Dimensi Putri Lingling Ke Dunia Masa Depan (Putri Zhu Qira Han2)

Dimensi Putri Lingling Ke Dunia Masa Depan (Putri Zhu Qira Han2)
Bertemu


__ADS_3

Dari jauh Wulan mengusap wajahnya nanar. Ia menhela nafas dalam. Ini bukan pertama kali terjadi, pernah Bir dengan nekat masuk kekamar miliknya yang berada dipelayan entah dimana semua orang ia tak tau.. yang pasti Bir malah hendak mmbuka celananya,. Untunglah ia yang sudah dilatih keras membuat ia peka, sedikit saja ada yang janggal maka ia akan bangun. Sama hal saat itu. Andai ia tak bangun. Jangan sampai ia kecolongan lagi.


“Heyyy ada apa?”


Bugh.. Wulan tak sadar menabrak seorang. Nafas Wulan naik turun ia terjatuh karena tubuhnya tak seimbang. Ia memejamkan matanya menanti tubuhnya mencium lantai yang akan terasa dingin. Tapi kenpa ia merasa tak sakit yah? yang ada tangan.. tangan? Ia membuka matanya dan mendorong siapapun yang memegang lengannya.


Sosok yang menolongnya kaget hingga mundur. Ia hanya membantu saja tadi kok karena melihat Wulan yang hampir jatuh mangkanya memegang lengannya dan juga pinggangnya.,


Wulan menatapnya gugup.”Ya Tuhan.. Vuang.. aku takut.”Gumamnya lirih memeluk Vuang.


Buang disana mengusap kepalanya.” Hey tenanglah. Tak ada yang perlu ditakutkan. Ada aku disini.. ada apa hmm?”Tanyanya pada Wulan cemas. Wulan terlihat tidak baik-baik saja. Tanganya gemetar detak jantung yang bisa ia dengar.. ada apa? Apa Wulan ketahuan mangkanya ia memilih kabur. Ia memilih memelik Wulan dan menenangkannya saja saat ini.


Wulan disana tak melepaskan pelukanya. Ia menangis tersedu-sedu disana.” Kita cari tempat dulu. Aku takut nanti akan ada yang melihat kita.”Ujarnya Vuang menarik tangan Wulan memilih menjauh. Ia memilih tempat yang berada didekat pohon buah dewa yang didekat kolam ikan kecil yang tak diurus. Wulan disnaa terlihat bergetar hebat maish memegang tanggannya erat.


Vuang tak tega melihatnya. Ia mengusap bahu Wulan dengan pelan dan menatapnya dengan kasihan.”Tenang. kau aman diisni.. jika kau sudah merasa lebih tenang cerita saja denganku. Siapa tau aku bisa membantumu.”Ujarnya dengan pelan. Ia tak bisa menenangkan lebih dari ini. ia juga bingung menenangkan bagaimana ia sendiri tidak tau apa alasannya mengapa wulan begini.


Wulan menghela nafas mengusap wajahnya. Berkali-kali menghela nafas pelan dan menghembus nafas kasar. Sampai puas ia menatap Vuang yang dari tadi selalu setia melihat dan menemani dirinya yang tidak bicara sama sekali. .

__ADS_1


“Kemana saja kau selama ini? kenapa kau tidak pernah muncul dan terlhat dihadapan ku.” Ujarnya dengan kesal,


Vuang mendengarnya menatapnya menggeleng.”Aku tidak ada kesempatan dan alasan kemari. Aku ditugaskan dipenampungan bidak dan juga orang pengasingan. Aku kesini sekarangpun itu karena Ken menyuruhku untuk menyuruh pelayan menghantarkan makanan dikarenakan telat. Maafkan aku.. kau tau sendiri keadaan kita.” Ia berkata jujur. Selagi disana ia juga tak menyia-nyiakan kesempatan. Mulai dari melihat kecil atau besarnya peluang untuk membantu semua sandera dan juga orang-orang yang dikurung. Lalu alasan kenapa mereka berada disana. ia mendapatkan banyak info. Lebih tepatnya Info yang mengejutkan baginya.


Wulan menghela nafas. ia memilih duduk dibatu besar diikuti Vuang yang mengambil sisi batu didepannya yang sedikit senjang.. suasana sangat dingin, suara jangkrik dimana-mana. Disini sangat gelap hanya ada cahaya dari rumah berwarna kuning dan juga rembulan membuat mereka masih bisa memandang satu sama lain meski tidak terlalu jelas..


“Kau tau Vuang aku disini melalui banyak hal yang pasti tak kau yakini akan apa yang aku katakan.. aku terasa tercekik disini.” Aduhnya tak nyaman. Ia meneguk Saliva kering mengingat semua yang ia lalui. Ini penyiksaan yang terbungkus oleh kata pekerjaan batinnya.


”Aku tidak tau bagaimana perasaanku saja atau benar adanya. Semua yang bekerja disini tidak ada yang seberat diriku tetapi kenapa aku berat sekali tugasnya.” Lanjutnya setelah menjeda kata-katanya. Suaranya mengggebu-gebiu mengadu pada Vuang akan yang ia asakan berharap bebannnya hilang dengan amarah yang meluap.


Vuang diam mendengarnya.”memangnya kau disuruh apa sampai kau terasa tersiksa dan terdiskriminasikan dari poelayan lain?? Kau disiksa atau diapakan?”Ia kepo juga jika melihat keadaan Wulan dan emosinya yang menggebu-gebu.


Vuang mendengarnya cukup kaget.”Lalu apa lagi?? ini sangat keterlaluan, ehh bentar bagaimana cara kau selamat?? Dan apa kau membalasnya.”Ujarnya Vuang disana menggebu. Tanganya terkepal mendengar kabar tak mengenakan dari kawan sejawatnya satu ini. ia awalnya tidak suka Wulan karena sikapnya yang sommbong tapi naik kesini Wulan makin terlihat sangat baik membuat ia menerima nya dan merasa jika mereka semua adalah keluarga satu jawat.


Wulan menatapnya dengan tatapan nanar.”Aku lari lah, dan meninggalkan bajunya Bir. Disana aku tidak tau lagi apa-apa. Aku pulang dengan tubuh yang gemetar kaget eh Bir malah marah-marah karena baju kesayangannnya ditinggalkan. Aku disuruh kembali mengambil bajunya, tapi siapa yang berani? Kembali sama saja dengan menyerahkan nyawa. Akhirnya Bir menghukum. Kau tau hukumannya apa?”Tanyanya menggebu.


Vuang Menggeleng dengan pelan.”Aku disuruh menghitung banyaknya beras dalam satu wadah. Aku terasa ingin mati menangis menghitung semua itu.. kepalaku terasa meledak.,”Ujarnya hampir betrteriak karena kesal,.”Dan itu beras sudah dihitung melalui mesin. Jika aku salah menghitung maka aku akan dihukum. Hukumannya tak masuk akal lagi.. yaitu aku disuruh membantunya mandi selama atau minggu.. kau bayangkan bagaimana jadi aku..!!!” Teriaknya mencengram tangannya Vuang kesal.

__ADS_1


Vuang mendengarnya membayangkan betapa seramnya yang dialami Wulan, menghitung beras. Tapi lebih lagi kepada membantu Bir mandi. Kalian bayangkan apa?


Hey. Pikkiran kalian sama dengan pikirannya Vuang, tidak ada acara mandi hanya dnegan bantuan kecuali anak kecil. Anak kecil saja dimandikan akan ada permainan dulu bukan?


“Dan ada banyak yang aku lewatkan Vuang. Aku rasa ini tempat neraka bagiku. Aku disuruh memasak dengan jumlah yang sangat banyak sendirian. Tidak ada yang membantuku. Aku terasa ingin mati saja”Lirihnya perih.”Dan yang lebih parahnya dia hampir melecehkanku berkali-kali.. dia memelelukku meramas pantatku dan lebih parahnya dia hampir membuka celanaku.”Ujarnya lorih menahan tangisannya.


Brak. Vuang menepuk batu.”Au."Gumamnya skait. Ia terlalu kaget mendengarnya sampai lupa jika a tidka kebal. “Bagaimana-bagaimana? Kok bisa? memang dia tau kamu perempuan?? Mangkanya dia melecehkan mu?”Tanyanya semakin mendekat pada wulan.


Wulan menggeleng lemah.”Aku tidak tau. Tapi aku yakin ini bukan tanpa alasan. Apa kita sudah ketahuan dan hanya dipermainkan disini Vuang?”Ujarnya lirih membuat Vuang terdiam mencerna apa yang ia dengar.,


.


.


.


.

__ADS_1


Mau lagi?


__ADS_2