
Lingling memasuki istana dengan linglung. Saat masuk mereka begitu muda. Apalagi Orge yang malah di salam., dan yang paling mengagetkan lagi orang memanggilnya Putra mahkota.
Orge yang mendapat wajah bingung dan masam Lingling pun berdehem.,” sebenarnya hmm kamu sudah tau kan siapa saya?” tanyanya dengan pelan. bagi Orge lebih baik Lingling tau sekarang ketimbang kelak dia tau dari orang lain, itu terlalu buruk.
Lingling melirik Orge dan berdehem.” Pantas saja kau menyetujui keinginanku dengan mudah. Ternyata kau calon raja berikutnya rupanya. “ jelas Lingling pelan dan malas kepada Orge. Lingling jadi ingat Orge yang marah karena Lingling mengatakan ingin membuat kerajaan ini bertekuk lutut padanya.
Oh karena ini toh rupanya. Ia merasa jika Lingling adalah saingan atau musuh begitu,
Orge berdehem memberikan arahan Lingling ke tempat peristirahatan. Tapi tatapan Lingling malah menuju di satu tempat.
“ EH PAK TUA KITA BERTEMU LAGI..!!!!” Teriak Lingling melambaikan tangan kepada pria yang berjalan diiringi dengan bebebareap kasim dan prajurit, Orge melirik kearah dimana Lingling melambai.
Mata Orge melotot melihat siapa yang Lingling panggil pak Tua. Dan lihat wajah Lingling sangat sumringah melangkah berlari kearah Demeg. Demeg bahkan ikut kaget mlirik Lingling yang berani memanggilnya begitu.
Krak.. Ling-Ling tersingkap kaget saat beberapa pedang menuju ke lehernya. Lingling menaiki satu alisnya menatap kearag Demeg. Demeg disana meringis melihat beberapa prajurit yang memandangnya Lingling dingin.
” Memanggil yang Mulia dengan kurang ajar. Kau mau mati?!!” teriak kuat oleh salah satu kuat kaism dibelakang Demeg. Tatapanya menghunus tajam kepada Lingling.
Lingling menyipitkan matanya menatap kasim tersebut. Darah menetes pelan di bagian lehernya tapi Lingling malah diam saja.” Turunkan pedang kalian..!” tegas Demeg menatap tajham beberapa pengawalnya. Ia menatap Lingling tak enak segera mendekat.
Pengawal menatap Demeg dengan kaget segera menurunkan pedang mereka. Menatap Lingling dengan pandangan aneh dan penasaran.
Lingling mengusap lehernya yang berdarah dan menatap prajurit yang melukainya. Yang ditatap menjadi gugup dan gemetar karena tatapan Lingling memiliki aura mahal dan kekuasana besar.” Kamu.. kamu mengapa disini?” demeg melirikk Orge yang berjalan pelan menuju meeka di sana.
” Kau anak nakal. Kau yang membawa nya kesini?” Tanya Demeg pelan kepada Orge. Orge tersenyum tipis,
Lingling menghela nafas di sana dan menatap demeg.” Rupanya kau raja di sini. Yamapun aku hampir dipenggal gara gara memanggilmu pak tua. Padahal apa salahnya dengan panggilanku. Kau kan memang sudah tua. Lihat jenggotmu bahkan sudah memutih.” Ujar Lingling dengan kesal kepada Demeg.
Prajurit, dayang dan khasim di sana menatap Lingling horror dan tak percaya. Bisa bisanya anak ini menghina raja di depan mukanya langsung. Dan lihat raja malah teryawa mendengarnya.” Aku masih muda. Kau tidak lihat wajahku yang tampan ini?” Tanya DDemeg kepada LIngling.
Lingling menggeleng pelan mencubit pelan pipi nya Demeg. Demeg menatap Lingling horror dan kaget. “ bahkan kulitmu sudah mengkriput. Oh pak tua kau sungguh percaya diri.” Jelas Lingling menggeleng tak percaya kepada Demeg yang setinggi itu kepercayaan dirinya. Dia tidak sadarkah jika dia sudah setua itu untuk mengaku muda?
“ kau..!! gadis kurang ajar..!!” teriak kasim lagi kepada Lingling. Lingling melirik kasim yang berteriak, usianya mungkin sama dengan Demeg tapi lihat urat urat menonjol di bagian kening dan lehernya. Dia terliuhat suka marah dan sedang marah.
__ADS_1
Demeg mengangkat tangan pelan kepada kasim.” Tidak usah. Dia memang anak nakal yang bicara asal.” Ujar demeg kepada kasimnya pelan.
Kasim menatap Demeg tidak suka.” tapi yang mulia, dia harus diberi hukuman karena ucapannya yang tidka pantas. Dia sudah menghina yang mulia. Seharusnya hukuman untuknya adalah dipotongkan lidahnya dan di cambuk seratus kali..!!” jelas kasim dengan tegas kepada demeg yang melindungi Lingling.
Demeg berdehem menatap Lingling yang malah terlihat santai kepadanya. apa perempuan ini tidak takut dia akan di hukum? Biasanya orang akan segera berlutut dan memohon ampunan. Ini wajahnya hanya lempeng seakan akan tak memiliki salah saja.
“ dia dalam naunganku. “ jelas Demeg kepada kasim. Kasim hendak menolak tapi terhenti dengan ucapannya demeg.” Diamlah kasim Jo. Aku akan, Aku akan membawa tamuku ke ruangan tamu. Kau suruh dayang siapkan beberapa camilan dan teh untuk dinikmati.” Jelasnya demeg dengan tegas.
Kasim mau tak mau menunduk dan memberi hormat secara santun dan penuh tata karma.” Baik yang mulia. Akan saya laksanakan.” Jelas kasim Jo sebelum pergi sempat melirik Lingling.
Tapi Lingling malah menarik kelopak matanya bagian kanan kebawah seakan mencibir kasim Jo. Kasi, Jo melototo kepada Lingling, sembari melirik Demeg tak berani. Ia memilih pergi dengan tangan terkepal.
Bugh. Bahu Lingling ditepuk pelan oleh Orge. Orge mendesis mendpaat tatapan tanda tanya oleh Lingling.” Kau ini. tidak boleh berprilaku begitu di tengah istana. Jika kau bersikap begitu kau akan cepat mati, atau bahkan dipenggal. “ jelas Orge.
Demeg menggeleng melihat tingkah Lingling. Lingling mendengus.” Aku sudah sering ke istana dan bersikap begitu bisa saja tuh. Sampai sekarang masih masih saja hidup,” jelas Lingling dengan santai dan juga tanpa beban pada Lingling.
Demeg dan Orge menatap Lingling rumit dan penuh tanda Tanya. “ memangnya kamu ke istana mana dan ngapain? Haha mana ada istana yang tidak menghukum sikap kurang ajarmu nona.” Jelas Orge terkekeh pelan menatap Lingling rumit.
Lingling menguap pelan. malas menjelaskan siapa jati dirinya.” Sudahlah. Kalian ini sibuk bicara terus. Berilah aku ini minum dan makan, kakiku kebas berjalan dan duduk di kereta kuda itu. Yaampun kalian ini.” ujar Lingling berdecap kesal.
Demeg dan orge agak kaget sebab baru kali ini mereka berinteraksi tanpa di pandang dan dihormati. Awalnya Orge sempat takut akan perubahan sikap Lingling kepadanya sata ia tau jika dirinya adaklah putra mahkota.
Rupanya ketakutannya sama sekali tidak berdasar. Lingling hanya bersikap biasa saja tamnpa ada perbedaan sama sekali. Seakan tak memandang jabatan dan tahtanya.
Baik Demeg maupun Orge merasa menjadi manusia biasa jika sikap Lingling begitu kepada mereka.
“ kalian tidak mau berhenti melamun??” Tanya Lingling mnelipatkan tanganya di dada, demneg dan Orge menatap Lingling diam karena terbangun dari lamunannya.
” Baiklah. Jika ke ruangan terlebih dahulu untuk minum the.” Jelas Demeg.
” Gitu dong dari tadi kek.” Jelas Lingling kesal.
Usai dari perdebatan yang ada, mereka segera ke ruangan milik Demeg. Wajah Demeg dan Orge terlihat lempeng melihat Lingling yang makan semua kudapan yang ada. Dia bahkan tak malu malu memasukan dua kudapan sekaligus dalam mulutnya.
__ADS_1
” Yaampun enak enak sekali. Aku pikir kerajaan yang hemmm tandus begini istananya tidak ada makanan enak.” Jelas Lingling menatap Demeg dengan polos.
Orge dan Demeg melotot menatap Lingling. Tapi Lingling malah minum teh yang di sediakan. “ ahkk te ini enak., hanya saja terlalu hambar. Harusnya sedikit diberi daun min atau bunga melati, pasti akan tambah nikmat.” Ujar lingling mengusap perutnya.
Kembali menatap kue di sana dengan berbinar.” Ini kue umbi teratai yah? wah “ ia mmengambilnya dan memakannya.
Mengangguk pelan sembari mengoreksi makanan.” Ini sedikit kurang gula, sedikit hambar dan teksturnya sedikit kasar. Tapi ini cukup enak.” Jelas Linglling tapi kembali mengambil kue dan memakannya dua sekaligus.
Orge dan Demeg meneguk saliva kering melihat porsi makan Lingling. Lingling tidak peduli, ia melirik keduanya dan menunjukan kue ditangannya.” Syukurlah jika kalian enggan, aku bisa menghabisi semua makanan ini.” jelas Lingling tersenyum miring. Dalam hitungan menit semua kue ludes tak tersisa., bahkan tekko the milik Lingling sudah habis.
Ehkk. Lingling sendawa pelan. lingling batuk pelan menatap demeg dan Orge yang menatapmnya melongo. Lingling tidak pernah serakus ini makan makanan manis, tapi karena sudah lama tak makan enak atau berasa begini lingling jadi Khalaf. Bisa dikatakan ia rindu cita rasa yang syurgawi begini. Uh Ling-Ling kekenyangan.
“ yang mulia.” Demeg melirik Lian yang masuk dan membungkuk. Orge meliriknuya dnegan tanda Tanya.
Lian melirik ke seluru ruangan tapi seketika matanya melotot. “ Kau.. kau bukannya gadis di hutan itu?” tanyanya nya dengan kaget.
Lingling berdehem pelan menjawab. Lian mendelik tidak suka. " Sejak kapan kau ada di sini???" Tanyanya lagi kepada Lingling.
Lingling melirik Lian aneh, dia ini kenapa sih terlihat tidak suka padanya, apakah dia pernah membuat kesalahan pada Nya ini? tapi sepertinya baru sekali bertemu perasaan
tapi kembali melirik dimana Demeg berada. “ ada apa Lian?” Tanya demeg memutuskan kontak mata Lingling dan Lian.
Lian segera menatap demeg.” Itu. saya ingin menyampaikan wabah yang ada di desa Vutang yang mulia.” Jelasnya Lian dengan tegas kepada Demeg.
Demeg berdehem .” baik. Kita keruanganku saja untuk membicarakannya.,” jelas demeg pelan.
“ Kenapa tidak di sini saja?” Tanya Lingling membuat keduanya menoleh jepada Lingling.
“ karena ada orang asing. Ini pembicaraan cukup pribadi.” Jelas Lian kepada Lingling ketus. Entah mengapa semenjak kejadian di hutan ia sedikit sensitive kepada Lingling.
Padahal usianya sudah tua tapi entah mengapa dia bisa sekesal itu pada Lingling
Lingling mengusap pelan cadarnya yang seperti ada serbuk kue. “Bicaralah disini saja,. Siapa tau aku bisa membantu. “ jelas Lingling pelan.
__ADS_1
Lian menatap Lingling tidak setuju. Demeg pun melirik lingling tidak percaya. Mereka belum tau siapa Lingling sebenarnya. Lingling meminum teh pelan dan mengambil air putih untuk ia minum juga.
Cara Lingling memang aneh, setiap kali minum Teh ia akan minum air putih. “ Lebih baik nona istirahat saja dulu nona Ling-Ling. Sepertinya pembicaraan ayah dan paman Lian cukup urgen. Dan harap tidak menganggu mereka.” Jelas Orge kepada Lingling agar Lingling paham akan kondisi saat ini. Orge juga belum tau siapa Lingling sebenarnya. Itu cukup membuat mereka harus berhati hati dalam mengambil tindakan.