Dimensi Putri Lingling Ke Dunia Masa Depan (Putri Zhu Qira Han2)

Dimensi Putri Lingling Ke Dunia Masa Depan (Putri Zhu Qira Han2)
Malu


__ADS_3

Hay guys. Maaf yah udah hampir 3 hari ga up, soalnya kemarin aku ada banyak kesibukan, salah satunya bikin tugas artikel dan Alhamdulillah diterbitkan juga disalah satu situs berita, terus ada juga acara bikin kue untuk lebaran berakhir capek dan juga bikber.. masyallah barakallah meskipun aku jadi Flu aku tetap up buat kalian. Semangat semua.


.


.


.


Lingling membuat obat dengan telaten, sungguh ia sangat menyesal tidak banyak belajar tentang obat-obatan sebagaimana Qeqe sang kakaknya yang terkenal akan ahli dan pintar akan dunia medis. Ia jadi sadar jika semua itu penting, tapi untunglah ia selalu dipaksa oleh ibunya untuk belajar, suka tidak suka, mau tidak mau. Tapi ia harus belajar akan semua hal tentang apapun itu, baik obat, kosmetik dan juga apapun itu, yang terpenting menghilangkan racun. Ia diwajibkan hafal semuanya karena katanya itu sangat penting, dan Lingling menguasai itu berkat paksaan orang tua. Benar kata pepatah jika orang tua itu lebih tau apa yang akan dibutuhkan seorang anak dimasa depan bukan?


Ia kembaki dengan bahan dan rempah yang ada, dan ternyata disana sosok Vuang dan Wulan sudah bersih dan sedang makan buah-buahan dan minum secara lahap sembari baringan dan bersandar dibatu besar. Lingling menatap Wulan dengan miris sebab wajahnya yang dulu cantik sekarang sudah hancur akibat disait-sait oleh Andes dan juga luka dimanapun.


Ia mnemilih duduk didekat mereka dan mereka terhenti makan makanan mereka. Lingling segera membuka jubahnya membuat ketiganya tercengang.”Yaampun Lingling. Ku pikir kau malaikat dikirim Tuhan.. akhh.” Lien segera memeluk Lingling kepelukannya dan juga mengusap kepalanya.”Kau baik-baik saja kan? Kau tidak diapakan oleh mereka kan?”Tanyanya Lien memeriksa tubuh Lingling.


Lingling mengangguk.”Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.”Ujarnya tersenyum tulus.”Kau bagaimana? Kau baik bukan disini?”Ujarnya.


Lien mengangguk.”Sangat.. dan bagaimana kau melepaskan mereka?”Tanyanya menatap Vuang dan Wulan.


Wuland an Vuang belum bisa bicara hanya saja mereka menatap Lingling terharu dan juga senang. Lingling tersenyum kepada mereka.” Itu tidak penting. Yang penting mereka sudah ada didekat kita.. jika begitu bantu aku mengobati luka mereka dengan obat yang telah ku buat ini. kau bantu Vuang dan aku bantu Wulan.”Ujarnya mendekati Wulan membawa obatnya.”Dan yah, suruh Vuang minum ramuanya supaya suaranya kembali dan racun ditubuhnya hilang. Tubuhnya sudah biru, waktunya hanya sampai pagi, jika racunya tidak hilang maka Vuang dan Wulan akan lumpuh selamanya karena tulangnya yang hancur. ini bahkan tulangnya sudah rusak dan hampir hancur separuhnya.”Ujar Lingling. Mata ketiganya membelalak mendengarnya.

__ADS_1


“Dari mana kau tahu hal itu?”Tanya Lien membulatkan mata serta mengguncang tubuh Lingling. Lingling mendekat dan mengetuk tulang punggungnya Wulan dan Vuang.. “Kau dengarkan saja, jika ada bunyi Nyiiing disana atau seperti logam yang jatuh itu tandanya ada racun, tapi ini bunyinya berbeda, dan tulangnya melemah. Belum lagi bauh tubuh mereka seperti bunga Lout yang berada diujung pantai XX Dan itu adalah bunga yang sangat berbahaya karena serbuk sarinya itu mengandung racun penghancur tulang dan juga penutup aliran darah.”Ujarnya.


“Mangkanya cepat selesaikan. Aku takut nanti obat ini tidak bisa bekerja maksimal jika kita terlambat.”Ujar Lingling dan segera memberikan Wulan minuman., Wulan menerimanya dan menahanya dengan sesak, ia tak mau mati dan tidak mau cacat seumur hidup, ia menatap wajah Lingling dengan nanar, orang yang ia sakiti menyelamatkannya.


Lingling dengan telaten menaruh obat ditubuhnya Wulan. Ssttt.. “ Lingling sepertinya mereka kesakitan. Bagaimana aku tidak tega melihatnya.”Ujar Lien menatap Wulan dan Vuang yang bahkan menangis dan lemah disana. Sungguh hal yang sangat tak kuat ditatap oleh sahabat.


Lingling mengeleng. “Ini minyak dari burung Kawari, Itu obat luka yang ampu dan juga mujarab yang aku campur dengan beberapa bahan ramuan supaya racunya hilang dan lukanya cepat kering dan tak berbakat. Cepat laklukanlah mereka tak akan mati dengan sakit nya obat ini.”Ujarnya.


Sungguh Lien tak tega tapi mau bagaimana lagi? mereka segera menggantinya disekujur tubuh. Wulan disana saja tak ada halangan atau batasan lagi karena tak ada tempat, hanya ditutupi dengan baju saja dibagian tubuh intinya. Linglingpun tak paham hal yang begituan. Hingga jam sudah menunjukan pukul 5 semuanya sudah selesai dan mereka sudah tak lagi merasakan sakit. Bahkan sekarang mereka sangat segar dan menjadi segar.


Lingling segra membersihkan diri dengan air seadanya dan kembali mengenakan jubahnya. Lien dan lainya menatapnya heran.:”kau mau kemana Ling? Sekarang masih pagi. kau tau mau istirahat?”Ujarnya Lien menatapnya dengan tatapan tak suka,.


“J-jangan.”Gumam Vuang menatap Lingling lirih. Suaranya tak terdengar siapapun hanya Lingling membuat Lingling menatapnya tersenyum.


“Kau sudah bisa bicara? Aku mendengarnya.”Ujarnya. Lien dan Wulan mengernyit sebab mereka tak mendengar apapun. Lingling disana tersneyum.”Tenang saja aku tidak akan kenapa-kenapa,. Aku harus kembali untuk kalian, supaya kalian tidak ditemukan disini jika mereka mencari kalian disekitar hutan, dan juga kalian bisa kembali kerumah kalian dan ke baskam.”Ujarnya Lingling.


“Hanya kami? Kamu?”Tanyanya Lien lirih kepada Lingling. Ia menatap Lingling nanar.


“Kita Ling Kita... bukan hanya kami.. jangan bicara begitu kita harus selamat bersama-sama.”Ujarnya disana tak suka, ia menahan pundak Lingling.

__ADS_1


Lingling menepuk tanganya pelan dan menatapnya. “Aku tak berniat pulang, jika aku mati disini untuk kalian itu tidak masalah hehe.”Ujarnya jujur. Hal yang membuat ketiganya menatap Lingling tak suka. “Kenapa si aku harus pulang hm? Ayah dan ibuku tak mengharapkan adanya aku disana dan tak mengharapkan akan keselamatanku, mereka mengharapkan Wulan pulang bukan aku. Jadi jika aku mati maka bilang dengan mereka jika keselamatan Wulan adalah hadia untuk mereka, mungkin itu salah satu cara supaya mereka bisa bangga dan bahagia memiliki anak sepertiku.”Ujarnya disana. Entah bagaimana bisa ia bicara begitu. Itu adalah tubuhnya. Hatinya..! apakah Lingling asli sudah selelah itu?


Suutt.. bibir Lingling dibungkam oleh Lien. Vuang dan Wulan menatap Lingling nanar. Lien memeluk Lingling.”Mereka mengharapkanmu kembali. Jadi kau harus berjanji selamat hmm.. kau harus selamat bukan hanya kami.”Ujarnya bergetar disana. Jiwanya sudah sangat menyayangi Lingling.


Lingling menepuk pundaknya dan tersenyum.” Ayay komandan. Jangan menangis kau tak pantas menangis. Jika aku mati nanti kau boleh menangis.”Ujarnya terkekeh.


“Lingling aku tidak suka kau bicara kematian.”Ujar Lien tak suka dan membentak.


Lingling menghela nafas menatap mereka. Terutama Vuang., ia mendekat dan mengusap tangan Vuang pelan.”Kau sangat baik, bahkan sebelum semua orang yang pertama mengenalku. Aku harap kau segera sembuh. Kembali kuat dan lindungi semuanya yah.”Ujarnya disana.


Vuang menatap Lingling dengan mata yang menjatuhkan air matanya.


Lingling mencium pipinya yang basah lalu menatap Wulan juga. Ia tersenyum.”Maafkan aku yang menjadi adik yang menjijikan yah kak. Maafkan aku yang tidak bisa dibangakan sehingga kau harus malu memiliki ku sebagai seorang adikmu.”ujarnya. Baru kali ini Wulan menggeleng dan tak suka ucapan itu.


Lingling segera bangkit dan mencium pipi Lien.”Aku akan kembali untuk kalian. Jaga diri dan kau harus rutin memberikan obatnya.”Ujarnya lalu memilih pergi.


Lien disana mengusap pipinya yang basah dan menatap Wulan dengan tajam.”Puas kau? Lihatlah orang yang kita benci malah menyelamatkan kita. apakah kau tidak malu? Aku pun malu saat ini.”Ujarnya tak suka namun itu kenyataanya,


.

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak yah.. ...


__ADS_2