Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 130


__ADS_3

"Omong-omong, kamu kok udah disini sih. Memangnya Rusli udah pulang?" tanya Mirna saat melihat Nila membawa bucket bunga mawar dan juga sebuah kotak berisi kue.


"Udah, Bu. Dia bilang mau ajak Tiva jalan, jadi buru-buru balik ke kantor." Nila tampak kesulitan membawa kedua barang itu di tangannya. "Oh iya Ibu, Nila minta tolong ... bantu bawain salah satu dari ini," rengeknya dengan wajah sengaja dibuat sedih.


Mirna menggeleng-gelengkan kepala, "Sini, sini Ibu bantu."


Bunga dan kue pun di taruh ke atas meja makan. Tak lama setelah itu ponsel Nila berdering. Perempuan itu segera mencari keberadaan ponselnya mengikuti suara yang masih di dengarnya.


Setelah dilihat, ternyata Fatan yang meneleponnya lewat panggilan video. Perlahan Nila menutup pintu kamar lalu menjawabnya.


"Hai, Mas!" sapa Nila seperti biasanya. Walau sempat merajuk, kini suasana hatinya sudah kembali membaik.


"Hallo, Sayang ... Lagi apa nih? Udah terima hadiah aku belum?"


"Udah kok, Mas. Tadi Rusli yang antar ke rumah ibu."


"Gimana suka gak?"


Nila mengangguk cepat. "Suka ... Pake banget. Makasih ya, Mas!"


"Iya sama-sama ... Udah gak marah lagi dong sama aku?"


"Um, marah gak ya? Gak deh, hehe."


"Makasih, Sayang ... sekali lagi aku minta maaf ya karena hari ini benar-benar sibuk banget. Ini aja baru sampai kamar buat istirahat. Oh iya, pelatihannya sisa dua hari lagi, dan satu harinya itu ada pergi ke tempat wisata."


"Sama-sama, Mas. Oh gitu, ya udah kamu tetap hati-hati ya. Aku kangen tahu sama kamu tuh." Nada suara Nila yang manja membuat Fatan terenyuh. Sebab lelaki itupun sama dan ini pertama kalinya mereka saling berjauhan dalam waktu yang cukup lama.


"Iya, aku bakal terus hati-hati kok. Aku juga kangen sama kamu, Sayang ... Um, kira-kira kamu mau dibelikan oleh-oleh apa? Nanti biar aku carikan disini."


Nila berpikir sejenak. Semenjak masuk trismester ketiga, selera makan Nila sangat meningkat drastis. Terutama keinginan untuk makan makanan manis.


"Kalau belikan aku pie susu gimana?" tanya Nila penuh harap.


"Oke siap! Nanti akan aku belikan menjelang pulang dari sini ya. Soalnya kalau beli sekarang takut habis sama aku, Sayang," tawar Fatan.


"Iya, Mas. Iya ...."

__ADS_1


"Sayang, aku mandi dulu boleh? Nanti kita lanjut lagi video call-nya ya. Udah gerah banget ini."


"Iya, Mas. Oke kalau gitu. Aku juga mau cobain kuenya."


"Ya udah, aku tutup dulu ya, Sayang."


"Iya, Mas. Bye."


"Bye, Sayang. Muaaacchh!"


Nila tersipu malu mendapat serangan cinta dari Fatan walau lewat panggilan video. Hatinya berbunga-bunga kembali serta merasa terenyuh. Usai sambungan telepon terputus, Nila menaruh ponselnya lagi ke atas tempat tidur, lalu keluar dari kamar.


"Bu ... Ibu." Nila memanggil Mirna yang entah sedang ada dimana.


"Iya, Ibu di depan!" seru Mirna saat mendengar suara Nila.


Nila langsung bergegas menggampiri sang ibu. "Bu, temani Nila makan kue yuk! Lagi pula Tiva juga gak makan malam di rumah 'kan? Jadi kita bisa langsung aja makan malam tanpa menunggu dia," ucapnya yang mendadak tidak sabar untuk menyantap kue kerusakaannya itu.


"Oh iya kamu benar, ayok masuk!" ajak Mirna.


.


.


.


.


Di tempat lain Rusli akhirnya sampai perusahaan tepat waktu. Dimana ia melihat Lativa keluar dari lobby sambil membuka tasnya untuk mengeluarka ponsel. Tentu niatnya untuk menghubungi dirinya guna memastikan apa yang diucapkan Rusli tadi memang benar-benar jadi.


Rusli pun bergegas menghampiri Lativa usai turun dari mobil.


"Hai, Tiv!" sapa lelaki itu sambil melambaikan tangan serta senyum semringah.


Belum sempat Lativa mengeluarkan ponsel, Rusli sudah lebih dulu ada di depannya. "Hai ... Pak Rusli." Perempuan itu mengerutkan kening saat melihat lelaki yang di hadapannya itu datang dari halaman perusahaan. "Pak Rusli darimana? Kok kelihatannya habis keluar kantor," tanyanya kemudian.


Rusli mengusap tengkuk lehernya. "Tadi ada urusan sebentar, biasa perintah dari Bos Fatan," jawabnya jujur.

__ADS_1


"Oh gitu, terus sekarang gimana? Jadi mau pulang bareng saya?" Lativa memastikan kembali. Khawatirnya Rusli ada pekerjaan lain.


"Jadi dong! mana kunci mobilmu, Tiv? Biar aku yang kendarai," pinta Rusli sambil menyodorkan tangannya.


Lativa menganggukkan kepala lalu membuka tasnya kembali dan mengeluarkan kunci mobil. "Ini, Pak." Lativa memberikannya kepada Rusli.


"Oke! Yuk kita jalan!" ajak Rusli terlihat semangat. Ia mengambil kuncil dari tangan Lativa.


Keduanya pun berjalan bersama menuju tempat dimana mobil milik Lativa itu diparkirkan. Usai mereka masuk ke dalam mobil, Rusli pun lekas melajukan mobil tersebut.


"Mobilmu ternyata nyaman juga ya. Ringan dibawanya," puji Rusli saat merasakan mengendarai mobil keluaran negara tirai bambu itu.


"Iya, saya juga ngerasa begitu, Pak saat mengendarai mobil ini," jawab Lativa biasa saja, datar dan kaku. Rusli tersenyum menoleh ke arahnya.


"Oh iya sebelum pulang, kita makan malam dulu ya? Eits kali ini gak boleh nolak!" ajak Rusli dan langsung mempertegas ajakannya itu.


Lativa menarik napas dalam. "Pemaksaan sekali," umpatnya tapi masih dapat di dengar oleh Rusli.


"Please, sekali ini aja. Aku gak bakal ngapa-ngapain kamu kok. Aku bakal pastikan saat pulang nanti kamu masih dalam keadaan sehat, normal dan tidak kekurangan suatu apapun!" ucap Rusli dengan penuh penekanan.


"Baiklah kalau begitu. Saya mau," jawab Lativa terdengar yakin


"Terima kasih!" balas Rusli sambil bersorak kegirangan dalam hati.


Rusli segera mempercepat kecepatan mobil untuk bisa sampai di salah satu tempat yang sudah di rencanakannya sejak tadi. Walau belum ada reservasi, tapi Rusli yakin di sana akan terjadi momen indah sepanjang sejarah hidupnya. Apalagi kedua orang tua Rusli sudah sangat menginginkannya menikah di usia yang tidak lagi muda.


Sesampainya di tempat itu, Lativa menoleh ke sekeliling. Suasana rumah makan bertema negeri tirai bambu itu tampak sepi. Hanya ada beberapa mobil di halaman parkirnya, termasuk mobil dirinya.


"Ayok turun!" ajak Rusli sembari mematikan mesin mobil, membuka sabuk pengaman, lalu membuka pintu. Pun Lativa melakukan hal yang sama.


Keduanya berjalan berdampingan masuk ke dalam tempat itu. Lihat! Ketika sudah melewati gerbang utama, kedua manik mata Lativa tampak terpukau dengan nuansa tempat makan yang sangat benar-benar mirip dengan negara aslinya. Bahkan seketika, Lativa merasa kalau dirinya sedang berada di negeri tirai bambu.


Melihat Lativa sulit melangkahkan kaki karena begitu tercekat akan tempat itu, Rusli pun langsung meraih tangannya dan menggenggam erat. Hal itu membuat Lativa terkesiap lalu menoleh ke arah Rusli.


Sontak mendapat tatapan dari Lativa, Rusli pun langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Lativa. "Jangan bengong, nanti dikira orang yang lagi makan disini kalau kamu itu kesambet!"


Seketika Lativa membulatkan mata. Bisa-bisanya Rusli berkata seperti itu. Alhasil genggaman tangan itu semakin dieratkan oleh Rusli. Karena tidak bisa berkutik, Lativa pun berjalan ke salah satu meja sambil dituntun oleh Rusli. Sungguh menggemaskan sekali!

__ADS_1


__ADS_2