Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 56


__ADS_3

Esoknya, Nila berhasil membawakan materi meeting dengan baik. Semua orang penting disana pun merasa puas dengan presentasi yang telah Nila sampaikan tadi. Ya, walaupun ada beberapa pertanyaan yang sedikit menyimpang dari materi, tapi Nila mampu mengantisipasinya dengan baik.Profesionalitas kerjanya benar-benar tidak diragukan lagi.


Disisi lain, Nila merasa seperti ada yang hilang. Biasanya Fatan selalu duduk tepat di sisi sebelah kirinya, kadang laki-laki itu pula yang membantu Nila menjawab pertanyaan dari para peserta meeting.


Kali ini benar-benar berbeda. Usai meeting ditutup dan semua yang turut hadir telah keluar, Nila mengempaskan bokongnya di kursi tempat biasanya Fatan duduk. Ia mengusap wajah lalu memberikan pijatan di atas hidungnya.


Dalam sekejap, rasa hampa menguasai dirinya. Tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruang meeting yang hanya ada Nila saja disana.


"Maaf saya terlambat ... " ucap suara baritone laki-laki, terdengar ketus. Langkahnya pun terdengar berhenti tepat tidak jauh dari kursi yang ditempati oleh Nila.


Perempuan itupun melepaskan tangannya dari wajah. Dia menatap orang yang ada di depannya dari ujung kaki hingga kepala. Nila menatap laki-laki itu tampak bingung seraya mengenautkan kedua alisnya.


"Anda siapa ya? Gak bisa ya kalau masuk ruangan itu ketuk pintu terlebih dahulu?" tegas Nila lalu berdiri dengan raut wajah serius.


Lelaki itu tersenyum seringai kemudian mengulurkan tangannya. "Kenalin ... Saya Edward. Pimpinan kamu yang baru," ucapnya memperkenalkan diri. Namun sorot matanya mendadak jadi tajam saat bertatapan lekat dengan Nila. Dia seolah sedang menghipnotis perempuan itu dengan pesona yang dimilikinya.


"P-Pak Edward?" Nila terbata, perlahan tangannya meraih uluran tangan lelaki itu. Namun sayang, sebelum menyentuhnya, Edward menarik tangannya lagi. Nila pun menjadi kesal dibuatnya, seakan sangat mempermainkan dirinya.


"Sekarang, saya minta notulen hasil meeting tadi. Saya tunggu diruangan sepuluh menit lagi!" Usai memerintah, Edward langsung pergi dari hadapan Nila serta ruang meeting itu.


Nila mengempaskan napas kasar. "Hah? Udah telat datang, terus sekarang malah minta notulen dalam waktu sepuluh menit? Dimana sebenarnya otak dia itu? Apa dia gak punya jam di rumah? Malah tatapannya sangat mencurigakan sekali. Baru ketemu aja udah bikin emosi. Ini sih lebih-lebih dari Pak Fatan dulu," omelnya lalu segera membereskan berkas serta laptopnya dan bergegas kembali ke meja kerjanya.


.


.


.


.

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu. Nila pun telah selesai merapikan notulen meeting tadi. Ia segera pergi ke ruang kerja atasannya itu untuk menyerahkan berkas tersebut. Padahal bisa saja dikirimkan lewat email, tapi berhubung Edward belum ada email resmi perusahaan, Nila pun mencetaknya melalui printer.


Tok Tok Tok!


"Ya, masuk!"


Nila membuka pintu setelah mendapat sahutan dari dalam. Ia melihat lelaki tadi duduk di kursi kebesaran yang selama ini ditempati oleh Fatan. Pandangan alam bawah sadarnya masih melihat Fatan disana. Namun Nila segera menepisnya karena tidak mau terlalu larut dalam perasaan di saat waktunya bekerja.


"Permisi Pak Edward, ini notulen yang Anda minta," ucap Nila seraya menyerahkan berkas itu ke atas meja.


Edward memandang Nila dengan tatapan yang sulit sekali diartikan, tapi lebih condong ke tatapan datar.


"Duduk! Saya akan cek dulu hasil kerja kamu!" perintah Edward seraya meraih berkas itu lalu membukanya. Sementara itu Nila pun patuh, duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


Tak lama berselang ....


BRAK!


"Ada apa Pak?" tanya Nila lugu, karena ia merasa berkas yang diserahkannya itu sudah benar adanya.


"Bodoh! Laporan macam apa yang kamu berikan ke saya?" cela Edward seraya berdiri lalu mengambil berkas itu lagi. "Kamu bilang ini notulen? Hah!" bentaknya. Tetapi Nila hanya menundukkan wajahnya seraya memejamkan mata. Emosinya pun seketika ikut mendidih. "Udah berapa lama sih kamu jadi sekertaris? Bikin notulen aja gak becus! Gimana mau maju perusahaan ini? Otakmu itu ditaruh dimana? Didengkul?" cibir Edward semakin menjadi.


Nila menarik napasnya dalam-dalam. Meskipun kedua matanya sudah memerah, tapi ia berusaha untuk tidak menangis.


"Maaf Pak, salah saya bikin notulen itu dimana ya? Bisa Anda beritahu? Selama ini saya buat notulen gak pernah ada protes atau apapun," tangkas Nila membela diri.


Edward berdecih lalu menjelaskan bagian mana saja yang seharusnya ada dan tidak ada dalam isi notulen. Nila pun dengan hati yang masih terpancing emosi, berusaha untuk mendengarkannya dengan baik.


"Baik Pak, kalau itu yang Anda mau ... Saya akan memperbaikinya sekarang," ujar Nila berusaha mengalah dengan egonya. Emosinya pun perlahan meredam. Sebab setiap pemimpin itu memiliki peraturan dan cara memimpin yang berbeda-beda, pikir Nila demikian.

__ADS_1


"Nih, berikan pada saya hari ini juga!" perintah Edward seraya memberikan berkas itu kembali pada Nila. Lantas Nila pun pamit dari sana dan kembali ke meja kerjanya.


Berhubung sedang tidak ada jadwal tugas luar kantor, Nila memilih menyelesaikan pekerjaannya itu hari ini juga. Apalagi ia harus tertatih lagi menghadapi atasan baru yang lebih arogant dibanding sebelumnya.


...----------------...


Tanpa terasa usai makan siang, Nila pun kembali ke ruangan Edward untuk menyerahkan notulen. Akan tetapi rupanya pemilik ruangan itupun belum kembali dari makan siangnya. Perbedaan kedua dari Fatan, kalau Edward memiliki hubungan dengan Nila hanya sebatas pekerjaan saja. Lelaki itu tidak mau hal pribadi termasuk apa yang dimakannya itu dicampuri oleh Nila. Maka dari itu, Nila pun sekarang tidak tahu Edward makan siang dimana.


"Berkasnya aku taruh di atas mejanya aja deh. Mau telepon juga gak punya nomor hape nya," gumam Nila lalu menaruh berkasnya di atas meja. Setelah itu, ia pun keluar dari sana.


Beberapa menit setelah Nila kembali ke meja kerjanya, Edward pun lewat.


"Pak Edward ... " panggil Nila lalu berdiri dan Edward pun menghentikan langkah sembari menoleh ke arahnya. "Hasil notulen yang Anda minta udah saya taruh di atas meja," sambung Nila dan Edward hanya menganggukkan kepala kemudian berlalu begitu saja.


Nila bernapas lega ketika Edward sudah masuk ke dalam ruangan. "Astaga, kayaknya sabarku harus dipertebal lagi. Dia cuek banget dan kayak punya batasan antara atasan sama bawahan. Atau mungkin dia udah punya istri kali ya?" celoteh Nila bermonolog dan duduk kembali.


.


.


.


.


Sampai menjelang jam kerja berakhir tidak ada protes apapun dari Edward untuk pekerjaan Nila. Namun tak disangka, tiba-tiba lelaki itu membuka pintu dan berdiri diambangnya.


"Nila, keruangan saya sebentar!"


Entah kenapa perasaan Nila mendadak tidak enak. Detak jantungnya seolah sedang maraton, kencang sekali.

__ADS_1


"Oh ... Baik Pak."


Nila berdiri dan Edward pun masuk ke ruangannya lagi serta sengaja tidak menutup pintunya lagi.


__ADS_2