
Esoknya, pagi-pagi sekali pesawat yang ditumpangi Nila bersama Rusli telah mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Mereka sengaja berangkat karena memang informasi dari agennya Rusli harus seperti itu. Walaupun saat berangkat tadi sempat ada sedikit drama, tapi masih dapat diselesaikan dengan baik. Ya, Nila tidak tega meninggalkan Fatan sendiri di ruang rawat inapnya.
"Nyonya, setelah ini kita akan pergi ke pelabuhan Kali Adem untuk sampai ke pulau itu," jelas Rusli ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Oh kenapa di pelabuhan itu? Kalau naik dari pelabuhan Marina, Ancol memangnya gak bisa ya?" tanya Nila karena menurut pengalamannya dahulu sewaktu masa sekolah ia bersama teman-temannya pernah berlibur ke pulau Tidung lewat akses pelabuhan tersebut. Memang aksesnya begitu mudah dan nyaman, tapi sebanding dengan harganya yang bisa dibilang dua kali lipat dari dua pelabuhan lainnya.
"Maaf Nyonya gak bisa, sebab pelabuhan Kali Adem perahunya bisa kita sewa sepagi ini, sedangkan pelabuhan Marina itu bukanya sekitar jam tujuh atau delapan," jelas Rusli yang duduk di kursi depan samping kemudi.
"Oh begitu rupanya. Baiklah." Nila pun kembali diam dan mengikuti arahan Rusli. Perempuan itu percaya kalau tangan kanan suaminya itu memang bisa diandalkan.
Hampir satu jam perjalanan mereka menuju pelabuhan, kini akhirnya sampai juga. Nila turun dari mobil, begitupun dengan Rusli. Keduanya langsung bergegas naik kapal cepat menuju pulau tujuan.
"Rus, kira-kira berapa lama kita akan sampai di pulau itu?" tanya Nila saat sedang memakai pelampung keselamatan di tubuhnya.
"Kurang lebih dua jam, Nyonya," jawab Rusli dan Nila pun mengangguk paham. Ya walaupun terbilang lama, tapi mau bagaimana lagi?
.
.
.
.
Seperti yang dikatakan oleh Rusli, perjalanan di kapal itu tepat dua jam mereka tiba. Mereka turun dari kapal di sebuah dermaga yang terdapat pada pulau itu.
"Namanya Pulau Payung, Rus?" tanya Nila pada Ruali sesaat setelah memberikan pelampung keselamatan itu pada salah satu awak kapal.
"Iya Nyonya. Menurut info yang saya dapatkan sih adik Nyonya ada disini. Mari ikut dengan saya!" ajak Rusli sambil mempersilahkan Nila untuk berjalan lebih dulu.
Meskipun suasana alamnya sangat indah, tapi penduduk di pulau Payung itu masih tergolong sedikit. Buktinya matahari yang sudah mulai memancarkan cahaya di pagi ini, belum ada orang yang berlalu lalang di sekitar pulau tersebut.
"Rus, tapi kok disini sepi banget ya?" Nila lebih teliti memperhatikan sekitar.
"Iya benar, Nyonya. Soalnya pulau ini menjadi pulau dengan penduduk paling sedikit diantara banyaknya pulau di kepulauan seribu ini," jawab Rusli.
Tanpa sengaja pandangan Nila berhenti pada satu rumah dengan seorang perempuan yang baru saja keluar dari rumah itu.
__ADS_1
"Rus, tunggu! Itu mirip Lativa deh," timpal Nila memperhatikan sangat lekat. Rusli pun mengikuti arah pandang Nila.
"Sepertinya benar Nyonya. Mari kita hampiri dia!" ajak Rusli.
Tetapi Nila buru-buru melarangnya. "Jangan!"
Rusli terdiam seraya memperhatikan ke arah perempuan yang menurut Nila mirip selali dengan sang adik.
"Biar saya aja yang hampiri dia," ujar Nila lalu berjalan meninggalkan Rusli yang masih berdiri di tempatnya.
Lelaki itupun patuh. Dia mengawasi Nila dari jauh. Memastikan kalau istri tuan nya itu dalam keadaan aman terkendali.
Sementara, Nila berjalan santai layaknya seorang turis yang sedang mencari penginapan.
"Hai, selamat pagi," sapa Nila tepat berada di belakang perempuan itu.
Ketika perempuan itu menoleh, sontak pandangannya langsung meremang. Tubuhnya terasa lemas, tanpa sadar air matanya terjatuh dengan bibir bergetar seakan sulit mengatakan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Nila yang juga merasa terenyuh, suaranya sampai ikut bergetar. Terlebih ketika melihat keadaan perempuan yang ada di depannya itu tampak lusuh dan pucat. Satu lagi yang Nila perhatikan yaitu perut Lativa. Tidak ada bentuk buncit di sana, yang ada hanya datar bahkan menyerupai lemak yang menumpuk saja.
"Apa yang udah terjadi sama kamu, Tiva? Kenapa jadi seperti ini?" tanya Nila lagi. Ia menangis, mungkin jika ibu mereka melihat pun akan ikut menangis.
"Kak, huhuhuhu ... Anakku udah gak ada ... Huhuhuhu ... Antony jahat sama aku, Kak, huhuuhu."
Nila semakin tidak kuasa menahan kesakitannya. Raungan mereka sampai membuat para penduduk disekitar menjadi keluar dari rumah masing-masing. Alhasil mereka pun menjadi pusat perhatian.
Saat semuanya hampir bergerumun, Rusli yang tadinya akan membawa mereka pergi dari sana pun seketika diurungkan. Karena ada seorang perempuan yang keluar dari rumah yang sama seperti tempat Lativa keluar tadi. Rusli pun akhirnya mengamati seraya mengambil gambar, lalu dikirimkan pada Fatan.
"Kamu siapa?" tanya perempuan itu terdengar ketus tentunya pada Nila. Kalau dilihat dari perawakannya, perempuan itu masih muda dan dewasa. Terlebih melihat gaya pakaian yang dikenakannya.
Seketika Nila melepaskan pelukannya lalu menatap perempuan itu.
"Saya kakaknya dia. Kamu siapa?" Nila pun berbalik nanya.
"Oh kamu keluarganya dia ... " Perempuan itu mengalihkan pandangannya dari Nila, lalu melihat ke sekeliling. "Bubar! Bubar!" suruhnya pada mereka yang menonton keharuan kakak beradik itu.
"Maaf, saya kira siapa. Kenalin saya Mawaryn Popinka. Saya pemilik rumah ini. Kalau gitu mari ikut saya bicara di dalam aja," kata perempuan itu aambil memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Iya gak apa-apa. Saya Nila Anastasya, kakaknya Lativa. Baik .... " Nila meraih salah satu tangan Lativa lalu mengajaknya mengikuti Mawar masuk ke dalam rumah. Sedangkan Rusli menunggu di depan rumah.
...----------------...
"Kalian duduk dulu ya, ngobrol aja. Tiva, ceritain ke kakakmu atas apa yang menimpamu saat ini!" kata Mawar dengan ucapan ceplas-ceplosnya ketika mereka sudah berada di ruang tamu.
"Um, tapi omong-omong kenapa Lativa bisa tinggal disini kak Mawar?" tanya Nila masih terheranan.
"Ceritanya panjang banget, Nila. Biar si Tiva aja yang cerita gimana? Saya tinggal dulu ya ke dalam, baru mau masak soalnya," jawab Mawar seraya berpamitan sama mereka.
"Oh begitu ya, baiklah." Nila pun kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Lativa sesaat setelah Mawar pergi.
"Apa kabar? Udah lama banget ya kita gak ketemu," ucap Nila sebagai pembuka pembicaraan diantara dirinya dan juga Lativa.
"Mulanya, aku sama Antony akan pergi ke Amerika sesuai permintaan ayahnya. Tapi saat kami hendak pergi, tiba-tiba ibunya menginginkan kami untuk berlibur terlebih dahulu di Pulau Tidung ... beberapa hari kami di pulau itu, aku bahagia sekali. Dan dua hari yang lalu tragedi pun dimulai," jawab Lativa menceritakan kata pengantarnya terlebih dahulu.
Nila masih diam, seperti biasa. Perempuan itu serius menjadi pendengar yang baik untuk sang adik.
"Malam itu, aku sama Antony mau makan malam. Kebetulan di resort tempat kami menginap sedang ada acara gathering dari salah satu perusahaan. Jadi kondisi restauran ramai sekali walaupun meja makan kami terpisah dengan mereka. Terus Antony tiba-tiba izin mau ke toilet, tanpa ada pikiran apapun, aku izinin."
"Gak lama Antony pergi, aku juga ingin ke toilet. Aku susullah dia." Lativa seketika memejamkan mata sambil mengatur napas. "Di samping toilet, aku lihat sendiri dengan mata kepalaku kalau Antony sedang bercinta sama perempuan yang aku kenal banget perempuan itu siapa." Lativa kembali menangis sampai tergugu. Nila langsung memeluk adiknya dengan perasaan yang juga ikut sedih.
"Ya Tuhan kenapa hidupmu jadi seberat ini, Tiva," ucap Nila sambil mengelus punggung Lativa. Sedangkan Lativa sendiri hanya menggeleng lemah dan terus tergugu. Tak lama berpelukan, Nila melepaskannya lalu mengusap air mata adiknya. "Siapa memang perempuan itu?" tanyanya kemudian.
"Dia adalah mantan kekasih Antony setelah aku, Kak. Aku gak nyangka bakal ketemu dia di sana. Dan parahnya saat Antony merasa kepergok, dia marah sama aku. Dia maki-maki aku dan pukul aku hampir membabi buta. Untungnya ada orang lain yang akan ke toilet. Dia yang memisahkan Antony dari aku. Saat ada kesempatan, aku lari sekencang mungkin. Terus gak tau kenapa aku sampai di pulau ini dan ada di rumah ini," pungkas Lativa.
Napas Nila sampai tertahan beberapa saat. Ia pun kemudian mengembuskannya sangat panjang.
"Kamu udah tanya Mawar soal kenapa kamu bisa sama dia?" tanya Nila.
"Udah Kak. Dia bilang, gak sengaja lihat aku di pinggir pantai dalam keadaan pingsan dan hamil. Pas waktu ditemuin sama dia, udah ada darah di area paha sampai kakiku. Makanya dia langsung bawa aku ke klinik dan ternyata anakku udah gak bisa diselamatkan lagi," lirih Lativa dengan rasa sesal yang sangat dalam. Nila pun semakin terenyuh dan sangat iba.
"Sekarang, apa Antony masih mengejarmu?"
...****************...
__ADS_1