Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 145


__ADS_3

Nila berdiri menghadap ke luar jendela di ruang rawat inapnya. Infus ditangannya telah dilepas oleh perawat sesaat setelah mendapat telepon dari Fatan. Sementara putri kecilnya sedang tertidur pulas di dalam box bayi.


Tatapannya menatap lurus, jauh ke depan. Pun ia melipat kedua tangannya di dada. Nila tampak serius memikirkan sesuatu.


Segar dalam ingatannya. Kejadian kemarin telah menoreh trauma di dalam batinnya. Mungkin, ia bisa saja memaafkan sang suami. Namun bagaimana jika posisinya sebagai penghalang atau mungkin batu loncatan bagi Fatan?


Andai rasa tak sedalam itu, Nila mungkin saja mampu melupakan dan memulai lembaran baru. Tetapi sekarang ia harus melawan keegoisan demi putri kecilnya. Disisi lain ia harus paham, sesulit apa suaminya enggan terlepas dari bayang-bayang masa lalunya itu?


Pikirannya terus berkecamuk. Menutupi rasa yang kian menyesakkan dada. Jauh lebih sesak dari ditinggal nikah oleh Bayu dulu. Berpisah pun tidak bisa sembarang, apalagi hati udah terpatri dengan ikatan janji suci.


Di tengah lamunannya, Nila sadar dan mendengar pintu kamarnya terbuka. Namun ia tidak tahu sejak kapan orang itu mengetuk pintu kamarnya.


Ia hanya melihat bayangan orang itu dari pantulan kaca. Tetapi ia hanya diam saat mengetahui siapa orang itu. Alhasil ia enggan berbalik badan, membiarkan dia menghampirinya.


Suara langkah kaki itu semakin mendekatinya. Lantas kemudian sebuah tangan kekar melingkar di pinggulnya, serta kecupan hangat pun mendarat di area tengkuk lehernya. Gelisah dan gairah menjadi satu.


"Pagi, Sayang."


Orang itu tak lain adalah suaminya sendiri. Nila kemudian berbalik badan dan posisi tangan Fatan masih berada di pinggulnya.


Lantas Fatan menunjukkan sesuatu yang sempat disembunyikan di balik punggungnya. "Ini buat kamu."


Nila tersenyum tipis bahkan hampir tak terlihat. "Makasih ya, Mas," ucapnya seraya menerima pemberian sang suami.


"Sama-sama." Fatan pun ikut tersenyum.


Nila memperhatikan bunga yang kini ada di tangannya. "Mas, boleh aku tanya sesuatu?"


Fatan melepaskan tangannya yang sejak tadi melingkar di pinggul sang istri. "Silahkan, Sayang. Tanya aja."


"Dulu ... " Nila mengulum bibirnya beberapa saat. "Seberapa indahnya sih hubungan kamu sama Ocha? Sampai-sampai waktu kamu ketemu dia lagi, kamu gak bilang sama dia kalau kita udah nikah." Meskipun berat, hal itu memang harus segera ia ketahui. Sebab ia paling tidak suka menumpuk dan menimbun masalah hingga berlarut-larut.

__ADS_1


Namun Fatan masih diam. Lelaki itu tampak berpikir, kata-kata apa yang pas untuk menjelaskan pada istrinya.


"Sebenarnya biasa aja. Aku dan dia, emang gak pernah ada status. Hanya sebatas teman, gak ada yang indah. Kesalahan itu ... Aku hanya mengikuti naluri sebagai lelaki normal. Dan ... Soal pernikahan kita yang gak aku beritahu padanya. Itu karena aku takut obsesinya di masa lalu malah terbawa sampai sekarang. Aku ingat kamu lagi hamil, aku takut dia bakal ngelakuin hal nekat lebih dari dulu. Apalagi yang aku tahu, kalau ternyata dia mengidap paranoid," terang Fatan. Sorot matanya tak lepas terus menatap Nila yang kini membalas tatapannya.


"Aku kira paranoid itu cuma penyakit ringan. Apa iya bisa mencelakakan orang lain?" tanya Nila sambil mengerutkan kedua alisnya.


"Entah, tapi kalau kata psikolog yang pernah aku temui ... Paranoid itu bisa berbahaya kalau penderitanya tidak bisa mengontrol diri. Sebagaimana yang aku tahu pula. Latar belakang keluarganya ... Bisa dikatakan berantakan," jawab Fatan serius.


"Aku khawatir, kamu bakal--"


Jari telunjuk Fatan seketika ditempelkan pada bibir Nila. "Ssst! Berhenti berpikir aku akan menyakitimu. Membawamu dalam hidupku aja, rasanya aku gak tega. Tapi karena aku mencintaimu, makanya aku akan terus berjuang semampuku untuk melindungimu."


"Tapi Mas ... Darimana kamu tahu kalau dia punya penyakit itu?" tanya Nila cepat.


"Dari orang suruhanku, anak buahnya Rusli." Fatan menjawab santai.


"Pantas. Tapi kenapa aku pulang ke Jakarta gak kamu cari? Malah datang ke sini sama bunda. Dasar anak bunda!" omel Nila dengan wajah cemberut.


Nila seketika terperangah. "Ya tetap aja kamu salah!" Ia bersikukuh.


"Sayang .... " Kedua tangannya merangkup wajah Nila. Di sisi kelelakiannya, dia sebenarnya tidak kuasa untuk tidak melahap bibir ranum sang istri.


Saat Nila hendak melepaskan tangan itu dari wajahnya, dengan cepat Fatan menyambar bibirnya. Semakin lama, pagutan itu semakin dalam. Kedua tangan yang tadinya ada di pipi, sekarang turun ke tengkuk leher. Mereka pun terhanyut dalam pagutan itu. Seakan sedang melepaskan rindu yang sejak lama terpendam.


Akan tetapi, sebelum Fatan membawa Nila terhanyut semakin jauh. Seketika pagutan itu dilepaskan olehnya.


"Maaf Sayang .... " Dia mengusap bibir Nila yang tampak memerah karena sengatannya tadi. "Aku takut kebablasan, padahal aku lagi cuti."


Nila buru-buru mengulum bibirnya. Raut wajahnya tampak semu memerah. Hati yang tadinya keras perlahan mencair.


"Mas, kamu simpan nomor dia gak?" tanya Nila yang masih penasaran.

__ADS_1


"Nomor siapa?" Sepertinya kesadaran Fatan belum pulih, apalagi hal tadi sangat nanggung baginya.


"Perempuan itu."


"Oh ... Ocha?" Fatan cengengesan seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku gak ingat." Dia pun mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. "Nih kamu cari aja sendiri ya, aku mau nuntasin dulu." Dengan cepat dia memberikan ponselnya kepada Nila.


"Tuntasin apa? Pakai apa?" tanya Nila lagi.


"Itulah, Sayang. Takut keras. Nanti dibantu dita," jawab Fatan sambil berjalan ke arah toilet.


"Apa? Dita? Siapa Dita?" protes Nila reflek dengan suara lantang.


"Ditangan sendiri, Sayang," jawab Fatan yang sudah membuka pintu toilet. Setelah itu dia pun langsung menutupnya.


"Haaaa ... " Nila mengempaskan napas kasar. "Ya ampun kenapa punya suami absurd banget ya kelakuannya. Kemarin bikin tremor sampai berujung mendadak lahiran. Sekarang punya bahasa baru. Pusing pala barbie!" gerutunya bermonolog.


Tak lama berselang, suara tangisan putri kecilnya pun terdengar. Nila bergegas menghampiri box bayi lalu mengangkat putrinya dari sana. Mengingat jam tidur anaknya tadi lumayan panjang, akhirnya Nila pun memberikan ASI. Apalagi kedua buah dada nya sudah mulai terasa bengkak jika tidak segera dikeluarkan.


...----------------...


Hampir seharian penuh Fatan menemani Nila di rumah sakit. Dia belajar tentang banyak hal semenjak putri kecilnya lahir. Dia bahkan melarang bundanya untuk datang. Karena memang baik Fatan maupun Nila sedang butuh waktu untuk sama-sama saling memperbaiki diri, dari segi emosi, keterampilan, serta kesehatan mental.


Tak disangka, perlahan tapi pasti. Fatan lebih tertarik dengan dunianya sekarang yang sudah berstatus sebagai seorang ayah.


"Sayang, kamu bahagia gak nikah sama aku?" tanya Fatan saat mereka tengah menikmati secangkir teh sambil duduk saling bersandar satu sama lain.


"Gimana ya? Aku masih kesal sebenarnya sama kamu gara-gara si Ocha itu. Aku sampai berpikir mau musnahin dia kalau berani merebut kamu dariku!" jawab Nila sambil merumat kedua tangannya.


Sontak Fatan membulatkan matanya lalu bersusah payah menelan ludah. "Sayang, aku gak mau kamu sampai masuk penjara."


Lantas Nila pun tertawa. "Ya kalau aku berani. Cuma kalaupun gak berani ke si Ocha. Orang pertama yang menjadi targetku itu, kamu," lanjutnya diiringi dengan tawa jahat.

__ADS_1


"Astaga." Fatan menepuk kening dan tubuhnya melemas seketika.


__ADS_2