
"Fatan, kamu tunggu di sini dulu ya ... Aku mau panggil ibu sekalian buatin kamu minum," pinta Nila saat dirinya dan juga Fatan telah sampai di rumahnya.
"Oh iya," jawab Fatan mengangguk setuju. Sesaat setelah Nila masuk ke dalam, ia pun duduk di kursi.
Tak lama berselang, seseorang masuk begitu saja ke dalam rumah. Terlebih orang itu melihat mobil yang dikendarai Nila sudah ada di halaman dan pintu rumah pun terbuka. Dia tidak menyadari keberadaan Fatan di ruang tamu.
"Heh! Siapa kamu?" panggil Fatan seraya berdiri dan orang itu seketika menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Ia takut lelaki yang baru saja masuk ke dalam rumah itu ada niat jahat pada calon istri dan juga mertuanya.
Namun ternyata orang itu adalah Jarfin. Dia menautkan kedua alisnya melihat seorang laki-laki asing berada di kediaman budhe-nya.
"Yang harusnya tanya itu saya. Kamu siapa?" ujar Jarfin meremang sembari berkacak pinggang.
"Saya calon suaminya Nila," jawab Fatan dengan percaya diri. Sontak Jarfin pun terkejut.
"Mana mungkin? Saya gak percaya kamu calon suaminya dia," sahut Jarfin dengan tatapan remeh.
"Kalau gak percaya, tanya aja sama Nila langsung. Kamu sendiri siapa? Jangan-jangan mau maling ya?" sambungnya merasa curiga.
Seketika Jarfin melebarkan matanya, merasa tidak terima dibilang maling. "Jangan asal bicara kau!"
"Kalau bukan mau maling, ngapain masuk rumah main selonong aja?" balas Fatan tersenyum sengirai.
"Saya keponakan budhe Mirna ... " jawab Jarfin seraya menghela napas. "Kamu benar calon suaminya kak Nila?" tanya lelaki itu masih merasa ragu.
"Iya, gak percaya banget sih. Kalau bukan ngapain saya sekarang ada di sini," jawab Fatan dengan emosi yang sedikit terpancing lagi.
__ADS_1
"Masa sih? Kok dia gak pernah cerita ya sama saya? Setahu saya dia itu jomblo akut," balas Jarfin sekenanya. Dia enteng sekali bicara seperti itu. Kalau saja Nila tahu, pasti dia sudah diberi ultimatum olehnya.
"Jamal? Kamu darimana?" tanya Nila mengerutkan kening. Merasa heran, sebab Jarfin muncul dari luar rumah.
"Dari depan Kak. Oh iya, apa bener dia calon suami Kakak?" Jarfin memastikan langsung pada Nila.
"Iya," jawab Nila singkat lalu tersenyum sangat manis, lirikan matanya ke arah Fatan yang masih berdiri di depan kursi.
"Udah, udah ... " ucap Mirna menengahi. "Jarfin, kamu udah makan siang belum?" tanyanya pada keponakannya itu.
"Belum Budhe. Tadi cuma ngebakso aja di depan kompleks."
"Dasar monster! Ngebakso aja gak dianggap makan. Terus buat masuk ke perut kamu, lewat mana kalau bukan lewat mulut Jamal? Lewat hidung?" sahut Nila merasa gemas sekali dengan adik sepupunya itu.
"Ye biasa aja kali, Kak. Budhe aja gak masalah kok, iya 'kan Budhe?" balas Jarfin seraya melirik ke arah Mirna.
"Iya Budhe." Jarfin kemudian memilih pergi ke dapur. Sedangkan Nila dan Mirna ke ruang tamu untuk menemui Fatan.
"Apa kabar Nyonya?" sapa Fatan lalu berjabat tangan dengan Mirna.
"Kabar saya baik. Um, panggil aja Ibu ... Sama seperti Nila," jawab Mirna.
"Oh iya ... Ibu." Fatan pun dipersilahkan duduk oleh Mirna, sementara Nila menaruh minuman serta camilan ke atas meja. Setelah itu barulah dia duduk.
Sesaat kemudian, Fatan mengutarakan niat baiknya pada Nila. Selain itu, ia juga memberitahukan pada Mirna tentang kondisi tubuhnya saat ini.
__ADS_1
Mirna seketika terkejut, pasalnya raut wajah Fatan saat ini masih tampak sehat.
"Apa kamu benar-benar mencintai Nila, nak Fatan?" tanya Mirna dengan perasaan penuh haru. Tak disangka olehnya jodoh anak sulungnya pun datang juga. Padahal saat Lativa menikah, Mirna takut kalau jodoh Nila akan lama karena dilangkahi.
"Iya, Bu. Saya sangat mencintai Nila. Begitupun dengan Nila sendiri. Maka dari itu, saya minta izin pada Ibu untuk menikahi Nila dan menjadi pendamping hidup saya," tutur Fatan dengan lugas.
"Kalau Ibu, apapun yang membuat Nila bahagia, Ibu akan selalu merestui," jawab Mirna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ibu ... Rencananya setelah kami menikah, kami akan tinggal di Tiongkok. Mungkin dalam jangka waktu yang cukup lama, nanti kalau Fatan udah sembuh dari sakitnya, kami akan pulang. Apa Ibu mau ikut tinggal sama kami di sana?" ujar Nila serta memberi tawaran pada Ibunya.
Mirna menatap Nila dan Fatan saling bergantian, setelah itu senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.
"Gak usah Nila ... Ibu tinggal disini aja. Bisa terus berkomunikasi denganmu aja, Ibu udah merasa bersyukur banget. Ibu harap rumah tangga kalian nanti bisa terus bahagia sepanjang masa hingga maut memisahkan," tutur Mirna menolak secara halus. Pada dasarnya seorang ibu tidak ingin merepotkan anaknya ketika sudah berumah tangga, itulah yang Mirna rasakan. Terlebih menjelang masa senjanya, sementara itu Nila diam dan tidak mampu berkata-kata.
Mirna kemudian menatap Fatan. "Untuk kamu yang akan menjadi pendamping Nila, Ibu hanya minta satu hal ... Buat dia bahagia, jadikan dia sebagai teman, sahabat dan rumah untuk hidupmu. Sayangi dia disaat sehat maupun sakitnya, peluk dia disaat sedihnya serta merasa ketakutan. Sebab perempuan yang udah menikah, meskipun memiliki sahabat, tetaplah suaminya yang dianggapnya sebagai sahabat terbaiknya. Ibu yakin, Fatan orang yang baik untuk Nila. Makanya Tuhan menuntun hati Fatan sebagai pilihan terbaik sebagai pendamping hidup. Serta ... Jangan paksa dia untuk menuruti keinginanmu, tapi bicaralah padanya. Karena komunikasi yang baik, gak akan menimbulkan kesalahpahaman setelahnya."
Wejangan yang diberikan Mirna padanya sangat mudah sampai ke dalam memori otak serta turun ke hatinya. Fatan semakin tambah yakin untuk mempersunting Nila. Sebab selama ini, laki-laki itu tidak pernah yakin akan sebuah pernikahan.
Tetapi lain halnya dengan Nila, dulu ia sempat terobsesi ingin menikah dengan Bayu. Namun sayangnya takdir berkata lain, sejak pertemuan terakhir itu memori selama delapan tahun seketika lenyap saat ia menyadari kalau ternyata ia telah jatuh cinta pada atasannya sendiri.
"Baik Bu. Pesan dari Ibu akan saya ingat selalu. Terima kasih atas restu yang udah Ibu berikan pada kami. Dan pernikahan kami akan diselenggarakan sesegera mungkin. Doakan saya juga ya Bu, biar segera sembuh dari penyakit yang seharusnya gak pernah saya derita ini," ucap Fatan. Ia bersyukur ternyata ibunya Nila tidak sulit untuk dimintakan restu.
"Sama-sama. Ingatlah Nak Fatan. Apapun yang kamu alami saat ini, harus rela dan sabar. Ibu yakin, apapun penyakit yang diderita oleh setiap manusia, pasti ada obatnya," timpal Mirna lalu tersenyum.
Mereka pun melanjutkan obrolannya lagi sambil mencicipi minuman serta camilan yang telah disediakan oleh Nila. Terlebih Fatan juga mengajukan banyak pertanyaan tentang Nila yang tidak dia ketahui dari Mirna langsung.
__ADS_1
Disela obrolan mereka yang seru, Jarfin yang baru selesai makan siang, tiba-tiba datang ke ruang tamu ikut bergabung dengan mereka. Sontak keberadaan Jarfin di sana membuat mereka seketika hening.
"Ada apa?"