Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 39


__ADS_3

"Um, gak apa-apa kok Pak. Saya cuma mau tanya aja." Nita tersenyum hingga kedua matanya hampir tertutup. "Oh iya sekali lagi makasih ya Pak makanannya," sambungnya.


"Iya sama-sama, saya permisi ya." Fatan berbalik badan lalu berjalan ke arah lift. Sementara Nila hanya menatap nanar kepergian atasannya itu hingga menghilang dari pandangannya.


Sesaat setelah Fatan pergi, Nila masuk lagi ke dalam. Ia kemudian menaruh makanan itu ke atas meja dan mengeluarkan isinya dari dalam kantung plastik.


Akan tetapi Nila tidak langsung membukanya. Ia justru hanya memandangi sebuah kotak bertuliskan salah satu restoran yang sering mereka kunjungi saat pulang dari kantor. Selera makannya mendadak hilang, padahal biasanya sekenyang apapun Nila jika pergi ke restoran itu pasti selalu memesan makanan. Apa karena ia merasa kehilangan sosok Fatan yang biasanya ada di sebelah unit apartemennya?


Nila semakin tak kuasa lalu beranjak dari tempat duduknya dan memilih pergi ke kamar untuk merebahkan tubuhnya. Kedua tangannya memeluk guling, manik matanya pun menatap ke langit-langit kamar serta pikirannya mulai melayang entah kemana.


"Apa benar calon istrinya itu Charma? Tapi sejauh ini Pak Fatan gak pernah bilang ataupun minta tolong buat urus pernikahannya. Ah!" Nila berdecak. "Aku sampai gak inget kalau bundanya kan peduli banget sama dia. Pasti segala sesuatu yang dibutuhin pun udah pasti jadi campur tangan bundanya." Nila terperanjat duduk di atas tempat tidur. "Astaga, Nila please kamu mikir apaan sih! Fatan itu cuma atasan kamu aja. Please sadar diri, gak mungkin kan kamu malah jatuh cinta sama dia?" sambung perempuan itu bermonolog.


Nila mengempaskan tubuhnya kembali ke atas kasur lalu mulai memejamkan mata.


...----------------...


Pagi ini merupakan awal di hari yang baru untuk Nila. Ia tak lagi harus menggedor-gedor pintu apartemen sebelahnya untuk memanggil Fatan yang memintanya berangkat ke kantor bersama.


Namun saat menoleh ke arah pintu apartemen itu, hati Nila sedikit sedih. Tetapi untungnya hanya sesaat dan Nila pun harus menerima kenyataan yang ada. Ia segera pergi dari sana supaya tidak terlambat pergi ke kantor.


Setibanya di kantor, Nila langsung pergi ke meja kerjanya serta sembari memastikan keberadaan Fatan di ruangannya. Saat dilihatnya ternyata belum ada, Nila pun meraih tablet lalu membawanya ke lantai bawah tempat lobby berada untuk menyambut kedatangan Fatan.


Tak lama ia berdiri di depan pintu masuk, sebuah mobil sedan berwarna hitam pun berhenti. Lantas seorang satpam yang ada tak jauh dari mobil itu pun membukakan pintu.


Seorang lelaki menggunakan sepatu pantofel berwarna hitam, setelan jas dengan warna hitam pula dipadukan kemeja putih serta dasi yang senada dengan jasnya itu tutun dari kursi penumpang. Nila langsung menunduk hormat sambil menyapa.


"Selamat pagi, Pak."


"Pagi." Fatan tersenyum simpul lalu melangkahkan kaki dan diikuti oleh Nila.


"Nila, tolong kosongkan semua jadwal saya hari ini!" perintah Fatan tanpa menoleh ke arahnya. Sementara sekertarisnya itu seketika tercengang. Pasalnya jadwal hari ini cukup padat, tapi setelah mendapat perintah seperti itu membuat Nila tidak habis pikir.


"Maaf Pak, jadwal hari ini sudah oke semua. Kalau sampai dikosongkan nanti me--" Ucapan Nila langsung dipotong oleh laki-laki itu.


"Nila .... " Fatan berbalik badan dan menghentikan langkah. Sontak Nila terkejut dan ikut menghentikan langkahnya juga. "Tolong penuhi apa yang saya minta," ucap laki-laki itu terdengar tegas tapi masih nyaman didengar.

__ADS_1


"Ba-baik Pak." Nila mengangguk setuju dengan raut wajah datar. Setelah itu Fatan pun berbalik badan lagi lalu berjala menuju ruang kerjanya.


Sementara itu, Nila masih berdiri ditempatnya dan membiarkan Fatan masuk ke dalam lift terlebih dahulu.


"Pak Fatan kenapa sih? Auto langsung rombak ulang jadwal minggu ini kalau begini ceritanya. Jadi kepo deh aku," gumamnya sambil menghela napas panjang kemudian melangkahkan kakinya menuju meja kerja.


Rupanya tingkah aneh Fatan tidak hanya sampai disitu. Sesampainya Nila di meja kerja, perempuan itu langsung dipanggil ke ruangannya melalui sebuah pesan di ponselnya. Padahal bokongnya belum juga sampai menyentuh kursi. Mau tidak mau Nila pun berdiri lagi.


"Permisi Pak, apa Anda perlu sesuatu?" tanya Nila sesaat setelah menutup pintu ruang kerja Fatan.


"Sekarang kamu ke butik langganan bunda. Terus nanti cobain salah satu gaun mereka, kalau dirasa cocok berarti oke," ucap Fatan dengan raut wajah datar dan tampak sangat serius.


"Gaun? Buat apa Pak? Kita lagi gak ada undangan acara besar," tanya Nila. Perempuan itu benar-benar dibuat bingung oleh Fatan.


"Bukan buat kamu. Percaya diri sekali!" Fatan berdecak. "Udah nurut aja apa yang saya suruh. Cepat pergi sekarang!" lanjutnya dengan tegas.


Nila menghela napas. "Alamatnya dimana Pak?" tanyanya kemudian.


"Oh iya saya hampir gak inget. Ini ...." Fatan mengeluarkan selembar kartu nama pada Nila


Setelah Nila menghilang dari pandangannya, Fatan langsung fokus ke laptopnya lagi.


Sementara itu, Nila menaruh tablet lalu meraih tasnya dan segera pergi ke butik mengendarai mobilnya sendiri.


.


.


.


.


Kurang lebih 20 menit perjalanan, Nila akhirnya tiba di butik sesuai alamat yang ada pada kartu nama itu. Ia segera turun lalu masuk kedalam.


"Permisi," sapa Nila saat tidak melihat seorang pun di dalam butik itu. "Permisi," ucapnya sekali lagi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, muncul seorang perempuan muda berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Nila.


"Ini sekertaris anaknya Ibu Lalisa ya?"


Nila mengangguk ragu seraya menautkan kedua alisnya. "Iya benar. Tadi Pak Fatan bilang saya disuruh ke sini untuk mencoba gaun," jawabnya dengan hati-hati karena takut informasi dari Fatan tidak valid.


"Oh iya benar. Tapi sebelumnya, kenalkan aku Charma," ucap perempuan muda itu sambil mengulurkan tangannya. Raut wajahnya tampak ramah bahkan terlihat baik sekali.


"C-Charma?" Nila terbata sekaligus tercengang . Ia semakin tidak mengerti tentang keadaan saat ini dan firasatnya bilang seperti ada sesuatu. Ia pun sampai melupakan uluran tangan perempuan muda itu.


"Iya, benar .... " Perempuan itu kemudian tertawa. "Kakak pasti sering mendengar namaku dari kak Fatan ya?" tanyanya.


Nila hanya tersenyum meringis. "Iya, kenalin saya Nila Anastasya." Ia mengulurkan tangannya dan Charma pun langsung menyambutnya dengan senang hati.


"Kak Nila, boleh aku sebut dengan panggilan itu?" tanya Charma supaya tidak ada masalah sama sekali kedepannya. Pembawaan perempuan itu memang sopan, ramah dan menyenangkan. Kalau dilihat dari wajahnya mungkin sebaya dengan Lativa, adiknya Nila.


"Boleh, silahkan. Itu gak buruk kok," jawab Nila lalu tersenyum.


"Kalau gitu mari ikut denganku! Soalnya mamaku udah nungguin dari tadi di dalam," ajak Charma sambil meraih tangan Nila supaya segera ikut dengannya.


"Tunggu Charma, boleh saya tanya sesuatu?" Nila menahan tubuhnya supaya tidak ikut tertarik oleh perempuan muda itu.


"Boleh Kak. Kak Nila mau tanya apa?" Charma dengan senang hati menunggu pertanyaan yang akan dilontarkan padanya.


"Kamu ini sebenarnya ada hubungan apa dengan Pak Fatan? Kok sampai harus saya yang disuruh coba gaun?" Sebenarnya Nila ragu bertanya seperti itu, tapi karena tidak mau stress sendiri memikirkan sesuatu yang terus mengganjal di hati dan pikirannya. Akhirnya ia pun berani.


"Loh, kak Fatan memangnya gak pernah kasih tahu Kakak?" Charma terkejut. Pasalnya ia mengira kalau Nila tahu tentangnya.


"Nggak," jawab Nila dengan suara pelan.


"Aku itu sepupunya kak Fatan. Jadi, mamaku adalah adiknya Bunda. Soalnya Ibu Lalisa itu gak mau dipanggil Budhe, dia maunya dipanggil Bunda," jelas Charma. Namun sayangnya hati Nila belum lega.


"Oh gitu ya, saya baru tahu soalnya .... " Nila terkekeh pelan lalu membatin.


"Kalau bukan Charma orangnya? Terus Pak Fatam nikahnya sama siapa?"

__ADS_1


__ADS_2