Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 151


__ADS_3

Fatan menautkan kedua alisnya. Sejujurnya dia merasa tersentak dengan tulisan yang ada di atas dekorasi kue itu. Lantas kemudian pandangannnya teralih ke wajah sang istri.


"Kamu beneran udah siap? Kalau jadi lagi gak apa-apa nih?" tanyanya sambil memicingkan mata seolah tersirat ada keinginan besar yang muncul dari dalam dirinya.


Nila terkekeh pelan. Perempuan itu bukannya menjawab, tapi malah memutar kursi kebesaran sang suami supaya bisa menghadapnya.


"Aku tahu kamu udah sangat menahan itu sejak lama," bisik Nila dengan suara mendayu, tatapan hangat, serta sedikit mengigit bibir bawahnya. Tak hanya itu, ia duduk di atas pangkuan suami.


Mendapat perlakuan itu, naluri seorang laki-laki yang dirasakan Fatan seketika melonjak drastis. Dia menikmati setiap sentuhan yang diberikan Nila di wajahnya. Kecupan demi kecupan terus berlanjut tak berkesudahan. Hingga semakin lama keduanya larut dalam pagutan panas.


Suhu di ruangan itu seakan tidak berlaku bagi dua insan yang akan segera memulai permainan mereka. Astaga, apa ini tidak terlalu pagi? Di jam kantor pula. Tetapi, kelihatannya mereka sangat menikmati.


"Sayang, aku benar-benar udah gak tahan." Fatan mengangkat tubuh Nila lalu membawanya ke sofa.


"Kamu yakin kita bakal ngelakuin disini?" tanya Nila ragu.


"Gimana kalau kita ke hotel? Udah lama bukan kita gak staycation? Aku akan mengambil izin pulang cepat hari ini."


Nila mengulum bibirnya, karena posisi mereka yang sedang saling menindih membuatnya merasa seperti ada yang mengganjal sehingga ia tidak mampu berkata-kata.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Fatan terheran-heran.


"Kayaknya itu harus ditiduri dulu, Mas. Nanti kalau jalan terus kelihatan gimana?"


Fatan seketika beranjak dari posisinya. Dia melihat ke arah yang Nila maksud. Lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eh, iya ya. Tapi aku bisa menutupinya dengan mengancingkan jasku," cetus lelaki itu. Pun Nila ikut beranjak sambil merapikan kembali pakaiannya. "Ayok!" ajaknya kemudian.


"Tapi kerjaan kamu gimana hari ini?" Nila melirik ke atas meja yang masih terdapat tumpukan berkas yang harus Fatan periksa dan tanda tangani.


"Nanti aja, setelah makan siang aku ke kantor lagi ... Sama kamu," jawab Fatan enteng. Lelaki satu itu memang selalu mengambil santai atas setiap perkerjaannya. Tidak heran kalau pekerjaan Rusli lah yang amat padat sehari-harinya.


Nila hanya pasrah dan menuruti apa yang menjadi keinginan suaminya saat ini. Keduanya pun bergegas pergi dari ruangan itu.


Niatnya Fatan ingin memberitahu Rusli tentang izinnya, tapi meja Rusli kosong, tidak ada orangnya.

__ADS_1


"Rusli kemana ya? Gak biasanya jam segini gak ada ditempat, " gumam Fatan seraya mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya.


"Oh, mungkin lagi keliling, Mas!" seru Nila tiba-tiba teringat akan pesannya pada Rusli tentang kue itu.


"Apa? Keliling? Ngapain?" tukas Fatan menautkan kedua alisnya.


"Jadi tadi tuh aku sempat beli kue juga buat dia, Tiva, kak Elisa ... Sama suaminya kak Elea juga," terang Nila.


"Oh begitu, ya udah aku telepon dia dulu ya." Fatan membuka layar ponsel lalu mencari nama Rusli di kontaknya. Lantas memanggilnya melalui sambungan telepon.


"Halo, Bos?"


"Rus, kamu dimana?"


"Di lift, Bos. Baru aja selesai anterin kue. Ada apa ya, Bos?"


"Saya mau ke luar dulu ya. Mungkin habis makan siang saya balik lagi. Kalau ada jadwal meeting pagi ini, minta tolong di undur ke jam setelah makan siang."


"Oh begitu, baik Bos."


"Makasih, Rus."


Setelah itu panggilan berakhir. Fatan memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu meraih tangan Nila dan menggenggamnya. Lelaki itu sudah tidak sabar untuk meluapkan segenap kerinduan dan kehausan batin yang selama 40 hari kemarin sempat tertahan.


...----------------...


Tiba di salah satu hotel bintang tujuh. Fatan membawa Nila ke sana. Lokasinya memang cukup jauh dari perusahaan, tapi hotel itu sangat terkenal bagus dengan pelayanan serta fasilitasnya.


Selesai melakukan check in, tidak lama menunggu mereka mendapat kunci kamar. Selanjutnya, keduanya pun lekas pergi ke kamar.


Astaga, apa boleh seniat itu untuk unboxing? Memang agak lain sih. Tetapi tidak ada salahnya juga. Sebab yang Fatan tahu, keintiman sebuah pasangan letaknya ada di caranya memperlakukan pasangan itu dengan baik. Maka dari itu dibalik rasa syukur yang tidak akan bosan terucap, Fatan terus melakukan yang terbaik untuk istrinya.


"Silahkan masuk istriku," ucap Fatan setelah membuka pintu.


Nila terperangah saat melihat dekorasi kamar itu. Bagus, benar-benar bagus! Ia bahkan tidak mampu berkata-kata.

__ADS_1


"Gimana menurut kamu? Cocok kan buat kita?" tanya Fatan tersenyum lebar.


Pandangan Nila beralih menatap Fatan lalu mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh lelaki itu.


"Kalau gitu ayok masuk!" Fatan meraih tangan Nila dan menggenggamnya. Namun genggaman itu terlepas saat dia menutup pintu sekalian menguncinya.


Sementara Nila sudah berjalan lebih dulu untuk melihat ke sekeliling kamar. "Mas ...." Ia berbalik badan. Namun ternyata Fatan langsung menyambar bibirnya dengan sebuah pagutan yang penuh gairah.


"Aku kangen, Sayang," ucap Fatan disela pagutannya.


"Aku, juga," balas Nila dengan napas yang masih tersengal.


Keduanya hanya berhenti beberapa saat untuk menghirup oksigen, lalu melanjutkannya lagi. Fatan mengangkat tubuh sang istri tanpa melepaskan pagutannya. Lelaki itu membawa pujaan hatinya menuju ranjang berukuran king size. Dia pun merebahkannya perlahan.


Nila semakin terbuai, mengikuti permainan Fatan. Lembut, santai tapi sangat memabukkan. Rasanya seperti ada sensasi yang sulit diartikan dengan kata-kata. Gila! Nila hampir gila terus dibuai oleh suaminya.


"Apa udah lebih nyaman, Sayang?" tanya Fatan. Keduanya kini sudah tidak mengenakan sehelai benang pun.


Nila mengangguk dengan tatapan sayu. Dari wajahnya, ia ingin menginginkannya lebih.


"Aku lakukan sekarang ya?" tanya Fatan lagi meminta izin.


"Iya." Nila memejamkan mata tatkala suaminya menci*um kening, kedua pipi serta berakhir pada bibirnya.


Setelah itu, keduanya berhasil melakukan penyatuan mereka. Segenap rindu yang sudah lama terpendam dan tertahan, kini terlampiaskan sudah.


Satu jam berlalu, pergerumulan itu akhirnya selesai. Baik Fatan maupun Nila saling berpelukan untuk melepas lelah.


"Mas, menurut kamu dari hubungan kita sekarang ini ... Apa yang harus diperbaiki dan dipertahankan?" tanya Nila. Ia sengaja bertanya seperti itu, karena baginya hal tersulit dalam menjalin hubungan itu bukan hanya tentang ketika ingin mendapatkan, tapi juga mempertahankan.


"Yang harus diperbaiki, aku harus terus mengisi tangki cintamu. Dan yang harus dipertahankan, kamu ... Istriku yang sangat cantik dan seksi." Fatan menjawab sambil tertawa dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas! Serius, ih!" protes Nila.


"Aku dua rius, Sayang ... Lagi pula kamu jahat deh!" Lelaki itu protes balik.

__ADS_1


"Kok aku yang jahat sih?" balas Nila tidak terima.


"Ya habisnya, aku kan gak bisa mikir kalau habis itu. Malah disuruh mikir berat." Usai berkata demikian, lelaki itu memejamkan mata lalu tertidur.


__ADS_2