
Kedua perempuan lintas usia itu menoleh ke arah pintu bersamaan. Mereka melihat seorang perawat perempuan mendorong tempat tidur bayi yang ditutupi oleh kelambu berwarna merah muda.
"Ya Tuhan, cucu Omay!" Lalisa tampak sangat senang dengan kedatangan cucu pertamanya. Sampai ia membatalkan panggilan telepon dan memilih beranjak dari tempat duduk dan menghampiri cucunya.
"Selamat malam, Bu," sapa perawat itu.
"Malam, Sus," sahut Nila dan Lalisa bersamaan
"Apa Ibunya sudah makan?" tanya perawat itu sambil menaruh tempat tidur bayi tepat di samping tempat tidur Nila.
"Udah kok, Sus," jawab Nila.
Perawat itu membuka kelambu lalu mengangkat bayi mungil itu dari tempatnya. Dia menggendong lalu mendekat ke arah Nila supaya memudahkannya memindah-tangankan pada keduanya.
"Bu Nila, dedek nya diberi ASI terlebih dahulu ya," kata perawat itu sambil memberikan bayi itu pada ibunya.
Dengan sangat hati-hati Nila menggendong bayi mungilnya. "Sus, tapi ASI saya kayaknya belum banyak deh. Kalau dia kehausan banget gimana?" tanyanya kemudian.
"Gak apa-apa, Ibu. Di coba aja dulu, mengingat ini adalah pengalaman pertama Ibu. Intinya Ibu harus sabar dan telaten, lama-lama ASI nya akan keluar banyak kok ..." jelas perawat itu sangat lemah lembut.
Lantas pandangannya beralih ke Lalisa. "Kalau nanti ASI nya belum banyak juga, mungkin Ibu bisa membantunya pijat oksitosin ya?"
Lalisa mengerutkan keningnya. "Pijat oksitosin itu yang dari bahu ke bawah bukan sih, Sus?" tanyanya sambil menyuapi Nila sedikit demi sedikit.
"Iya benar. Apa Ibu sudah tahu?"
"Iya semenjak menantu saya hamil, saya juga ikut cari di internet tentang hal itu," jawab Lalisa.
Disisi lain, Nila masih tampak kesulitan menyusui anaknya. Dengan telaten, perawat itu mengajarinya terus menerus dengan sangat sabar. Alhasil, berkat kesabaran serta kemauan dari diri Nila juga, akhirnya ia bisa menyusui anaknya sendiri. Ia merasa bahagia karena bisa merasakan meng-ASI-hi.
Sementara itu, di depan lobby rumah sakit. Mirna dan Lativa baru saja tiba. Keduanya langsung pergi ke kamar rawat inap seperti yang sudah diberitahukan oleh Lalisa sebelumnya.
Beberapa menit berlalu, mereka sampai di depan pintu kamar. Mirna mengetuk dua kali, lalu membuka pintu.
Sontak perempuan itu tertegun di ambang pintu.
"Ayok masuk, Bu," ajak Lativa seraya melingkarkan tangannya ke lengan sang ibu.
__ADS_1
"Ibu ...." panggil Nila yang menoleh ke arah Mirna dengan mata berkaca-kaca.
Sedangkan Lalisa menyambut kedatangan Mirna dan Lativa dengan hangat. "Eh besanku udah datang, ayok sini masuk."
Mirna pun akhirnya tersadar lalu masuk ke dalam.
"Hai, Kak. Selamat ya anaknya udah lahir. Gemes deh!" kata Lativa ketika sudah berdiri di samping tempat tidur Nila.
"Makasih ya, Tiv," balas Nila seraya tersenyum, lalu Lativa mengangguk sambil memperhatikan bayi mungil yang masih diberi ASI olehnya.
Pun sama halnya dengan Mirna. Perempuan paruh baya itu perasaanya sedang campur aduk. Ada senang, khawatir, dan ingin marah. Semua jadi satu. Sebab kepergiannya ke Bali tadi pagi sangat membuatnya terkejut. Kalaupun Nila meminta izin padanya, maka tidak akan diberi izin olehnya. Namun yang Mirna lakukan hanya diam dan memilih untuk tetap berbahagia, ketimbang memarahi Nila.
"Gimana keadaanmu sekarang, Nila?" tanya Mirna.
"Udah lebih baik, Bu," jawab Nila. Sebenarnya dari tatapan yang Mirna tunjukkan padanya saat ini, ia sudah tahu kalau ibunya itu tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Syukurlah, kalau ASI mu bagaimana? Udah bisa keluar?" Tanpa Nila suruh, Mirna meletakkan kedua tangan dibahunya. Pijatan lembut tapi bertenaga itu, mampu membuat Nila merasa nyaman dan jauh lebih relaks.
"Belum terlalu banyak, Bu. Tapi harus aku pancing terus," jawab Nila sambil menikmati pijatan yang dilakukan oleh ibunya.
"Sini Jeng duduk, aku mau keluar dulu ya sebentar," pamit Lalisa, meraih ponsel dan juga tasnya.
"Kamu mau kemana memangnya, Jeng?" tanya Mirna.
"Mau cari camilan Jeng, tunggu ya!" Lalisa tersenyum sambil menatap semua satu per satu. Setelah itu pergi dari ruang rawat inap tempat Nila berada.
"Nila, suamimu mana kok gak kelihatan?"
Deg. Pertanyaan Mirna membuat Nila tersentak hingga otot-otot yang tadinya sudah merasa lemas. Sekarang seakan kaku kembali.
"Iya tumben kak Fatan gak ada, Kak? Apa jangan-jangan dia gak dapat izin ya, Kak dari pelatihannya itu?" timpal Lativa, membuat Nlla semakin bingung untuk menjawab apa.
Nila tersenyum seraya mengembuskan napas panjang. "Dapat izin kok, mungkin sekarang lagi di jalan. Lagipula Kakak juga lahirannya dadakan sekali."
"Nila, kamu gak lagi bohong 'kan?"
Jantungnya berdegub semakin tidak keruan. Dari tatapan yang Mirna berikan padanya, semakin dibuat gugup.
__ADS_1
"Ng ... Nggak kok Bu," jawab Nila dengan suara sedikit gemetar. Antara gugup atau ingin menangis.
"Jangan kira Ibu gak tahu, Nila ... Ibu mertuamu yang cerita semuanya pada Ibu." Pada kenyataannya, Lalisa hanya bercerita tentang kepergiannya ke Bali lalu tidak pulang ke rumah dan malah menginap di hotel. Ibu mana yang tidak marah sekaligus khawatir?
Nila menyerah dan tidak mampu mengelak lagi. "Maaf, Ibu." Hanya dua kata itu yang keluar dari mulutnya.
Disisi lain, Mirna juga merasa bersalah karena terpancing emosi. Perempuan paruh baya itu menghela napas. "Maafin Ibu juga ya ... Ibu khawatir sekali sama kamu, Nila."
Sementar Lativa, merasa tidak enak dengan kondisi yang sangat kaku saat ini. Ia pun berusaha mencairkan suasana. "Oh iya, Kak Nila mau makan apa? biar aku yang belikan," tawarnya.
Nila membenarkan pakaiannya lagi. Sebab bayinya sudah tertidur pulas. "Pas banget, Kakak kok kerasa lapar lagi ya? ... Kalau belikan ayam penyet sama boba milk tea gimana?"
Mirna tertawa mendengar permintaan anak sulungnya itu. "Ya begitulah nikmatnya meng-ASI-hi. Pasti bawaannya lapar terus. Tapi kamu harus ingat, gak boleh diet!" tegasnya membuat Nila tercengang.
"Nanti kalau badan aku melar gimana dong, Ibu?" Nila memelas.
"Ya gak usah diet, cukup atur pola makan. Terus makan makanan bergizi, dari sayur mayur dan juga buah. Memangnya suster disini belum memberitahu kamu?" sahut Mirna.
Nila pun menggelengkan kepalanya. "Susternya belum jelasin banyak, Bu. Mungkin karena Nila juga belum segar betul, jadi mereka masih kasih waktu buat istirahat terlebih dahulu."
"Oh begitu rupanya.Ya udah sini anakmu, biar ibu taruh ke tempat tidurnya. Kamu pun bisa istirahat lagi. Santai aja ya, relaks."
"Benar, Kak!" sahut Lativa. "Kakak lebih baik istirahat, sambil nunggu pesanannya sampai," sambungnya.
"Oh kamu pesan lewat online, Tiv?" tanya Nila sambil memerikan anaknya pada sang ibu.
"Iya, Kak. Soalnya kedua makanan itu yang enak, warungnya ada di samping kantor. Untungnya bisa antar sampai sini," jawab Lativa.
"Oke deh kalau begitu ... Omong-omong gimana persiapan lamaran kamu sama Rusli? Lancar?" Sebagai seorang kakak satu-satunya, Nila tidak bisa kalau tidak peduli dengan sang adik.
"Um, gak lancar banget sih Kak. Apalagi aku sama dia sama-sama sibuk. Ngurus pun hari libur aja. Itu juga diselingi sama sambil jalan juga," terang Lativa.
Nila tersenyum. "Kakak doain semoga nanto acaranya lancar dan gak ada yang kurang sedikitpun!"
"Aamiin, Kak," ucap Lativa.
Beberapa menit berlalu, tak terasa waktu sudah hampir larut. Namun sayangnya, pesanan yang Nila mau ternyata tidak bisa dikirim karena telah habis. Pasalnya memang warung itu sangat ramai setiap harinya. Akhirnya Nila memesan makanan yang tersedia di kantin rumah sakit.
__ADS_1