
Nila berbalik badan, berdiri memunggungi suaminya. Namun ketika ia hendak melangkah, tiba-tiba tangannya dipegang oleh Fatan.
"Jadi mau kamu apa?" tanya laki-laki itu. Sungguh pertanyaan yang sangat ambigu bagi Nila. Jelas yang Nila inginkan adalah kejujurannya.
Nila mengempaskan tangan Fatan cukup kencang. Sehingga tangan lelaki itupun langsung terlepas darinya. Lantas Nila menoleh tanpa berbalik badan lagi.
"Gak usah tanya aku maunya apa, padahal udah jelas bukan, apa yang aku mau? Masih aja nanya. Menyebalkan!" ujarnya sangat ketus, lalu melangkahkan kaki meninggalkan Fatan sendiri.
"Sayang, tunggu! Aku gak paham, kita masih bisa bicara baik-baik," teriak Fatan. Suaranya sampai membuat orang-orang yang berada di sana menoleh ke arahnya.
Nila menghentikan langkah kakinya. Ia pun terpaksa berbalik badan. Kini keduanya saling berhadapan dengan jarak yang cukup berjauhan.
"Apa yang membuatmu masih gak paham? Haruskah aku teriak di depanmu tentang semua ini?" Nila mengatur napasnya. Terik matahari membuatnya semakin merasa pening. "Tahukah kamu, justru aku yang gak paham dan kamu malah membiarkanku terlihat bodoh dengan ketidaktahuanku." Ia menggelengkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca, tapi sebisa mungkin ditahan olehnya.
"Ya, nanti akan aku jelaskan. Kamu gak perlu pergi kayak gini, Nila!"
Mendengar namanya disebut, hati Nila semakin sakit. Ia segera berbalik badan. Dadanya terasa sesak, dan ia memilih pergi dari sana tanpa mempedulikan teriakan Fatan yang memintanya untuk berhenti. Telinganya seakan sudah tuli disebabkan rasa sakit yang begitu menyiksa batinnya.
"Ada apa dengannya? Sejak awal meminta aku menikah dengannya dia selalu janji buat saling terbuka. Apa aku terlalu jujut buat ceritain semua masa lalu aku ke dia waktu itu? Aku merasa dicurangi. Kurang lembut apa coba aku jadi seorang istri. Atau jangan-jangan dia mulai muak dengan perubahan suasana hatiku yang gak seperti dulu lagi. Ah, tetap aja dia salah. Semua ini gara-gara si Ocha! Sumpah, menyebalkan sekali!" gerutu Nila dalam hatinya.
Untuk menyegarkan kepala dan hati yang masih terasa panas, Nila masuk ke salah satu kafe di sepanjang jalan itu.
"Selamat datang, Anda mau pesan apa?" sapa pelayan kafe yang berdiri di belakang meja kasir.
"Aku mau pesan lemonade squash, spagetty carbonara, puding salad mangga, sama ... Poured tiramisu."
__ADS_1
"Baik, ada lagi?"
"Cukup. Itu aja."
Nila memberikan sebuah kartu debit pemberian Fatan yang memang dikhususkan untuk memenuhi kebutuhannya. Pegawai kasir itu segera memproses pembayaran. Tidak butuh lama, dia memberikan struk beserta kartu tadi kepada sang empunya.
"Ini kartunya, mohon ditunggu ya," kata pegawai itu lalu menyatukan kedua telapak tangan dan ditaruh di depan dada.
Nila tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Oke!" Ia memasukkan kartunya kembali ke dalam dompet, kemudian mencari tempat duduk yang berada di dekat jendela.
Pandangannya mengarah ke luar. Melihat orang-orang serta kendaraan yang melintasi area pusat perbelanjaan itu. Namun seketika sorot matanya menjadi sedih. Sebab Fatan benar-benar tidak megejarnya.
"Sejujurnya, aku gak tahu harus berbuat apa. Membalas dendam yang seperti apa? Tapi kejadian ini adalah hal yang paling aku takutkan untuk kedepannya. Apa aku dan anakku bisa melewatinya sama-sama? Padahal dari awal aku menerimanya sebagai pasangan hidup, aku udah netapin hati aku sama dia. Buat bareng-bareng terus, saling melengkapi ... Tapi sekarang semuanya terasa berubah. Apa sekarang aku harus pulang ya ke Jakarta? Aku benar-benar butuh ketenangan. Aku gak mau apa yang membuatku stres, akan berpengaruh pada janinku." Nila terus bermonolog, berpikir ditengah kalut dan peliknya sebuah perasaan.
Setelah pesanannya datang, Nila segera menghabiskannya. Mengisi perut supaya bisa kuat menghadapi kenyataan saat ini. Meskipun tak berselera, Nila sadar akan janin yang butuh asupan.
Hingga satu jam berlalu, Nila keluar dari kafe itu. Ia menoleh ke arah pertemuannya tadi dengan Fatan.
"Mungkin benar, dia udah kembali ke hotel. Apa aku balik ke hotel terlebih dahulu ya? Penerbangannya masih dua setengah jam lagi, mungkin aku bisa merebahkan tubuh dulu .... " Tiba-tiba Nila berpikir ulang lagi. "Tapi kalau balik ke hotel, nanti sama mas Fatan malah gak boleh pulang."
Nila semakin bingung. Akhirnya ia memilih berjalan kaki menelusuri sepanjang jalan itu. Nila memuaskan hatinya untuk sejenak meredam gejolak amarah yang sejak tadi meletup-letup dengan membelanjakan apapun yang dia mau dari uang pemberian Fatan. Awalnya uang itu hanya ingin disimpan olehnya, tapi saat hal itu terjadi, tercetuslah ide itu.
Cukup lama Nila berada di tempat itu, tapi belum juga memutuskan akan pergi kemana. Di tengah keramaian, sambil menjijing sebuah paperbag Nila mencari sebuah taksi. Ternyata taksi yang dicarinya itu tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Taksinya kosong, Bli?" tanya Nila pada sopir taksi yang sedang berdiri sambil menyandarkan punggung di pintu mobil.
__ADS_1
"Iya, kosong." Sopir itu melihat perut Nila yang membuncit. "Mau saya antar kemana?" tanyanya kemudian.
"Saya mau minta tolong antarkan ke bandara, Bli," pinta Nila.
"Baik, siap ... siap! Silahkan masuk, saya akan segera menyalakan mesin mobil." Sopir taksi itu membukakan pintu untuknya.
Nila mengangguk lalu patuh masuk ke dalam. Dibelakang taksi yang akan ditumpanginya, terdapat sebuah mobil box pengangkut barang sedang parkir.
Tanpa Nila tahu, dibelakang mobil box itu pula, sebuah mobil sedan berwarna hitam baru saja berhenti. Seorang pengendara mobil tersebut turun dari kursi kemudi.
Beberapa saat kemudian, dari balik pintu menampilkan seorang lelaki. Dia adalah Fatan. Lelaki itu sengaja menyewa mobil untuk dia gunakan sebagai sarana transportasi dirinya dan juga Nila.Namun sayang seribu sayang, mobil taksi yang ditumpangi oleh Nila telah melaju menuju bandara.
Sementara itu, Fatan mencari keberadaan sang istri di tempat terakhir mereka bertemu.
"Kemana perginya istriku? Aku coba telepon aja deh."
Belum sempat terhubung, suara operator telepon sudah lebih dulu bilang kalau nomor yang dihubunginya telah berada di luar jangkauan.
"Oh, Tuhan ... Kenapa nomornya gak aktif? Kalau sampai sebegini besar masalahnya, bisa-bisa bunda bakal turun tangan. Ah, aku gak mau itu terjadi," keluh Fatan lalu mencoba menghubungi istrinya kembali.
...----------------...
Tepat pukul lima sore waktu Indonesia bagian barat, Nila akhirnya tiba di bandara Soekarno-Hatta. Ia turun sangat hati-hati dari badan pesawat.
Nila mengempaskan napas ketika bisa menginjak tanah kota metropolitan lagi. Tujuannya setelah ini akan pergi ke kediaman Wicak untuk mengambil beberapa potong pakaian, setelah itu kemungkinan ia akan menginap di hotel untuk benar-benar menenangkan pikirannya.
__ADS_1