Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 163


__ADS_3

Nila akhirnya sudah diperbolehkan pulang setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Hasil terakhir menurut pemeriksaan dokter Andin, kondisi kehamilan Nila sangat baik. Ia pun disarankan untuk kembali kontrol kepadanya sebulan lagi.


Fatan yang mengurus administrasinya, sedangkan Nila sendiri yang mengemas pakaiannya serta Fatan ke dalam koper. Nila memang sengaja tidak mengizinkan Lalisa datang ke rumah sakit, karena takut kelelahan. Apalagi perempuan paruh abad itu menjaga Ara, putri kecil mereka.


Usai berkemas, sembari menunggu Fatan kembali dari bagian administrasi. Nila menyantap makan siangnya terlebih dahulu. Ketika sedang asik makan, Nila melihat 2 buah ponsel tergeletak di atas meja nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Sebab sejak tadi dirinya mengemas di sofa.


Salah satu ponsel itu memang milik Nila, tapi satunya lagi milik Fatan. Diantara kedua ponsel itu, hanya ponsel milik Fatan lah yang terus bunyi suara notifikasi.


"Mas Fatan keluapaan bawa atau memang sengaja ditaruh ya?" gumam Nila sambil melanjutkan makannya kembali.


Sampai Nila selesai makan, suara notifikasi terus bermunculan. Ia akhirnya meraih ponsel sang suami lalu membukanya. Padahal sebenarnya ia tidak ingin membuka-bukanya lagi setelah Fatan meminta maaf dan memberikan perhatian sepenuhnya pada Nila.


Tetapi kini Nila justru penasaran. Ia melihat asal dari notifikasi itu.


"Ternyata dari email." Sempat ada ragu dan ingin menaruhnya kembali ke tempat semula. Namun hati Nila merasa tergelitik untuk membukanya.


Ketika dibuka, kebanyakan email masuk dari Rusli dan kakaknya Fatan, yaitu Elisa. Seperti yang Nila tahu, memang kedua orang itu lebih sering berhubungan dengan sang suami karena memiliki tugas yang saling berkesinambungan demi majunya profit perusahaan. Ternyata memang tidak ada email dari siapapun melainkan dari mereka. Lantas Nila pun menaruhnya kembali ke tempat semula.


Tak lama kemudian, Fatan kembali. "Sayang, udah rapi semua?" tanya laki-laki itu.


"Udah, Mas." Nila tersenyum lalu menghampiri suaminya. "Mas, sebelum kita pulang ... Aku mau makan soto ayam, boleh 'kan?" pintanya sambil menggabungkan kedua jari telunjuknya seperti jembatan panjang.


Fatan menyunggingkan senyum saat melihat tingkah Nila yang begitu menggemaskan baginya. "Boleh kok, Sayang," ucapnya seraya mengelus rambut Nila.


"Makasih, Mas." Wajah Nila langsung berseri.

__ADS_1


"Kalau gitu, ayok kita pulang!" ajak Fatan. Lelaki itu meraih tas Nila lalu mengaitkannya pada sang empunya. Setelah itu dia menggenggam tangan Nila untuk menghampiri koper mereka. Lantas keduanya pun keluar dari ruangan itu.


...----------------...


"Mas, sebenarnya ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Nila memecah keheningan ketika ia dan suaminya sedang dalam perjalanan menuju tempat penjual soto ayam terenak di Jakarta.


"Apa itu, Sayang? Bilang aja." Fatan menoleh sebentar lalu fokus menyetir kembali.


"Tentang pengasuh buat Ara, Mas ... Beberapa hari yang lalu aku udah omongin itu sama bunda. Dan bunda kasih masukan sih kalau menyewa jasa pengasuh buat Ara nanti aja kalau aku udah lahiran anak kedua. Awalnya aku pikir, oke oke aja karena bunda juga mau. Tapi lama-lama aku mikir, kalau aku gak mungkin mengandalkan bunda yang notabene nya ibu mertuaku. Aku bisa aja urus Ara sendiri, soalnya aku ngerasa gak enak ngerepotin bunda terus." Nila mengeluarkan unek-unek yang ada dikepalanya. Pun kemudian ia mengesah. "Menurut kamu bagaimana?" tanyanya pada Fatan.


"Oke, gini. Kalau aku sih lihat kondisi kamu bagaimana. Kalau kamu masih ngerasa sanggup buat urus Ara sendiri saat aku kerja, silahkan. Tapi kalau kondisinya seperti kemarin, aku justru jauh lebih tenag Ara dipegang oleh bunda ketimbang pengasuh. Lagi pula zaman sekarang memilih pengasuh juga ibarat memilih jodoh, Sayang. Gak gampang, apalagi untuk anak seusia Ara." Fatan mengeluarkan pendapatnya.


"Jadi intinya kamu setuju kalau kita pakai pengasuh setelah aku melahirkan?" tanya Nila memastikan.


"Ya mungkin. Kita lihat aja kondisinya nanti. Semoga kita semua masih dalam keadaan sehat dan berkecukupan seperti sekarang. Kan nasib orang gak ada yang tahu, Sayang," jawab Fatan dengan bijak.


"Ya seperti yang pernah dijelaskan oleh dokter kemarin, Sayang. Biarpun katanya menyusui itu bisa mencegah kehamilan. Ternyata ada juga yang bisa kebobolan hamil, salah satunya kamu." Fatan menoleh sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Ya bisa jadi juga karena kita rajin bercocok tanam. Apalagi semburan kamu yang selalu bikin aku kaget," balas Nila lalu berdecak.


Lantas Fatan seketika tertawa. Secara tidak langsung, dia sedang mengakui hal itu.


"Omong-omong gimana pekerjaan kamu selama Rusli cuti, Mas? Aman?" tanya Nila beralih ke topik yang sedikit serius.


"Ya begitulah, Sayang. Walaupun dia cuti, aku tetap hubungi dia buat nyusun jadwal harianku," jawab Fatan santai.

__ADS_1


"Astaga, ternyata kamu gak pernah berubah ya dari dulu. Beruntung Rusli itu sabar ngadepin kamu, Mas." Nila menggeleng-gelengkan kepala karena merasa tidak habis pikir. "Jangan bilang kamu suka ganggu dia pas lagi itu ya?"


"Ahahahaha." Fatan tergelak lagi dengan tawanya. "Ya hampir sih," ucapnya sangat hati-hati.


"Ya ampun, kasihan tahu Mas. Dia udah mendidih, malah kamu siram pakai air es," timpal Nila.


"Ya gak gitu juga. Habis itu dia sama istrinya lanjut lagi," ujar Fatan tidak ingin kalah.


"Tapi bagaimanapun kamu juga harus tahu waktu, Mas buat hubungi dia. Bener-bener gak kebayang sih aku, dia kesalnya seperti apa," lanjut Nila lalu tertawa.


"Yang lebih gak kebayang lagi kalau kerjaan aku itu lebih lebih banyak waktu Rusli gak masuk." Fatan menyahuti lagi.


"Iya iya, aku tahu mumetnya kamu seperti apa, Mas. Dulu aja begitu kok." Nila akhirnya mengalah.


"Oh iya kamu dulu sekertaris aku ya? Kok aku sampai gak ingat sih? Ah mungkin aku terlalu mencintaimu sampai-sampai kamu pernah jadi korban kearifan lokal aku. Ya kan?" kata Fatan sangat percaya diri sekali.


Seketika Nila memutar malas bola matanya, lalu bertanya. "Bentar, kamu ini lagi ngegombal atau menyombongkan diri?"


"Dua-duanya," jawab Fatan, yang kemudian mereka tertawa bersama.


"Mas, kok daritadi kita gak sampai-sampai sih? Masih jauh ya?" tanya Nila yang menurutnya perjalanan itu sangat lama.


"Nggak kok, sebentar lagi sampai. Sabar ya. Aku dapat informasi dari internet kalau penjual soto ayam di sana itu menjadi nomor satu terenak di Jakarta," jawab Fatan.


"Oh begitu rupanya. Baiklah ...." Nila pun akhirnya terdiam. Ia menikmati perjalanan dengan posisi duduk yang sudah terasa nyaman.

__ADS_1


Suasana di mobil mendadak hening. Lantas untuk memecah keheningan itu sendiri, Fatan memutarkan musik melalui layar kecil yang terdapat di dashboard mobilnya.


__ADS_2