkan ... Nila, sebelum kamu berangkat, jangan lupa kirim jadwal yang udah kamu buat ya dan beri info pada klien supaya bisa langsung menghubungi saya selama beberapa hari kedepan," pinta Fatan.
"Baik, Pak," jawab Nila merasa lega. Pasalnya jadwal yang telah ia susun ulang selama seminggu kedepan baru akan hampir selesai. Sepertinya ia akan benar-benar nyelesaikannya terlebih dahulu sebelum pulang.
"Oh iya Nila ... " Fatan tampak berpikir. "Saya turut berduka cita ya, kamu yang sabar," ucap laki-laki itu.
"Iya Pak. Terima kasih," balas Nila dengan penuh haru karena Fatan sama sekali tidak mencegahnya untuk tetap di kantor. Mengingat CEO baru itu, tidak mampu menyesaikan pekerjaan yang segitu banyaknya tanpa campur tangan Nila.
"Halo Ibu masih dengar Nila?" tanyanya dengan perasaan yang sudah mulai tenang. Entah kenapa setelah melihat Fatan, Nila seperti mendapat kekuatan dan percaya kalau ia tidak sendiri.
"Masih, Nila ... Bagaimana kamu bisa pulang sekarang?" tanya ibu-nya lagi.
"Bisa Bu. Tunggu Nila ya, tiga jam lagi Nila akan sampai rumah."
"Ya udah. Kamu hati-hati di jalan ya, Nak!"
"Iya, Bu."
Setelah telepon berakhir. Nila lekas menyelesaikan pekerjaan dan mengirimkan datanya pada Fatan. Berada di dalam posisi kalut dan harus fokus lagi dengan pekerjaan, itu tidaklah mudah. Bukan hanya sekadar sabar, tapi juga tenang.
Dalam waktu setengah jam, Nila mampu melakukannya. Seusai itu ia pun segera memesan tiket pesawat.
__ADS_1
Di sisi lain karena mendengar kabar kepergian sang ayah, Nila sampai tidak ingat kalau hari ini akan serah terima mobil yang akan di pakai olehnya sebagai fasilitas dari kantor. Mungkin nanti Fatan yang akan mewakilkannya. Karena lelaki itu sendiri juga mendapatkan fasilitas yang sama.
.
.
.
.
Tepat pukul 3 sore, mobil taksi yang Nila tumpangi sampai di depan rumah duka. Banyak pelayat yang bersatangan silih berganti. Hati Nila semakin terenyuh. Sedih pun tak terelakkan.
Nila bergegas keluar dari mobil taksi setelah memberikan uang tarif pada sopir itu. Ia berlari melewati para pelayat lalu berhenti tepat di depan jenazah sang ayah yang dikemas dengan sebuah peti berwarna putih. Ia melangkahkan kaki menghampiri sang ibu yang duduk di samping ayah-nya.
Perempuan itu duduk bersimpuh di samping ibu-nya. Namun ia tidak melihat adiknya di sana.
"Bu ... " ucap Nila lirih.
Sang ibu menoleh dengan kedua matanya yang tampak sembab. Seketika perempuan paruh baya itu memeluk putri sulungnya sangat erat, meluapkan rasa sedih yang begitu mendalam dialami olehnya. Sebab tak pernah terlintas dalam pikirannya kalau suami yang sangat dicintainya itu telah lebih dulu meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya ke pangkuan Tuhan.
"Kenapa ayah-mu pergi secepat ini?" tanya sang ibu.
Bibir Nila bergetar setelah ibu-nya bertanya seperti itu.
"Ayah pergi karena Tuhan lebih sayang sama ayah, Bu. Ini semua takdir," jawab Nila sambil mengelus lembut punggung sang ibu.
Melihat ibu dan anaknya saling memeluk satu sama lain, membuat para pelayat yang datang ikut merasakan sedih yang sangat mendalam.
Tak lama kemudian, Nila melepaskan pelukannya. Ia harus kuat di depan sang ibu. Walaupun sebenarnya ia juga sangat sedih karena tidak merasakan kasih sayang ayahnya lagi.
Seketika Nila pun sadar saat melihat ke sekeliling ruang tamu, tapi tidak ada Lativa di sana.
"Bu, Tiva mana?" tanya Nila sambil menghapus air matanya, begitupun sang ibu.
"Dia ... "
__ADS_1
...****************...