Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 86


__ADS_3

Fatan menceritakan kepada Nila tentang kejadian yang baru saja dialaminya tadi sedetail mungkin. Begitupun dengan Nila yang tanpa memotong dan mendengarkan sampai akhir. Setelah itu Nila pun merasa sedikit lega.


"Semoga aja kak Kemal benar-benar mau menceritakan yang sesungguhnya di depan hakim," ucap Nila penuh harap.


"Aku pun berharap seperti itu." Fatan mendaratkan kecupan di kening sang istri. Sontak Nila pun tersenyum tampak tenang dam bahagia.


"Aku rasa kalaupun memang dia pelaku utama dan dalang dari semua ini, apa iya dia gak ada yang bantu, Mas? Pasti ada orang lain yang turut membantunya," sahut Nila sangat yakin.


"Mungkin ... Intinya sekarang kamu tenang aja ya, selama ada disisi aku dan dalam pengawasanku ... Kamu akan baik-baik aja," tutur Fatan lalu memeluk Nila sangat erat dan penuh dengan kasih sayang. Lantas beberapa saat kemudian pelukan itu terlepas dan berganti Fatan memegang kedua tangan Nila saling menatap lekat.


"Um, minggu depan kemungkinan aku akan menjalani pemeriksaan kesehatanku yang terakhir. Aku berharap kalau sel kanker yang ada di dalam tubuhku itu udah benar-benar bersih," papar Fatan dengan sorot mata teduhnya. Lelaki itu tampak mendambakan sebuah kebahagiaan yang seakan tersirat tidak pernah didapatinya selama ini.


"Aamiin. Aku juga berharap seperti itu, Mas," sahut Nila seraya mengembangkan senyum pada kedua sudut bibirnya. Fatan pun melakukan hal yang sama.


"Kalau memang itu benar, kita bisa langsung tinggal di GhuangZhou untuk memulai mimpi kita dari awal. Semua aset yang pernah ayah berikan padaku, sepenuhnya akan kuserahkan kembali pada ayah," sambung Fatan. Lelaki itu teramat sangat ingin terbebas dari jerat kekayaan sang ayah yang hampir merenggut nyawanya. Fatan hanya ingin hidup tenang bersama keluarga kecil dan orang-orang yang dia sayangi.


"Aku akan tetap disampingmu, mendukungmu seperti janji kita kemarin saat menikah," ungkap Nila lalu memeluk suaminya kembali.


Layaknya pengantin baru. Nila dan Fatan masih saling beradaptasi dengan kebiasaan masing-masing. Tidak salah jika berbeda pendapat, tapi alangkah baiknya saling bertukar pikiran dan mau mendengar apa kemauan masing-masing akan lebih baik bukan? Sebab pernikahan bukan hanya kenikmatan duniawi dalam ranjang. Tetapi proses belajar bersama baik itu mengenal satu sama lain, menerima orang baru, kebiasaan baru, bahkan bisa dikatakan 'aku itu kamu dan kamu itu aku' karena terlalu sering bersama, dan itu seumur hidup.


...****************...


Tiga hari kemudian, Lalisa sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Rencananya sesuai kesepakatan antara Lalisa serta Fatan dan Nila akan membawa pulang ke kediaman Mirna, ibunya Nila. Mengingat, Fatan juga telah menunjuk salah seorang arsitek untuk segera merenovasi rumah mewah milik kedua orang tuanya tersebut.


Di hari yang sama pula, akan digelar sidang hukuman untuk Kemal. Makanya Fatan segera mengurus administrasi rumah sakit untuk kepulangan Lalisa. Sementara sang ayah, masih belum ada perubahan apapun di ruang ICU. Para tim medis yang menangani Wicak, masih terus berusaha untuk membuat lelaki berusia setengah abad lebih itu cepat tersadar dari koma.


Setelah menyelesaikan administrasi, Fatan kembali ke ruang rawat inap sang bunda.


"Bagaimana apa semuanya udah siap untuk pulang?" tanya lelaki dengan postur tubuh tinggi dan berotot kekar yang dibalut kemeja slimfit berwarna biru muda serta celana chino abu-abu, membuatnya tampak gagah dan maskulin sekali.

__ADS_1


"Udah, Mas," jawab Nila dan disusul anggukkan kepala oleh Lalisa.


"Ayo! Kalau gitu," ajak Fatan dan semuanya pun langsung bergegas keluar dari ruangan itu.


Sebelum benar-benar pergi ke mobil yang sudah menunggu di depan lobby rumah sakit, hati Lalisa terasa berat. Reflek, perempuan setengah abad itu memegang tangan Nila.


"Tunggu!"


Nila dan Fatan menghentikan langkah lalu menoleh ke arah Lalisa.


"Ada apa, Bunda?" tanya Nila lembut.


"Bunda mau ke tempat ayah, boleh kah?" tanya Lalisa sedikit ragu.


Nila dan Fatan mengembuskan napas bersamaan setelah beberapa saat tadi sempat tertahan karena melihat raut wajah Lalisa yang tampak gelisah.


"Boleh dong, Bun," jawab Fatan lebih dulu dari Nila.


"Oke, jagain bunda ya, Sayang," kata Fatan menyetujui lalu mengecup kening sang istri singkat tapi berkesan. Hal itu membuat Lalisa tersenyum dan mengingatkan pada masa-masa romantisnya bersama Wicak.


Lalisa pun tertawa. "Memangnya Bunda anak kecil!" selorohnya lalu menepuk bahu Fatan.


"Oh iya ya, sebentar lagi mau punya cucu," sahut Fatan tidak ingin kalah.


Seketika Nila membulatkan matanya menatap sang suami yang memang niatnya hanya sebuah candaan. Tetapi apa benar Nila sudah siap untuk mengandung? Kalau dilihat dari raut wajah Nila, sepertinya bukan ke arah takut. Melainkan hanya tersipu malu. Baru kali ini Nila merasakan jatuh cinta berkali-kali pada seorang lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.


"Pokoknya, Bunda pengen cucu yang banyak dari kalian. Secara anak Bunda cuma Fatan doang, duuh jadi gak sabar deh gendong bayi," ujar Lalisa lalu memegang tangan Nila dan memperlakukannya seperti sedang menggendong bayi mungil.


"Sabar dong, Bun. Aku juga lagi usaha loh ini." Lagi-lagi ucapan Fatan membuat Nila menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Mas Fatan sama bunda memang sebelas duabelas deh," timpal Nila, dalam hatinya.


"Ya udah sana ke ruangan ayah. Tapi jangan lama-lama ya Bun curhat sama ayahnya. Nanti aku susul loh kalau kelamaan!" ancam Fatan sambil memicingkan matanya.


"Bawel deh! Kumat!" seru Lalisa lalu menarik tangan Nila dan bergegas pergi dari hadapan Fatan. Setelah Lalisa semakin menjauh, Fatan pun lekas pergi ke lobby untuk menaruh koper milik ibunya ke dalam bagasi mobil.


.


.


.


.


Hampir setengah jam Lalisa berada di dalam ruang ICU. Mencurahkan segenap rasa pada sang suami yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur, tapi belum ada sedikitpun niat untuk segera pergi dari sana.


Sementara di luar ruangan, Fatan terus menghubungi Nila melalui ponselnya bahkan tidak boleh di matikan olehnya.


"Sabar ya, Mas. Mungkin bunda kangen sama ayah." Nila berusaha membuat Fatan bisa sabar menunggu.


"Udah setengah jam ini, Sayang. Ya ampun ... "


Ditengah omelan Fatan yang sejak tadi tidak sabar menunggu di dalam mobil, tiba-tiba saja pintu ruang ICU itu terbuka. Nila langsung menoleh dan tidak fokus mendengarkan apa yang sedang diucapkan oleh suaminya.


Nila malah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana tanpa mengakhiri panggilan. Otomatis, Fatan pun masih dapat mendengarnya.


"Bunda ..." panggil Nila lirih. Sebab hatinya ikut terenyuh tatkala mata sembab tampak sekali terlihat di kedua kelopak mata Lalisa. Ia pu. Menghampiri Lalisa. "Bunda mau minum?" tawar Nila.


"Gak usah Nila. Bunda gak apa-apa kok," jawab Lalisa tersenyum. "Ayo kita pergi ke mobil," ajaknya kemudian sambil mengalungkan tangannya pada lengan Nila.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun lagi, Nila pun patuh menuruti apa keinginan ibu mertuanya itu. Mereka pun akhirnya pulang ke kediaman Mirna.


__ADS_2