Dilema Ditinggal Nikah

Dilema Ditinggal Nikah
Bab 150


__ADS_3

Arasha Danina Adisuryo, memiliki arti seorang bidadari yang beruntung dan memiliki prinsip. Ara adalah nama panggilannya. Itulah nama yang telah disepakati oleh Nila dan juga Fatan untuk putri kecil mereka.


Tak terasa 40 hari sudah Nila melewati masa pasca persalinan. Suka duka merawat sang bayi pun kerap membuatnya haus akan support dari orang-orang terdekat.


Rupanya menjadi orang tua baru meskipun usia sudah dibilang matang, tidak mudah juga kalau tidak ada support system nya. Disisi lain Nila beruntung memiliki orang-orang yang begitu menyayanginya, terutama sang suami.


Omong-omong soal ponsel yang waktu itu ia beli, akhirnya di taruh ke dalam lemari kaca bersama deretan tasnya di ruang ganti pakaian. Ia sengaja tidak memakainya dulu, karena sejauh ini Fatan sudah menunjukkan kalau lelaki itu memang sudah memberikan seluruh hatinya pada sang istri.


Sebentar lagi acara lamaran Lativa dan Rusli akan digelar. Rencananya siang ini di kediaman Wicak akan kedatangan seorang perancang busana untuk para tuan rumah akan hadir ke acara tersebut.


Tidak dapat dipungkiri, Fatan sudah mulai uring-uringan. Hal itu karena sebulan lebih dia tidak mendapatkan kepuasan batin dari sang istri.


Semakin kesini Nila semakin lucu melihatnya. Tingkah Fatan bagai seorang anak kecil yang merajuk ingin membeli permen ataupun mainan pada orang orang tuanya. Nila pun tidak ambil pusing, malah ia sering meledeknya. Alhasil Fatan semakin marah.


Seperti halnya di pagi ini. Lelaki itu pergi ke kantor dengan wajah masam dan sikap dingin kepada istrinya. Namun Nila hanya santai, karena ia tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh sang suami.


Lain halnya dengan Lalisa. Perempuan satu itu justru yang sering mengomel ketika melihat tingkah Fatan seperti perempuan yang sedang datang bulan. Bahkan ocehannya itu bisa lebih cepat dari seorang pembalap motor GP. Sungguh! Fatan sampai tebal telinga saat mendengarkannya.


Tak lama setelah Fatan berangkat ke kantor, Nila menggendong Ara pergi menemui Lalisa. Ternyata perempuan setengah abad itu sedang berkebun di halaman belakang.


"Bun ... " panggil Nila seraya menghampiri.


Mendengar suara menantunya, Lalisa menghentikan kegiatannya dan menaruh peralatan ke tempatnya semula.


"Kamu bawa Ara, ya?"


"Iya, Bun. Bunda lagi apa?"


"Lagi bersihin daun yang kering dan layu di pohon tomat sama timun. Kamu jangan kesini, biar Bunda aja yang samperin kamu. Kasihan takut Ara digigit semut. Sebentar ya!"


"Iya, Bunda."


Tidak lama Lalisa muncul lalu berjalan ke arah Nila. Namun dia tidak langsung menghampiri menantunya, melainkan mencuci tangannya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah dia datang.


"Ara ... Cucu Omay yang cantik. Sini sini Omay gendong." Lalisa langsung mengambil Ara dari tangan Nila. Sekarang dia sudah luwes menggendong Ara. Tidak seperti saat Ara baru lahir.


"Bunda, aku boleh minta tolong gak?" tanya Nila gugup. Ia sampai merumat ujung bajunya.


"Iya boleh, minta tolong apa?" Lalisa sambil asik mengayun-ayunkan Ara.

__ADS_1


"Aku mau ke kantor mas Fatan. Mau kasih dia sesuatu. Tapi aku gak bisa ajak Ara, kalau titip ke Bunda, keberatan gak?"


Lalisa seketika diam lalu melirik ke arah sang menantu. Sementara Nila mulai ketar-ketir saat mendapati tatapan yang diberikan olehnya karena sulit sekali diartikan. Dalam hitungan detik, wajahnya berubah menjadi bahagia.


"Ya gak apa-apa dong, Bunda gak keberatan sama sekali kok. Kamu mau pergi kapan? Mumpung Bunda lagi gak ada acara hari ini."


"Begitu ya Bun." Nila tersenyum lebar. "Sekarang, Bun. Nila mau pergi sekarang."


"Oke, tapi stok ASI Ara aman 'kan?" tanya Lalisa memastikan. Sebab Ara masih belum bisa dikasih apapun selain ASI, termasuk air putih.


"Aman kok Bun. Stoknya ada di kulkas kamar ya. Makasih banyak Bunda!" seru Nila kegirangan.


"Iya sama-sama. Hati-hati di jalan ya!"


"Oke, Bun!"


Sementara Ara yang sudah mengenali ibunya, menatap kepergian Nila dengan mata berkaca-kaca. Seakan dia berkata lewat tatapannya kalau dia tidak mau ditinggal ibunya. Tetapi sebelum Ara menangis, Lalisa cepat-cepat mengalihkan pandangan Ara ke sebuah objek yang menurutnya menarik. Alhasil, Ara seketika tertawa. Lalisa pun merasa lega.


----------------


Nila pergi mengendarai mobil sendiri. Ia sengaja tidak ingin memakai sopir, sebab ia sudah sangat sehat untuk saat ini.


Pilihannya jatuh pada sebuah kue tart berukuran kecil dengan diberi sebuah tulisan. Tidak disangka tulisan yang dicetusnya itu membuat pegawai toko menahan tawa ketika hendak menghiasnya di atas kue.


Selain kue tart untuk sang suami, Nila juga membeli beberapa macam kue lainnya untuk diberikan kepada kakak ipar, adiknya serta calon adik iparnya juga.


Selesai membeli kue, Nila lekas masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanannya kembali.


Tidak sampai 15 menit, Nila akhirnya tiba di kantor suaminya. Ia lekas memarkirkan mobil, lalu turun. Tak lupa juga kue yang tadi dibelinya dibawa sendiri.


"Selamat pagi, Bu," sapa kedua resepsionis ketika mendapati Nila yang datang ke kantor.


"Pagi." Nila berhenti sejenak guna membalas sapaan mereka.


"Selamat atas kelahiran putrinya ya, Bu," ucap salah satu resepsionis itu.


"Terima kasih. Oh iya, apa suami saya udah datang?" tanya Nila kemudian.


"Sudah kok, Bu. Tadi pagi, beliau masuk ke lobby bareng sama Pak Rusli juga."

__ADS_1


"Oh, oke. Terima kasih. Kalau begitu saya ke atas dulu ya. Mari." Nila berpamitan kepada mereka, lalu mereka pun menunduk hormat.


Setibanya di lantai tempat ruangan Fatan berada, Nila disambut oleh Rusli. Sebab letak mejanya tidak jauh dari lift.


"Selamat pagi, Bu. Mau ketemu bos ya, Bu?"


"Pagi. Iya dong, pasti!" Nila terkekeh. Pun sama halnya dengan Rusli. "Oh iya, Rus ... Ini saya bawakan kue buat kamu sama yang lainnya. Di masing-masing boxnya udah saya beri nama. Nanti sekalian minta tolong berikan ke pemilik nama disitu ya." Ia menyodorkan kantung plastik kepada Rusli.


Lelaki itu menerimanya. "Baik, Bu. Tapi saya mau selesaikan nyusun jadwal dulu ya. Habis itu nanti saya keliling buat kasihin ini."


"Oke, gak masalah. Makasih ya, Rus."


"Iya, Bu. Makasih juga."


Nila tersenyum lalu berjalan lagi ke arah pintu yang menuju ruang kerja Fatan. Sebelum masuk, ia mengetuknya terlebih dahulu.


"Masuk!" teriak Fatan dari dalam.


Nila pun membukanya. Namun lelaki yang duduk di kursi kebesaran itu enggan menoleh ke arahnya. Tumpukan berkas yang ada di atas mejanya itu, sepertinya sulit membuat perhatiannya teralihkan.


"Mas ...."


Fatan seketika tersentak dan mengangkat wajahnya. Dia memusatkan pandangannya pada Nila yang masih berdiri di gawang pintu.


Sementara itu, Nila masuk ke dalam seraya menutup pintu lalu berjalan menghampiri Fatan.


"Sayang ...." Fatan melihat ke arah paper bag yang dibawa oleh Nila. "Itu kamu bawa apa?" tanyanya kemudian.


"Aku bawakan camilan buat kamu." Nila menaruh paper bag itu ke atas meja, tepat di depan Fatan.


"Camilan apa?" Fatan memperhatikan paper bag yang tertera nama toko kue.


"Buka aja," jawab Nila singkat.


Tanpa menunggu lama, Fatan segera membukanya dengan hati-hati.



"Gimana, Mas? Apa kamu suka?"

__ADS_1


__ADS_2