Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 147


__ADS_3

"Udah ah gak penting." Nila buru-buru menepis. "Oh iya, kamu udah makan belum? Mau dipesankan makanan?"


Lativa hanya bisa menghela napas. Perempuan itu tahu betul bagaimana sifat sang kakak. Ya walaupun kurang lebih hampir sama dengan dirinya.


"Belum, Kak. Tapi gak usah, aku gak lama kok. Soalnya mau jalan sama bebeb." Lativa sedikit tersipu malu.


"Ciyeileeeeh ... Sekarang bebeb kuy! Terus acara lamaran kamu gimana? Udah disiapin belum?" Nila tampak antusias ingin mendengarkannya.


Raut wajah Lativa semakin memerah. "Belum, Kak. Kami masih sangat sibuk. Kakak ada rekomendasi event organizer gak? Aku pengennya tuh gak mau ribet apalagi sampai libatin ibu, soalnya pasti capek banget. Aku tuh pengennya dapat event organizer yang langsung paham. Jadi pas aku ceritain, mereka bisa langsung tanggap gitu."


"Kalau gitu sih ya pasti ada. Tapi untuk yang langsung paham, kan pemikiran orang gak bisa disamaratakan. Sebelum mereka langsung mengiyakan atau menyanggupi, pasti kalian bakal dikasih pilihan sebagai gambaran."


Lativa mengangguk paham. "Oh begitu ya. Ya udah deh nanti aku bicarain lagi sama bebeb."


Lantas Nila malah tertawa. "Aduh aku kok merasa lucu sekaligus senang ya. Dulu waktu kamu pacaran sama si Antony gak segini bucinnya. Gak dosa kan kalau Kakak ketawa? Bukan ngedelek kamu, tapi lucu aja. Gemes gitu."


"Ck!" Lativa malah berdecak. "Kakak ini ada-ada aja deh!"


Tak lama berselang, Fatan keluar dari kamar mandi.


"Hai, Kak!" sapa Lativa pada kakak iparnya.


"Eh ada kamu, Tiv ... Baru pulang dari kantor?" tanya Fatan. Lelaki itu berjalan menghampiri sang istri yang tengah duduk di kursi.


"Iya, Kak."


"Gimana di lapangan Tiv? Apa ada kendala yang berarti? Progres pasar apa ada perlonjakan?" tanya Fatan lagi. Semenjak Lativa bekerja di kantornya, dia memang sering bertanya terkait di bidang pemasaran. Sebab bagian yang Lativa tempati memiliki banyak pengaruh juga pada perusahaan. Apalagi targetnya pada konsumen langsung.


"Sejauh ini sih, aman Kak. Cuma, memang kadang ada beberapa konsumen yang bisa dibilang perusahaan baru ... Malah sering ngasih penawaran yang rendah banget. Padahal di daftar yang udah aku kasih jelas banget ada beberapa catatan yang gak bisa di negosiasikan lagi. Kurang lebih sih mereka mengeluh karena harga, sedangkan yang lainnya oke. Tapi, gak sedikit juga ada yang bisa kalau harga yang kita berikan itu masih masuk di akal," jelas Lativa. Ia seperti sedang melakukan presentasi dengan pemiliknya langsung.


"Ya memang begitulah dunia bisnis. Yang bilang harga kemahalan itu buat mereka yang sangat menekan anggaran karena budget mereka terbatas. Jadi kita gak perlu tergiur. Setiap supplier seperti kita ini 'kan harus mempertimbangkan kualitas juga. Makanya saya selau tekankan, ada harga ada kualitas." Terdengar santai tapi obrolannya dengan adik ipar sangat serius.


"Benar juga sih. Ya, untuk perlonjakan pasar sendiri sampai sekarang sih presentasi perusahaan masih terus naik. Ya semoga aja sampai akhir tahun ini bisa mencapai target awal."

__ADS_1


"Aamiin, gak ada yang gak mungkin, bukan? Kalau untung bukan hanya perusahaan yang maju. Tapi pegawainya pun juga," timpal Nila yang sejak tadi ikut mendengarkan.


Karena terlalu asik berbincang dengan kedua kakaknya, Lativa hampir tidak ingat akan janjinya pada Rusli malam ini.


"Kak Nila, Kak Fatan kayaknya aku harus pulang sekarang. Soalnya udah ada janji," kata Lativa berpamitan pada mereka.


"Janji sama siapa? Rusli?" tanya Fatan dengan tatapan meledek.


Lagi-lagi Lativa tersipu malu.


"Mas, jangan meledek Tiva seperti itu. Kamu 'kan udah tahu jawabannya. Lihat tuh dia jadi malu-malu meong," timpal Nila.


Lantas Fatan tergelak dengan tawanya. "Ya udah sana bersiap, Rusli sangar loh kalau kelamaan nunggu. Bisa-bisa dia jadi macan!" Dia malah menakut-nakuti.


"Mas!" pekik Nila sembari menepuk paha sang suami dan membulatkan kedua matanya, hal itu supaya Fatan bisa berhenti meledek. Namun bukannya meledek, Fatan malah semakin mengeraskan tawanya. Alhasil anaknya jadi bangun dengan tangisan yang cukup kencang.


"Tuh kan baby nya nangis. Udah ah aku pamit duly, bye semua!" Lativa lekas pergi dari sana. Sebab ia yakin kalau kakaknya akan memarahi kakak iparnya setelah ini dan ia tidak ingin menyaksikan itu.


"Yah, maaf ya Sayang. Sini, sini biar aku yang gendong."


Tanpa berkata sepatah katapun, Nila memberikan putri kecil yang sedang menangis itu kepada Fatan.


"Cup, cup, cup ... Jangan nangis ya anak cantik. Lihat tuh Emom udah bertanduk lihat Daddy. Aduh, Daddy jadi takut sama Emom. Udah ya Nak jangan nangis, bobo lagi yuk." Fatan dengan telaten mengayunkan tangannya. Tidak sulit baginya untuk menidurkan putri kecilnya kembali.


Nila yang tadinya merasa kesal, melihat apa yang dilakukan suaminya itu merasa lebih tenang. Tanpa sadar. Ia tersenyum kagum, dimatanya Fatan dua kali lebih tampan ketika sedang menggendong bayi.


"Dek, lihat Emom deh. Masa dia sekarang senyam-senyum. Ya, ya, ya ... Daddy tahu kalau Daddy ini memang tampan. Ah ... " Fatan menghela napas panjang. "Pantas aja kamu sekarang mirip Daddy, ternyata Emom cinta banget sama Daddy."


Nila tercengang ketika Fatan bisa bicara seperti itu kepada anak mereka yang sudah tertidur. Seketika Nila ingin melemparkan bantal kepada lelaki itu.


"Nasis banget sih!" protes Nila lalu merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Sementara Fatan menaruh putri kecilnya dengan sangat hati-hati ke dalam box, lalu menghampiri sang istri dan memberi kecupan hangat di keningnya.

__ADS_1


"Emom lucu sih kalau lagi ngambek, Daddy jadi pingin ...." Fatan tidak melanjutkan perkataannya lagi. Hal itu terdengar ambigu di telinga Nila.


"Gak usah macam-macam. Kamu harus menahannya sampai selesai masa bersalinku, empat puluh hari!" tegas Nila sambil memicingkan mata.


"Iya deh, aku tahu." Jawaban Fatan terdengar pasrah. "Tapi kamu tinggal di rumah ayah ya? Kalau di rumah ibu, nanti aku kangen terus." Dia malah merengek pada Nila.


"Mas ...." Kali ini Nila menghela napas.


Sebelum Nila berucap kembali, Fatan lebih dulu bicara. "Ibu kan masih bisa menginap di rumah ayah. Masih banyak kamar kosong."


Nila menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan. Tiba-tiba senyumnya menjadi semringah. "Beneran? Tapi kalau ibu nginap, itu artinya kamu yang harus tidur di kamar lain. Ayo, pilih mana?" tawarnya dengan raut seringai.


"Ah, sama aja ... " Fatan langsung memasang wajah cemberut. Disaat itu pula, pintu kamar terbuka lalu muncul Mirna dari balik pintu itu.


"Ibu," ucap Nila tatkala menoleh dan melihat sang ibu yang masih berdiri di gawang pintu sambil membawa sebuah paper bag di tangannya.


"Sore ..." sapa Mirna pada anak dan juga menantunya.


Fatan segera merubah raut wajahnya menjadi biasa saja. "Ibu kesini sama siapa?" tanya lelaki itu.


"Sendiri, soalnya Ibu dapat pesan dari Tiva kalau dia bakal pulang telat," jawab Mirna lalu menaruh paper bag itu ke atas meja. "Oh iya, ini ada camilan. Tadi siang Ibu sengaja membuatnya, ayok dimakan. Ibu paham, menjadi ibu menyusui itu pasti selalu merasa lapar."


"Biar aku aja yang buka ya, Sayang ... kamu diam aja disana." Fatan segera membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya. Ternyata memang benar, camilan itu bahkan terlihat menggoda di matanya. "Ibu, aku boleh 'kan ikut makan?" tanyanya kemudian, karena tiba-tiba perutnya ikut merasa lapar.


"Iya boleh kok." Mirna terkekeh. "Ibu memang sengaja membuatkan banyak, biar sekalian buat kamu juga Nak," sambungnya.


Di depan Mirna, baik Fatan dan Nila tampak biasa saja. Bahkan lebih harmonis. Mirna sendiri sampai kagum sekaligus terharu dengan kebahagiaan mereka.


"Ibu ini enak banget!" seru Nila setelah masuk satu suapan ke mulutnya.


"Iya, ayok di habiskan," ujar Mirna lalu memilih menghampiri cucunya.


Lain halnya dengan Fatan yang asik menyuapi sang istri dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2