Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 131


__ADS_3

Lativa dan Rusli baru saja memesan makanan yang tersedia di tempat makan itu. Kini keduanya sedang menunggu pesanannya selesai dibuat. Mereka pun duduk saling berhadapan.


"Tiv ...." Rusli memulai pembicaraan.


"Iya, Pak?" sahut Lativa, siap mendengarkan apa yang ingin Rusli katakan setelah ini.


"Bagaimana kabarmu sekarang?" tanya Rusli. Sebenarnya lelaki itu bingung harus bertanya apa dulu di awal perbincangan mereka.


"Baik, Pak. Ya, seperti yang Pak Rusli lihat saat ini," jawab Lativa, datar.


"Maksudku ... Perasaanmu. Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa traumamu masih ada atau gak?" Rusli bertanya sangat hati-hati, sebab ia khawatir Lativa akan tersinggung.


"Oh begitu rupanya .... " Lativa tersenyum meringis. "Trauma sih masih ada, tapi udah mulai jinak," sambungnya.


"Apa? Jinak?" tukas Rusli. Lelaki itu terkejut dengan jawaban yang disampaikan oleh Lativa.


Sementara itu, Lativa malah terkekeh melihat respon yang diberikan oleh Rusli. "Mukanya lucu banget sih, Pak? Sampai kaget gitu ... Maksud saya tuh ya, udah biasa. Pelan-pelan saya udah bisa menempatkan masa lalu itu sesuai tempatnya," jelas Lativa kemudian.


"Oh begitu rupanya." Rusli menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Memangnya kenapa, Pak?" Lativa bertanya balik.


Sebelum bicara, Rusli terdiam beberapa saat. Lantas dia pun berkata, "Sebenarnya pertanyaan aku waktu itu ... Masih berlaku loh. Apa kamu udah siap buat jadi istri aku?"


Disisi lain Lativa terkejut akan perkataan yang barusan Rusli utarakan. Perempuan itu sampai menautkan kedua alisnya. "Pak Rusli serius? Saya kira Pak Rusli udah ketemu perempuan lain," ujarnya. Mengingat kesibukannya akhir-akhir ini tidak begitu memperhatikan perubahan dari Rusli.

__ADS_1


"Kalau aku gak serius, mana mungkin aku bilang lagi ke kamu, Tiv. Lagi pula, saya bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta. Saya benar-benar serius sama kamu. Hati saya bilang ... Kalau kamulah orangnya," ungkap Rusli. Sorot matanya tampak tulus, menatap lekat pada Lativa.


"Jujur, saya juga bukan perempuan yang gampang jatuh cinta sama laki-laki. Kejadian itu telah merubah segalanya dalam hidup saya. Memangnya kalau boleh tahu, apa sih yang bikin Pak Rusli seyakin itu sama saya?" Lativa bertanya lagi. Hatinya butuh keyakinan penuh dari Rusli. Bukan hanya sekadar pernyataan cinta, tapi juga bukti.


"Kalau yang kamu cari orang mapan dan berpendidikan tinggi, itu bukan aku orangnya. Kamu boleh menolak aku dengan jelas dan tegas. Tapi, kalau kamu butuh orang atau sosok laki-laki yang bisa menjadi pendamping, sahabat ataupun teman ternyamanmu untuk mengungkapkan apa saja ... Aku pastikan, itulah aku orangnya. Sebab asal kamu tahu, aku bukan lelaki yang berasal dari keluarga kelas atas. Aku bukan lelaki dari kalangan berpendidikan tinggi, dan aku hanya lulusan sekolah menengah atas. Kalau soal materil, aku bisa bekerja keras, sehingga orang lain gak akan tahu dari sisi luarku yang sebenarnya hanya standar lulusan pemerintah."


Lativa sampai tercengang sekaligus tercekat akan penjelasan yang disampaikan oleh Rusli. Dalam beberapa detik, perempuan itu tidak dapat berkata-kata. Padahal bibirnya tampak bergerak seperti ingin mengutarakan sesuatu.


"Maaf, Pak ... " Lativa menjadi kikuk. "Saya baru tahu soal itu."


"Gak masalah. Maka dari itu, aku kasih tahu kamu ... Supaya nanti kedepannya gak ada lagi rahasia diantara aku sama kamu," timpal Rusli dengan sangat sabar.


Lativa tersenyum. "Jawab sekarang gak ya? Kayaknya Pak Rusli emang tulus deh. Ya Tuhan bagaimana ini, jujur ... Aku gak bisa terus menyembunyikan perasaan ini terus," ucapnya bermonolog dalam hati.


Tiba-tiba saja sebelah tangan Rusli meraih tangan Lativa yang diletakkan di atas meja. Perempuan itu terkejut, lamunan yang sejak tadi membuatnya terdiam seketika tersadar. Sementara sebelah tangan Rusli yang lain, merogoh ke dalam saku jas bagian dalam untuk mengeluarkan sesuatu.


Benda yang berbentuk lingkaran itu masih sama. Modelnya juga. Tidak ada yang berubah dari terakhir Lativa melihatnya.


"Di hari ini, aku ingin menyatakannya lagi. Bahwasanya. Aku ... Rusli Ardiantama, mencintaimu setulus hati. Maka dari itu, Lativa Anindita ... Maukah kamu menjadi istri, serta pendamping dalam hidupku?" Raut wajah Rusli tampak serius sekali. Sorot matanya menjurus langsung menatap Lativa tanpa ada keraguan sedikitpun.


Yakin. Itulah satu kata yang terlintas dalam hati Lativa saat membalas tatapan Rusli. "Aku gak bisa menolak kalau udah seperti ini," batin perempuan itu.


Sesaat kemudian Lativa mengalihkan pandangannya sejenak seraya menundukkan kepala. Ia menarik napas kemudian mengempaskannya perlahan. Sejatinya, ia tidak akan tahu bagaimana kisahnya dengan Ruali kalau memulainya saja belum.


Kini Lativa kembali menatap Rusli sambil mengembangkan senyum tipis dari kedua sudut bibirnya. "Iya, saya mau ... Jadi istri sekaligus pendamping hidup Pak Rusli."

__ADS_1


Namun entah kenapa bagi Rusli jawaban Lativa itu terdengar aneh ditelinganya. "Tunggu, aku belum yakin kalau kamu memang mau," balas Rusli sambil mengerutkan keningnya.


"Kenapa bisa begitu?" ujar Lativa merasa tersentak.


"Bagaimana aku bisa yakin kalau kamu sendiri aja masih pakai panggilan 'saya', 'Pak Rusli' ?" timpal Rusli yang langsung membuat Lativa menjadi kikuk dan salah tingkah.


"Maaf ..." Perempuan itu tertawa meringis. Lativa jadi merasa tidak enak hati. "Baiklah kalau gitu di ulang ya?"


Rusli menganggukkan kepala, kemudian Lativa melonggarkan tenggorokannya terlebih dahulu. "Ehem! Ehem!" Sorot matanya berubah, seakan memiliki sihir yang mampu membuat Rusli terbuai. "Iya, aku mau jadi istri sekaligus pendamping hidup kamu."


"Yes!" Rusli spontan mengatakan itu. Sedangkan Lativa malah terkekeh geli melihat tingkah Rusli yang tidak pernah dilihatnya selama di kantor. "Aku pakaikan ya?" Rusli meminta izin, dan Lativa pun mengangguk pelan.


Karena terlalu bahagianya, tangan Rusli sampai bergetar ketika hendak memakaikan cincin ke jari manis tangan kiri milik Lativa. Bahkan Rusli sampai beberapa kali gagal memasukkan cincin itu ke dalam jari tersebut. Keningnya pun tanpa sadar mengeluarkan keringat. Apalagi meja tempat mereka akan makan pun ikut bergetar karena ulah Rusli.


Sontak, Lativa langsung menggenggam tangan Rusli sangat kuat. Alhasil getarannya pun mendadak berhenti. Pun Rusli menatap Lativa seraya berkata, "Ada apa?"


"Sepertinya Pak Rusli harus tarik napas dulu ya, tenang ... " Lativa mendekatkan wajahnya. "Kita jadi pusat perhatian orang," ucapnya dengan suara berbisik.


"Apa?" tukas Rusli yang kemudian menoleh ke sekeliling, dan ternyata benar kalau orang-orang yang sedang makan di tempat itu menatap terheranan. Rusli hanya bisa menyunggingkan senyum pada mereka.


"Maaf ya, Tiv. Aku grogi banget," ucap Rusli lalu mengulum bibirnya. "Aku ulangi lagi ya."


"Iya. Tenang ya, gak usah grogi. Pelan-pelan aja," balas Lativa dan dijawab anggukkan kepala oleh Rusli.


Setelah sempat mengalami kegagalan memasukkan cincin. Akhirnya cincin tersebut berhasil terpasang di jari manis Lativa.

__ADS_1


"Terima kasih!" Rusli mengusap punggung tangan Lativa lalu mengecupnya.


Lativa tersipu. "Sama-sama."


__ADS_2